Dibalik sikap ceroboh dan somplak di antara ketiga sahabatnya, Zahra menyimpan kisah hidup yang cukup memilukan. Masa kecil bersama Yudha di sebuah Panti Asuhan, membuat Zahra menganggap Yudha sebagai kakak bahkan Zahra sangat mengagumi lelaki itu dan berharap bisa menjadi pendamping hidup Yudha selamanya—kelak.
Di satu sisi, Zahra berusaha menghindar dari Arga karena tidak ingin 'sial' jika berada di dekat lelaki itu. Setelah sebuah penolakan terlontar dari mulut Zahra, Arga memilih untuk pergi.
Namun, bagaimana jika sebuah rahasia tentang Yudha terkuak dan hal itu membuat Zahra kecewa? Akankah Zahra bisa memaafkan Yudha, atau mengejar cinta Arga yang pernah dia tolak sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
Baru saja Zahra berbicara seperti itu, tetapi dia sudah dikejutkan dengan Zety yang begitu histeris dengan kedatangan Arga. Zahra tidak menyangka kalau Arga benar-benar berada di rumah kontrakan saat ini. Dengan segera Zahra menaruh toples di atas meja, lalu bangkit berdiri dan mendekat ke pintu.
"Ada perlu apa Anda ke sini, Tuan?" tanya Zahra gugup. Dalam hati Zahra merutuki dirinya sendiri karena terpesona dengan Arga yang terlihat gagah dan macho saat menggunakan pakaian casual seperti saat ini.
"Aku disuruh menjemputmu." Arga menjawab malas.
"Menjemput?" Kening Zahra mengerut bahkan membuat kedua alisnya saling bertautan.
"Ya. Nona Rasya ingin makan bakmi jawa dan kamu yang membuatnya. Tidak mau yang lain," sahut Arga.
"Astaga, tuh bocah ngerepotin banget, sih."
"Ehem!"
Zahra menutup mulut saat Arga tiba-tiba berdeham keras. Zety yang melihat itu pun, menggigit bibir bawah untuk menahan tawa supaya tidak meledak.
"Tuan, tapi ini sudah malam. Sudah jam tujuh dan sebentar lagi waktunya saya tidur. Biar saya telepon Rasya saja." Zahra bersiap masuk ke kamar untuk mengambil ponsel. Namun, Arga menahannya.
"Kalau kamu tidak menuruti keinginan Nona Rasya maka jangan kaget kalau kamu besok sudah berhenti bekerja di Perusahaan ADS Group." Nada bicara Arga terdengar penuh ancaman.
Zahra terdiam mendengar ucapan Arga. Bahkan, dia menatap Arga dengan lekat untuk melihat kesungguhan dari ucapan lelaki itu. Namun, saat Zahra melihat senyum samar di sudut bibir Arga, dia pun hanya bisa mendes*h kasar.
"Baiklah. Kalau begitu saya akan ke sana sekarang." Zahra begitu pasrah. "Suk, elu mau ikut enggak?" tanya Zahra kepada Zety yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Kalau boleh."
"Tidak!" Arga menolak cepat. Zety pun hanya bisa menghela napas panjang. Padahal, dia juga sudah sangat merindukan sahabatnya yang saat ini sedang menikmati masa-masa ngidam.
"Kenapa tidak boleh, Tuan? Saya malu kalau di sana sendirian." Zahra mulai berbicara ketus.
"Kenapa malu? Kamu memakai baju lengkap, kenapa mesti malu kecuali kamu telanj*ng."
"Tapi, Tuan—"
"Jangan banyak bicara karena Nona Rasya sudah menunggumu," sela Arga.
Zahra pun hanya mengiyakan dan berpamitan dengan Zety. Sebenarnya, Zahra tidak tega meninggalkan Zety sendirian karena Margaretha sedang kerja sift malam. Akan tetapi, dia juga tidak berani melawan Arga. Setelah siap, Zahra segera keluar rumah bersama Arga. Namun, Zahra terkejut saat tidak melihat mobil di halaman rumah. Yang ada hanya motor sport warna merah menyala yang terparkir tidak jauh dari pohon mangga.
"Ki-kita naik motor, Tuan?" tanya Zahra tidak percaya.
"Ya. Memang kenapa?" Arga justru bertanya balik.
"Ti-tidak apa-apa, Tuan." Zahra menggeleng. Baginya, menolak atau protes seperti apa pun, dirinya tetap akan kalah.
Arga pun naik ke motor dan Zahra duduk membonceng. Jujur, Zahra takut saat membonceng motor sport seperti itu. Dia bingung harus berpegangan di mana. Tidak mungkin dirinya berpegangan Arga, yang ada lelaki itu akan memarahinya habis-habisan.
Ketika motor Arga sudah mulai melaju, Zahra tak henti merapalkan doa-doa dalam hati. Arga yang merasakan ketakutan Zahra, justru tersenyum sinis dan mulai mempercepat laju motornya. Jantung Zahra berdebar kencang karena takut hingga tanpa sadar dia memegang jaket yang dikenakan Arga di kedua sisi pinggangnya. Senyum Arga mulai mengembang karenanya.
"Tuan, awas!"
Citt!!
sempat sempat menjadikan Arga tumbal setan👻👻👻