"Kesalahanku adalah karena aku menerima tawaran itu sehingga aku mulai merasa nyaman dengannya."
Melani Pricillia adalah seorang sekretaris baru di Perusahaan Haditama. Ia baru saja bekerja selama 6 bulan pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria dingin bernama Revan Haditama.
Sebuah tawaran dilayangkan oleh Revan kepada Melani yang membuat wanita itu tergiur dengan isi dari kontraknya. Sebuah kontrak yang mengharuskan Melani berpura-pura menjadi pacar Revan sebagai alasan Revan agar terhindar dari perjodohan yang telah direncanakan oleh orang tuanya. Namun tidak hanya itu, di luar dugaan Revan pun meminta Melani menjadi istrinya dengan bayaran 1 Miliar.
Bagaimana hubungan Revan dan Melani di akhir kontrak? Akankah cinta dapat tumbuh dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan hati?
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan
Selamat membaca!
Setibanya dari kamar mandi, kini Melani kembali duduk di sebelah Tamara dan Revan tetap di seberang kedua wanita itu. Namun, tanpa keduanya sadari, sebenarnya Tamara sudah memperhatikan kedatangan mereka dari kejauhan dengan masih saling berpegangan tangan dan terlihat begitu mesra.
"Kalian itu sungguh kelihatan sangat mesra ya. Mel, memangnya kamu dekat dengan Revan sudah berapa lama?" tanya Tamara dengan kedua alisnya yang saling bertaut.
Pertanyaan yang membuat Melani tercekat karena ini tak ada dalam pembahasan antara dirinya dan Revan. Melani pun menatap wajah Revan yang seketika juga sedang memikirkan jawaban apa yang harus dijawab oleh Melani saat ini.
"Berapa ya Mom? Aku memang agak lupa, tapi coba aku ingat-ingat dulu ya, Mom." Melani terus memberi kode kepada Revan lewat sorot matanya, hingga akhirnya Revan yang berinisiatif untuk menjawab pertanyaan sang ibu yang membuat keduanya sempat terkejut.
"Sudah setahun ini Mom, benar begitu 'kan sayang. Kamu ingat enggak?" tanya Revan yang coba membantu sang sekretarisnya dalam menjawab pertanyaan Tamara.
"Oh ya, betul Mom. Satu tahun, kalau enggak salah waktu itu kita bertemu di Plaza Semanggi ya, sayang! Saat itu aku memang akan meeting dengan klien di sana dan karena terlalu terburu-buru aku jadi menabrakmu. Nah, setelah itu kami bertukar nomor ponsel dan sampai sekarang, Mom." Melani dengan cepat melontarkan apa saja yang terlintas di pikirannya tanpa sempat memikirkan lebih lanjut apa yang dikatakannya itu salah atau benar. Bahkan di saat seperti ini untuk menanyakannya kepada Revan saja sangat tidak mungkin untuk dilakukannya.
"Wah, pertemuan kalian itu seperti di film drama Korea yang Mommy tonton lho, tapi apa ya judulnya Mommy lupa." Tamara sejenak mengingat film favoritnya dan saat ia menyerah, wanita itu kembali melanjutkan perbincangannya dengan Melani yang saat ini tengah mengelus dadanya berkali-kali karena berhasil lolos dari pertanyaan Tamara yang tak sempat dibahasnya dengan Revan.
"Memang aku terinsipirasi dari film itu Tan, semoga saja Tante Tamara tidak ingat judul filmnya. Bodoh banget ya aku, masa harus ada adegan ketabrak segala dengan Revan," batin Melani terus merutuki dirinya sendiri yang tak pandai berbohong.
Tamara yang tetap tak berhasil mengingat film drama Korea yang ditontonnya. Kini menepikan rasa penasarannya dan mengalihkan topik pembicaraan ke pembahasan yang lainnya.
"Aduh Mommy lupa sayang, tapi ya sudahlah itu enggak penting. Sekarang yang terpenting adalah pernikahan kalian harus secepatnya dilaksanakan dan Mommy ingin pernikahan itu berlangsung mewah dan meriah, tapi kalau Mommy boleh tahu, menurut kamu Mel, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan bersama Revan?" tanya Tamara yang membuat Melani menjadi semakin gugup dan mulai merasa canggung untuk menjawabnya.
Revan yang mengerti apa yang saat ini dirasakan oleh Melani, seketika beranjak dari posisi duduknya dan langsung merangkul tubuh Melani untuk memintanya duduk di sebuah kursi yang bersebelahan dengannya.
"Sayang, kamu duduk di sini ya! Maaf kalau perkataan Mommy malah membebani pikiran kamu." Revan berucap dengan sangat lembut sambil mengusap pucuk kepala Melani yang telah duduk di sebelahnya.
Tamara yang mendengar perkataan dari putranya, jadi merasa bersalah karena telah membuat Melani menjadi tak nyaman dengan perkataannya yang sudah membahas masalah pernikahan di pertemuan pertama mereka.
"Melani, Mommy minta maaf ya kalau terlalu tergesa-gesa langsung bertanya saat kamu baru saja datang ke rumah ini. Sekarang kamu rileks ya, santai saja. Mommy mau ke atas dulu untuk memanggil Daddy dan Kakak-kakaknya Revan untuk segera turun dan makan bersama kita."
Wanita paruh baya yang masih tampak awet muda itu segera beranjak pergi meninggalkan ruang makan dan melenggang menuju lift yang akan mengantarkannya menuju lantai dua dan tiga untuk memanggil suami, anak dan menantunya.
Kini tinggallah Melani dan Revan berdua di ruang makan yang luas itu. Tanpa sengaja tatapan keduanya saling bertemu ketika wajah mereka saling berhadapan.
"Tadi itu bagus Mel, pokoknya kamu harus terus meyakinkan keluargaku tentang hubungan kita karena setelah ini pasti kedua orang tua saya akan membatalkan perjodohan yang telah mereka rencanakan dengan anak sahabatnya, maka itu saya melakukan semua ini karena saya tidak mau menikah dengan cara perjodohan seperti ini." Revan terlihat geram saat menceritakan apa yang menjadi latar belakang dirinya sampai menawarkan Melani kontrak untuk menjadi kekasih pura-puranya.
Melani pun akhirnya mengerti dengan posisi Revan setelah mendengar penjelasan dari mulut pria itu. Hal yang tidak disampaikan oleh pria itu saat mereka masih berada di kantor ataupun selama di perjalanan. "Baik Tuan, saya akan melakukan semampu yang saya bisa lakukan. Semoga semuanya berhasil dan mereka yakin dengan apa yang saya katakan ya, Tuan."
"Terima kasih, Mel." Revan menjawabnya dengan singkat dan mulai bersikap seperti biasanya karena langkah Tamara dan keluarganya yang lain mulai terdengar menuruni anak tangga.
Tak berselang lama, anggota keluarga Haditama yang tinggal di rumah megah tersebut mulai berkumpul di ruang makan. Mereka tampak menempati kursi masing-masing yang di depannya terdapat meja makan panjang dan sudah tersaji berbagai menu makanan untuk menyambut sekaligus memperkenalkan wanita yang akan menjadi istri dari Revan.
Melani saat ini mulai diperkenalkan satu persatu dengan sederet anggota keluarga Revan secara bergantian, walau cukup sulit untuk diingat semua nama mereka, tapi wanita itu tetap mencoba dan bersikap humble terhadap semuanya.
Rangga Haditama, yang merupakan ayah kandung dari Revan mulai mempersilakan semuanya untuk makan, setelah semuanya berkenalan dengan Melani.
Makan besar itu berlangsung nikmat, sesekali Tamara membuka obrolan kecil saat acara makan berlangsung. Tak jarang, Kakak perempuan Revan mencoba menggoda adiknya dengan kata-kata ledekan.
"Mel, kok kamu mau sih sama Revan? Dia 'kan playboy kelas kakap, hampir di setiap kota pasti punya mantan setidaknya satu," celetuk Kakak Revan yang pertama bernama Revalina.
Perkataan Revalina sontak membuat Melani terkejut. Wanita itu pun tersenyum dengan lebar saat mengetahui sebuah kenyataan yang baru didengarnya tentang atasannya itu. "Masa sih, Kak? Aku malah tahunya kalau Revan itu pria setia dan cuma punya mantan sedikit, habisnya dia tidak banyak bicara sih saat dekat denganku." Melani coba membuat semuanya mengalir dan seolah memang menjalani hubungan dengan Revan, agar tak menimbulkan kecurigaan dari semua keluarga besar Revan. Walau saat ini jantungnya terus berdetak tak beraturan.
"Hmm, emang kalian baru berapa bulan sih pacarannya? Masa kamu enggak tahu kebiasaan Revan yang tidak bisa hidup dengan satu wanita?" tanya sang Kakak lainnya yang bernama Tania. Ia adalah anak ketiga dari pasangan Rangga dan Tamara.
"Aku dan Revan baru satu tahun sih pacarannya, tapi selama ini aku merasa Revan itu pria yang setia dan sangat mencintai aku sih, Kak. Bukan begitu, sayang?" ucap Melani yang diakhirnya dengan sebuah pertanyaan untuk Revan, agar membantunya dari serangan dua wanita cantik yang sangat ingin menjatuhkan pamor seorang Revan di hadapannya.
Revan pun berdecak kesal dengan semua perkataan yang terlontar dari kedua kakak perempuannya yang memang sangat menyebalkan setiap kali mereka bertemu. "Sayang, kamu jangan dengarkan kata-kata mereka ya. Mereka itu punya niat jahat buat memisahkan kita berdua karena mereka iri dan takut tersaingi kalau seandainya kamu tinggal di sini, apalagi kamu itu lebih cantik dari mereka."
Melani terkekeh mendengar jawaban Revan dan untuk pertama kalinya ia melihat pria itu menunjukkan sikap aslinya sebagai anak sekaligus seorang adik, ketika sedang berkumpul bersama keluarganya di rumah. Wanita itu memang terbiasa melihat sosok yang sombong dan arogan dari Revan sebagai atasannya di kantor.
"Huh, dia tuh enggak pengen banget kartu as-nya kita bongkar di depan kamu, Mel. Pokoknya Kakak cuma mau ingetin, jangan terlalu percaya sama omongan Revan yang emang manis kalau di depan, tapi pada kenyataannya di belakangnya bisa jauh berbeda." Revalina kembali melontarkan sebuah hasutan untuk membuat Revan merasa semakin geram terhadapnya.
"Dad, suruh Reva tutup mulutnya dong. Buat aku tidak nafsu makan saja deh!" protes Revan pada pria paruh baya yang terlihat pasrah menyaksikan anak-anaknya berperang mulut ketika sedang berada di meja makan.
"Reva, Tania. Cukup ya! Di hadapan kalian sedang ada tamu, perlihatkan dong sikap sopan dan santun kalian!" titah Rangga dengan tegas, hingga membuat kedua putrinya segera meminta maaf pada sang ayah yang tengah marah kepada mereka.
"Sayang, benar kata Daddy. Bersikaplah yang sopan karena kita sedang kedatangan tamu yang istimewa dan berhentilah meledek Revan. Pokoknya Mommy sangat marah kalau sampai mereka gagal menikah karena perkataan kalian. Apa kalian tega melihat Revan terus menerus sendiri tanpa diurus oleh istrinya?" perkataan Tamara membuat jiwa iseng Revalina dan Tania seketika terkubur dalam-dalam.
"Maafin kami ya, Mom, Dad. Melani, aku dan Tania minta maaf ya kalau kamu merasa jadi tidak nyaman atas sikap kita berdua. Pokoknya jangan diambil hati perkataan kita tadi ya, semuanya murni karena kami hanya iseng saja ingin menggoda Revan. Kita memang sering melakukan itu kalau Revan sedang datang ke rumah." Revalina berucap dengan penuh penyesalan sekaligus mewakili Tania, yang tadi juga ikut mengerjainya.
Melani pun tersenyum menanggapi permintaan maaf dari kedua wanita yang menurutnya sangatlah cantik. "Aku tahu kok kalau kalian berdua hanya bercanda, makanya dari tadi aku cuma ketawa-ketawa aja. Aku senang bisa berkumpul di tengah-tengah kalian, di dalam keluarga Revan yang sangat seru dan bisa sehangat ini menerima tamu seperti aku di rumahnya. Terima kasih ya semua karena sudah mengizinkan Melani untuk datang ke rumah ini."
"Sama-sama, Melani. Daddy senang kalau kamu bisa sering-sering main ke rumah, biar kami di sini bisa lebih sering bertemu dengan Revan yang selama ini terasa jauh karena sibuk bekerja."
"Betul kata Daddy, sayang. Kalau kamu sudah menikah dan resmi menjadi istri dari Revan, kami semua berharap kalian mau tinggal di rumah ini bersama-sama dengan kami, biar Mommy dan Daddy bisa terus berkumpul bersama kalian dan menikmati masa tua seperti sekarang ini."
Perkataan keduanya membuat wanita itu menjadi sangat bersalah karena telah membohongi mereka semua. Saat ini ia seperti sedang berada di posisi yang sangat sulit untuk memutuskan, di satu sisi, ia tak ingin dipecat dari pekerjaannya dan di sisi yang lainnya, ia merasa tak enak hati harus membohongi kedua orang tua Revan yang sudah sangat baik kepadanya.
"Ya Tuhan, tolong ampuni aku karena kebohongan ini bukanlah keinginanku. Aku hanya menjadi korban dari pemaksaan Revan, tapi sepertinya aku memang tidak bisa melanjutkan kebohongan ini lebih jauh lagi. Tidak masalah jika aku harus kehilangan pekerjaan sekalipun, daripada aku menipu orang-orang yang baik seperti mereka," batin Melani dengan berani memutuskan, setelah ia mempertimbangkan semuanya dengan sebaik-baiknya.
🌸🌸🌸
Bersambung