Aku harap ini adalah keputusan yang tepat untuk melupakan semua yang terjadi. Aku juga berharap Alexander bisa membahagiakanku. Aku ingin melupakan masa lalu dan si pria berwajah muram itu. Aku tidak ingin mengingat-ingatnya lagi. Namun, apakah semua akan berjalan sesuai kehendak hati?
Lanjutan Fall in Love with Lover
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Happy News
Beberapa jam kemudian...
Mentari telah terbit menyinari bumi. Cahayanya masuk melewati jendela ruangan rawat ini. Aku pun masih setia menemaninya di sisi. Di mana kini sedang ada seorang perawat pria yang memeriksa kondisi kesehatannya pasca menjalani perawatan intensif. Aku juga mendengarkan setiap pembicaraan mereka sambil berdiri di sisi pembaringan.
"Detak jantung stabil, tekanan darah juga normal. Tuan sudah bisa pulang hari ini." Perawat pria itu menuturkan.
"Terima kasih." Alexander yang masih mengenakan seragam pasien berwarna biru pun mengangguk.
"Tapi saya sarankan untuk menunggu dokter spesialis tulang terlebih dulu. Karena beliau lebih mengerti kondisi Tuan," tutur perawat lagi.
"Apakah kami bisa menemuinya sekarang?" tanyaku kepada perawat pria berseragam hijau itu.
"Dokter sebentar lagi akan datang. Tapi beliau harus bertugas ke poli klinik terlebih dulu. Sehabis jam istirahat makan siang, baru senggang. Tapi jika ingin mengantri, Tuan dan Nona bisa datang ke poli klinik." Perawat menjelaskan padaku.
"Oh, begitu." Aku pun mengerti.
"Jika ingin pulang hari ini juga, Tuan dan Nona bisa membuat janji temu. Saya bisa menyampaikannya kepada beliau." Perawat ini ternyata begitu peduli kepada kami.
"Dear, bagaimana? Apa kau mau?" Aku segera beralih ke Alexander.
Alexander mengangguk.
"Em, baiklah. Kalau begitu kami akan membuat janji temu. Kira-kira harus datang ke mana untuk menemuinya?" tanyaku segera.
Perawat itu membereskan peralatan pemeriksaannya. "Nona bisa langsung datang ke ruangan dokter spesialis tulang di lantai dua rumah sakit, sehabis jam istirahat makan siang. Nanti saya akan kembali untuk memberi kabar selanjutnya." Dia menerangkan.
"Em, baik. Terima kasih." Aku pun mengerti.
"Kalau begitu saya permisi. Mari Tuan, Nona." Perawat berseragam hijau itupun berpamitan.
"Terima kasih." Aku dan Alexander pun berucap terima kasih bersamaan.
Syukurlah, akhirnya dia bisa cepat pulang.
Aku merasa senang mendengar Alexander bisa lekas pulang dari rumah sakit. Aku pun membiarkan perawat itu pergi lalu beralih ke Alexander. Aku menarik kursi lalu duduk di sampingnya. Kupegang tangannya seraya tersenyum bahagia. Kini kusadari bagaimana perasaannya waktu itu saat aku masuk rumah sakit. Mungkin sama seperti yang sedang kurasakan saat ini. Dimana rasa takut kehilangan itu begitu besar dan mencengkeram jiwaku.
"Dear, kita akan pulang." Aku tersenyum bahagia padanya.
Dia mengangguk.
"Eh, ibu di mana, ya? Aku belum melihatnya sedari pagi?" Aku baru sadar jika ibu Alexander tidak ada di sini.
"Ibu menginap di luar, Lilia. Nanti akan kembali lagi," terangnya padaku.
"Oh ...." Aku mengangguk.
Semalam kami memang mengobrol cukup lama. Tapi akhirnya ibu Alexander memintaku untuk beristirahat lebih dulu. Aku pun menurut padanya, tidur di sofa sudut seorang diri. Sedang dirinya duduk menemani putranya yang masih tertidur. Aku tidak tahu kapan dia pergi, tapi yang jelas sedari pagi aku belum melihatnya. Mungkin ibu memang keluar pagi-pagi.
"Baiklah. Kalau begitu aku persiapkan dulu kepulangan hari ini. Atau kau ingin berjalan-jalan di sekitar rumah sakit, Dear?" tanyaku padanya.
Dia seperti menahan tawa di depanku. "Aku ikut saja, Lilia. Lagipula aku sudah merasa senang saat kau berada di sini." Dia mengatakannya seraya menatapku.
Aku menunduk malu. Rasanya setiap melihat bola mata birunya itu membuat tubuhku bergetar sendiri. Kedekatan kami bagaikan aliran listrik yang tersambung. Terkadang aku tak kuasa melihat paras tampannya. Alexander begitu sempurna di mataku. Dia tidak ada kurangnya selain sifat perasanya itu.
kapan update
ditunggu yaaqq