Demi menghindari rentenir kejam yang hampir melecehkannya, Raisa terpaksa meninggalkan kekasihnya Yudha dan memilih merantau ke Kota metropolitan.
Raisa mengikuti jejak temannya bekerja di kelab malam, tanpa diduga Raisa bertemu dengan seorang pengusaha muda angkuh dan berwatak dingin yaitu Dava. Pertemuan itu membawa mereka pada kontrak pernikahan.
Bagaimana rumah tangga Raisa dan Dava yang diawali tanpa ada cinta?
Pada siapa akhirnya cinta Raisa akan berlabuh? Dava atau Yudha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. Raisa
Suara pintu utama di ketuk berulang kali membangunkan Raisa dari tidurnya, Raisa masih saja terdiam ketika seseorang di luar sana kembali mengetuk pintu rumahnya, tiba tiba saja perasaannya menjadi sedikit takut mengingat pria asing yang tadi mengerjainya.
"Tidak...tidak mungkin pria gila itu masih mencari aku, tidak mungkin dia menemukan aku di sini."
Perlahan Raisa menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Raisa duduk di pinggir kasur, ia melihat jam dinding menunjukan pukul 4 dini hari.
"Siapa yang bertamu sepagi ini?" gumam Raisa memperhatikan setiap sudut kamarnya.
Raisa tersadar sudah sepagi ini tapi Giska belum juga kembali ke rumah. Rasa takut Raisa semakin bertambah, mungkinkah sesuatu hal buruk terjadi pada temanya itu?
Raisa masih terdiam suara ketukan pintu di luar sana tidak lagi terdengar, mungkinkah itu hanyalah ulah sebagian orang iseng saja?
Raisa meraih handphone pemberian Giska sebelumnya, ia mencari kontak nama Giska kemudian menghubungi temannya itu.
"Suara hpnya sedekat ini? Tapi di mana Giska? Atau mungkin hpnya tertinggal ya?" Raisa gadis polos ini masih di hantui kecemasan.
Raisa beranjak dari tempat tidur untuk meriksa keadaan sekitar, ia berusaha mencari benda pilih itu, namun tidak ia temukan di manapun juga.
Lagi dan lagi nada dering handpone terdengar semakin dekat, Raisa beranikan diri menyingkap tirai yang menutupi kaca jendela berharap melihat sosok Giska di luar sana, namun hanya keheningan yang ia dapati.
Bulu bulu halus di leher Raisa berdiri tegak mebuatnya merinding, Raisa kembali lagi menyadari satu hal, rumah yang ia tempati sekarang berada di tengah kesunyian, andai saja ada orang yang berniat jahat padanya sekeras apapun ia berteriak tidak akan ada orang lain yang mendengar jeritannya.
Raisa kembali teringat pak Broto yang hampir melecehkannya tanpa disadari meninggalkan trauma yang mendalam.
"Tidak....jangan lagi, aku mohon jangan lagi."
Raisa sudah kembali duduk di atas kasur, ia menekuk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di sana, ketakutannya kini menjadi semakin bertambah manakala suara ketukan pintu utama di luar sana kembali terdengar.
Tok...Tok...Tok..
"Huek....Huek....Huek...."
Sayup sayup Raisa mendengar suara orang yang seperti merasakan mual.
"Raisa...Raisa buka pintu Raisa! Huek...."
Teriakan orang di luar sana.
"Mungkinkah itu Giska?"
Raisa menemukan secercah harapan begitu mendengar suara orang yang sedari tadi di tunggunya.
"Huek....Huek....Huek...."
Suara itu kembali terdengar hingga akhirnya Raisa keluar menuju pintu utama. "Giska ...apa kamu ada di luar sana?" teriak Raisa memastikan orang yang mengetuk pintu rumahnya.
"Cepat buka pintu Raisa, kenapa kau lelet sekali? Aku sudah lama berdiri disini Huek uhuk uhuk uhuk."
Raisa cepat membuka pintu, ia melihat Giska berjongkok dan menundukkan kepala.
"Huek...Huek...Huek..."
Raisa mendekat dan menepuk punggung Giska. "Kamu sakit?"
Giska mencoba berdiri tapi kedua lututnya masih saja lemas. "Raisa...apa sekarang kau membenci aku?"
Raisa melihat tubuh Giska hampir jatuh segera meraih tangannya dan memapah Giska masuk kedalam rumah.
"Raisa...aku menipumu aku sudah bilang aku ini bekerja di kelab malam, aku ini wanita malam." Giska terus saja mengoceh, tapi matanya terpejam, jari telunjuknya menunjuk ke sembarang arah.
Dengan jarak sedekat ini Raisa bisa mencium aroma minuman keras dari mulut Giska, bukan itu saja pakaian minim yang dikenakan juga sudah basah sebagian.
"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Raisa setelah membaringkan Giska di atas kasur. Raisa membuka heels yang masih melekat di kaki Giska dan meletakan di tempat semula.
Giska tidak bicara sepatah katapun lagi.
"Inikah yang kamu kerjakan di kota selama ini? Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku mengikuti jejakmu?" Raisa mulai ragu tinggal bersama Giska, tapi ia tidak tahu di mana tempat tinggal yang di kota baru ini.
.
.
.
.
Sementara di lain tempat, Dava pemuda tampan ini semakin gelisah karena mengingat waktu yang diberikan kakek tidak lama lagi, sementara Dava belum juga membawa calon istri ke rumah utama, ruamah yang di tempati kakeknya.
Dava sudah terbiasa menghabiskan malam-malamnya di kelab malam seperti sekarang, hanya tempat ini yang bisa menenangkannya terlebih lagi ia bisa hidup bebas dengan para wanita penghibur yang ada di sana.
Dava sudah terbiasa menyentuh wanita bayarannya, meskipun begitu Dava tidak pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar sentuhan, karena Dava masih mengenal etika dan moral. Terbukti Dava hanya membiarkan para wanita yang duduk di kedua sisinya melakukan apapun yang mereka inginkan.
Dava menggoyangkan gelas yang ada di tangannya, ia memperhatikan gerakan air di dalamnya "Ck... aku bisa mendapatkan wanita manapun, bahkan mereka sendiri yang datang ke dalam pelukanku, tapi wanita kecil itu berani-beraninya dia lari dariku!" Dava menenggak minuman itu sampai habis.
"Minum lagi, bersulang !" wanita penghibur ini kembali mengisi gelas kosong Dava.
"Tidurlah dengan nyenyak gadis kecilku, aku pasti mendapatkanmu untuk aku beri perhitungan agar kau tau siapa aku! " seru Dava penuh dendam, seolah gadis kecil yang tidak sengaja dijumpainya adalah musuh terbesarnya.
"Kau sudah hampir tidak sadarkan diri, ayo kita pulang, aku akan mengantarmu !"Deni membantu Dava berdiri.
"Cepat cari gadis kecilku itu, aku tidak akan melepaskannya lagi, aku akan memberinya perhitunga, ya....dia gadis kecilku, cari dia sampai dapat, dia gadis kecilku !" sepanjang perjalanan Dava terus merancu, mengaku sebagai pemilik dari wanita incarannya.
Deni hanya tersenyum melihat kebodohan Dava, karena merasa tidak mungkin ada wanita yang mau di paksa menikah.
lanjut kakakakk...
💖💖💖💖
Raisa beda loh mas Dava dr cewe2 yg lain 😁