Joya harus menghadapi kenyataan saat ia jatuh cinta pada Boy, anak majikannya. Perbedaan status sosial yang tinggi diantara keduanya, membuat Joya bertekad lulus kuliah dan bekerja sebelum siap menerima Boy. Tapi Boy tidak bisa menunggu Joya dan bersiap untuk sebuah pernikahan.
Akankan Joya berhasil mewujudkan impian majikannya?
Sesion kedua tentang anak-anak Joya dan Boy yang mulai tumbuh dewasa dan mengenal cinta mereka masing-masing.
Disisipi juga dengan episode-episode spesial yang tidak kalah serunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdua saja (2)
Setelah membereskan meja makan dan dapur, aku duduk di teras belakang. Cucianku sudah kering dan aku tinggal menyetrika saja. Teringat sesuatu, aku berjalan menuju kamarku. Aku menghidupkan laptop dan online dengan teman kuliahku. Kami membahas mengenai materi ujian dan diskusi soal.
Milo : “Joya, setelah ujian, kita jalan ya. Kalau kamu gak sibuk.”
Aku tersenyum.
Joya : “Kalau jalan berdua, aku gak bisa. Kalau sama Indri, boleh aja. Tapi aku gak janji ya. Tahu sendiri kan, kalau libur aku kerja di rumah.”
Aku menutup laptop sambil merenggangkan tubuhku.
Boy : “Siapa dia?”
Aku terkejut mendengar suara Boy di belakangku.
Joya : “Tuan? Oh, itu teman kuliah saya. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
Boy memandangku dengan wajah jutek, jelas sekali dia kesal.
Boy : “Kamu biasa jalan sama dia?”
Aku menggeleng.
Joya : “Kalau jalan berdua, gak pernah Tuan. Kalau rame-rame paling cuma sekali dua kali. Saya kan
kerja di rumah pulang kuliah, Tuan.”
Boy masih menatapku tajam.
Joya : “Tuan perlu sesuatu?”
Boy berjalan keluar kamarku. Aku mengantarnya sampai ke pintu, terkejut ketika ia tiba-tiba balik badan. Kami bertatapan di depan pintu kamarku.
Boy : “Aku mau kopi. Antar ke kamarku ya.”
Aku membuatkan kopi untuk Boy, langsung membawa kopi itu ke kamarnya.
Aku menenangkan jantungku yang mulai berdebar sebelum memasuki kamar Boy, pelan-pelan aku meletakkan cangkir kopi di atas meja. Lagi-lagi Boy menutup pintu kamarnya.
Joya : “Tuan, saya masih banyak kerjaan di bawah.”
Boy berjalan mendekatiku.
Joya : “Saya harus masak makan malam.”
Boy semakin mendekat.
Joya : “Saya harus menyetrika baju, Tuan.”
Aku terus berjalan mundur sampai ke dinding.
Joya : “Tuan, saya harus...”
Boy membekap mulutku dengan tangannya.
Boy : “Semakin kamu bicara, aku semakin ingin mendekatimu.”
Boy melepaskan tangannya dari mulutku. Ia menarik ikat rambutku, mengelus rambutku.
Joya : “Tuan...”
Boy menyudutkan aku.
Boy : “Kan sudah kukatakan...”
Kami saling menatap, aku memalingkan wajahku saat Boy menciumi leherku. Terus terang, aku menyukai yang dilakukan Boy saat ini, tapi ini salah. Aku mendorong Boy kuat-kuat hingga ia jatuh di tempat tidurnya.
Joya : “Tuan, saya memang pembantu disini, tapi bukan berarti Tuan bisa seenaknya!”
Aku menatap kesal dan berbalik hendak keluar kamar. Tapi aku benar-benar terkejut dengan kata-kata Boy selanjutnya.
Boy : “Aku sudah minta ijin ibu dan ibu mengijinkannya.”
Aku berbalik,
Joya : “Gak mungkin, Nyonya Besar gak akan mengijinkan hal seperti tadi.”
Boy berhasil membuatku bingung dan penasaran. Saat aku sadar, Boy sudah memelukku lagi. Aku meronta mencoba melepaskan pelukannya.
Joya : “Tuan, ini gak pantas. Nyonya Besar gak akan mengijinkan ini.”
Boy membalik tubuhku.
Boy : “Aku gak akan melakukannya tanpa ijin ibu.”
Boy melangkah maju, membuatku mundur. Saat mentok aku kehilangan keseimbangan dan jatuh di tempat tidur Boy.
Joya : “Aakk...!!”
Boy menerjangku, tangannya menyelip ke balik baju kaosku, tangan satunya memegang kedua tanganku diatas kepalaku.
Joya : “Tuan, jangan... Saya mohon... Sakit...”
Boy memberi tanda ciuman diatas dadaku, air mataku sudah mengalir. Ia menyadari aku menangis, akhirnya Boy melepaskan tanganku. Aku mendorong Boy kuat-kuat dan segera bangkit mendekati pintu kamar Boy, membuka kuncinya tergesa-gesa, keluar dari sana.
Setelah sampai di kamarku, aku mulai menangis lagi, suara HP-ku menyadarkan aku. Nyonya Besar menelponku,
Joya : “Ha... halo, Nyonya Besar.”
Ny. Besar : “Joya, kenapa kamu nangis? Apa yang terjadi? Apa karena Boy?”
Aku bingung harus menjawab apa.
Joya : “Tidak, Nyonya Besar. Saya habis mengupas bawang merah. Jadinya keluar air mata terus.”
Nyonya Besar percaya dengan kata-kataku dan memintaku menyiapkan sarapan nasi goreng besok pagi.
Joya : “Baik, Nyonya Besar.”
Aku menutup telpon, sambil mengusap air mataku.
Boy : “Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?”
Deg. Boy sudah masuk ke kamarku.
Joya : “Tuan, saya benar-benar lelah sekali. Saya mau istirahat sebentar.”
Aku berbaring di tempat tidurku dan memejamkan mata. Terdengar suara pintu menutup. Entah berapa lama aku tertidur. Saat bangun, kudapati kamarku gelap.
Joya : “Hah! Sudah malam, aduh makan malamnya.”
Aku berlari ke dapur dan membuka kulkas.
Boya : “Joya...”
Aku memejamkan mata mendengar suara Boy dibelakangku.
Joya : “Iy... Iya Tuan.”
Aku berbalik, melihat Boy berdiri di samping kulkas. Ditangannya ada sekotak pizza.
Boy : “Ini. Makan dulu. Aku sengaja gak bangunin kamu.”
Aku menerima pizza itu dan membawanya ke meja makan.
Joya : “Tuan sudah makan?”
Saat Boy menggeleng, mataku mengarah ke jam dinding di depanku. Sudah hampir jam 10 malam.
Joya : “Kenapa Tuan gak makan dulu? Nanti sakit lagi.”
Aku menyiapkan piring dan mengambil air putih. Kami makan dalam diam.
Peristiwa tadi siang membuatku melamun. Mana mungkin Nyonya Besar mengijinkan hal seperti tadi. Tapi
kalaupun Nyonya Besar setuju, kenapa harus aku? Aku sibuk sendiri mengira-ngira, tanpa sadar kalau Boy terus menatapku.
Boy : “Joya...”
Boy mengusap saos tomat yang menempel di sudut bibirku. Aku terkejut dan bangkit dari kursi, masuk ke dapur membawa piring makanku. Entah kenapa tanganku gemetar. Boy mengikutiku dan berdiri di belakangku. Aku berbalik, menatapnya yang tersenyum.
Joya : “Tuan, saya mau mandi dulu. Nanti saya bereskan meja makannya.”
Aku berjalan cepat, masuk ke kamar mandiku. Dinginnya air mengurangi sedikit kegelisahan hatiku. Setelah merasa segar, aku keluar dari kamar mandi. Perasaanku sedikit aneh saat masuk ke kamarku. Sebelum memakai baju, aku mendekati meja tempat HP. Ada missed call dari Nyonya Besar, jam 9 malam.
Joya : “Ya ampun, kok aku gak denger telpon dari Nyonya...”
Aku ingin menelpon balik tapi sudah jam 11 malam. Akhirnya kuputuskan mengirim pesan singkat saja. Aku duduk di atas tempat tidurku sambil menarik selimut menutupi pahaku yang kedinginan. Selesai menulis, aku mengirimkan pesan singkat itu dan menunggu. Dinginnya udara malam membuatku menarik selimut lebih banyak lagi, tapi kok berat ya. Betapa terkejutnya aku ketika menoleh dan melihat Boy berbaring di kasurku.
Joya : “Tuan!”
Aku refleks bangkit, tapi selimut yang melingkar di pinggangku malah membuatku terjatuh diatas tubuh Boy. Kami bertatapan, Boy memegang lenganku sementara tanganku menahan dadanya. Aku baru sadar kalau pakaianku tidak lengkap. Tapi saat mencoba bangkit, Boy menahan tanganku.
Joya : “Tuan, saya...”
Boy menatap wajahku yang udah pasti merah padam. Boy satu-satunya pria yang sudah melihat bagian tubuhku yang biasanya tertutup. Boy tak mau melepas tanganku. Malahan ia memeluk pinggangku sekarang.
Joya : “Tuan...”
Boy menyuruhku diam, ia membelai rambutku, turun ke pundak, matanya menatap mataku.
Boy membalik posisi kami, aku benar-benar takut sekarang. Jangan sampai terjadi sesuatu pada kami malam ini. Bagaimana aku bertanggung jawab pada Nyonya Besar.
Boy melihat mataku yang mulai berkaca-kaca hampir menangis, ia melepas tanganku. Ia menarik sisa selimutku menutupi pundakku. Aku bernafas lega saat ia bangkit dan berjalan keluar dari kamarku. Aku segera bangkit, mendekati lemariku. Saat hendak memakai baju, Boy datang lagi,
Boy : “Joya... Ups, sorry...”
Aku bersembunyi di belakang pintu lemari pakaianku.
Boy : “Aku lupa. Minta tolong pijitin ya. Sepertinya aku masuk angin. Aku tunggu di kamar."
Aduch, mati aku, aku membatin sambil tetap sembunyi.
Joya : “Baik, Tuan.”
Aku segera memakai baju, bergegas keluar kamar. Kulihat meja makan sudah bersih, dapur juga. Bahkan lampunya sudah padam. Perlahan aku melangkah ke lantai 2. Ragu-ragu aku mengetuk pintu kamar Boy.
Boy : “Masuk.”
Aku membuka pintu dan melihat Boy duduk di meja kerjanya.
Boy : “Ayo cepat masuk. Kenapa lama sekali? Aku sudah ngantuk.”
Boy membuka kaosnya, tengkurap di tempat tidurnya. Aku menarik nafas mencoba menenangkan jantungku. Bergegas aku memijat punggung Boy dengan minyak yang kubawa. Punggung putihnya perlahan mulai memerah. Ternyata ia benar-benar masuk angin.
Tak lama terdengar dengkuran Boy. Aku tersenyum dan terus memijatnya sampai warna punggungnya kembali normal. Ketika aku ingin kembali ke kamarku, aku gak sengaja menekan remote TV di sampingku. TV Boy menyala memutar DVD berisi berbagai macam fotoku.
Aku mulai menontonnya sambil duduk di sofa di depan tempat tidur Boy. Semua fotoku yang diambil dari berbagai angle yang cantik. Bahkan saat aku duduk di gasebo juga ada. Bagaimana Boy mendapatkan semua foto ini? Malam semakin larut dan aku ketiduran di sofa kamar Boy.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Please vote poin buat karya author ya...
Makasi banyak...
-------
mohon ijin promot karya novel aku ya kak..
silahkan mampir ya kakak kakak semua di karya aku
"I Love You Nurse" &
"Aku Bukan Bidadari Surgamu"
Bantu like, komen dan vote nya ya kak
Trimaksh kak🙏🏻
ketua mafia qo ya lugu bangeeettt....
wong MP qo cuma lari muter muter....kejar kejaran.....po dolanan tho yoooo.....????
othor yaa gitu......bikin cerita qo menurunkan harkat martabak para MAfia ato gangster ywng sangar n cerdik.....🙈🙈🙊
lhaaa.....neng cerito iki.....ketua mafia qo OON bin BLOON.....malam pertama qo ngejar ngejaran .....harus e kan jaran jaranan......
wkwkwkwk ngakaaaakkk......😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jempol se kecamatan dah buat othor..... timpuk an sd RT buat Nanda.....kejaaaaarrr teruusss....bu Ana.....sampe gemppoooorrrr....
😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀
j
reques menantu yang miskin dan si cewe dari keluarga kaya tapi ternyata si mennatu itu kaya cuma pura2 miskin/terkena penyakit lalu sembuh and diam2 bantu si istri kaya crita si denny wang dan friska ye (menantu hebat) atau si alex(menantu hebat seperti dewa) atau si dennis wu dan angel xia(menantu bodoh)