NovelToon NovelToon
Pembantu Kesayangan Tuan Abian

Pembantu Kesayangan Tuan Abian

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.5
Nama Author: Titin

Rara Depina atau biasa di panggil Rara, terpaksa menggantikan ibunya yang sedang sakit sebagai Art di ruamah tuan muda Abian Abraham.

Rara bekerja tanpa sepengetahuan tuan muda Abian. Abian yang pergi kerja saat Art belum datang dan pulang saat Art sudah pergi membuat Rara bisa bekerja tanpa di ketahui Abian.

Apa jadinya saat tak sengaja Abian memergoki Rara tengah berada di apartemennya.

Dilema mulai muncul saat diam-diam Abian mulai jatuh cinta pada pembantu cantiknya itu, dan di tentang oleh keluarga besarnya yang telah memilihkan calon buat Abian.


Akankah Abian mampu mempertahankan Rara di sisinya, cuus baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 8

Hari minggu harusnya hari libur buat Rara, apa boleh buat tugas ibu harus di embannya sampai ibu benar-benar sembuh.

"Ibu, kalau jadi, sepulang kerja aku main kerumah kiki, ibu jangan menungguku ya," ujar Rara seraya memasang tali sepatunya.

"Iya, jangan malam-malam pulangnya."

"Iya buk, kalau ada apa-apa hubungi kiki ya, ibu ada nomornya kan, aku pergi buk," pamit Rara seraya mencium tangan ibu.

Hari ini Rara tampil sedikit trendy, memakai celana jeans panjang dan kemeja panjang, tak seperti biasa hanya memakai celana pendek di atas lutut, tapi membuatnya terlihat sangat seksi.

Dengan menumpang angkot Rara sampai juga di tempat kerjanya, apartemen tuan Abian. Kata ibu walau hari minggu tuan Abian tetap sibuk diluar, sebab ibu tak pernah bertemu tuan Abian di hari minggu. itu membuat Rara sedikit lega sebab dia tak harus bertatap muka dengan tuan Abian.

Dengan semangat empat lima Rara memulai aktivitasnya, dari membersihkan prabot mahal dari debu, menyusun baju sesuai warna dan mode, cuci piring,ngepel dan tetakhir buang sampah.

Hari ini dia benar-benar sukses mengerjakan tugasnya jadi babu. Waktunya bertemu duo sohibnya, menghabiskan hari libur dengan jalan-jalan ke mall, walau cuma cuci mata dengan barang-barang mahal di etalase toko udah buat Rara senang.

Kiki dan imel sudah nunggu di depan rumah, begitu Rara sampai merekapun langsung cabut ke mall terdekat diantar oleh sopir pribadi kiki.

"Udah kelar tugas negara Ra," tanya imel seraya menatap Rara.

"Udah lah, kalau belum mana bisa aku ikut kalian," jawab Rara sambil nyengir.

Bersamaan dengan ponsel Rara yang berdering, kedua temannya saling pandang lalu.

"Ciee, yang udah punya hp," ledek keduanya.

Saat Rara mengeluarkan hp dari dalam tasnya kedua temennya bengong, Rara punya Iphone seharga tujuh jutaan.

"Banyak duit lo ra?" tanya Kiki penuh selidik.

Rara tak menyahut, dia fokus pada ponselnya yang mendapat panggilan video dari Rendra, diangkat atau abaikan saja, ah abaikan saja..

"Siapa Ra kok di cuekin?" tanya kiki semakin curiga, jangan jangan sugar Daddy nya Rara, bagai mana mungkin Rara punya hp semahal itu, kemarin kemarin hp harga dua ratus ribuan aja dia gak mampu beli.

"Sugar daddy," jawab Rara santai, dia tau apa yang ada dibenak kedua sahabatnya itu, bukan rahasia lagi banyak teman sekelas mereka memilih jadi pemuas sugar daddy demi bisa memiliki barang mahal dan branded.

"Apa, jangan hilaf Ra, udah bagus sikapmu selama ini apa adanya, kenapa sekarang jadi gini sih Ra," cicit Imel panik gak karuan.

"Udah telat nasehat mu mel, nih hp dah di tanganku gimana dong," Rara semakin iseng ngejailin mereka, panik gak, panik gak, ya paniklah.., Rara punya sugar daddy.

Rendra kembali melakukan pangilan video kali ini Rara menerimanya, dia takut Rendra malah ngambek di cuekin gitu.

"Sore Ra,"

"Sore kak"

Rendra menatap intens layar hp nya, tepatnya menatap background Rara yang terlihat seperti di dalam mobil. pergi dengan siapa dia, jangan sampai dengan cowok, mau mati dia berani bawa Rara

"Ra kamu pergi sama siapa?" tanya Rendra dengan tampang serius.

"Temen kak."

"Laki-laki apa perempuan?"

"Perempuan kak," sahut Rara, Rara mengarahkan kamera ponselnya ke Kiki dan Imel.

"Oo sukurlah, jangan pergi dengan sembarang orang Ra."

"Iya kak," sahut Rara dengan pipi merona. entah Rendra menganggapnya sebagai apa tapi bagi Rara perhatian ini special.

"Mau kemana kalian?"

"Main ke mall kak."

"Ya udah hati-hati, jangan macem-macem," nasehat Rendra terdengar begitu manis di telinga Rara, ingin Rasanya dia jadi wanita tak tau diri, lalu meminta Rendra jadi kekasihnya, tapi sayang Rara masih tau diri, dia sadar mereka beda kasta, beda usia.

"Siapa?"

Kiki dan imel menatap Rara penasaran, cowok ganteng tadi bukan teman sekolah mereka, wajahnya juga terlihat sudah dewasa, siapa dia.

"Sugar Daddy ku," sahut Rara dengan kerling nakal.

"Yang bener, ganteng amat," ujar Kiki menatap Rara tak yakin.

"Sugar Daddy bukannya tua, buncit, berkepala botak ya, yang tadi kok ganteng banget gitu sih Ra?" tutur Imel takjub dengan sosok Rendra.

Rara terkekeh, apa dia bilang, nih anak berdua kalau liat Rendra pasti histeris, benerkan.

"Kalau gak seganteng itu ogah aku jadiin dia sugar daddy ku," sahut Rara ngarang bebas.

"Pantes iman mu bobol Ra, bener-bener tampan loh Ra," imel masih saja terhipnotis oleh pesona Rendra.

Dering ponsel kembali terdengar, kali ini ponsel kiki yang berdering.

"Dari ibu mu Ra, memang ibu mu gak tau nomor hp mu?"

"Gak ki, takut ibu nanya macem-macem, aku bingung mau jawab apa?" sahut Rara, benar juga, Rara jawab apa kalau ibuk nanya hp dapet dari mana?

"Wa'alaikumsalam bu, ini ada di samping," Kiki menyerahkan ponselnya pada Rara.

"Iya, buk?"

"Nak Ruri tadi nelpon, Abian minta kamu datang ke Apartemennya, dia mau kedatangan tamu di apartemennya, dia minta kamu melayani tamunya menyuguhkan makanan dan minuman, bisa gak Ra," ujar ibuk di sebrang telpon.

Rara termangu sesaat, kalau dia nolak memang boleh, dan Abian gak akan marah, membayangkan wajah dingin Abian aja membuat Rara begidik ngeri.

"Bisa buk," sahut Rara Akhirnya.

"Ya udah kesana gih, tuan Abian dah nunggu."

"Baik buk," sahut rara, tubuhnya layu seketika, tapi demi ibu, bukan, ini juga demi dia sendiri, sebab ibu bekerja bukan hanya untuk ibu tapi untuk mereka, dia dan duo kembar.

"Ada apa Ra," tanya kiki penasaran melihat raut wajah Rara yang berubah menjadi tak semangat.

"Tuan Abian memintaku bekerja melayani tamunya menyiapkan hidangan , jadi, aku turun di haltebus depan itu ya, kalian lanjut jalan," ujar Rara dengan senyum.

"Tapi Ra, bukanya tugasmu dah selesai ya, lalu ini apa lagi?" tanya Imel tak paham.

"Tugas tambahan, gak apa aku gak bisa nolak, Abian orangnya kaku, aku gak mau garagara hal sepele ini kerjaan ibuk terancam, udah kalian senang minggu ini,minggu besok kalian wajib traktir aku."

Imel dan Kiki saling tatap, mereka kasihan pada nasib Rara, tapi mau gimana lagi itu pekerjaannya.

"Baiklah nona minggu depan makan dan tiket nonton mu gratis," Sahut Kiki dengan senyum mengembang di bibir merahnya.

Rara turun di halte bus lalu naik taksi dengan uang pemberian Kiki, yang sudah susah payah dia tolak dan akhirnya dia terima juga.

Rara menarik nafas dalam, sebelum jari lentiknya memencet tombol bell apartemen tuan Abian.

Pintu apartemen terbuka, di balik pintu Abian tengah menatapnya, dingin..

"Masuk."

Rara masuk dengan langkah perlahan, dinginnya Ac seketika menerpa tubuhnya, sedingin sikap Abian saat ini.

Rara berdiri di samping Sofa yang sudah di susun Abian sedemikian rupa, Abian mengabungkan dua pasang sofa menjadi satu lingkaran.

Sementara Abian duduk di depannya menatap intens kearahnya.

"Duduklah, tamuku datang setengah jam lagi, kau bisa bersantai sebelum itu." ucapnya dengan tatapan dinginnya yang membekukan jantung Rara.

Lima belas menit berlalu, seseorang suruhan Abian datang dengan mebawa sepasang baju yang harus dia kenakan saat tamunya datang.

"Pakailah mereka sedang di perjalanan, kau hanya menghidangkan minuman dan makanan yang ada di dapur, dan memberekan sisa makan saat mereka pulang, setelah itu tugasmu beres kau bisa pulang."

Rara mengangguk, dengan mengunakan kamar tamu, dia mengganti bajunya dengan baju pemberian Abian.

Blus lengan panjang berwarna hijau botol, di padu dengan rok span di bawah lutut berwarna hitam dan sepasang pansus berwarna senada dengan rok, warna hitam, membuat Rara terlihat seperti seorang sekretaris.

Para tamu sepertinya sudah datang, tak banyak sekitar enam orang dan semuanya pria.

Saat ada kode dari Abian, Rara pun menjalankan perannya, Rara mendorong meja yang berisi minuman dan beberapa makanan ringan pencuci mulut.

Rara hanya bertugas meletakkan semua hidangan di meja lalu kembali masuk kedapur, memasang telinga menunggu kalau-kalau ada perintah tambahan dari Abian.

Di tengah pembicaraan yang sepertinya hanya bincang-bincang santai, salah satu tamu meminta pada Abian agar Rara menemaninya semalam saja.

"Bian, pelayanmu boleh juga, bisa pinjam satu malam saja," pintanya pada Abian.

Rara yang mendengar perkataannya serasa terbakar jantungnya, dasar racun, beraninya dia memintanya satu malam, apa dia mau mati.

"Kau mau mati!" bentak Abian dengan suara meninggi.

"Hey, ayolah kenapa kau terbawa emosi, dia cuma pelayan bagi mu bukan."

"Siapa dia bagiku bukan urusanmu, kalau kau tidak bisa menghargai apa pun yang ada dirumahku, sama saja kau tidak menghargai aku, dan yang tidak mampu menghargaiku, ku anggap bukan tamuku, karena kau tidak menghargai ku kau boleh keluar!" ancam Bian dingin

"Sudahlah lupakan, aku minta maaf,sampaikan maaf ku padanya, aku tak bermaksud tak menghargai mu, maaf Bian," lelaki itu tak ingin berdebat dengan Abian, itu sama saja menantangnya, menantangnya sama saja cari mati, lebih baik mengalah kalau ingin selamat.

Bian tak menyahut, dia terlanjur kesal, pertemuan yang dijadwalkan memakan waktu dua jam mendadak di percepat.

Begitu tamu pulang, Rara mulai beberes, sementara Bian mengurung diri dikamarnya. Setelah Rara selesai barulah dia keluar dari kamar.

"Sudah selesai?"

"Sudah tuan."

"Terimakasih, ini terimalah untuk upahmu malam ini, aku sudah pesan taksi untuk mu, satu lagi kau boleh bawa pulang baju yang kau kenakan, pulanglah sudah malam."

"Baik tuan, terimakasih banyak."

Dengan langkah cepat Rara meninggalkan apartemen berada di dekat Abian lama-lama membuat nafasnya sesak, sikap dinginnya itu membuatnya membeku, wajah tampannya bahkan tak mampu menghangatkannya.

Bian, menatap pintu yang sudah tertutup rapat, hembusan nafasnya terdengar begitu berat. dia menyesal membelikan Rara baju yang tadi di kenakan Rara, membuatnya terlihat begitu mempesona dengan belahan dada yang rendah, membuatnya menghayalkan isi dalamnya yang sering dia lihat dari rekaman cctv.

"Shit" makinya geram.

Geram pada dirinya sendiri, yang begitu pengecut menikmati tubuh molek gadis lugu, seperti candu.

Happy reading.

Hay readers jangan lupa tingalin jekak ya, like dan votenya jangan lupa , terimakasih 🙏🙏🙏🥰

1
Baiq Belva
luar biasa
juwita
mampir
Umi Syafaah
semoga ceritanya menarik ya ,aku nyimak dulu
Dewi Siahaan
Kecewa
Dewi Siahaan
Buruk
Ai Siti
Biasa
Ruli Ana
Kecewa
Ruli Ana
Buruk
Farani Masykur
coba mampir thor
💟노르 아스마💟
Luar biasa
Christina Dariyem
Kecewa
Christina Dariyem
Buruk
yuni_nuraeni
Rika Fitria
keren ceritanya
Siti Zubaedah
Luar biasa
sherly
novel yg bagus, tq Thor...
sherly
ya jelas donk, situ siapa ngarep dilembutin bian... ngaca mbak
sherly
aku tu sebenarnya sebel dgn sikap araa.. masih aja ngk mudeng kalo si bian tu sayang, cintaaaaa banget Ama dia... . emang sih si bian tu posesif tp itu menunjukkan kalo dia sayang banget lagian boleh pergi tp TDK boleh ada teman laki yg ikut kalo menurutku itu hal yg wajar
sherly
netizennya plinplan...
sherly
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!