Menikah bersama pria yang kita cintai merupakan impian bagi banyak orang. Namun apa jadinya jika pernikahan tersebut tidak seperti yang kita impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Makan malam bersama keluarga Azof pun berlangsung. Dinar senang lantaran sikap Kala kembali berubah tiga ratus enam puluh derajat pada saat di rumah itu. Meski ia tahu suaminya hanya pura-pura baik, ia tetap senang dan bahagia.
"Bagaimana tinggal di rumah sana? Betah?" tanya tuan Azof pada Dinar.
Wanita itu pun mengangguk. "Iya, pa. Betah, rumahnya besar juga," jawab Dinar.
"Syukurlah jika begitu."
"Sudah memikirkan asisten rumah buat di sana, Kala? Tidak mungkin juga buka Dinar menghandle pekerjaan rumah seorang diri," timpal nyonya Rose.
"Belum, ma. Tapi aku akan memikirkannya. Kalau mama ada seseorang yang minat jadi asisten rumah di rumahku, mama kasih tahu Dinar saja. Aku tidak begitu paham soal itu, yang penting dia rajin dan jujur," jawab Kala.
"Baiklah, nanti mama akan tanya-tanya sama asisten rumah di sini, siapa tahu ada kenalan yang butuh pekerjaan dan siap jadi asisten rumah di rumahmu."
"Iya, ma."
"Butuh berapa? Dua? Tiga?"
"Dua untuk asisten rumah dan satu pria sebagai tukang kebun."
"Baik, nanti mama bantu carikan."
"Iya, ma."
Kala melanjutkan makannya, begitu pula dengan nyonya Rose. Mendengar keputusan suaminya mengenai asisten rumah, Dinar sadar jika ia memang tidak mampu menghandle pekerjaan rumah seorang diri meski setatus dirinya seorang istri dalam rumah tangga. Mengingat kondisi dirinya dan hidup dengan satu ginjal, akan membuatnya lebih mudah lelah, terlebih rumah yang ia tinggali pun tidak kecil.
Suasana makan yang sedikit hening, hanya terdengar dentingan sendok yang beradu ke piring. Tiba-tiba saja ponsel Kala yang berada di atas meja makan samping sikunya berdering mengeluarkan panggilan masuk.
Pria itu sedikit panik melihat layar ponsel mengeluarkan nama Gyna. Ia segera menekan tombol power untuk mematikan ponselnya. Tanpa di beri tahu, Dinar sudah tahu siapa yang menelepon suaminya.
"Siapa? Kenapa tidak di jawab?" tanya nyonya Rose.
"Gani, ma. Sekretaris klien aku," jawab Kala.
"Apa itu penting?"
Kala mengangguk. "Iya. Tapi nanti aku akan telepon balik dia jika makan sudah selesai."
Kala menghela napas lega lantaran mamanya tidak mempermasalahkan hal itu. Ia menoleh ke arah Dinar yang menatapnya dengan tatapan yang membuat pria itu sedikit takut, takut jika Dinar ingkar janji.
Kala mengalihkannya pandangannya dan kembali fokus pada makanannya.
Saking takutnya, kamu bisa-bisanya merubah nama Gyna jadi Gani, mas. Ucap Dinar dalam hati.
Makan malam yang di tutup dengan dessert sudah selesai. Kala dan Dinar berpamitan untuk pulang lantaran takut kemalaman.
"Sering-sering datang ke sini, ya," pinta nyonya Rose pada saat mengantar putra dan menantunya sampai depan rumah.
"Iya, ma," jawab Kala dan Dinar hampir bersamaan.
Mereka pun masuk ke dalam mobilnya. Kala membukakan pintu samping untuk Dinar, sebelum kemudian ia masuk ke bagian jok kemudi.
Nyonya Rose melambaikan tangannya seiring mobil Kala pergi. Senyumnya terukir di bibir tipisnya. Ia senang bisa memastikan langsung jika hubungan putra dan menantunya baik-baik saja.
"Mama harap hubungan kalian memang baik-baik saja, tidak ada kepura-puraan."
Nyonya Rose menghembuskan napas kecil, ia memutuskan masuk ke dalam rumah setelah mobil yang di kemudikan oleh Kala sudah hilang dari pandangan. Security juga sudah menutup kembali pintu gerbangnya.
Nyonya Rose terlonjak kaget melihat suaminya berdiri di ambang pintu begitu ia membalikan badan.
"Papa .." Nyonya Rose memengan dadanya serasa jantung mau copot.
"Papa melihat sesuatu di ponsel Kala, ma," ujar pria itu menciptakan kerutan dalam di kening istrinya.
"Sesuatu?"
Tuan Azof mengangguk membenarkan.
_Bersambung_