>Ini novel pertama autor yang bertema religi maaf kalau masih banyak kekurangannya.
Aleena Humairoh seorang guru sekolah dasar disebuah sekolah swasta dikota A memutuskan menutup auratnya dan bangkit dari traumanya setelah mengalami sebuah peristiwa pahit dimasalalu yang membuatnya harus kehilangan mahkota berharganya sebagai seorang perempuan.
Bertemu dengan seorang Abimanyu duda muda ayah dari murid Aleena yang juga pernah mengalami hal menyakitkan dengan perempuan dimasalalu.
Dua orang yang sama sama punya masalalu pahit akankah mereka bisa berjodoh dengan putri kecil Abimanyu sebagai perantara.
Ataukah malah saling membenci karena sebuah hubungan luka dimasalalu mereka yang diakibatkan oleh orang yang sama.
Penasaran silahkan baca kelanjutannya 😊😊.
Budayakan meninggalkan like dan komen sebagai dukungannya reader.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08.Keinginan Aleena.
Aleena sudah beberapa hari tinggal dirumah Abah dan Uminya dan kondisinya juga sekarang sudah mulai membaik,dia sudah mulai membantu Uminya melakukan pekerjaan rumah,meskipun hanya yang ringan karena Umi melarangnya melakukan pekerjaan yang terlalu berat,Umi masih khawatir dengan kondisi Aleena bukan hanya kondisi fisik tapi juga mentalnya akibat musibah bertubi tubi yang dialaminya.
Jadi sekarang Uminya berusaha lebih sering menemaninya dan Abahnya yang lebih banyak berada diladang,meskipun Aleena selalu bilang dia baik baik saja,ditinggal dirumah sendiri tapi Umi dan Abahnya menolak melakukan itu.
Kadang Aleena merasa dia kembali menjadi anak anak lagi, karena kemanapun dan apapun yang dilakukannya selalu dipertanyakan oleh kedua orang tuanya.
Tak terasa susah sebulan Aleena berada dirumah kedua orang tuanya dia mulai merasa bosan karena tidak bisa melakukan apa apa Umi dan Abah selalu bilang istirahat saja supaya cepat pulih,setiap kali dia bilang "Ena sudah pulih Abah Umi",mereka hanya diam seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Dan seperti pagi ini dia sudah merasa sangat bosan Abahnya sudah pergi keladang sejak subuh sebelum dia bangun dan Uminya hanya keladang sebentar lalu kembali kerumah menemaninya.
Saat melihat Uminya sedang menyapu halaman rumah dari daun pohon yang berjatuhan Aleena bermaksud bicara pada sang Umi setelah melihat Uminya selesai dengan pekerjaannya.
"Umi Ena mau bicara boleh?",tanyanya ikut duduk dikursi yang ada diteras rumah mereka.
"Ada apa,apa kamu merasa ada yang kurang nyaman atau apa?",tanya sang Umi mulai khawatir.
Mendengar itu Aleena mengurungkan niatnya untuk bicara sekarang,karena kalau dia membicarakan keinginannya yang ingin kembali melanjutkan kuliah Uminya pasti akan semakin khawatir, jadi dia memutuskan nanti malam menunggu sang Abah saja bicaranya.
"Mana Abah Umi masih dikebun?",tanya Aleena mencoba mengalihkan pikiran Uminya.
"Iya hari ini ada juragan sayur dari kota yang memborong sayur dikebun,jadi Abah repot".
"Umi nggak menemani Abah panen?"tanya Aleena dengan memandang sang Umi.
Uminya menggeleng,"Abah bisa menyuruh orang untuk membantunya,Umi lebih khawatir meninggalkanmu sendirian",ucap sang Umi dengan membalas tatapan Aleena.
Mendengar itu Aleena hanya diam merasa sangat beruntung punya orang tua seperti mereka yang selalu melindunginya,tapi juga merasa bersalah karena telah mengecewakan mereka.
*****
Setelah makan malam Aleena melihat Umi dan Abahnya sudah tidak sibuk lagi,Aleena menghampiri mereka dan langsung duduk disamping sang Umi.
"Umi Abah boleh Aleena bicara?",ucapnya menatap lembut kearah mereka.
Mendengar itu sang Umi langsung memandang kearah Aleena khawatir.
"Apa ada masalah?",tanya sang Umi.
Aleena langsung menggeleng.
"Semua baik baik saja Umi jangan khawatir",ucap Aleena mencoba menenangkan sang Umi.
"Lalu apa yang ingin kamu bicarakan?",tanya Abah.
"Aleena ingin kuliah lagi apa masih boleh?",tanyanya dengan memandang kearah mereka.
Seketika kedua orang tuanya langsung diam,berbagai macam perasaan tergambar diwajah mereka saat dia mengatakan hal itu.
"Aku tau kalian khawatir dengan keadaanku jika aku jauh lagi dari kalian jadi bagaimana kalau Ena kuliah di dekat sini saja?",tanya Aleena mencoba membujuk mereka.
"Maksudmu?",tanya Abah.
"Abah Umi ijinkan Ena untuk melanjutkan kuliah Ena sampai selesai,karena jujur saja Ena mulai merasa jenuh dan tidak berarti dengan hanya berdiam diri seperti ini".
"Apa kamu tidak papa kalau ada orang yang tau tentang apa yang terjadi padamu?".
"Ena harus mencoba berdamai dengan hati dan keadaan bukankah seharusnya begitu Umi Abah,kalian juga tidak ingin Ena terpuruk selalu menyesali dan meratapi apa yang sudah terjadi dalam hidup Ena bukan".
Mendengar apa yang dikatakan Aleena kedua orang tuanya mengangguk.
"Jadi tolong ijinkan Ena untuk melanjutkan pendidikan Ena agar Ena merasa menjadi orang yang berguna tidak dengan melakukan hal yang berguna bagi Ena dan orang lain.
Lama kedua orang tuanya terdiam,melihat itu Aleena memutuskan untuk memberi mereka waktu seperti mereka juga memberinya waktu untuk pulih selama ini.
"Mungkin Umi dan Abah merasa berat menjawab Ena sekarang tapi Ena mohon tolong pikirkan keinginan Ena, Umi Abah".
"Baiklah biar kami membicarakan ini dulu,kamu tidak masalahkan?",ucap Sang Abah.
Mendengar itu Aleena mengangguk,"Aleena mengerti kalau begitu Ena akan kekamar dulu",ucap Aleena lalu bangkit dari tempat duduknya meninggalkan kedua orang tuanya yang diam dengan pikiran masing masing.
*****
Setelah pembicaraan itu selama beberapa hari,sang Umi mulai ikut Abahnya kekebun meninggalkan Aleena sendiri dirumah meskipun tidak sepanjang hari tapi dari hari kehari semakin lama,seolah sengaja memberi waktu untuk Aleena sendiri, juga ingin membuktikan apakah Aleena memang sudah baik baik saja pasca semua musibah yang menimpanya.
Setelah beberapa minggu mereka melakukan itu dan dirasa Aleena serius saat bilang baik baik saja,jadi malam itu Abah menyuruh Umi untuk memanggil Aleena yang sedang berada didalam kamar melaksanakan sholat magrib.
Mendengar panggilan Uminya dari luar kamar dan memintanya untuk keluar menemui sang Abah,Aleena segera keluar kamar setelah selesai melaksanakan sholat magribnya.
"Abah memanggil Ena?",tanya Aleena dengan duduk dikursi seberang sang Abah dan Umi.
"Iya,apa kamu masih tetap inginelanjutkan kuliahmu seperti apa yang kamu katakan beberapa waktu lalu?",tanya sang Abah langsung.
Mendengar itu Aleena langsung mengangguk,dia berharap kali ini Abah mengajaknya bicara untuk menyetujui niatnya itu.
"Karena sepertinya kamu benar benar ingin melanjutkan kuliahmu,jadi Abah dan Umi memberimu ijin lagi".
Mendengar itu,Alena langsung memeluk kedua orang tuanya.
"Makasih Umi Abah,karena masih mau percaya pada Ena,insyaallah Ena akan berusaha tidak mengecewakan kalian berdua".
"Tapi kami tidak bisa melepasmu jauh jadi kami ingin kamu kuliah di sini saja,agar kami merasa tenang".
Mendengar itu Aleena langsung mengangguk dia tidak menginginkan pergi dari kampung ini lagi seperti dulu,karena ternyata kota besar yang dibilang indah oleh banyak orang malah menorehkan luka yang sangat dalam dihidupnya,disini dia ingin memulai lembaran baru.
"Iya Ena tidak masalah,"jawab Aleena.
"Baiklah,jadi mulai sekarang kami ingin Ena lebih bisa menjaga diri lagi,karena dimanapun orang yang punya niat jahat pasti ada".
"Iya Abah Umi Ena akan menuruti semua keinginan kalian karena Ena tau kalian melakukannya demi kebaikan Ena".
"Kalau begitu Umi sama Abah ingin Ena menutup tubuh dan wajah Ena,agar Umi dan Abah tenang".
"Maksudnya apa Umi Abah,bukankah selama ini Ena sudah memakai pakaian panjang dan kerudung".
"Itu benar tapi ternyata itu masih bisa membuat laki laki tergoda dengan wajah Ena, jadi Abah dan Umi mohon supaya Ena mau memakai Niqab mulai saat ini saat keluar rumah".