Siapa yang menyangka akan berjodoh dengan seseorang dari masa kecil.
Rendra Adipramana seorang Presiden Direktur dari Perusahaan Adipramana Group. Perusahaan yang dikenal besar dan ternama mampu membuat orang iri dengan yang berhasil bekerja disana.
Berusaha memperbaiki masa depan dan memiliki pendamping hidup yang tepat itulah yang menjadi tujuan hidupnya. Melewati rintangan hidup tidak membuatnya menyerah walaupun di satu waktu Rendra berhenti berjalan karena sahabat yang selalu bersamanya meninggal dengan cara tragis.
Sampai Rendra akhirnya bertemu dengan seorang wanita dari masa kecilnya. Amelia Hanindayana yang ternyata adalah seorang bawahannya sendiri.
Bagaimanakah perjalanan kisah cinta Rendra dan Amelia?
Ikutin aku di Instagram ya, follow @amandyapasha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Pasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Kiran
Rendra pun mengambil lauk yang sudah disiapkan lalu menaruhnya di piring makan yang sudah disiapkan untuknya. Mamanya yang melihat anaknya akan bekerja pasti akan banyak kegiatan dan menguras tenaga dia pun mengambil beberapa lauk dan menaruhnya di piring anaknya.
"Terimakasih, ma" sambil melihat kedua mata mamanya yang baru saja menaruh lauk ke piringnya.
"Iya nak, sama-sama. Makan yang banyak ya."
"Iya ma."
Rendra memakan makanannya yang sudah dihidangkan dengan sangat lahap dan juga menikmati setiap suapannya. Karena ia merasa sangat beruntung masih punya keluarga yang lengkap dan juga menyayangi dirinya untuk tetap bisa berada di dalam hidupnya.
"Rendra." Papa mulai mengajak Rendra sambil melihat ke arah anaknya yang sedang menikmati sarapannya.
"Iya, pa"
Aku mohon jangan bicara tentang hal kemarin lagi. Rendra yang tidak ingin membuat hari-harinya terasa tidak indah hanya karena pertanyaan yang tidak penting dari orang tuanya.
"Nanti malam papa ingin bicara dengan kamu. Jadi janganlah pulang terlalu malam."
"Tentang apa?" Tanya Rendra penasaran dengan setiap perkataan papanya.
"Nanti malam, Rendra." Mencoba untuk memperjelas kalau nanti malam akan dijelaskan oleh papanya tentang pembicaraannya nanti.
"Iya, pa." ia pun pasrah tidak mendapat penjelasan lagi mengenai apa pembicaraan itu.
Kalau tentang pasangan pasti hanya membuat pikiranku tambah terbebani saja. Rendra
"Kak." Kiran yang mulai lagi mengajak kakaknya berbicara sehingga mengganggu kakaknya yang sedang sarapan.
"Iya." Hap! Sambil memasukkan suapan terakhirnya ke dalam mulutnya.
"Yang kemarin malam itu lho kak, jawabannya apa?" Kiran yang masih ingin mencoba mendapatkan izin dari kakaknya tentang kuliahnya yang ingin di Luar negeri.
"Coba tanya papa dan mama. Apa mereka akan mengizinkanmu?"
"Hemm..., Coba kakak tanya"
"Kalau begitu tidak usah."
"Hei! Kalian ini. Ada apa? Mau tanya apa nak kalian berdua?" Mama.
"Kiran ma, bukan aku." Rendra.
"Ada apa Kiran ? Mau tanya apa?" Mama.
"Hemm..., Itu ma. Aku... " Kiran takut meminta izin karena ia tidak mempunyai alasan yang jelas mengapa dirinya ingin berkuliah di sana. Di saat Rendra menanyakan alasannya pun ia tidak bisa menjawabnya karena tidak mempunyai alasan untuk dirinya sendiri.
"Haha..., tidak bisa bicara ya." Rendra yang mulai mengejek adiknya yang gugup saat ditanya oleh mamanya.
"Bukan! Apa si kakak." Kiran.
"Ada apa kiran, bicara saja." Mama yang sudah mulai penasaran dengan sikap anaknya.
"Hemm..., Kiran... " Kiran masih gugup dan ragu untuk bicara namun terpotong dan di jawab oleh Rendra.
"Dia mau kuliah di Luar Negeri ma. Apa papa dan mama mengizinkannya?" Rendra. Sambil menatap Kiran mengejek yang dari tadi tidak bisa berucap apa-apa.
"Luar Negeri? Lho, bukannya kata kamu mau di kampus dekat rumah situ ya, nak?" Mama.
"Iya ma, tapi aku kepengen di Luar Negeri boleh tidak ma, pa?" Kiran.
"Memangnya kenapa kamu mau kuliah di Luar Negeri." Papa yang mulai ikut bertanya kepada Kiran sambil menatap wajah anaknya.
Aduh! Aku harus jawab apa ini. Aku cuma ingin melihat negaranya saja bukan karena memang diriku yang mau untuk melanjutkan pendidikan disana. Hiks, hiks. Kiran bergumam dalam hatinya.
Kiran yang masih dihantui dengan kebingungannya karena tidak memiliki alasan yang logis untuknya berkuliah di luar negeri. Karena memang yang sebenarnya alasannya karena hanya ingin sekolah di negara luar dan juga menikmati negaranya tidak lupa juga tetap bisa bareng dengan sahabatnya yang akan pergi berkuliah di Luar negeri setelah lulus dari sekolah menengah atas nanti.
Apa aku harus jujur saja ya sama mama dan papa. Gumam Kiran yang ragu Untuk mengatakan yang sebenarnya.
Flashback
Kemarin malam di kamar Kiran sebelum Rendra pulang.
Kiran sedang duduk di kasur dengan menyandarkan kepalanya di bantal yang ada di balik punggungnya sambil menonton televisi yang sedang dinyalakan secara acak.
Kiran sedang memikirkan tentang hal pagi tadi saat di sekolah berbincang dengan sahabatnya di kantin. Kalau sahabatnya akan meninggalkannya untuk kuliah di Luar Negeri dan itu membuat Kiran tertarik akan dunia luar atau negara orang seperti apa. Karena Kiran belum pernah ke London dan sahabatnya akan melanjutkan pendidikan disana.
Aku mau pergi ke sana.
Aku mau jalan-jalan.
Aku mau ketemu bule.
Aku mau ikut kamu.
Aku mau ikut.
Gumaman Kiran selama ia melamun di tempat tidurnya.
Tidak lama, ia teringat dengan kakaknya. Ia pikir mungkin kalau ia meminta izin dengan kakaknya akan mudah dan setelah mendapatkannya dari kakak pasti akan dapat dari papa dan mamanya juga dengan mudah.
Ia pun tanpa mengetahui kakaknya sudah pulang atau belum. Ia langsung berlari keluar kamar menuju kamar kakaknya. Dia pun mencoba membuka pintu untuk mengecek dikunci atau tidak dan setelah dicoba ternyata tidak dikunci. Melihat ke kanan ke kiri, melihat sekeliling ruangan tidak ada kakaknya namun terdengar suara air dari kamar mandinya.
Ia pikir kakaknya lagi mandi. Ia pun menunggu duduk di sofa tetapi 25 menit berlalu tidak keluar-keluar juga. Rasa kesal pun datang dan akhirnya ia menaiki kasur dan melompat-lompat kesana membuat sprei, selimut, dan juga bantal guling yang ada di kasur berantakan.
Kreek!...
Pintu kamar mandi terbuka.
Kiran kaget dan tidak melakukan lompatan lagi hanya terdiam kaku berdiri di atas tempat tidur sambil melihat ke arah jalannya kamar mandi untuk memastikan kakaknya keluar dengan tidak adanya amarah yang muncul dibenaknya.
Flashback Off
"Kiran? Kok ditanya diam saja." Mama.
"Haha. Tidak bisa jawab kan. Udah kuliah di dekat rumah saja. Nanti aku tambah uang bulanannya." Rendra yang sudah berdiri dan mengambil jasnya yang tergantung di kursi sambil mengenakannya.
"Hah! Serius kak? Ya Sudah kalau gitu di dekat rumah saja. Hehe... " Kiran yang kaget mendengar perkataan kakaknya jadi ia akhirnya menetapkan pilihan pertamanya untuk kuliah di rumah saja tidak di luar Negeri dengan malu.
"Cih! Giliran uang saja langsung bicara dari tadi diam saja." Rendra yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku adiknya sambil berdiri dengan pakaian yang sudah rapi.
"Kiran, kiran. Yaudah berarti sekarang kamu kuliah di dekat rumah saja sudah ya. Temenin mama sama papa." Mama sambil menghela nafasnya dan juga menggelengkan kepalanya karena bingung dengan sikap anaknya yang satu ini sangat membuat dilema.
"Yaudah, Aku berangkat dulu ya. Mau bareng tidak?" Rendra yang sudah pamitan dengan kedua orang tuanya untuk berangkat kerja dan mengajak Kiran untuk diantarkan ke sekolah.
"Kak Rendra tanya siapa? Aku?" Kiran.
"Bukan." Rendra yang langsung berjalan keluar meninggalkan Kiran di ruang makan.
"Ih! Kakak tunggu aku. Aku mau ikut."
"Cepat kemari!" Rendra yang berteriak dengan keras sambil memasuki mobilnya diikuti dengan Kiran yang berlari untuk mengikutinya masuk mobil dan duduk di samping Rendra dengan nafas yang tidak beraturan.
"Pak Leh." Rendra memanggil Sopirnya.
"Iya, tuan."
"Ke sekolah dulu ya antar kiran."
"Hai, Pak Leh ke sekolah aku dulu ya. Hehe... " Kiran yang memunculkan kepalanya ke tengah supaya pak Leh bisa lihat dari kaca tengah atas mobil.
"Siap tuan, nona." Jawab Pak Leh yang sudah siap untuk mengemudikan mobilnya.
Bersambung.
ah ...sudahlah nikmati aja baca ceritax ...hihihi