Liana adalah seorang gadis
yang terlahir
dari keluarga
sederhana, sehari-hari
ia bekerja sebagai karyawan
biasa di kantor tempat ia
bekerja.
suatu hari semua karyawan mendapat undangan untuk menghadiri acara pernikahan bos muda, tanpa terkecuali.
Liana adalah salah satu karyawan yang hadir di acara itu.
Diacara yang sangat mewah itu tiba-tiba
seorang laki-laki yang tidak Liana kenali secara tiba-tiba menariknya secara paksa, hingga tubuh Liana sedikit terseret. Liana yang sebenarnya bisa bela diri memilih untuk tidak melakukan perlawanan karena ia tidak ingin membuat keributan di acara penting bagi bosnya itu.
Liana dipaksa untuk menjadi pengganti pengantin wanita yang telah pergi melarikan diri.
Apakah Liana bersedia menjadi pengantin pengganti atau mungkin ia akan membuat keributan disana dan siapakah laki-laki misterius itu?
Terus ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lena Laiha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pagi hari telah tiba, matahari mulai menyinari dunia.
Di kediaman keluarga, Herdiawan seperti biasa semua orang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Setelah selesai sarapan, Rendy segera bersiap untuk berangkat ke kantor diikuti oleh, Liana dibelakangnya.
"Mau kemana?" tanya, Rendy kepada istrinya.
"Mau kehatimu," ucap, Liana dengan nada sedikit manja. Beberapa detik kemudian raut wajah, Liana berubah jadi sinis, "ya, ke kantor lah. Masa kepasar!"
Liana terus melangkahkan kakinya menghampiri motor matic yang biasa ia gunakan untuk berangkat kerja. Ia segera menyalakan mesin motor kesayangannya itu.
"Kamu sudah saya pecat dari kantor," ucap, Rendy yang sedang berdiri didepan mobilnya! kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya.
Liana merasa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh suaminya itu, ia langsung turun dari motornya dengan wajah merah padam!
Emosinya kian memuncak hingga ia tak bisa mengendalikan diri.
"Saya sudah menyetujui untuk menikah dengan anda, dan sekarang anda memecat saya?" Air mata mengalir begitu saja dipipi mulus, Liana.
Rendy yang tadinya berdiri dengan tenang kini ia merasa serba salah karena melihat, Liana begitu sedih dan marah.
Tak lama, Herdiawan dan istrinya datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri keduanya.
"Ada apa, Nak. Kok kamu teriak-teriak?" ucap, Herdiawan khawatir.
Ratih segera memeluk putrinya agar Liana merasa tenang.
"Eum ... itu. Anu ... sebenarnya." Rendy merasa serba salah sampai-sampai ia tidak tahu harus berkata apa.
Liana tersedu dipelukan ibunya, "Ibu, sebenarnya ... sebenarnya aku." karena terlalu sedih Liana sulit untuk berucap.
Ibunya menuntun, Liana untuk masuk kedalam rumah, sedangkan, Rendy dan Herdiawan mengekor dibelakang, Ratih!
Setelah, Liana duduk dikursi yang berada di ruang tamu, Ratih segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum! tak berselang lama, Ratih kembali dengan membawa segelas air putih!
Ratih segera memberi putrinya minum agar putri satu-satunya itu merasa tenang. Setelah, Liana merasa sedikit tentang, air matanya pun sudah berhenti mengalir.
"Sebenarnya ada apa, Nak?" tanya, Ratih yang terlihat sangat khawatir terhadap putrinya itu.
"Bu, aku dipecat dari kantor." Air mata Liana kembali mengalir begitu saja.
"Tidak begitu, Bu. Sebenarnya saya ... ."
"Apa, sebenarnya apa? sebenarnya anda ingin membuat saya hancur, begitu?" ucap, Liana memotong ucapan suaminya.
Herdiawan dan Ratih yang tidak tahu apa-apa dan tidak tahu siapa, Rendy sebenarnya, merasa aneh dan bingung bagaimana cara meluruskan permasalahan diantara keduanya.
"Sebenarnya ada apa, dan apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya, Herdiawan kepada anak dan menantunya.
Rendy dan Liana hanya terdiam sejenak.
Rendy menarik nafas panjang dan mulai membuka suara, "jadi begini, Ayah sebenarnya ... ," Rendy menggantung ucapannya karena tak tahu harus mulai pembicaraan dari mana.
"Sebenarnya, aku terpaksa harus menikah dengan laki-laki ini tanpa restu, Ayah dan Ibu karena kalau aku tidak menikah dengannya, aku akan dipecat dan mereka memastikan aku gak bisa dapat pekerjaan lagi ditempat lain." Liana yang masih tersulut emosi berucap dengan nada tinggi nafasnya terengah-engah sampai terlihat dadanya naik turun.
Rendy hanya diam dan menundukkan kepalanya, memang benar apa yang dikatakan istrinya itu, walau sebenarnya waktu itu ia hanya menakut-nakuti, Liana saja.
Mendengar penjelasan dari putrinya, Herdiawan merasa jengkel kepada, Rendy. Bisa-bisanya laki-laki itu memaksa putrinya.
Ratih yang melihat kalau suaminya sedang marah, langsung mencoba menenangkan suaminya itu.
Ratih mengusap bahu sang suami dan memberikan isyarat agar suaminya menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu apapun.
Setelah, Herdiawan tenang dan emosinya sudah terkendali, Ratih mencoba bicara baik-baik kepada laki-laki yang baru dua hari menjadi menantunya itu.
"Jika memang tidak ada cinta diantara kalian, ada baiknya sudahi saja pernikahan ini. Ibu tidak mau putri ibu terkekang. Nak, pernikahan tanpa cinta akan sulit dijalankan, kamu juga pasti sulit untuk melupakan kekasihmu yang telah pergi dan akan semakin sulit untuk mencintai wanita lain." Ratih yang sudah merasakan bagaimana rasanya hidup bersama dengan orang yang tidak ia cintai, tidak ingin putrinya turut merasakannya juga.
Bukan maksudnya memberikan saran yang tidak baik, tapi ia sudah merasakan pernikahan tanpa cinta hanya akan menyakiti satu sama lain saja.
"Tidak, Bu. Saya tidak akan menceraikan, Liana. Saya hanya akan menikah satu kali dalam hidup saya," ucap, Rendy dengan mantap.
Orang tua, Rendy memang selalu berpesan kepadanya agar mencari calon istri yang baik agar usia pernikahannya langgeng sampai maut yang memisahkan dan lagi dikeluarga mereka tak ada yang namanya perceraian.
Rendy merasa kalau, Liana adalah gadis baik-baik dan keluarganya juga orang baik-baik. Rendy akan berusaha mempertahankan pernikahannya dengan, Liana meski saat ini belum ada cinta diantara keduanya.
"Tapi, Nak." Ratih meragukan laki-laki yang bersetatus sebagai menantunya itu.
"Saya janji akan membahagiakan, Liana seperti, Ayah membahagiakan, ibu." ucap, Rendy dengan nada lirih, penuh permohonan.
"Saya tidak mau berumahtangga dengan anda," ketus, Liana.
Selama ini sifat, Liana memang keras kepala sedikit manja tapi dia wanita yang mandiri.
"Liana, please. Aku memecat kamu karena sekarang kamu sudah menjadi istriku. Istri dari pemilik perusahaan itu," jelas, Rendy kepada wanita yang kini bersetatus sebagai istrinya.
Mendengar ucapan menantunya, Herdiawan dan Ratih merasa terkejut. Bagaimana tidak putrinya dinikahi oleh bosnya.
"Jadi, kamu adalah pemilik perusahaan itu?" tanya, Herdiawan memastikan tadi ia tidak salah dengar.
Rendy menganggukkan kepalanya! tadinya ia tidak mau membuka identitasnya didepan mertuanya tapi keadaan memaksanya untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Orang tuamu pasti tidak akan setuju kamu menikah dengan orang dari kalangan bawah seperti kami." Herdiawan yang pernah merasakan bagaimana rasanya cinta tak direstui, merasa takut jika nantinya putri satu-satunya akan menderita seperti yang alami dulu.
"Kenapa tidak, bukankah kekuatan cinta lebih besar dari apapun?" ucap, Rendy mencoba meraih kepercayaan dari mertuanya.
"Tapi kita tidak saling cinta," saut, Liana dengan nada tinggi.
"Kita akan berusaha," ucap, Rendy kepada istrinya.
"Sudah-sudah, Ayah mau kerja. Nanti malah jadi ayah yang dipecat," ucap, Herdiawan sambil beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan orang yang ada dihadapannya.
Setelah kepergian, Herdiawan kini tinggal Ratih dan anak juga menantunya di ruangan itu.
"Kalian bicarakan masalah ini, baik-baik. Apapun keputusan kalian, ibu ikut saja, tapi ingat, jangan ada keributan seperti ini lagi." Ratih segera pergi dari tempat itu, memberi waktu keduanya untuk bicara dari hati ke hati.
Setelah, Ratih pergi dari ruangan itu, Rendy mendekati istrinya, ia duduk disamping sang istri yang masih terlihat sedih dan marah itu.
Diraihnya kedua tangan, Liana dengan lembut lalu berkata, "maaf," ucapannya dengan nada lirih.
Liana hanya diam mematung, permintaan maaf dari suaminya tak ia dihiraukan, hanya ada air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Kalau kamu tetap ingin kerja silahkan, aku tidak bisa melarangmu. Tapi kamu harus tahu, aku ingin istriku bahagia," ucap, Rendy dengan nada lembut sambil terus menggenggam kedua tangan istrinya.
"Aku harus kerja, kalau aku gak kerja nanti siapa yang membantu orang tuaku," lirih Liana.
"Kan ada aku. Aku janji akan membahagiakan kamu dan keluargamu, aku akan mencukupi semua kebutuhan keluarga kita," jelas, Rendy.
"Aku tetap mau kerja."
"Baiklah. Nanti aku tanya, Ken posisi apa yang cocok untuk istriku," ucap, Rendy.
"Aku belum bisa menerimamu sebagai suamiku," ucap, Liana dengan nada yang hampir tidak terdengar oleh, Rendy.
Liana terus menundukkan wajahnya, ia tidak ingin bertatapan dengan laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Aku tau itu. Sekarang kita jalani aja dulu, biar waktu yang menentukan kemana arah hubungan kita." Rendy menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya dengan kedua ibu jarinya! "Sekarang kamu ikut, aku ke kantor, Ken sudah menunggu kita," sambungnya sembari menggenggam tangan kanan, Liana lalu menariknya perlaha menuju mobilnya!
Rendy membukakan pintu dan mempersilahkan istrinya masuk kedalam mobilnya, setelah istrinya berada didalam mobil, Rendy menutup pintu mobilnya dan ia segera menyusul sang istri.
Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, Rendy mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang! selama di perjalanan tidak ada percakapan diantara keduanya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
liana tidak merasa kedekatan dengan satya adalah kesalahan
*dari memilih bersama satya didepan suaminya
*pergi menemui dan makan berduaan dengan satya
*curhat pada lelaki lain
*tidak mengakui suaminya didepan pria lain
*meremehkan dan merendahkan suaminya didepan pria lain
jelas semua itu kesalahan besar tapi author tidak berani mengakui itu sebuah kesalahan
terpaksa menikah
menikah ny dgn siapa
sukses
semanagt
mksh