NovelToon NovelToon
Sheilla Abraham

Sheilla Abraham

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:70.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizkook lovers

Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.

Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.

Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eight

Bus baru saja melewati Halte terdekat dari rumah Sheilla setelah sempat berhenti beberapa saat di sana, namun gadis berkaca mata itu tak kunjung datang hingga bus berwarna oranye yang sejak tadi menunggu pun langsung pergi untuk melanjutkan ke halte berikutnya.

Seorang laki-laki berkulit putih bersinar yang duduk tepat di samping jendela menghela nafas kecewa, sepertinya gadis yang selalu menjadi semangat untuk nya tidak masuk hari ini.

"Kemana dia? kenapa hari ini dia tidak naik bus? apakah dia tidak masuk hari ini?" Batinnya penuh tanya.

Sayang sekali padahal pagi ini Adnan sengaja tidak sarapan karena ingin mengajak gadis bermata biru yang selalu naik bus bersamanya itu untuk sarapan bersama, namun sepertinya Adnan harus pergi ke kantin sendiri nanti, atau tidak usah sarapan saja? lagipula ia sedang tidak mood makan.

Wajah tampan laki-laki yang selalu menjadi incaran para gadis SMA Raharja itu terlihat sangat murung. Entahlah, tidak ada yang tahu tentang apa yang membuat nya seperti itu, bahkan ke-tiga temannya juga.

"Woy, kenapa sih? dari pagi ampe siang muka lo galau amat. Ada masalah?" Laki-laki kelahiran Osaka itu merangkul bahu sang teman. "Sini deh cerita, siapa tahu kita bisa bantu." Timpal si laki-laki pemilik muka bak kelinci ; Dion.

Ryan hanya menghela nafas, kemudian menggeleng. "Gak ada, cuma gak ada mood aja."

"Gak ada mood, atau karena si cantik Sheilla gak masuk nih?" Goda laki-laki tinggi berkulit eksotis yang tengah memegang bola basket.

Ryan diam, dan ke terdiamannya itu dianggap sebagai jawaban 'ya' dari teman-temannya.

"Gak usah galau kalik, besok juga udah berangkat lagi tuh cewek. Gak usah galau, entar apa kata Mang Soleh kalau liat lo galau?"

"Orang ganteng galau? orang jelek sengsara!! Hahaha!" Timpal Ander dan Yudha bersamaan, kemudian tertawa kencang ketika mengingat bagaimana raut wajah tukang kebun sekolahan mereka ketika mengatakan kata-kata mutiara nya itu.

Dion tersenyum tipis, menepuk bahu Ryan pelan, "Lo suka sama Sheilla?"

Pertanyaan dari Dion sontak membuat mata Ryan melebar, begitu juga Ander dan Yudha yang sudah berhenti tertawa dan memasang ekpresi siap untuk meledek Ryan.

"Uhuy! kapten kita jatuh cinta sama cewek guys!!"

"Alhamdulillah! gue kira lo udah gak lurus Yan!"

Sheilla masih belum sadarkan diri, mata biru itu telah tak terbuka sejak semalam dan itu sungguh membuat perasaan Arjun dan anak ARMI yang lain khawatir.

Beberapa dokter yang mereka panggil tak ada yang bisa melakukan apapun untuk membuat Sheilla tersadar, yang bisa mereka katakan hanyalah "Kita harus menunggu hatinya tenang, baru ia akan tersadar."

Sejak semalam Arjun dan Mahen selalu berada di sisi Sheilla, tak ada semenit pun mereka beranjak dari sana, bahkan untuk mandi dan makan pun tidak.

Kedua tangan gadis itu masing-masing di genggam oleh mereka. Arjun di kanan dan Mahen di kiri.

"Dek,,, bangun yuk, kamu gak kangen apa sama kakak? kita udah gak ketemu dua tahun loh. Masa pas kita ketemu, kamu malah gak mau buka mata." Arjun ingin menangis, terbukti dengan nada suaranya yang sedikit bergetar.

Arjun mencium tangan mulus itu dengan air mata yang mengalir, dadanya sungguh sesak, mengingat dulu Sheilla hampir saja meninggalkan nya dan dunia ini karena trauma si*lannya kambuh.

Mahen tak sanggup mengucapkan apapun. Ingin ia menguatkan, namun dirinya sendiri juga rapuh. Rasa takut kehilangan sangat mendominasi, namun ia masih tetap percaya jika adik kesayangan bukanlah orang lemah yang akan menyerah pada trauma nya.

Kriet...

Pintu kamar terbuka, namun kedua pemuda itu sama sekali tak ada niatan menoleh bahkan hanya untuk melihat siapa yang masuk.

"Kalian makan lah dulu, sejak semalam kalian sama sekali belum mengisi perut." Suara indah seorang perempuan mengalun lembut.

Mahen menggeleng, "Gak laper ma."

"Makan kak, adek gak akan suka kalau kakak kayak gini," Bujuk Bi Jina. "Atau, mau mama suapin aja?" Tawarnya.

Mahen menoleh pada Arjun, laki-laki yang di tatap hanya mengangguk pelan, tak ada gunanya menolak karena Bi Jina pasti akan memaksa mereka untuk makan bagaimana pun caranya.

"Boleh, ma," Final Mahen.

Bi Jina tersenyum senang, ia segera keluar untuk mengambilkan kedua putra nya makan. Tak lupa ia juga menutup pintu itu kembali.

Inilah kenapa anak-anak ARMI jauh lebih betah berada di markas dari pada di rumah mereka sendiri. Disini mereka memiliki seseorang yang sangat perhatian kepada mereka seperti Bi Jina, mereka juga memiliki sosok laki-laki bijaksana yang akan menasehati mereka jika salah.

Kasih sayang selalu melimpah di sini, sedangkan di rumah? mereka hanya mendapatkan harta, namun kehangatan rumah sama sekali tak ada.

Mereka tahu jika orang tua mereka menyayangi mereka, namun mereka menyayangi dengan harta, bukan hati.

Di rumah, mereka tidak akan pernah di merasakan pelukan, usapan, kecupan dan suapan tangan seorang ibu.

Di rumah, mereka tak akan memiliki sosok asik yang selalu mereka ajak mengobrol di teras seperti Pak Selamet.

"Nanti habis makan, kalian mandi ya. Nanti Sheilla bisa muntah kalau cium bau badan kalian ini, baunya busuk." Bi Jina menutup hidung, sedikit bercanda.

"Mama~ emang sebau itu ya?"

Ouh, kalian tidak akan pernah melihat panglima perang ARMI merengek kepada orang lain selain Bi Jina. Lihat saja mata anak anjing dengan bibir manyun itu, hilang sudah kesan sangar seorang Arjun Bradinka.

"Dih, muka lo kayak as*" Mahen mengejak.

Arjun mendelik tajam pada Mahen sebelum mengadukan laki-laki itu pada sang mama.

"Ma, liat deh anak mama satu ini." Adu Arjun menunjuk Mahen kesal, seperti seorang anak kecil yang tengah mengadukan teman nya yang nakal kepala sang ibu.

"Apa sih, orang kenyataan juga."

"Mahen." Tegur bi Jina, membuat Mahen menatap Arjun kesal. Dasar ( 5²+5 ) : 3

Ryan, Ander, Dion dan Yudha berjalan bersama menuju kelas 12A, mengantarkan sang kapten yang lagi galau kembali ke kelasnya.

Mata Yudha menyimpit ketika melihat siapa yang berdiri di depan kelas 12A sambil sambil mengobrol dengan seorang gadis.

"Kira-kira kenapa dia gak masuk?"

"Aku gak tahu, mungkin emang pengen bolos. Biasalah, cewek gak bener."

Semakin mereka mendekat, semakin jelas suara kedua oknum yang tengah berbicara di ambang pintu kelas itu.

Dugh...

"Akh..."

Tanpa di duga, Ryan melemparkan bola basket yang ia pegang tepat mengenai kepala gadis itu.

"Ulangi apa yang kau katakan!" Suara dingin Ryan terdengar menyeramkan.

Laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah Adnan itu dengan sigap menghadang Ryan. "Jangan main kasar sama cewek."

Ryan menatap Adnan dengan begitu tajam, "Gak ada urusan nya dengan mu."

"Tentu saja urusan ku, karena menjaga ketenangan di sekolah juga adalah tugas OSIS," Balas laki-laki berkulit putih itu dengan santai, namun entah kenapa malah membuat Ryan emosi.

"Woy pendek! mending lo balik ke ruangan lo deh!" Teriak Yudha membuat Adnan langsung menatap nya tajam.

Bukan apa, tapi laki-laki itu cukup sensitif jika sudah menyangkut tinggi badan.

"Cih, aku pendek saja banyak perempuan yang mengantri. Bagaimana jika aku tinggi? mungkin ibumu juga akan terpikat dengan ku." Tuh, mulut pedes nya mulai aktif lagi ya bund:)

Ryan masih menatap gadis berambut pendek yang masih meringis di sana, tatapan nya begitu tajam seakan siap menusuk sampai menembus jantung si gadis.

"Lain kali jaga ucapan mu ketika berbicara, atau tidak akan ada lain kali lagi."

Ryan melirik tajam pada Adnan sekilas, keduanya saling bertatapan tajam untuk beberapa detik sebelum Ryan memutuskan tatapan mata mereka dan masuk ke dalam kelas.

Trio cantik Love, Nana, dan Ara sejak tadi pagi sudah bolak-balik kelas 12A sebanyak 6 kali hanya untuk mencari gadis berkacamata yang telah mereka targetkan untuk menjadi salah satu dari mereka.

"Woy Ryan! Sheilla mana?!" Nana dengan keberaniannya menggebrak meja Ryan yang tentu langsung di sambut tatapan tajam dari sang empu.

Love yang dapat merasakan aura gelap dari Ryan pun segera menarik teman sinting nya itu mundur. "Lo kalau mau gebrak meja tuh di liat dulu siapa yang punya!" Bisik Love geram pada sahabat cantik nya itu.

"Ya sorry, kelepasan itu."

Love memutar bola mata malas, kelepasan kok terus. Mungkin seharusnya lain kali ia memberi temannya itu rem supaya tidak kelepasan lagi.

"Pergi," Titah Ryan dengan muka lempeng nya.

Nana segera menegakkan badan, "Gak sebelum lo kasih tau keberadaan Sheilla!"

Ryan menatap datar gadis kuncir dua itu, jika ia tahu di mana keberadaan gadis berkacamata yang menjadi teman sebangku nya, mungkin ia sudah menyeret gadis itu untuk sekolah.

Kenapa begitu? ya karena Ryan cinta lah. Mana bisa ia jauh-jauhan dari orang yang dia cinta.

Oke, Ryan sudah mengaku jika ia mencintai Sheilla, lalu apa? harus kah ia menyatakan perasaan nya?

"Gak tahu," Ini sudah 6 kali Ryan menjawab ke-tiga gadis itu dengan jawaban yang sama hari ini.

"Masa sih lo gak tau, lo kan temen sebangku nya." Love masih kekeuh bertanya.

Ryan hanya mendengus kecil, namun masih mempertahankan wajah datarnya membuat Love langsung mengerti.

"Oke, gue gak akan tanya lagi."

Nana menarik kedua temannya sedikit menjauh, lalu membuat lingkaran untuk berdiskusi. "Love, coba tanya sama mama lo deh. Dia kan kepala sekolah, pasti dia tahu alamat rumah semua murid kan?"

Love mengangguk ragu, ia tak yakin mamanya akan memberikan alamat Sheilla atau tidak. "Bakal gue coba, tapi kalau gak di kasih gimana?"

"Ya lo rayu lah, kan lo anaknya!"

"AW!!" Nana berteriak kesakitan ketika Love memukul kepalanya cukup keras, "Nyokap gue tuh profesional banget, jadi bakal sulit."

"Udah, kita coba aja. Siapa tahu Bu Diana bakal ngasih kan."

"Iya deh, bakal gue coba."

Tanpa mereka sadari, Ryan sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka dalam diam. Laki-laki itu juga berencana untuk berkunjung ke rumah Sheilla, jadi bagaimana jika ia mengikuti tiga gadis itu saja? daripada bersusah payah nyari alamat Sheilla yang gak pasti kan?

1
arniya
luar biasa kak
arniya
Alex..... mencurigakan??!
arniya
berasa nonton film
Mung Cha
Luar biasa
✧・゚: ✧・゚: Nelly Widiany :・゚✧:・
🥰🥰
Authoraja
Gak kebalik tuh thor🤣🤣
Nopiayya
25 jam berarti satu hari lebih 1 jam
Authoraja
25 jam? 24 jam kali thor
Mrinpur
iyh smoga itu adlah sheilla namun tdak dngan ingatan yg dulu hanya rasa cinta ny ajj,,,
ririn
😭😭😭😭😭kenapa sheilla harus mati padahal belum bahagia
Mrinpur
wahhhh,,,ternyata sad ending yach,,,kasian ryan ku kira bakal bahagia sama sheilla pada hal hidup sheilla slalu sedih,,,,
Mrinpur
wahhhhh,,,,deg deg an nich asli tp stelah ny bersambung jd penasaran,,,,
ririn
happy ending thor
Mrinpur
ohhhhh,,,gthu toh,,,tp ap memang sheilla yg bully kaka ny love,,,bsa ajj kn lw kaka ny love yg duluan jahatin sheilla maka ny sheilla coba bles,,,
Mrinpur
masih misteri ,
Mrinpur
kayak ny laki laki yg td sama cwe ny itu dech dalang dri semua penderitaan sheilla,,,
Mrinpur
sebener ny siapa yg dendam sma sheilla yach trus apa penyebab ny,trus si jack ini siapa yach,,,,semua ny masih misteri,,,,
Mrinpur
si jack dh kayak penguntit dmna ad sheilla lg sndiri pasti d situ si jack muncul bikin curiga ajj,,,,
Mrinpur
semoga lancar selalu kak,,,

ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
Nopiayya: Amin kak,,, semoga kakak juga selalu sehat dan di berikan kelancaran dalam segala urusan.
total 3 replies
Mrinpur
siapa sich yg di mksud sama ketua cobra,penasaran bnget,,,🤔🤔🤔
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!