Nina Verra Gandi, akibat cinta monyetnya–dia berulang kali hampir di lecehkan. Hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan Nina dengan sahabatnya sendiri, Rifki Yohanes, namanya. Seiring berjalannya waktu, Nina jatuh cinta pada sahabatnya itu. Saat cinta itu mulai tumbuh di masa SMK, Nina diduga mengidap penyakit kanker otak. Saat pengobatannya telah berhasil, musibah lain menimpa Nina hingga membuat Rifki menjadi pendiam dan hemat bicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Dari sembilan orang, masih ada satu orang yang belum datang, dan itu adalah Hendri Kusuma Dwijo. Berhubung Rifki begitu keras soal nilai, maka teman kelompoknya pun mengerjakan tugas masing-masing dengan semestinya. Sementara Iki sibuk berbalas pesan dengan orang tuanya. Orang tua Iki tetap kekeh Iki pindah sekolah sementara Iki berubah pikiran lantaran Nina yang mulai mengenal cinta.
"Kalau sudah, nanti kirim filenya di WhatsApp," ujar Iki pada teman-temannya.
"Sudah, sudah aku kirim dan masih dalam proses," kata Sinta bernafas lega.
"Sudah dipelajari?" tanya Iki mengerutkan kening.
"Sudah," balas Sinta dengan santai.
Iki membuka file yang di kirim oleh Sinta. Lalu mengajukan pertanyaan pada Sinta. Tiga pertanyaan yang diajukan dan Sinta bisa menjawab ketiganya. Begitulah bila sekelompok dengan Iki. Dia mengharuskan teman temannya menguasai materi yang mereka kerjakan. Karena, saat mereka diskusi nanti, semua anggota kelompoknya harus aktif agar semuanya mendapatkan nilai perorangan. Iki tidak mau hanya satu dua atau tiga orang yang mendapatkan nilai yang bagus. Dia mau merata.
Menjelang sore, Hendri belum juga datang. Anggota kelompok yang lain meminta Iki untuk memberinya keringanan dan Iki pun setuju. Sebenarnya dia ingin memberi keringanan tapi dia takut temannya memprotes. Berhubung anggota kelompoknya yang meminta Iki untuk memberi keringanan, maka Iki pun mengirim bagian yang harus dikerjakan oleh Hendri. Dengan catatan, Hendri harus mengirim jawaban sebelum jam sembilan malam.
"Kami pulang dulu, sampai jumpa besok." Clara dan yang lain pamit pulang.
"Oh ya, Nina, Kak Zeto minta nomor kamu," beritahu Masya, sepupu Zeto yang tak lain adalah senior yang pagi tadi di bahas.
"Kasi aja nggak Papa," ujar Nina tersenyum. Belum resmi putus dengan Haikal namun dia sudah terpikat dengan ketampanan Kak Zeto.
"Oke." Masya mulai mengirim kontak Nina pada Zeto.
Sepulang teman kelompoknya, Nina kembali ke rumahnya tanpa menatap Iki yang menatapnya. "Terserah dia saja, dia akan tobat saat dirinya telah dinodai," gumam Iki yang mulai bersikap masa bodoh.
Mengira dia akan tenang, namun nyatanya tidak. Iki kembali mencemaskan Nina yang gampangan menurut Iki. Anehnya, Iki yang tampan tak membuat Nina terpikat, beda halnya dengan siswa yang lain yang tergila gila akan ketampanan Iki.
"Orang tuanya saja tidak cemas, kenapa aku harus cemas!" batin Iki.
Pagi keesokan harinya, di SMK Aktif Belajar, Nina mengumpul tugasnya di atas meja. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Terkecuali Iki yang lupa membawa buku tugasnya namun dia sudah menghubungi Ibu Leli lebih dulu.
Jam pertama dimulai, Nina fokus mendengarkan penjelasan Ibu Leli begitu juga dengan Iki. Hingga cicak yang jatuh mengenai rambut Nina membuat gadis itu dihukum akibat berteriak kuat.
"Ibu, maaf, sebenarnya saya yang meletakan cicak mainan itu di rambut Nina," ucap Iki berbohong.
"Ya ampun Iki ... sana, minta Nina masuk dan kamu gantikan Nina!" tegas Ibu Leli.
Iki beranjak dari kursi menuju lapangan. Dia menghampiri Nina yang mendengus kesal. "Sana masuk," titah Iki.
"Kamu serius?" tanya Nina tak percaya.
Iki mengangguk. Nina segera masuk ke kelas. Sementara Iki tinggal di lapangan dibawa matahari yang mulai terasa panas. Kelamaan dibawa paparan sinar matahari, tubuh Iki mengeluarkan keringat. Hingga bel istirahat menyudahi hukuman Iki. Haus, Iki berlalu ke kantin.
"Ci Lia, es mangganya satu dong, cepat ya, Ci." Iki terus mengipas wajahnya menggunakan tangan.
"Kok bisa dihukum?" tanya Ci Lia.
"Si Nina sontoloyo itu, dia berteriak seperti orang gila. Mau nggak mau aku cari alasan buat gantiin dia," beritahu Iki.
Ci Lia tersenyum, sementara siswi yang lain merasa Iki adalah pria idaman. Belum juga minumannya selesai dibuat, anak Akutansi bernama Ana mengambil tempat di samping Iki. Iki tak berpindah tempat, dia membiarkan Ana duduk di sampingnya.
"Pasti karena Nina lagi kan?" tanya Ana pelan.
"Karena siapa lagi," jawab Iki dengan santai.
"Novi minta nomor kamu. Katanya penting," beritahu Ana.
"Silahkan kasih bila memang nomorku ada di kamu," ucap Iki menyeka keringat di wajahnya. "Terima kasih Ci Lia," ucap Iki saat Ci Lia mengantarkan minumannya. Ci Lia tersenyum.
Tak sengaja menoleh di kantin sebelah, Iki mendapati Nina duduk di atas motor yang berbeda dengan Kak Zeto. Tak mau ikut campur, Iki membiarkan Nina berlaku sesukanya. Sekuat apapun Iki menjaga Nina, bila Nina sendiri tidak menjaga dirinya, maka wanita itu tetap akan binasa.
Bel masuk terdengar, Iki dan Anak masuk ke kelas masing-masing. Sementara Nina masih di kantin bersama Zeto. Guru di jam kedua masuk, dan Nina masih belum datang juga. Kesal, Iki izin ke toilet walau sebenarnya dia ingin ke kantin.
"Kamu ini, datang di sekolah mau pacaran atau mau belajar. Ayo masuk!" Iki menjewer kuping Nina. Membuat Nina meringis kesakitan.
"Lepas, Iki!" ketus Nina.
Iki menjauhkan tangannya dari kuping Nina. Dia mempercepat langkahnya menuju kelas. Meminta permisi, Iki masuk ke dalam kelas di susul oleh Nina.
"Nina, keluar!" tegas Ibu Ramla. Guru Kimia yang super galak.
Nina mendesah kasar. Dia berdiri di depan kelas hingga materi yang di bawakan Ibu Ramla selesai. Masuk ke dalam kelas, Nina menendang kursi Iki. "Kenapa dari tadi nggak bilang kalau Ibu Ramla masuk hari ini!" ketus Nina.
Iki mengerutkan keningnya, menatap Nina yang bersikap gila. "Tanya dirimu, kenapa berduaan di jam belajar." sindir Iki.
Ponsel Iki berdering, nyatanya dari sang Mama. Segera Iki menjawab panggilan dari Mama nya. "Iya, Ma. Nanti aku urus semuanya. Sudah dulu, Mah. Aku ke ruang kepala sekolah dulu."
"Iya, Sayang. Cepat urus, jika sudah, kabari Mama nanti Mama belikan tiket," kata wanita diujung telepon.
"Berhubung kamu nggak mau nikah sama aku, dan aku juga mulai jenuh dengan sikap kamu, maka mari kita jalani persahabatan kita lewat LDR," bisik Iki.
Iki tersenyum kemudian keluar dari kelas. Dia ke ruang guru menuju ruang kepala sekolah. Berbincang dengan kepala sekolah sebentar kemudian kembali ke kelas. "Kamu kenapa lagi?" tanya Iki heran. Dia menatap aneh Nina yang mulai cengeng.
"Kok kamu pindah sih ..." Nina memukul Iki.
Tertawa pelan, Iki membiarkan Nina memukulnya. "Mulai hari ini, kuberitahu kamu satu hal. Hanya pria gila yang tak menginginkan ciuman, pelukan, pegangan tangan bahkan lebih dari itu pada kekasihnya. Jadi, jagalah dirimu dengan baik jika kau ingin berjodoh dengan pria baik-baik."
"Oh ... berarti kamu dan mantan pacarmu itu perna berpegangan tangan, pelukan!" seru Nina. Teman mereka yang di dalam kelas pun menoleh pada mereka yang berkelahi.
"Munafik namanya bila aku jawab belum. Sudah tahu jawabannya, kan?" Iki mengambil tasnya lalu keluar dari dalam kelas.
Pergi ke Fakultas TKJ, Rifki duduk bersama Dika, temannya anak TKJ. Lalu datang Gio dan Alan. Gio mengeluarkan rokok, juga korek api.
"Aku dengar Haikal pindah sekolah. Apa itu benar?" tanya Dika mengeluarkan sebatang rokok dari pembungkusnya.
"Katanya sih begitu," balas Gio yang juga anak Kesehatan.
"Bro, cepat matikan rokoknya, ada Pak Alman di kelas sebelah!" beritahu Taufik yang dari luar. Dika, Gio dan Alan segera mematikan rokoknya kemudian menyimpannya.
"Jangan lupa, nanti malam ke rumahku. Ada acara di sana," ucap Dika.
"Pasti, Bro. Sudah lama aku nggak joget," Gio tersenyum.
"Bdw, kamu beneran mau pindah sekolah?" tanya Alan pada Rifki.
"Rencananya sih begitu, tapi aku takut Nina kenapa napa setelah aku tinggal. Kalian tahu sendiri kan, dia dalam masa nakal nakalnya sekarang. Belum juga putus sama Haikal, dia sudah jadian sama Zeto anak Akutansi itu." Rifki menyandarkan kepalanya di bahu kursi.
tpi keren ceritanya tingkat kan