NovelToon NovelToon
Om Duda Teman Bapak

Om Duda Teman Bapak

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Duda / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: yati suryati

Dea merupakan putri tertua Pak Bani dan Alm. Bu Ida. Karena ditipu teman bisnis akhirnya Pak Bani bangkrut. Mereka menjual seluruh aset demi menutupi hutang di bank dan membayar gaji karyawan.
Suatu hari, Yudi yang merupakan mantan karyawan Pak Bani datang mencarinya. Karena Yudi merasa hutang budi kepada keluarga itu. Karena Pak Bani lah, dia bisa menjadi pengusaha mebel sukses.
Pak Bani meninggal dalam kecelakaan menuju tempat kerja, sebelum dia meninggal. Pak Bani menitipkan Dea kepada Yudi. Yudi seorang duda yang berpisah karena istrinya selingkuh. Hingga suatu rencana busuk dibuat mantan istri Yudi untuk memisahkan Yudi dan Dea.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati suryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 7

Om Duda Teman Bapak

Part 7

Pagi ini aku mempersiapkan semuanya seperti biasa. Rasa sakit di pinggang karena benturan kemarin belum juga hilang, tetapi aku tidak berani mengatakan kepada bapak.

"Dea, berangkat kerja sama Bapak, yuk! Kebetulan Bapak ada urusan melewati rumah Yudi juga," tawar Bapak saat aku menyuguhkan teh pahit.

"Kenapa, sih, Pak, suka teh pahit? emangnya hidup kita kurang pahit, ya, Pak?" kelakarku.

"Kamu bisa aja, De," Kulihat bapak tersenyum.

"Oh, iya, Pak. Om Yudi, kok, bisa kaya gitu?" Aku sedikit membungkuk, menopang dagu pada telapak tangan dengan siku berada di atas paha.

"Penasaran banget sepertinya, De?" Ah, aku tidak suka ekspresi dari wajah bapak, ia tersenyum tetapi entah apa yang ada dalam pikirannya.

Tiiiiittt!

Suara klakson mobil terdengar dari depan rumah, kalau tidak salah itu mobil Jevan. Kenapa dia datang lagi?

"Jevan tuh," ucap bapak.

"Biarin, Pak. Yuk ah, pak, kita berangkat lagi!" ajakku sambil menarik tangan bapak.

"Ini anak gadis, nggak sabaran banget," celetuk bapak.

"Assalamualaikum, Om," sapa Jevan kepada bapak.

"Waalikum salam, Nak Jev. Ada keperluan penting, nggak? Soalnya Bapak dengan Dea sedang buru-buru," tutur bapak.

Bapak memang the best. Tahu saja kalau anak gadisnya yang paling manis ini nggak suka ketemu makhluk satu itu.

"Nggak, sih, Pak. Cuma mau antar sarapan aja." Jevan menyodorkan kantong plastik bening, terlihat di dalamnya ada dua kotak styrofoam.

"Nggak usah repot-repot, kami sudah makan!" celetukku.

"Tapi ini sudah aku bawakan, loh." Jevan berusaha meyakinkanku untuk menerimanya.

Akhirnya makanan itu diambil oleh bapak dan bapak pamit karena kami harus berangkat.

"Kenapa Bapak terima?" tanyaku agak sedikit berteriak karena beradu dengan suara-suara mesin kendaraan.

"Mubazir, De kalo dibuang. Mending Bapak ambil, kan bisa untuk makan siang. Kamu pasti mau juga, kan? Tapi genggsi." Kembali bapak meledekku.

"Hahahaha Bapak sa e."

***

Setibanya di rumah Om Yudi, kulihat Bik Nah sedang menyiram tanaman. "Dea ngejutin aja." tangan Bik Nah menepuk bahuku tetapi nggak sakit.

"Bibik ngelamun, sih. Bik gimana tadi malam, Om Yudi bisa bawa pulang Malika?" bisik Dea takut didengar Om Yudi.

Bik Nah hanya menggeleng.

"Ya salam, mampuslah Dea, Bik. Pasti jadi bulan-bulanan Om Yudi," keluhku.

"Dea!" teriak Om Yudi dari dalam rumah.

"Nah, benar, kan, Bik," bisikku.

"Udah buruan De, sebelum singa tidur bangun!" sambung Bik Nah.

Om Yudi duduk di sofa ruang TV. Tatapannya begitu datar. "Duduk!" perintahnya.

Jantung yang berdegup kencang, seolah terdengar detaknya keluar. Aku duduk di sofa satunya lagi dengan kepala tertunduk mencoba mencari-cari semut api lewat--takut kena gigit.

"Kamu tau kesalahan, kamu?" Pertanyaan itu lebih nyelekit dari gigitan semut api.

"Iya Om, tau," desisku.

"Sekarang Malika sudah dengan mamanya. Berarti saya tidak perlu lagi baby sitter."

Astaga, bagaimana nasibku. Baru juga satu bulan bekerja terima gaji saja belum, sudah dipecat. Malang nian lah nasibku ini.

"Jadi saya dipecat, Om?"

"Siapa yang bilang kamu dipecat?" Om Yudi balik bertanya.

"Nah, loh? Tadi katanya nggak perlu baby sitter?"

"Sudah jangan dibahas!" elak Om Yudi

"Dasar om-om aneh," gerutuku.

Om Yudi menyerahkan amplob cokelat, katanya gajiku bulan ini.

"Kamu pulang saja, hari ini kamu libur. Besok-besok saat saya butuh, saya hubungi kamu," titah Om Yudi setelah itu kulihat ia berdiri dan berjalan menaiki anak tangga, mungkin mau bersemedi lagi di kamarnya.

Penasaran berapa kira-kira gaji aku bulan ini. Kamar mandi jadi temat penuh privacy. Bergegas masuk ke kamar mandi, membuka dan melihat isi amplob. Waw, apa nggak salah ngasih Om Yudi ini? Kenapa banyak sekali. Cukup untuk beli laptop cash. Alhamdulillah. Aku nggak perlu nyicil.

[Terima kasih Om Yudi, lancar terus rezekinya]

Pesan kukirim ke aplikasi chatting bewarna hijau.

Centang biru, tanda dibaca tetapi tidak ada tanda-tanda akan dibalas. Mungkin Om Yudi menganggap tidak penting untuk membalasnya.

***

Pulang dari rumah Om Yudi, aku tidak langsung menuju rumah, melainkan menuju sekolah Widi. Sengaja menunggu Widi pulang, akan ku ajak langsung membeli laptop, Widi pasti suka.

Widi terkejut melihatku sudah berdiri di dapan gerbang sekolahnya, ia berlari sambil berteriak lalu menubruk badanku untuk dipeluknya. Gadis ABG ini memang sedikit lebay.

Aku menceritakan apa yang terjadi pagi tadi dan juga mengutarakan maksudku memunggunya. Mengetahui itu, ia tidak berhenti mengucapkan terima kasih dan memelukku lebih erat. Kata Widi, aku sudah seperti pengganti Mamak baginya.

"Jangan-jangan Om Yudi itu suka sama kakak?"

Aku hampir keselek pentol bakso yang baru saja masuk ke dalam mulut.

"Widi ngaco," kilahku.

Namun, tanpa sadar aku menjadi senyum-senyum sendiri.

"Cie ... Cie ... Om duda teman bapak begitau menggoda." Kembali Widi mengolok-olokku.

"Widi!" teriakku. "Kalo kamu ngeledekin kakak terus, kita batal beli laptop," ancamku.

"Iya, iya, kak. Maafkan adik kakak yang cantik ini!" mohon Widi.

***

Setelah hari itu, tidak ada lagi Om Yudi menghubungi Dea. Sepertinya memang hari itu hari terakhir Dea bekerja di rumah Om Yudi.

Pekanbaru, 3 Mei 2021

1
Sri Keren Mutamimah
Luar biasa
Sri Mulyati
👍
Anik
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Chika Ayuu
terharu sungguh
Chika Ayuu
seru banget
Ariyani Ariyani
hadir menyimak
Rose Angle
ini novel terpendek yang pernah aku baca tapi bagus cetitanya singkat padat jelas
Yati Suryati: baca ceritaku yang lain ya kak.
total 1 replies
indriyani
ceritanya sangat bagus
Yati Suryati: terima kasih
total 1 replies
💕💕syety mousya Arofah 💕💕
semangat kakkkk,,,sesakit apapun yg kita rasakan ,,,nyatanya hidup terus berjalan,,,
Yati Suryati: benar sekali kk
total 1 replies
SR.Yuni
setuju sama Widi...kamu bodoh Dea udah tahu jevan sodara ulet bulu kenapa diterima kayak ga ada lelaki lain aja....kecewa
SR.Yuni
Ceritany udah ok tapi jujur aku gak suka tipe lelaki Cemen gini masa udah jelas ulet bulu ganggu Dea kok gak dilawan...tegas dikit jadi lelaki
Kinan Kevin
bagus
Lulu Nasya
bagus ceritanya
Yati Suryati: terima kasih kk
total 1 replies
Yety Mulyaty
bagus
Yati Suryati: terima kasih
total 1 replies
Devi Handayani
keren ceritanya thorrr...... akhirnya tamat yaaa😍😍
Yati Suryati: terima kasih kk.
baca cerita ku yang lain juga ya
total 1 replies
Devi Handayani
fitnah... sekali lagi fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan..... ada inget ucapan dari tokoh siapa kah gerangan🤓🤓🤓
Devi Handayani
dea mau juga dinikahin ama om gantengnyaa.... wes lahh maju terus pantang mundur😍😍
Devi Handayani
semangat thorr😍😍
Yati Suryati: terima kasih.

coba baca ceritaku yang lain ya
total 1 replies
Nuranita
wah jdi iri ini sama mba authorx....anakx banyak...seneng donk pasti rumahx rame...nah aq anakx satu klo anakq sekolah aq hnya berdua aja sama cio kucing belang tigaq😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Yati Suryati: salam kenal mbak, makasih banyak sudah baca2 ceritaku
total 1 replies
Nuranita
kalo nglamar mbo y jgn gtu atuh....lari kn cewekx🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!