Vianne Collins, seorang wanita yang berhasil mendapat gelar dokter, karena bantuan dari seorang pria paruh baya bernama George Orlando. Baginya, tak ada yang lebih penting selain Tuan George Orlando.
Zayn Richard, atau dikenal dengan nama Zero, merupakan asisten pribadi dari Axton Williams. Ia menjalin hubungan dengan Vianne, demi melupakan seorang wanita yang tak lain adalah adik dari atasannya sendiri, Alexa Williams.
Namun, Zero menganggap bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Vianne karena ia tak bisa mencintai wanita itu dan memutuskan untuk mencintai Alexa dalam diam, meski wanita itu sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAAFKAN DAD
Keesokan harinya, Julian kembali mendatangi Vianne di rumah sakit. Ia sangat yakin Vianne ada di sana karena sejak dulu, Vianne adalah wanita yang sangat disiplin.
"Vi ....," sapa Julian lagi saat Vianne datang ke rumah sakit. Vianne cukup kaget karena Julian mendatanginya pagi pagi saat ia baru datang ke rumah sakit.
"Ada apa?"
"Bukankah kamu berjanji akan menerimaku kembali setelah aku mengatakan siapa Samantha yang sebenarnya."
"Lalu kamu kira aku akan percaya dengan ucapanmu? Aku tak ingin merusak hubunganmu dengan sahabatku. Jadi, biarlah semua tetap seperti ini," ucap Vianne yang terus berjalan menuju ruangannya, sementara Julian terus mengikutinya dari belakang.
"Vi!" Julian meraih pergelangan tangan Vianne agar wanita itu menghentikan lajunya.
"Lepaskan aku," Vianne berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Julian.
"Aku tak akan melepaskanmu. Apa kamu tidak menyadari bahwa aku sangat sangat mencintaimu?" tanya Julian.
"Mencintai tak harus memiliki. Itulah yang aku ketahui," ucap Vianne.
"Tapi bagiku tidak begitu. Aku pastikan akan memilikimu," ucap Julian.
"Bisakah kamu pergi? Aku harus bekerja," pinta Vianne.
"Aku akan kembali saat makan siang. Kita makan bersama," ucap Julian.
Vianne tak mengindahkan perkataan Julian dan langsung masuk ke dalam ruangannya. Namun, Julian yang belum mendapatkan jawaban dari Vianne, ikut masuk ke dalam.
"Julian!"
Julian langsung mengungkung Vianne ke dinding dan jarak wajah mereka hanya beberapa centimeter saja. Vianne langsung memalingkan wajahnya, tapi ia masih bisa merasakan hembusan nafas dari Julian.
"Apa kamu meragukanku, Vi?" bisik Julian di samping wajah Vianne.
Ceklekkk
Pintu ruangan Vianne terbuka dan menampakkan sosok wanita yang tak disangka akan datang pagi itu. Matanya membulat melihat sahabat dan kekasihnya sedang berada dalam posisi di mana setiap yang melihat pasti akan berprasangka yang tidak tidak.
Vianne dan Julian melihat ke arah Samantha yang kini menatap keduanya. Air mata sudah mengalir di pipinya.
"Kalian jahat!" teriak Samantha yang langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Vianne langsung mendorong tubuh Julian saat pria itu masih melihat kepergian Samantha. Vianne langsung keluar dan mengejar Samantha.
"Tha! Dengarkan aku dulu," panggil Vianne. Ia tak ingin Samantha salah paham dengannya. Bagi Vianne, hanya Samantha yang selalu ada di dekatnya saat ia masih sekolah dulu.
Samantha menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya. Ia menatap Vianne dengan wajah yang masih berurai air mata.
"Apa yang perlu kudengar? Aku melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana."
"Ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku sahabatmu, tha. Aku tak akan pernah mengkhianatimu. Apa aku perlu bersumpah untuk itu?" tanya Vianne.
"Aku tak tahu. Aku ingin sendiri," Samantha kembali memutar tubuhnya dan meninggalkan Vianne yang berdiri diam terpaku melihat kepergian sahabatnya.
Ia pun segera kembali ke ruangannya. Ia tak melihat lagi keberadaan Julian di sana. Vianne pun keluar dan bertanya pada bagian administrasi di sana. Sebenarnya ia sungguh malu jika para staf di sana mendengar apa yang telah terjadi di ruangannya.
"Apa kalian melihat pria yang keluar dari ruanganku?" tanya Vianne.
"Ya, Dok. Ia pergi ke arah lift tadi."
Vianne mulai berpikir bahwa Julian langsung mengejar Samantha. Jika memang benar, maka itu bagus karena ia ingin keduanya nemperbaiki hubungan mereka. Dan sepertinya ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya di Kota Paris karena tak ingin berlama lama lagi di sana.
*****
Hidup Zero benar benar terasa datar. Tak ada yang ia kerjakan saat ini selain pergi ke Perusahaan Williams dan kembali ke apartemen.
Sudah 1 minggu berlalu sejak kepergian Axton untuk berbulan madu dan selama itu pula ia harus melihat kebersamaan Alexa dengan Michael setiap jam makan siang.
Zero pergi ke rooftop di mana hanya terdapat helipad di sana. Ia menghela nafasnya dalam dan menatap ke arah banyaknya gedung perkantoran yang tinggi menjulang.
Ponsel Zero berbunyi saat ia baru saja ingin kembali turun ke ruangannya. Tertera nama One di sana.
"Halo."
"Kak, minta Tuan Michael dan Nyonya Alexa ke rumah sakit Williams. Nala terjatuh. Aku sudah mencoba menghubungi tapi tak tersambung."
Zero langsung berlari ke ruangan di mana Alexa berada. Di sana ia melihat Alexa sedang sibuk dengan beberapa tumpuk laporan dengan Michael di sebelahnya.
Alexa yang melihat kedatangan Zero dengan begitu tergesa gesa pun menautkan kedua alisnya.
"Ada apa, Ze?" tanya Alexa.
"One berusaha menghubungimu. Nala terjatuh dan sekarang ada di Rumah Sakit Williams," jawab Zero.
Alexa langsung meletakkan laporan yang tadi sedang diperiksanya. Ia mengambil tas dan keluar dari ruangan bersama dengan Michael dengan perasaan berkecamuk. Ia merutuki dirinya sendiri saat melihat ponselnya yang kehabisan daya. Ia lupa mengisi dayanya semalam karena langsung bercengkerama dengan putra putrinya kemudian beristirahat.
Zero mengikuti keduanya dari belakang. Ia melihat bagaimana Michael terus memeluk Alexa, memberikan ketenangan pada wanita yang sudah lama ia sukai itu. Zero mengambil alih kemudi mobil dari supir, kemudian melajukan kendaraan tersebut menuju rumah sakit.
Dari spion tengah mobil, Zero melihat kegelisahan di wajah Alexa, membuatnya semakin mengemudikan mobil dengan cepat.
Zero menghentikan mobil di lobby dan membiarkan Alexa dan Michael untuk turun lebih dulu sementara dirinya akan memarkirkan mobil.
Alexa melihat keberadaan One di depan ruang tindakan bersama dengan Nicholas, Alex, dan Nathan. Mereka bertiga duduk masih sambil bermain ponsel milik Nathan.
"One!" panggil Alexa.
One menoleh begitu pula dengan ketiga anak laki laki tersebut. Ia langsung mendekati Michael dan Alexa.
"Apa yang mereka lakukan di sini?" tanya Alexa yang heran melihat ketiga anak tersebut bersama dengan One.
"Kami pergi ke Mall, Mom," jawab Nathan dengan santai.
"Siapa yang mengijinkan?" tanya Alexa.
"Kami bosan di rumah, Mom. Mom dan Dad sibuk, begitu pula dengan Grandpa dan Grandma yang bertemu dengan salah satu teman mereka siang tadi. Jadi kami mengajak Uncle One ke Malla untuk bermain," ucap Nathan.
"Kita akan pergi bersama saat weekend, sayang," Alexa menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Nathan.
"Maafkan Dad, sayang," Michael mengelus rambut Nathan.
"Lalu bagaimana keadaan Nala?" tanya Alexa.
Pintu ruang tindakan terbuka dan keluarlah seorang dokter dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.
🧡 🧡 🧡