NovelToon NovelToon
Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos

Status: tamat
Genre:CEO / Romansa / Rumah Tangga / Romantis / Tamat
Popularitas:345k
Nilai: 4.9
Nama Author: Gledekzz

(NOVEL INI DALAM PERBAIKAN.)

Zahra Aneska, 28 tahun, telah lama memutuskan untuk tidak menikah. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan pasangan, terlebih keluarganya selalu menentang setiap pilihan yang ia ambil.
Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana. Suatu hari sepulang kerja, ia dikejutkan oleh kenyataan yang sulit dipercaya dengan status lajang yang selama ini ia pertahankan tiba-tiba berubah. Ia resmi menjadi istri dari atasannya sendiri.
Pernikahan itu penuh tanda tanya. Apakah pria itu juga berada dalam situasi yang sama? Ataukah ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Menjalani rumah tangga tersebut jelas bukan hal mudah. Konflik, tekanan, dan berbagai rahasia perlahan mulai terungkap. Di tengah semua itu mampukah cinta tumbuh di antara mereka, atau justru ini menjadi awal dari masalah yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Halaman ~

...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...

Zahra berdiri di dekat Abyan yang tengah mengambil makanan. Dengan sedikit canggung ia berusaha menjalankan perannya di depan keluarga besar lelaki itu.

“Mas, mau lauknya apa?” tanya Zahra sambil mengambil piring untuk Abyan.

“Sayur bayam, ayam gulai, sama tempe bacem Ay,” tunjuknya satu persatu.

Zahra langsung mengisi piring sesuai permintaannya.

“Khem,” suara kecil menggoda muncul dari Hanum. “Biasa ambil sendiri, lain cerita kalau udah punya istri,” sindir Hanum sambil tersenyum jahil.

“Lo nggak isi piring Ayang lo?” tanya Falisha ikut nyinyir.

“Sudah biasa milih sendiri. Puas, Pak Su mau makan apa,” balas Hanum dengan santai sambil menyuap nasi sendiri.

“Istri memang harus melayani suami dengan benar Hanum,” tambah Farra dengan penuh wejangan.

“Iya nih, lo kalau diperhatikan dari awal nikah sampai sekarang, cuek banget sama mas Darman,” Falisha ikut menambah bensin di api kecil.

“Mas, bela aku kenapa?” Hanum langsung memanggil suaminya dengan suara manja.

“Emang benar Yang,” balas Darman dengan lembut, tapi sukses buat Hanum langsung manyun.

“Sini piringnya!” Hanum langsung mengambil paksa piring Darman dengan gaya seolah-olah ini urusan hidup dan mati.

“Nggak Yang, Mas isi sendiri. Sayang makan aja ya,” balas Darman sambil tersenyum menenangkan.

Pemandangan itu membuat suasana semakin cair. Interaksi mereka terasa hangat dan penuh candaan, seolah sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

“Tapi netizen kalau ngomong suka nyakitin banget Mas,” Hanum mengadu.

“Siapa yang nyakitin? Ayah cium pipi Bunda,” candanya sambil pura-pura mau mendekat.

“Ih nyebelin,” Hanum menjawab dengan pipi merona, meski jelas ia tidak beneran marah.

Beberapa orang di meja hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka yang tak pernah kehabisan cara untuk saling menggoda.

“Ini Mas,” ucap Zahra sambil memberikan piring yang sudah diisi dengan penuh perhatian.

“Terima kasih, Ay.” Abyan tersenyum lebar.

“Cie, cie, pengantin baru, bisa-bisa nih kulkas tiga belas pintu cair,” sindir Falisha sambil cekikikan.

“Emang ada kulkas pintunya tiga belas?” Farra tiba-tiba menimpali dengan serius.

“Ye, Oma, nggak tau apa di rumah kita ada?” jawab Hanum ikut nimbrung.

“Mana?” tanya Farra.

Falisha dan Hanum kompak menoleh ke arah Abyan. “Itu.” serentak mereka menunjuk sambil tertawa.

“Eh cucu Oma yang ganteng ini kok bisa-bisanya disebut tiga belas pintu kulkas?”

“Kebalik Oma. Kulkas tiga belas pintu, bukan tiga belas pintu kulkas,” Hanum buru-buru menjelaskan, tapi malah buat semua orang tambah bingung.

“Iya itu maksudnya! Tapi cucu Oma nggak boleh dikatain begitu. Mau kamu Abyan jadi kulkas tiga pintu, tiga pintu ada kulkas, atau kulkasnya ada tiga? Eh... kenapa jadi bahas kulkas sih?!” Farra akhirnya frustasi sendiri.

Seketika meja makan dipenuhi tawa.

“Oma mau membela yang jujur dong. Jangan sungkan-sungkan, Oma.” Falisha terlihat sangat menikmati momen itu.

Farra mendengus kecil, jelas terlihat ia kesal tetapi memilih tidak memperpanjang perdebatan.

Zahra melihat itu berpikir bahwa Farra ternyata tidak buruk juga.

“Mas, nanti ajak Zahra istirahat di kamar. Entar sore aja kita pergi ke hotel, menginap di sana. Soalnya menghias pengantin lama, harus dari pagi habis sholat subuh sudah mulai dihias,” jelas Sari seperti sedang memberikan arahan penting.

“Iya Bun.” Abyan menjawab dengan patuh, meski sorot matanya sempat menyipit seolah sedang memikirkan sesuatu.

“Bun, Mas, mbak Zahra istirahat di kamar aku ya malam ini, tidur sama aku ya,” bujuk Falisha dengan manja.

“Nggak bisa Sha,” jawab Abyan cepat tanpa memberi celah.

“Malam ini aja Mas.” Falisha kembali memohon kali ini dengan lebih lembut.

“Pengantin baru diganggu. Gimana juga cicit Oma bisa muncul cepat kalau kamu larang begini?” sindir Farra dengan senyum tipis.

Ucapan itu membuat beberapa orang menahan reaksi, tetapi Hanum justru menimpali dengan santai.

“Mbak Falisha belum tau panasnya bermain goyang hot di kamar,” ucapnya tanpa ragu.

“Sayang, malu,” Darman langsung memberi kode lewat tatapan.

“Emang benarkan Mas, kita aja bisa lembur sampai pagi,” lanjut Hanum seolah itu hal biasa.

“Nggak usah dijelasin juga kali,” Falisha langsung memasang wajah canggung.

“Biarin, emang iya,” balas Hanum ringan.

“Boleh ya Mas?” Falisha kembali fokus pada tujuannya.

“Nanti aja Sha. Orang lagi musim produksi,” ujar Farra lagi.

“Ih Oma, malam besok, besok, besok, besoknya lagi kan bisa. Nggak juga harus malam ini memproduksinya,” bantah Falisha.

Zahra yang sejak tadi memperhatikan mulai memahami arah pembicaraan. Ia sudah bisa membaca niat Falisha dari awal.

“Mas ada perlu Sha, dengan Zahra,” jawab Abyan dengan suara tenang namun tegas.

“Mas, sekali ini aja. Anggap aja kami berdua lagi masa pendekatan antara kakak ipar dan adik ipar,” lanjut Falisha tanpa menyerah.

“Gue nggak diajak?” Hanum tiba-tiba ikut menyela dengan bercanda.

“Mas Darman emang mau bobok sendiri?”

“Yang,” panggil Darman pelan memberi isyarat.

“Tuh kan,” Falisha kembali menoleh ke arah Abyan. “Boleh ya Mas?” ulangnya lagi.

“Mas, malam ini boleh nggak aku tidur sama Falisha, malam ini aja?”

Zahra yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara meski sempat ragu.

“Tapi, Ay—”

“Nggak boleh ya?” lanjut Zahra cepat dengan memohon.

Abyan terdiam sejenak. Ia menyelesaikan kunyahannya terlebih dahulu, lalu menghela napas pelan. “Mmmm, boleh.”

“Terima kasih Mas.” Zahra tersenyum kecil.

“Mmmm... Iya.”

“Yes, terima kasih Mas ku yang ganteng!” seru Falisha dengan wajah sumringah.

Sedangkan Abyan justru wajahnya terlihat lebih datar, bahkan sedikit muram, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ia ungkapkan.

...***...

Zahra melepas mukenanya setelah selesai menunaikan salat Zuhur. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Falisha.

Kasur itu terasa begitu empuk, seolah menarik tubuhnya untuk tetap diam dan tenggelam dalam kenyamanan.

“Ra, lo marah ya?” tanya Falisha sambil duduk di samping Zahra. Tangannya meraih tangan Zahra dan mengayunkannya pelan.

“Enggak!” jawab Zahra lantang sambil melepaskan pegangan itu dengan ekspresi berlebihan.

“Ra, maaf…” Falisha kembali menggoyangkan bahu Zahra dengan hati-hati.

“Nggak ah.” Zahra menjawab santai, sengaja menggodanya.

“Lo kok gitu sih Ra?”

“Oh, jelas gue begini! Udah berapa lama lo bohongin kami? Tiga belas tahun tau nggak?!” Zahra bangkit duduk, menatap Falisha dengan ekspresi dramatis.

“Maaf, gue cuma nggak mau kalian tau kondisi gue, terus kalian nggak mau temenan lagi.” suara Falisha melembut penuh penyesalan.

“Kalau kami tau terus manfaatin lo gimana?” Zahra menimpali dengan menekan.

“Ya nggak apa-apa. Bila perlu kalian mau apa gue kasih aja.” jawab Falisha santai.

“Nyawa lo juga boleh?” Zahra mengangkat alis, menguji.

“Kalau kalian mau.” jawab Falisha tanpa ragu meski senyumnya tipis.

“Aneh.” Zahra hanya menggeleng.

“Maafin gue Ra. Gue janji sama kalian, apapun yang kalian mau tau soal gue, gue bakal jawab sejujur-jujurnya. Nggak ada lagi rahasia di antara kita!” Falisha menatap Zahra serius dengan penuh harap.

Zahra perlahan bangkit dan duduk sejajar dengan Falisha. Amarahnya tidak pernah benar-benar bertahan lama, apalagi pada Falisha.

“Iya-iya, gue maafin. Tapi janji ya jangan ada rahasia lagi. Kalau lo bohong lagi, inget! Tiada kata maaf untuk lo. Tiga belas tahun kita barengan, jangan sampe gue pecat lo dalam satu hari jadi sahabat.” ucap Zahra berpura-pura marah.

“Janji, nggak lagi!” Falisha langsung mengangkat jari kelingkingnya.

Zahra menyambutnya, mengaitkan jari mereka sebagai tanda kesepakatan. “Awas lupa!”

Falisha menggeleng cepat. “Nggak mungkin lupa! Janji pokoknya.”

Keduanya melepas kaitan jari, seolah menutup drama kecil di antara mereka, setidaknya untuk sementara.

“Gimana sekarang lo sama Mas Abyan?” tanya Falisha kemudian wajahnya berubah serius.

“Ya kita PDKT dulu.” jawab Zahra santai.

“Ih, bukan itu! Gimana sama mas Abyan semalam?” Falisha kembali menunjukkan rasa penasarannya.

“Apaan sih?” Zahra menarik napas panjang. “Lo kan pasti bisa menebak gue sama dia nggak bakal ngapa-ngapain.” lanjutnya tegas.

“Hayo jujur.” Falisha tetap memaksa.

“Jujur Sha, lo kalau mau tau aktivitas kami di dalam kamar, ayo ikut aja dengan senang hati.” balas Zahra tajam.

“Ih, gila! Masa gue disuruh nonton live streaming kalian berdua.” Falisha langsung bereaksi heboh.

“Habisnya kepo banget sih jadi orang. Tau gue nikah dipaksa gini. Jangan-jangan lo ya yang menjodohkan kami berdua.” Zahra mulai serius.

“Ih, fitnah! Gue aja baru tau pas ijab kabul kemarin. Untung keluarga lo lupa gue yang pernah main ke sana. Ada sih yang inget gue, tapi dengan cepat gue selipkan uang seratus ribu di kantongnya, nyuruh mulutnya dilem dulu.”

“Gue kok nggak percaya ya?”

“Terserah.” Falisha menyeringai. “Oma aja nggak ikut tau.”

“Kenapa?”

“Baru balik dari London, jalan-jalan sama bestienya. Mas Abyan aja ngasih tau tiga hari sebelum akad nikah, minta gue, Hanum, dan Bunda nyiapin semua permintaan lo.”

“Secepat itu?” Zahra tertegun.

“Iya. Lo nggak percaya, tanya aja sama Hanum. Gimana sibuknya kami bertiga, dibantu asisten rumah tangga. Gue sampe nyaris lupa warna baju gue sendiri.”

“Gitu ya?” Zahra mulai melunak, meski masih menyimpan ragu.

“Eh, lo udah kasih tau Mika belum soal lo udah menikah sama mas Abyan?” Falisha kembali bertanya.

“Ya belumlah. Lo juga kan tau gue aja terkejut setengah hidup gini.”

“Enggak setengah mati?”

“Gue takut mati, makanya setengah hidup.” jawab Zahra cepat.

“Ya juga sih. Oh ya, gimana keadaan Mika? Gue belum kesana liat dia, gara-gara ikut ngurusin nikahan kalian.”

“Syukur sih, keadaannya baik-baik aja. Gue udah kesana kemarin sebelum pulang ke rumah, mampir sebentar. Dia hari ini udah masuk kerja. Nggak sakit lagi katanya.”

“Emang ya kalau orang kesehatan ngurus diri sakit bisa sendiri.”

“Itu menurut pikiran lo. Begini-begini, orang kesehatan sakit juga butuh pertolongan. Mungkin kemarin nggak parah, cuma sakit sedikit doang.”

“Oh begitu.” Falisha mengangguk pelan, meski raut wajahnya masih terlihat berpikir.

Suasana di dalam kamar kembali tenang, menyisakan obrolan ringan dan kehangatan yang perlahan kembali seperti dulu.

...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...

1
Yani Cuhayanih
Ko ada lllakiyg langka suka sama cewe matre kayak zahra....thor masih punya stock gk aku juga mo cowo kayak abyan hahaha
Yani Cuhayanih
ini acara nikahan yg paling aneh bin ajaib bisa dapet suami kayak opa ...gk mesti pdkt dulu langsung sah.....hebaaat
Alexa Juliana
Waahh Zahra koma 2 bulan...Tp syukurlah dia selamat dan bangun dalam keadaan baik2 saja..
Alexa Juliana
Kematiaj yg terlalu mudah buat Cherly, harusnya dia di siksa ala2 mafia dulu sampai dia meminta kematiannya sendiri..Duuuhhh knp aku juga psikopat yaaa?Efek sebel dan kesal sama si Cherly..
Alexa Juliana
Hadeuh si Zahra ini keras kepala juga, jalan saja sdh mulai susah Krn perut hamilnya malah pengen ke pasar tradisional, blm lg ancaman dr si ulat bulu yg pasti lg nunggu lengahnya buat ngelancarin aksinya..
Alexa Juliana
Msh berharap klo Zahra hamil bayi kembar, apalagi Hanum anaknya kembar jd biar tambah seru aja, blm nanti anak dr Falisha dan Mika semakin rame aja rumah utama..
Alexa Juliana
Klo klrg sdh ngumpul adaaaa ajaaaa bahan pembicaraan yg bikin seru..
Alexa Juliana
Fadeeeelll kamu dimana? Itu ulat bulu lepas dr pengawasan kamu, sampai2 udh nemplok aja meluk Mas Abyan..
Alexa Juliana
Berarti saat Zahra di culik itu kecebong sdh tumbuh..Alhamdulillah kecebongnya kuat, kualitas premium jd g kenapa2..
Alexa Juliana
Ishh Zahra katanya perawat tp g tau yg namanya Couvade Syndrome..
Alexa Juliana
Semoga saja Zahra benar2 hamil cuma gajala kehamilannya Abyan yg ngerasain..😁
Alexa Juliana
Ternyata Cherly ga metong...Hmmm berarti selama ini Abyan menangisi dan maratapi org yg salah sampai di rawat di RSJ..Kasihan Abyan ditipu mentah2, untung ada Fadel yg membongkar kebusukan Cherry..
Alexa Juliana
Tuuhhh kaannn bnr yg nyelamatin Zahra saat di culik adalah Mas Abyan, tp g nyangka juga ternyata dia punya geng mafia yg di pimpin oleh Fadel, sepupunya...
Alexa Juliana
Ngebayangin para suami yg ditinggal istrinya liburan, mana lama lagi 2 Minggu kelimpungan2 deh..dan udh pasti para suami pun nyusul para istri...😁😁
Alexa Juliana
Kartu unlimited..
Alexa Juliana
Makan malam Thor bukan sarapan malam..
Alexa Juliana
Mrk yg unboxing knp aku yg nahan nafas yaaa? 🤭😄
Alexa Juliana
Kenapa bukan Zen yg jd wali nikahnya Mika, kan dia kakak kandungnya Mika?
Alexa Juliana
Baca novel ini berasa baca buku hariannya Zahra deh..🤭🤭
Alexa Juliana
Abyan dan pasukannya yg nolong Zahra and the geng, makanya mata Zahra di tutup..lalu dianya pingsan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!