Lusia, seorang gadis pekerja keras yang manghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bekerja demi keluarga kecilnya. Bagi orang sepertinya yang belum pernah menikmati indahnya memiliki kekasih, pergi berkencan adalah hal mewah yang harus ia relakan. Tak jarang perasaan iri mengusiknya setiap kali melihat sepasang kekasih saling berbagi kasih duduk mesra di Cafe tempatnya bekerja.
“Akankah ada pria yang akan menggenggam tanganku suatu saat nanti?”.
Berbanding terbalik dengan Rayn, seorang pelukis dengan nama pena Lotus. Rayn menderita Haphephobia akibat trauma kecelakaan yang pernah dialaminya. Ketakutan dan kecemasannya akan sentuhan orang lain memaksanya untuk hidup sendiri dan tidak pernah membiarkan orang lain menyentuhnya.
“Mustahil bagi seseorang untuk hidup sendiri tanpa kontak fisik dengan orang lain seumur hidupnya, tapi itulah hidup yang harus aku jalani.”
Bagaimana jadinya jika mereka bertemu dan harus tinggal satu rumah?
NOTE :
✅ Update setiap Minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sella.Sung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 07 - Horor
Sesuai dengan keputusan yang telah diambilnya, pada akhirnya Lusia benar-benar mengantar Rayn pulang menggunakan mobil foodtruck milik Friend’s Café, tempatnya bekerja. Ia menyetir dengan hati-hati, menyesuaikan kecepatan sambil sesekali melirik layar navigasi yang sudah diatur sebelumnya oleh Rayn. Ia tidak repot-repot memeriksa alamat tujuannya. Baginya, selama rute masih terbaca jelas di layar, tugasnya hanya menyetir dengan aman sampai tujuan.
Namun, di tengah perjalanan, dahi Lusia mengernyit. Jantungnya berdetak tak karuan saat suara dari navigasi meminta belok kanan di persimpangan lampu merah yang tak asing baginya. Ia tahu persis belokan itu adalah arah keluar kota.
Saat mobil berhenti di lampu merah, Lusia menengadah. Pandangannya tertuju pada papan petunjuk jalan besar berwarna hijau yang berdiri tegak di atas persimpangan. Tulisan di sana menegaskan apa yang ia takutkan, jalan itu memang menuju keluar kota.
“Apa-apaan ini? Jangan-jangan dia orang luar kota?” batinnya mulai panik. “Dia benar-benar berniat minta aku antar sampai ke sana?”
Dengan tangan sedikit gemetar, ia buru-buru memeriksa kembali nama tujuan yang tertera di layar navigasi. Matanya membaca perlahan. Tertulis jelas, sebuah villa di pinggiran kota, masih dalam wilayah administratif meski hampir menyentuh batas luar kota.
Lusia menghela napas lega. Bahunya merosot santai. Lusia menarik napas pelan, menguatkan dirinya bahwa perjalanan masih dalam kendali. Hanya sekitar beberapa kilometer lagi menuju tujuan. Meski pria di sampingnya tetap menjadi misteri, setidaknya rute pulang yang harus ditempuh tak serumit atau se-ekstrem yang ia bayangkan.
Perjalanan yang ditempuh Lusia sebenarnya tidak jauh jika dihitung dari waktu tempuh. Berdasarkan arahan navigasi, dia hanya membutuhkan kurang dari 40 menit perjalanan dari Gallery. Namun, kondisi jalan yang masih asing dan rute menuju villa yang jauh dari keramaian kota membuat Lusia merasa seperti telah menempuh jarak yang jauh sekali.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hening. Rayn duduk di kursi penumpang dengan ekspresi tenang, matanya sesekali menatap ke depan atau memeriksa ponselnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Merasa canggung dengan keheningan itu, Lusia mencoba membuka pembicaraan. Ia bertanya apakah Rayn datang dari luar kota dan apakah villa itu hanya tempat singgah atau memang tempat tinggalnya. Namun, Rayn menjawab singkat dengan nada tajam, meminta Lusia cukup mengantarnya tanpa bertanya hal-hal yang tidak perlu.
Menerima jawaban itu, Lusia memilih diam dan mengalihkan perhatian dengan memutar musik keras-keras, berharap suara riuh bisa mengusir rasa sepi yang mulai menguasai mobil.
Lusia menatap Rayn dan berkata dengan senyum paksa, “Hanya butuh hiburan karena serasa mengemudi seorang diri,” ucapnya, sedikit menyindir keheningan Rayn di sampingnya.
Mobil Lusia sudah memasuki kawasan perhutanan yang sunyi, tanpa jejak rumah atau pertokoan di sepanjang pinggir jalan. Navigasi memberi peringatan bahwa dalam 500 meter ia harus membelok ke kiri sebuah kawasan hutan pinus. Keraguan mulai menghampiri Lusia, mempertanyakan kembali keputusan menawarkan tumpangan. Namun, ingatan tentang kata-kata Rayn yang menegaskan untuk tidak setengah-setengah dalam berbuat kebaikan kembali menguatkan tekadnya.
Jalanan yang dilalui beraspal, menanjak, dan berkelok, dikelilingi oleh deretan pohon pinus besar yang menjulang tinggi, menciptakan bayangan gelap di sekitar. Lebar jalan cukup untuk dua mobil berdampingan, namun suasananya berbeda jauh dari jalan umum biasa. Ketiadaan lampu penerangan menegaskan bahwa tak banyak orang yang melintas di sini.
Gelapnya jalan memaksa Lusia untuk memusatkan pandangan lurus ke depan, hanya mengandalkan lampu sorot mobil sebagai satu-satunya sumber cahaya di malam itu. Suasana yang sunyi dan remang menambah ketegangan yang samar dalam perjalanan mereka.
Lusia bertanya dalam hati mengapa tak ada lampu penerangan sama sekali. Ia mulai meragukan, apakah villa yang dituju benar-benar ada, ataukah hanya tipuan dari peta digital semata. Perasaan seperti tengah menjalani petualangan malam penuh misteri semakin menguat saat ia melirik ke arah Rayn dengan tajam, mencari jawaban.
Tiba-tiba, suara gemuruh petir yang menggelegar memecah kesunyian, membuat Lusia spontan menjerit dan menginjak rem dengan keras. Mobil pun berhenti mendadak, sementara cahaya kilat menyambar tepat di depan matanya.
Lusia menatap ke depan dengan mata membesar, ekspresinya penuh terkejut. “Oh tidak…!!!” ucapnya setengah berbisik, suaranya bergetar. “Kau juga baru saja melihatnya? Apakah itu benar-benar cahaya petir?” tanyanya pada Rayn, penuh rasa cemas dan ingin memastikan.
Angin mulai bertiup kencang, membuat pohon-pohon bergoyang liar. Suasana yang awalnya sudah tegang berubah semakin mencekam. Lusia menatap sekeliling dengan waspada, menyadari bahwa hujan mungkin segera turun.
Rayn tetap tenang, suaranya datar tanpa sedikit pun terpengaruh oleh kegaduhan di dalam mobil, “Kalau tidak mau terjebak di sini karena hujan, sebaiknya jalankan mobilmu,” ucap Rayn, menanggapi kegaduhan Lusia dengan sedikit sindiran agar Lusia melanjutkan perjalanan.
Ketenangan Rayn justru membuat Lusia semakin ketakutan. Ia mulai berbisik dalam hati, bertanya-tanya apakah pria itu menyembunyikan niat buruk. Dengan tangan gemetar, Lusia merogoh tas dan mengambil earphone bluetooth miliknya, lalu mencoba menelepon Reisa. Setidaknya, dengan begitu dia punya teman bicara dan ada seseorang yang tahu posisinya serta dengan siapa dia sekarang berada. Pikiran itu memberinya sedikit ketenangan jika sesuatu terjadi, masih ada harapan.
Sayangnya, panggilannya ke Reisa tidak diangkat. Sebagai gantinya, teleponnya berdering dan muncul panggilan masuk dari Dave. Tanpa ragu, Lusia segera menerima.
“Oh, Dave... apa kau masih menungguku? Maafkan kakak, sepertinya akan terlambat pulang karena sedang mengantar seseorang,” ujarnya cepat, tanpa sempat menyapa atau menanyakan alasan Dave menelepon.
Dave sebenarnya masih menunggu Lusia di kafe seperti yang dijanjikan sebelumnya. Namun, ketika mendengar suara Lusia di telepon, ia merasa ada yang janggal. Seharusnya Lusia sudah dalam perjalanan kembali ke Cafe, bukan malah menyebut sedang mengantar seseorang yang bahkan tak jelas siapa. Pekerjaan sebagai sopir pengganti memang biasa Lusia lakukan, tapi Dave tahu hari ini seharusnya bukan jadwalnya.
Lusia menarik napas pendek, berusaha terdengar tenang. “Tidak, bukan... hanya memberi tumpangan ke seseorang. Tapi ternyata ini agak jauh. Hampir ke perbatasan kota, makanya pulang bisa terlambat. Tidurlah dulu, jangan menunggu kakak.”
Kekhawatiran Dave perlahan tumbuh, mendorongnya untuk mencermati setiap kata yang keluar dari mulut Lusia. Nada bicaranya yang mulai tidak terarah, sesekali mengiba, membuat Dave makin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Lusia berbicara tentang janji yang tak bisa ditepati, tentang bersama seseorang, tentang tujuannya ke perbatasan kota, semua terdengar seperti upaya canggung untuk menyampaikan pesan tersembunyi.
Bagi Dave yang cukup mengenalnya, itu adalah kode. Sebuah isyarat samar namun nyata bahwa Lusia berada dalam situasi yang membuatnya tidak bisa berbicara secara terang-terangan. Ia sedang mencoba memberitahu, tanpa benar-benar mengatakan, bahwa ia butuh bantuan.
Setelah mendengar cara bicara Lusia yang semakin aneh dan berputar-putar, ia tak bisa lagi menahan kegelisahannya. Dengan suara yang perlahan berubah genting namun tetap hati-hati, Dave akhirnya bertanya, seolah ingin memastikan dugaannya, namun juga berharap ia salah.
"Kak Lusia, apa kau sedang berada dalam situasi yang buruk dan butuh pertolongan ?" tanyanya pelan namun serius.
Kelvin yang tiba-tiba muncul di samping Dave langsung bertanya, 'Lusia? Ada apa dengannya?' Raut wajahnya berubah cemas saat melihat ekspresi Dave yang tegang. Tanpa banyak bicara, Dave segera mengaktifkan loudspeaker agar Kelvin bisa mendengar langsung isi percakapan yang mulai terasa janggal sejak awal.
Lusia berusaha tetap terdengar santai, meski jelas nada suaranya bergetar. “Ya, kau memang benar, kau sangat paham, tapi berhenti meledek kakakmu yang selalu mengemudi dengan buruk ketika melewati jalan yang asing,” ujarnya cepat, mencoba menutupi kegelisahan. Ia menggambarkan kondisi jalan yang tengah ia lalui gelap, sepi, menanjak, dan penuh kelokan, hanya dikelilingi deretan pepohonan yang menjulang rapat.
Lusia melirik Rayn sekilas. Ia tahu nada bicaranya terdengar aneh, maka ia segera menambahkan, “Adikku selalu bilang aku bakal mendapat bintang buruk dari penumpang karena cara kemudiku yang lambat.”Ia tertawa kecil, mencoba terlihat wajar.
“Tapi tenang, aku punya SIM,” imbuhnya cepat, mencoba mengalihkan kecemasan dengan gurauan ringan. “Negara saja percaya padaku sebagai pengemudi yang baik.”
Rayn kembali tersenyum tipis di sudut bibirnya, sebuah ekspresi samar yang seperti biasa, luput dari perhatian Lusia. Bagi gadis itu, keheningan Rayn sudah bukan hal baru. Ia hanya duduk tenang di kursi penumpang, nyaris tanpa reaksi, celotehnya sama sekali tidak mempengaruhi pria aneh yang hanya duduk manis seperti patung di sebelahnya.
Lusia sempat tertawa kecil, tapi suaranya terdengar hambar. “Ha… haha… sepertinya itu tidak penting bagimu, ya…” tawa Lusia menurunkan nada bicaranya melihat Rayn tidak bergeming sama sekali.
Sesaat kemudian, dengan nada sengaja dipelankan tapi jelas, Lusia menyebutkan tujuan mereka sambil melirik layar navigasi. “Eemm… tidak lama lagi kita akan sampai di tujuanmu, Villa Grand Valley. Lokasinya jauh dari kota, tapi terbaca oleh Maps. Apa kau tinggal sendiri ?” tanya Lusia pada Rayn.
Sebenarnya, semua perkataan Lusia itu bukan semata untuk Rayn, melainkan sebuah kode yang disampaikan secara halus kepada Dave dan Kelvin yang masih mendengarkan dari sambungan telepon. Lewat obrolannya, ia berusaha memberi petunjuk tentang keberadaannya saat ini, tujuan perjalanannya, serta memastikan bahwa lokasi villa tersebut memang nyata dan dapat dilacak melalui peta digital.
Rayn akhirnya bersuara, menoleh dan menatap Lusia dengan dingin, “Bukankah kau harus menyelesaikan panggilanmu dulu sebelum bicara dengan orang lain?”
Mendengar itu, Lusia menjadi panik dan segera bertanya dalam hati, “Gawat, apa maksud perkataannya? Apakah dia mulai curiga dan memintaku mematikan telepon?” Rasa kewaspadaannya melonjak drastis, hampir menyentuh 99,9%.
Apakah Rayn sadar Lusia sedang memberi kode?
***To Be Continued***
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃
✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..
❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍
📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)
🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.
Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆
hebatnya bahkan setelah saya tinggal sekian lama saya masih ingat cerita dan tokoh2nya
salut buat author, penuturannya pasti betul2 dipikirkan dan ditulis dalam mood yg baik dan stabil jadilah literasi yg baik. jadi buat para readers jangan suka desak2 author utk rajin update, krna hasil karya yg baik tidak dibuat tergesa-gesa