Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!
Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.
Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimana wanita yang akan saya nikahi??
Natha berguling guling di ranjangnya, tersenyum mengingat bagaimana senyuman Bastian yang dia pikir adalah reynold. "Aduh jantungku!!!!" Natha memegang dadanya dengan ekspresi menangis bahagia, "Jika saja dia tidak sibuk sudah pasti akan ku ajak berkencan!" Natha menjerit bahagia, "Mau bagaimana lagi sudah begini pasti ini yang namanya benar benar jodoh sejati!!"
Dan sesuai dengan permintaannya, seminggu ini Nara melaporkan apa saja yang direkturnya lakukan pada Natha dimulai dari pekan lalu dinas ke Hongkong sampai beberapa hari lalu kembali dan bekerja dengan segudang jadwalnya yang padat. Meskipun Nara mendapat informasi jadwal direktur juga dari hasil bertanya sana sini, mana mungkin dia berani untuk berada di dekat direktur itu meakipun hanya berjarak 5 langkah.
"Hahhh mencari informasi dengan bertanya tanya saja ternyata cukup melelahkan." Nara bersender pada sisi dinding pintu lift menunggu lift untuk terbuka.
"Kali ini anda mau kemana?"
"Hah? Apa?" Nara menoleh dan lututnya langsung bergetar lemas ketakutan, ke.. kenapa harus bertemu terus dih di lift? "Pak direktur." Kali ini Nara menyapa dengan benar meskipun dia takut ketahuan.
"Anda juga mau naik?" Bastian tersenyum menatap Nara.
"I.. iya pak skeretaris saya juga mau naik." Jawab Nara terbata. Dia merasa sangat canggung di lift bertiga, suasana hening semakin membuatnya sulit bernafas.
Nara lagi lagi berdiri di pojok ruangan diam membatu. "Kita pernah bertemu kan." Rey memutar badannya melirik Nara.
"Hah? Ap.. apa??" Keringat dingin Nara mengalir deras, degup jantungnya semakin kencang.
Ketahuan!! Mungkin inilah saat saat eksekusi diriku!!
"Ber.. bertemu dimana yah? Sepertinya anda salah pak direktur." Nara tertawa hambar.
Rey berdecak, "Kita kan pernah bertemu seperti ini di lift, anda pikun yah padahal masih muda. Biasakan untuk mencatat poin poin penting dalam bekerja!" Mendengar ucapan Rey, Bastian menutup bibirnya untuk menahan senyum sedangkan Nara memasang wajah shock menatap Rey.
"Ba.. baik pak direktur." Bersamaan dengan itu denting lift dan pintu terbuka, Rey dan Bastian langsung melangkah keluar meninggalkan Nara yang terdiam sendiri di dalam lift.
"Dia sudah gila yah? Wajahnya seakan mengatakan aku bodoh sekali dan tidak kompeten sebagai karyawan." Nara mengeratkan kepalan tangannya kesal. "Dasar pasien penyakit jiwa ini!" Nara ingin sekali meluapkan kemarahannya.
****
Selang beberapa hari kemudian akhirnya Natha bisa menghubungi Reynold dan mengajaknya bertemu. Natha antusias sedari tadi, berpenampilan cantik dan anggun, beberapa kali bahkan dia memeriksa riasannya di cermin kecil miliknya. "Sempurna!" Natha menutup cermin kecilnya dan memasukkannya dalam tas. "Aku tidak sabar akhirnya bisa bertemu juga! Tegang sekali!!" Natha tertawa kecil.
Tapi kemudian senyumnya sedikit menyurut, "Dia terlambat yah? Apa aku salah mengajak dia untuk bertemu secara langsung?" Natha sedikit murung mengingat hampir dua minggu dia memata matai calon pria perjodohannya itu melalui Nara dan hanya mendapat info info tidak penting seputar rapat dan perjalanan dinas pria itu. "Dia sibuk sekali hampir seluruh waktunya diisi oleh bekerja saja."
Karena proses melelahkan itu juga mengganggu pekerjaan Nara maka Natha memutuskan untuk menelpon Rey secara langsung dari nomor yang Nara berikan. Dan sangat mengejutkan untuk Natha karena di telfon Rey bersikap sangat dingin berbeda saat mereka bertemu.
Natha menjadi sedikit sedih mengingat pembicaraan singkat di telepon.
Flash back on
Natha sedikit berdebar saat hendak menelpon Rey, berkali kali dia tersenyum dan membayangkan pembicaraan hangat mereka.
Saat telepon sudah tersambung, debaran jantung Natha semakin kencang.
"Halo!" Suara di sebrang sana cukup membuat alis Natha menaut karena perbedaan suara yang dia tau.
"Ha.. halo Reynold. Ini saya Nathania wan."
Tak terdengar suara balasan dari sebrang sana hingga beberapa detik, "Ada perlu apa katakan dengan cepat aku sibuk!"
"Aku ingin mengajak bertemu, bagaimana jika akhir pekan ini." Natha cukup malu untuk mengajak pria bertemu duluan hingga suaranyapun tersipu sipu.
"Kirimkan saja alamat tempat dan waktunya. Sampai jumpa!"
Lalu telepon ditutup begitu saja sampai membuat Natha terbengong bengong.
Flash back off
"Saat bertemu dia hangat dan lembut, kenapa saat di telepon menjadi kaku seperti itu. Hmm wajar sih apa dia terganggu aku menelpon saat saat sibuk seperti itu." Natha memegang ponselnya dan berniat untuk menghubungi Rey sekali lagi karena pria itu sudah hampir 1 jam terlambat.
"Nona Nathania Wan?" Natha langsung memalingkan wajahnya mendengar suara itu.
Natha bingung melihat pria tampan di hadapannya.
Tampan sekali!!
"Iya saya Nathania, anda siapa?"
Reynold memandang datar Natha dan duduk di kursi berhadapan dengan Natha tanpa di persilahkan.
"Apa benar anda nona Nathania?" Rey bertanya sekali lagi dengan alis mengernyit,
Apa benar ini dia? Kalau riasannya di hapus berbeda sekali, memang sekilas terlihat mirip tapi aku yakin kemarin tubuhnya lebih... berisi.
Nara jelas mempunyai tubuh lebih berisi ketimbang Natha yang ramping, meskipun mereka sudah lama bersahabat dan banyak yang berkata bahwa mereka mirip karena perawakan tinggi badan mereka sama namun jelas wajah asia milik Natha sangat kental.
"Iya saya Nathania, anda siapa yah?? Apa yang anda lakukan disini?" Natha terlihat sedikit kesal dengan pria arogan di hadapannya yang langsung duduk tanpa di persilahkan dan memandangnya tajam meski tampan, pria pongah semacam ini jelas bukan tipenya.
"Saya Reynold, Reynold Orlando Giorvan! Orang yang di jodohkan dengan anda."
Natha melebarkan matanya juga mulutnya, "Re.. Reynold.. maksud anda Rey.." katanya terbata bata.
"La.. lalu siapa yang saya temui kemarin????"
"Bukankah itu harusnya menjadi pertanyaan saya?" Tegas Rey, "Anda jelas bukan orang yang pertama saya temui."
"Saya juga bukan bertemu anda! Saat kemarin dia ke kantor saya dan pergi makan ramen dengan saya!!" Kesal Natha.
"Ramen??" Rey memasang wajahnya datar dan menoleh kearah belakangnya. "Ramen yah???" Suaranya dalam dan sinis membuat Bastian yang duduk berjarak 3 meja dari mereka tertawa pias.
"Hah?? Tuan Reynold!" Natha melihat Bastian dan langsung tersenyum sumrimgah.
"Sepertinya disini ada kesalah pahaman." Potong Rey,
"Jelas akulah Reynold yang asli, dan dia adalah sekretarisku, Bastian!"
"Sekretaris??" Natha membelakkan matanya dan mengingat, memang kemarin saat itu Bastian belum selesai berbicara namun dia sudah memotongnya dan menyangka Bastian adalah Reynold. "Jadi..."
"Lebih tepatnya kepala sekretaris, dan saya adalah Reynold yang asli, tapi yang jelas anda bukan nona Nathania yang saya temui!"
"Saya Nathania!" Kekeh Natha.
"Owh jadi anda wanita yang gemar bermain dengan para pria bertiga sekaligus, lebih senang di serang lewat belakang dan memukul saat melakukan itu??!" Rey tersenyum sinis.
"Hahhh??? Apa??!"
"Itulah yang saya dengar saat di awal perjodohan."
Natha shock memegang dadanya mendengar apa yang Reynold ucapkan tadi. Dasar Nara si*lan!!!
Kenapa image ku demikian?! Berarti pria itu mendengarnya juga dong!!!!
"Apa benar itu anda??!" Todong Rey lagi.
"Itu teman..." Natha secepat kilat menutup mulutnya karena kelepasan bicara.
"Teman?!" Rey mengernyitkan alisnya.
Natha menahan nafasnya, Aku harus mengalihkan arah bicara!!!
"Pe.. pelayan!" Natha mengangkat tangannya memanggil pelayan, "Tuan Reynold, sebaiknya kita memesan minuman dulu." Natha tertawa hambar.
Sampai pada minuman yang mereka pesan datang, Natha tetap tidak bicara.
Aku harus mengulur waktu untuk menjelaskan semuanya, pertama aku luruskan dulu. Jadi dia yang di tunangkan olehku, pria ini? Benar sih kata Nara dia tampan dan seksi.. namun lihat dia aura dingin dan gelapnya itu! Aku hampir hampir tidak bisa bernafas dengan benar, aku mengerti perasaanmu Nara!!! Jika aku tidak bertemu tuan Bast...ian duluan bisa saja aku terpika... tidak!!! Aku berubah pikiran, yah ampun lihat tatapan matanya itu bisa bisa jantungku yang lemah ini meminta pensiun untuk bekerja. Nara ternyata berat menjadi dirimu. Hiks!
Reynold yang juga diam sedari tadi menatap Natha dengan tatapan tajam dan menyelidik.
"Jadi jelaskan semua." Reynold memecah keheningan.
Natha menghela nafas panjang, "Memang benar saya tidak mau dijodohkan, jadi saya mengirim orang untuk menggantikan saya. Jika anda sampai berniat mengadukan ini pada papa saya, saya juga tidak bisa berbuat apa apa."
Tolong jangan adukan pada papa saya!!! Natha menangis dalam hati.
Reaksi Rey hanya diam dan datar, "Saya kan berbuat sudah sampai sejauh ini, membuat kedua belah pihak juga tidak nyaman. Jadi saya meminta maaf."
Rey masih saja diam.
Reaksi apa itu?!!! Kenapa dia hanya diam saja? Jika tersinggung atau marah lebih baik dia bereaksi.
Natha menunggu harap harap cemas.
Dia ini robot atau apa sih???!
"Nona Nathania."
"Eh ia apa?!" Natha tertawa hambar, "Silahkan bicara."
"Dimana?"
"Hah??" Natha memasang wajah bingung.
"Ada dimana orang itu?"
"Siapa?" Natha semakin bingung.
"Wanita, yang akan saya nikahi!"
****
Nara melenggang bahagia setelah seharian ini membantu di bakery kedua orang tuanya di akhir pekan. Sudah memakai piyamanya dengan nyaman, Nara bersenandung menuju tempar tidurnya, "Aku bahagia sekali hari ini toko sangat ramai sehingga pemasukan lumayan hari ini, besok semoga toko akan tetap ramai. Sekarang aku mau tidur dengan bahagia!!!" Nara menarik selimutnya dan tersenyum lebar.
Mata Nara membuka sempurna, setelah hampir dua jam berusaha untuk tidur namun dia benar benar tidak bisa tidur. "Kenapa ini?? Kenapa perasaanku tidak tenang?!" Benarkan Natha bisa menyelesaikan semua ini dengan baik???
Nara menelan ludahnya kasar.
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.