"Kamu milikku mulai dari sekarang bahkan saat kakiku sudah 3," ucap seorang laki laki di depan perempuan yang selalu ia claim sebagai miliknya.
"Dih apaan, aku juga perempuan butuh yang namanya kepastian bukan seperti ini."
"Oke kamu butuh kepastian yang seperti apa? Mau aku lari lari di lapangan cuma buat kamu?"
"Ish gak boleh, nanti kamu banyak yang suka."
"I Love You."
Dua anak manusia yang memiliki sifat dan kepribadian yang beda kini disatukan dengan yang namanya status perjodohan yang akhirnya malah membuat mereka lengket tak mau pisah.
Dewi Arabella gadis berusia 18 tahun yang sangat blak blakan, ceria dan apa adanya, dia tak akan mau berbohong hanya untuk membuat orang bahagia.
Dewa Sanjaya Putra pria berusia 18 tahun yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Dewi. Dewa sangat tertutup dan dingin tapi jika sudah dengan Dewi sifat itu hilang entah kemana. Bahkan Dewa sangat manja dengan Dewi sejak perjodohan dilakukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tyatul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Hari
Happy reading
Tak terasa hari sudah mulai pagi, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Dewa yang terbangun karena gerakan seorang disampingnya itu langsung menatap Dewi yang juga menatapnya.
"Good morning Ayang," ucap Dewi dengan senyum cerahnya.
"Pagi Ara cantik, udah sembuh?" tanya Dewa dengan suara seraknya seraya menyentuh kening Dewi memastikan apakah masih panas atau sudah mendingan.
"Udah sembuh kok, kamu kan tahu kalau aku gak bisa lama lama sakitnya," jawab Dewi tanpa beban.
"Syukurlah kamu sudah sembuh, aku gak bisa lihat kamu sakit lama lama."
Dewi hanya tersenyum kemudian ia memeluk tubuh Dewa, Dewi memang selalu kedinginan jika pagi. Maka dari itu AC di kamar Dewa tak pernah menyala saat Dewi menginap.
"Dingin ya hmm?" tanya Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.
"Heem, kenapa sih harus gerimis lagi. Aku kan gak tahan sama dingin," ucap Dewi dalam pelukan Dewa yang cukup menghangatkan tubuhnya.
"Namanya juga musim hujan sayang, 3mang kamu mau kalau musim panas terus?" tanya Dewa dan dijawab gelengan oleh Dewi.
"Mau masuk," ucap Dewi tiba tiba seraya menatap Dewa.
Apa maksud Dewi masuk? Mau masuk apa? Sampai sini Dewa masih ngeblank.
"Mau masuk apa?" tanya Dewa pada Dewi. Ini tak seperti yang kalian kira oke.
"Mau masuk baju kamu, aku dingin nih," ujar Dewi yang langsung membuyarkan halusinasi Dewa.
Akhirnya Dewa menyingkap kaos oblong yang ia pakai dan Dewi masuk ke baju itu. Badan Dewa selalu hangat jadi bisa menghangatkan tubuhnya juga.
Kepala Dewi berada di depan wajahnya hingga memudahkan dia untuk mengecup kepala itu dengan lembut apalagi kening Dewi.
Jarak antara wajah Dewa dan wajah Dewi itu mungkin hanya sekitar 3 cm. Bahkan hembusan nafas masing masing itu sangat terasa.
"Boleh?" tanya Dewa menatap Dewi. Bibir pink Dewi yang sedari tadi menggoda imannya itu membuat wanita 18 tahun ini menundukkan kepalanya.
Bukan ia tak mau tapi ia takut Dewa melewati batasnya. Dewa yang melihat itu langsung mengangkat kepala Dewi.
"Aku janji gak bakal apa apain kamu, cuma mau ini aja," ucap Dewa menunjuk bibir Dewi dengan telunjuknya.
"Beneran bisa janji?" tanya Dewi dan dianggukkan oleh Dewa.
"Janji."
Akhirnya Dewi menyetujui untuk kiss in the morning saat ini. Bahkan ciuman lembut itu bisa bertahan lebih lama dari sebelumnya. Ciuman itu bisa bertahan 15 menit.
Setelah morning kiss dari mereka kini Dewi sedang menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada Dewa.
"Ini apa?" tanya Dewi saat merasakan pahanya ditusuk itu bingung pasalnya ia tak pernah tahu akan hal ini.
Dewa yang mendengar pertanyaan dari Dewi itu malu dan wajahnya juga memanas.
"Jangan bergerak dulu hmm," ujar Dewa dengan pelan.
"Kenapa? Lagian pahaku gak terlalu sakit kok. Enak malahan," jawab Dewi menjepit sesuatu itu dengan pahanya.
"Sayang stop, kalau kamu gak mau aku perawa*in kamu!" seru Dewa dengan suara serak serak basah miliknya.
Siapa laki laki yang tidak pusing jika seperti ini, jika mereka sudah menikah. Bisa langsung tancap gas. Tapi ini belum bahkan ia belum mendapatkan kata iya dari orang tuanya. Walau mereka sudah sering ketemu dan juga tunangan.
Dewi yang mendengar itu langsung ngeblank, jadi yang ia apit tadi adik ganteng yang selalu Dewa banggakan selama ini? Malu. Dewi sangat malu karena sudah dengan berani mengapit benda keramat.
"Maaf aku gak tahu."
Dengan cepat Dewi keluar dari baju itu dan sekilas ia bisa melihat tonggak yang tinggi itu walau tertutup selimut.
"Kamu gak mau tanggung jawab?" tanya Dewa dengan suara melasnya.
"Tanggung jawab? Aku gak hamilin kamu kenapa aku harus tanggung jawab?" tanya Dewi dengan mudahnya.
"Sayang jangan pura pura tidak tahu," ujar Dewa tak suka kekasihnya itu bersikap polos seakan tak tahu apa apa.
Padahal Dewi sering sekali melihat drakor yang bergenre romantis. Tak jarang Dewa mendapati Dewi yang sedang melihat adegan kissing bahkan ada yang lebih.
"Aku kan gak tahu. Maaf ya Ayang," ujar Dewi menangkupkan tangannya dengan tulus.
"Hufftt oke, tapi tidak jika lain kali," ujar Dewa bangun dan berjalan ke kamar mandi meninggalkan Dewi sendiri di kamar besar itu.
Dewi menatap pintu yang sudah tertutup itu, ia kembali membayangkan berberapa menit yang lalu. Dimana ia merasakan benda keras tapi juga kenyal itu menyentun pahanya.
Dewi tersenyum, dan kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur itu.
"Kenyal kenyal gimana gitu," gumamnya dengan lirih.
Ia malu membayangkannya. Hingga membuat dia memejamkan matanya kembali tapi ia ingat jika ia belum masak. Karena biasanya jika ia menginap maka Dewi yang harus memasak sarapan untuk Dewa.
Dengan cepat Dewi masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh mukanya. Kamar mandi itu luas bahkan ada walk closed juga gabung dengan kamar mandi.
Jadi tenang saja Dewi tak melihat Dewa mandi. Tapi Dewi mendengar suara suara aneh yang selalu Dewa dengar saat ia melewati kamar mama papanya malam hari. Tapi tidak separah orang tuanya suara ini lebih ke mendesis hingga membuat Dewi cepat menuju dapur setelah mencuci muka.
"Hais otak kenapa kamu memikirkan yang enggak enggak sih," gumamnya seraya berjalan menuju dapur.
Tapi saat sampai di dapur ia melihat seorang wanita sedang memasak di dapur itu.
"Mama," panggil Dewi.
Mama Riska yang dipanggil itu menoleh dan tersenyum ternyata yang memanggilnya adalah calon mantunya.
"Eh sayang sudah bangun? Dewa mana? Udah bangun dia?" tanya Mama Riska memeluk tubuh Dewi.
"Sudah ma, Kak Dewi lagi mandi. Mama dari kapan disini?" tanya Dewi dengan antusiasnya.
"Udah sembuh nak?" tanya Mama Riska menyentuh kening Dewi yang sepertinya sudah tidak panas.
"Alhamdulillah sudah baikan, berkat anak Mama yang udah rawat aku. Maaf ya Ma udah repotin Kak Dewa terus," ujar Dewi menghentikan mengoreng ayamnya kemudian menatap Mama Riska.
"Gak apa apa, Mama akan marah kalau tahu Dewa malah terlantarin kamu," jawabnya mengecup kening Dewi sekilas.
Entah kenapa setiap mereka bertemu keduanya bisa langsung akrab seperti ini. Entah karena pembawaan mereka yang humble atau apa tapi yang pasti Mama dan Dewi nyaman.
"Papa mertua mana ma?" tanya Dewi pada Mamanya yang sedang menumis bumbu itu.
"Masih tidur sayang, biasalah Papa kamu kalau libur dari kerjanya selalu tidur sampai jam 7 nanti. Mama heran kadang kadang tapi mau gimana lagi. Diakan suami Mama."
Setelah acara masak masak bareng, Mama Riska dan Dewi masuk ke dalam kamar dan memutuskan untuk mandi.
Untungnya ia mempunyai seragam sekolah di walauapartemen Dewa, jadi ia bisa tetap sekolah seragamnya yang kemarin basah.
"Jangan lupa bawa jaket, aku gak mau kamu sakit lagi," ujar Dewa yang entah darimana sudah berada di belakang Dewi yang sedang memakai bedak.
"Iya siap, jaket kamu tapi."
"Jangan tebel tebel bedaknya aku gak suka," ucap Dewa saat Dewi ingin memakai cream pelembab miliknya.
"Baru aja mau pake pelembab," jawabnya melanjutkan mengoleskan pelembab wajah putihnya itu.
Cup
Setelah selesai memakai bedak, dan Dewa juga sudah siap. Dewa mengecup kening Dewi sekilas kemudian mengajak kekasihnya untuk sarapan.
Bersambung
kirain mo lngsung nikah..