Mocca Yola, suatu malam yang tragis telah merenggut kesuciannya. Pulang ke rumah dalam keadaan hancur malah dikejutkan dengan sebuah peti mati dengan foto sang ayah tercinta di dekatnya.
Tidak hanya itu, ternyata semua sudah direncanakan oleh dua orang wanita bermuka dua yang berpura menangis tersedu di samping peti jenazah. Semua mereka lakukan tak lain demi mendapatkan harta keluarga Yola.
Setelah itu mereka mengusir Mocca dari rumah, mengirimnya ke tempat yang sangat jauh. 7 tahun kemudian dia kembali dengan si kembar Genius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YWulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis untuk kencan buta
Jean duduk di dekat jendela, matanya menatap pemandangan disekitar jalanan kota yang ramai. Para pegawai kantor maupun warga yang hanya sekedar berjalan jalan dengan keluarga mereka.
Iri sekali saat melihat sebuah keluarga yang utuh. Saat seorang ayah menggendong anaknya kemudian bercanda ria bersama. Jean berpikir, mungkin jika ayah ada, hidup mereka akan jauh lebih baik. Mama tidak perlu melalui masa masa sulit itu.
Ia mengulurkan tangannya, menggapai sesuatu yang abstrak, "Papa ... apa mungkin papa tidak menginginkan kami?"
"Kakak!"
Mendengar panggilan itu Jean kemudian menoleh, mendapati Candy tengah berjalan menghampirinya dengan wajah riang gembira.
"Mama bilang kita akan sekolah, di sana banyak tempat bermain dan kita bisa mencari teman. Apa kakak senang?"
Candy duduk di hadapan Jean.
Walaupun Mocca menyekolahkan mereka ke sekolah murah, tetap saja dua orang menjadi tanggungannya. "Mungkin kalau ada ayah, hidup kita akan lebih baik," pikir Jean.
Greb!
Jean meletakkan kedua tangannya dibahu Candy, membuat Candy terkejut, "Aku punya ide," ucapnya.
"Hah?"
"Adik, ayo kita cari ayah!"
"C-cari ayah?"
"Candy, Mama sudah melewati masa sulit selama ini, sekarang menyekolahkan kita pasti butuh uang banyak. Tapi jika ada ayah, Mama tidak akan kesulitan lagi."
Jean penuh percaya diri mengatakan hal itu, tapi mungkin akan sulit seperti mencari jarum dibawah tumpukan jerami. Sedikitpun informasi tentang ayah, mereka tidak mengetahuinya.
Brak!
Tiba tiba pintu terbuka, Mama berdiri dengan raut wajah tidak senang, si kembar ketakutan, "Apakah Mama mendengar perkataanku?" pikir Jean, dia ketakutan terlebih saat Mocca mulai mendekat.
"M-mama ... Aku bisa jelaskan."
Tanpa sepatah kata yang di ucapkan Mocca terus berjalan, membuat si kembar semakin ketakutan. Mereka takut karna perkataannya yang ingin mencari ayahnya mungkin akan menyakiti Mama.
Kini Mocca berada di hadapan si kembar, berjongkok lalu mengulurkan tangannya. Si kembar dibuat gemetaran, "Anak Mama belum makan siang, maaf Mama terlalu sibuk dan tidak memperhatikan kalian."
"Eh?"
"Ayo turun, Mama sudah buatkan makanan. Ayo ayo." ia menuntun kedua anaknya, sementara Jean dan Candy yang linglung malah saling bertukar tatapan. Tapi syukur Mama tidak mengetahui pembicaraan mereka itu.
Di sebuah Bar ternama di kota.
"Ahahaha ... Ahahaha ... Seorang Leonard pergi menghadiri kencan buta? AHAHAHAH." Seorang pria terbahak sangat keras mentertawakan temannya, di suatu ruangan VVIP Bar tersebut.
"DIAMLAH!" bentak Leon yang terlihat frustasi.
Pria itu langsung menutup mulutnya. Tapi siapa sangka, seorang Leonard, cucu satu satunya keluarga Domino, di usianya yang hampir menginjak kepala tiga hanya demi menghormati neneknya dia menyetujui sebuah kencan buta yang telah di siapkan untuknya.
"Tapi di pertemuan kita kali ini, aku malah tidak menyangka, Cassa menjadi orang pertama yang menikah bahkan sudah memiliki bayi. Lucky!"
Leon menatap Cassa, "Kau sudah menikah? Kenapa aku tidak tahu?"
"Itu karna saat itu kau sedang diluar negeri. Tapi jangan khawatir, aku pasti akan mengenalkan istriku Niki dan bayi kita pada kalian," ucap Cassa itu.
Mereka mengangguk pelan lalu menjangkau gelas berisi minuman dan meneguknya habis.
Jika mengingat kembali tentang pencarian yang Leon lakukan terhadap keluarga Yola, dari sana dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Kepala keluarga bernama Richard Yola meninggal 7 tahun yang lalu, dilihat lebih dalam ternyata tanggalnya sama dengan kejadian malam itu. Kemudian putri kandung Richard yang menghilang setelahnya dan tidak diketahui sampai saat ini.
Satu anak tiri keluarga Yola sempat membuat Leon berpikir bahwa dialah Cinderella malam itu, tapi hatinya tidak meyakini hal itu.
"Huuuuh." Leon menghela nafas kasar.
"Sekarang serius," ucap Cassa dengan wajah serius.
"Apa masih memikirkan perusahaan MB yang sedang berkembang? Ayolah, itu hanya perusahaan kecil." Harly menyepelekan.
"Tidak, kau salah Harly. Apa kau tidak tahu, kepala pemimpin MB beberapa tahun yang lalu telah menjadikan seorang pria sebagai anak angkatnya untuk menjadi penerusnya. Ya, walaupun dia harus merangkak dari posisi Manager terlebih dahulu."
"Aku tahu." Harly menuangkan minuman ke tiga gelas kosong mereka, "Tetap saja hanya perusahaan kecil. Kalau tidak salah, anak angkatnya itu bernama ... Ver ... Vel ... Ah ya, Vello."
Harly mengangkat gelas berisi minuman, mengajak mereka untuk bersulang.
Teng! Dan meneguknya habis.
"Hah! Aku dengar pria itu baru kembali dari luar negeri 2 tahun yang lalu dan memiliki potensi yang sangat baik. Andai saja kita bertemu dengannya lebih dulu. Eh?"
Ponsel Cassa berdering.
"Hall---"
"PULANG! ANAKMU TERUS MENANGIS, DIMANA KAU?" omel sang istri. Harly dan Leon yang mendengar hal itu berusaha untuk menahan tawa.
"I-iya istriku iya." Patuh.
"SEKARAAAAANG!" kemudian panggilan terputus.
Mereka bertiga saling bertukar tatapan, terpaku satu sama lain, "A-aku pulang dulu." Cassa segera beranjak dan pergi meninggalkan Leon dan Harly disana.
"G-galak sekali istrinya."
"M-menikah itu merepotkan."
Tak lama setelah itu giliran ponsel Leon yang berdering, nenek menelpon. Memintanya untuk segera pulang dan membicarakan tentang sesuatu, kencan buta.
"Pft ... Pergilah pergilah, jangan kecewakan pasangan kencan buta-mu itu," cibir Harly.
Leon beranjak, "Tutup mulutmu! Kalau bukan karna permintaan nenek aku tidak akan sudi. Lihat saja bagaimana aku akan mengurusnya." Ia pun pergi.
Harly menggelengkan kepalanya, seberapa hebatpun kedua temannya tetap saja ada orang yang mereka takuti, entah itu istri ataupun nenek dan orang tua. Kehidupan CEO itu memang tidak selamanya mulus.
Kediaman besar Domino.
Leon membawa buah-buahan segar sebagai buah tangan untuk nenek. Setibanya dia disambut oleh beberapa pelayan yang kemudian mengantarnya bertemu dengan nenek. Ke tempat favorit nenek ketika bertemu Leon, dia menyebutnya ruang kecil. Padahal besar dan luas.
"Nenek."
Nenek langsung menoleh mendengar suara cucu kesayangannya itu, "Leon cucuku, kemarilah."
Ah malas sekali, ketika melihat nenek duduk di sebuah kursi dimana di depannya terdapat beberapa berkas tertumpuk. Tidak salah lagi, berkas itu pasti berisi data diri setiap gadis yang nenek siapkan untuk kencan buta menyebalkan itu.
Nenek melambaikan tangan gembira menyambut Leon.
"Aku bawakan buah untuk nenek." Ia mengalihkan perhatian.
"Terima kasih, kau memang cucu kesayanganku. Oh ya, lihatlah beberapa foto gadis cantik ini." Tetap saja teralihkan pada hal itu. Nenek menunjukan lembaran kertas itu.
"Aku sudah bilang tidak tertarik. Aku belum ingin menikah."
"Eh jangan seperti itu. Begini saja, lihat dulu fotonya. Setelah itu baru putuskan."
Leon menghela nafas kasar, yang terpaksa dia menuruti permintaan neneknya itu. Mengambil dengan enggan beberapa berkas itu, berpura pura memeriksa padahal pandangannya entah kemana.
"Periksa dengan benar!" geram nenek.
Leon memutar matanya pada sebuah kertas dan dibuat terkejut oleh apa yang tertera disana, diantara berkas itu ternyata ada putri dari keluarga Yola yang nenek rekomendasikan, tapi bukan Mocca melainkan Ruri.
"Nenek, aku ingin bertanya sesuatu." Leon tampak serius.
"Tentang apa?"
"Tentang keluarga Yola itu, bukankah mereka mempunyai dua orang putri?"