Sukma hilang hutan dan gunung yang terletak di Sumatra bagian selatan Lampung.
Gunung dan hutan yang meninggalkan seribu tanda tanya
Konon masih banyak warga dan masyarakat yang mengharapkan kepulangan sanak saudaranya, yang telah lama menghilang bertahun-tahun di dalam hutan tersebut.
Sukma hilang yang terkenal akan cerita mistisnya, seakan tidak hilang tergerus oleh perkembangan zaman.
Hingga sampai saat ini masih banyak warga dan masyarakat yang mempercayai mitos-mitos gunung dan hutan tersebut, bahwa siapapun yang hilang atau tersesat di dalamnya , tidak akan pernah bisa kembali untuk pulang .
Kisah ini menceritakan beberapa muda-mudi yang hilang di telan kegaiban hutan Sumatra tersebut .
Apakah mereka semua bisa keluar dari hutan yang mengerikan itu ???
Tetap ikuti ceritanya !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dosy irwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Sampaikan salamku pada ibu
Aku merasa gelisah saat itu, berkali - kali kupandangi jam sambil menerka-nerka.
Mengapa begitu lama Wawan tak kunjung kembali, aku makin merasa kahwatir jam menunjukan 00:45 malam, sudah setengah jam lebih Wawan belum kembali semenjak pamit untuk membuang air kecil.
"Asma, Fira tunggu di sini sebentar ya, aku mau liat Wawan " ucap Dodi pada mereka berdua.
Asma si wanita pendiam itu tiba-tiba marah kepada Dodi.
"Jagan tinggalin kita dong, kita ini permpuan kalo terjadi apa-apa bagai mana ??" Ucap asma seakan marah jika di tinggalkan.
"Yaudah yuk kita cari Wawan sama-sama " dengan nada halus Dodi mengajak mereka berdua ikut serta.
" Waaannnnn " sesekali Dodi memanggil.
Fira dan asma bejalan di belakang mengikuti langkah Dodi.
"Dod, aku takut " terdengar suara Fira bergetar sambil memperhatikan sekitar.
" Ia aku tau, kita semua takut kok, jangan putus doanya, baca terus ya dalam hati " jawab Dodi menenangkan .
Kami terus mengitari tempat di mana terakhir Wawan terlihat, namun kami tidak kunjung menemui teman kami tersebut,
Dodi Asma dan Fira mulai merasa putus asa untuk mencari di mana keberadaan Wawan temannya tersebut.
"Wawan kemana DOD " tanya Fira kahwatir .
"Aku juga gak tau Fir" Dodi menjawab dengan nada putus asa.
" Asma kamu baik-baik aja kan " tanya Dodi khawatir.
"Ia aku baik-baik aja " jawab asma dingin.
Asma memiliki rasa suka yang di pendam kepada Dodi semenjak sekolah menengah atas, namun Dodi tidak pernah mengetahui akan perasaan Asma di karenakan Asma tidak pernah menyatakan perasaannya tersebut kepada Dodi .
Asma hanya memandang tubuh Dodi dari belakang, melihat rambutnya yang panjang bergelombang yang terlihat gagah di malam itu, Asma sangat merasa sedih seketika itu.
Dalam hati asma berkata-kata ...
(Kenapa si Dod kita harus ketemu lagi dengan keadaan seperti ini)
Sambil menahan sedih asma terus berjalan dan memandangi Dodi dari belakang.
Dodi terus melangkahkan kakinya sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
" Apa yang terjadi kepada Wawan, apa dia salah jalan, atau dia ... ?? " Dodi mengumam dalam hati.
Fira bertanya ..
"Dod, sebenernya tujuan kita mau kemana ?? " Tanya Fira dengan nada lemas.
Dodi terdiam, seolah pertanyaan itu tidak memiliki jawaban, karena Dodi pun tidak tahu harus kemana dan melakukan apa .
" Sebaik nya kita terus berjalan, sampai kita menemukan perkampungan atau warga sekitar " Dodi menjawab pertanyaan Fira agar tidak takut.
" Jalan kemana loh " ucap Fira seolah tidak yakin.
" Kita coba ikutin jalan setapak ini ya, siapa tau ini jalan menuju keluar hutan, bisa jadi Wawan Juni dan Boy sudah menunggu di bawah " jawab Dodi meyakinkan Fira dan Asma.
Dodi sangat gusar saat itu, apakah benar jalan itu menunju jalan keluar atau membuat mereka makin dalam menghilang dan tersesat dalam kesunyian hutan tersebut .
Mereka pun menapaki jalan setapak itu, berjalan dan terus berjalan, berharap akan menemukan perkampungan atau warga yang sekedar lewat untuk pulang kerumahnya, sudah jauh berjalan mereka masih juga tidak menemukan perkampungan atau sekedar warga yang lewat.
Dodi pun menghentikan langkah nya, di ikuti Fira dan Asma yang berhenti tepat di belakangnya.
Terlihat Dodi menatap ke atas langit, seperti memikirkan sesuatu yang begitu sangat berat.
Dodi menarik nafas nya, sambil tersenyum dan memandang wajah kedua temannya tersebut , lalu berkata.
"' Fira, Asma , kalo aku gak bisa pulang bersama kalian, tolong sampaikan salam ku untuk ibuku , katakan aku sangat menyayanginya , bilang juga pada ibuku terimakasih sudah membesarkan aku sampai sebesar ini, aku minta maaf jika belum bisa menjadi anak yang berbakti "
Dengan senyum yang begitu ikhlas wajah Dodi begitu terlihat polos, senyumnya menandakan kepasrahan yang begitu lapang, wajahnya terlihat manis, di tambahi sinar cahaya rembulan yang menghiasi senyumnya, rasanya begitu menyakitkan melihat dan mendengar perkataan Dodi saat itu .
Asma hanya memandangi Dodi dengan air mata yang bercucuran di pipinya, hatinya begitu terasa hancur saat mendengar kata-kata yang di ucapkan Dodi, seolah tanda perpisahan dari seseorang yang sangat ia cintai.
"Lo ngomong apa si Dod , kita bisa keluar sama-sama dan kita bisa pulang sama-sama" ucap Asma sambil meneteskan air matanya.
"Ia Dod kita pulang sama-sama ya " ucap Fira yang juga ikut menangis.
Dodi hanya membalas ucapan mereka dengan senyuman di wajahnya.
( Di tempat lain )
"Wuoyyy Wo tungguin gua" teriak Boy kepada Dewo yang sudah jauh meninggalkan dirinya.
Boy berlari mengejar Dewo...
"Wuoyyy taik tunggu gua bangkek " teriak boy kembali.
Dewo pun segera memperlambat langkahnya, menunggu Boy yang mulai mendekati dirinya.
Haaahhhhhhh.... Haaahhhhhh ... ( Bunyi nafas Boy dan Dewo yang terengah-engah ).
" Gila lo Wo mau ninggalin gua " ucap Boy kesal.
"Makanya lo punya perut jangan Segede gentong Boy, susah kan lo larinya " jawab Dewo sambil merunduk memegangi lutut kakinya.
"Haduh bisa mati ke abisan nafas gua klo gini terus " ucap Boy sambil sambil menopangkan kedua tangannya di tanah.
Saat sedang mengatur nafas, terlihat sekelebat putih dari kejauhan berlari mendekati mereka.
Larinya terlihat aneh seperti terpatah - patah, kaku namun begitu terlihat cepat.
Dewo dan Boy memperhatikan dengan rasa penasaran, bayang putih itu makin mendekat dan semakin terlihat makin jelas
Wanita itu berambut gimbal , badannya bungkuk memakai daster putih lusuh bercampur tanah hingga menutupi kakinya, terlihat kapak pembelah kayu di tangan kiri nya sambil di acung-acungkan ke atas, seperti seseorang yang sedang mengejar sesuatu untuk segera membelahnya.
Seketika itu ......
" MAAAMMMPPPOOSSSS ..!!!!!! lari lagi Wo " ucap Boy sambil mendorong tubuh Dewo agar segera berlari.
Turut berduka kak, semoga almarhum diterima disisi yg Maha kuasa, kakak & keluarga senantiasa diberikan keluasan hati serta kesabaran menerima takdir
Semangat kak ✊ lekas kembali melanjutkan cerita aku menunggu 😊
semangat ya
tetap semangat ya kak💪💪