Gadis remaja cantik, manis dan sederhana ALUNA MYSHA , 'Luna' itu yang sering di panggil oleh teman teman sekelas nya sekarang, maka dari itu gadis ini terbiasa dengan panggilan 'Luna'.
Gadis remaja yang memiliki masa lalu yang suram, yang berusaha gadis ini lupakan, namun suatu ketika kejadian itu terjadi kembali membuat ALUNA kembali merasakan masa sulit yang sulit dijelaskan..
Akibat sesosok pria yang bernama REYNAD BATARA BREE. Pria yang sering kali di panggil 'Rey' itu adalah anak bungsu dari keluarga 'BREE' pengusaha terkaya di Asia, namun berbeda dengan anak anak pengusaha lainnya, Rey tidak terlalu membanggakan latar belakangnya dan nama marganya. Meskipun seantero sekolah tau dia dari anak pengusaha, dan sifatnya yang kalem tak banyak bicara hanya kepada ketiga sahabatnya saja yang tau sifat dibalik dingin dan kalemnya Rey.
"Sorry gue gak sengaja!" Reynad Batara.
"Gak papa gue juga salah." Aluna Mysha.
Pertemuan pertama yang tidak disengaja membawa perasaan mereka seperti berada di atas perahu yang terombang ambing di tengah laut.
Penasaran sama kisahnya Aluna?
Langsung baca saja..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baikan!
"Aku tadi ketemu Kak Rey bahkan bertabrakan!" Cicit Aluna dengan lirih bahkan suaranya semakin memelan, Aluna meneguk silvianya dia benar benar sudah di ujug tanduk, Aluna takut dia benar benar takut, peringatan yang sering kali Andri ingatkan malah terjadi juga.
Gadis itu terus menunduk tak berani menatap mata Andri, yang sudah dia anggap Kaka sendiri.
Andri menghela nafas berat berusaha agar tidak mengeluarkan amarahnya, terlihat oleh Aluna kedua tangan Andri mengepal kuat hingga kulit tangan Andri memerah.
Mata Aluna berkaca kaca dia tidak bisa menahannya lagi, "Maaf Kak, itu gak sengaja!" Lirih gadis itu dengan masih menunduk.
Namun Andri tidak menjawab, pria itu malah diam mematung memandang Aluna dengan menahan semua gejolak amarahnya, tidak! dia tidak marah pada Aluna melainkan pada dirinya sendiri karena telah gagal melindungi Aluna.
Hanya sekedar bertabrakan saja bagi Andri dia sudah gagal menjaga Aluna sebab itu awal untuk adik sepupunya ini masuk kedalam dunia kegelapan, Andri tidak ingin kejadian buruk itu terulang lagi, Andri tidak ingin Aluna terluka untuk kedua kalinya.
Bodoh!
Bego!
Gak becus!
Itu semua umpatan dalam hati Andri untuk dirinya sendiri. Geram kesal semua menumpuk.
Dengan perlahan kedua tangan mungil itu menyentuh tangan Andri yang mengepal hingga membiru, Aluna mengusap pelan dan bahkan sekarang Aluna sudah menangis.
"Kak maaf!" Lirihnya di sela isakan Aluna. Tangan Aluna bergetar menggengam tangan Andri dan itu sangat jelas dirasakan oleh pria ini.
Andri tetap diam tidak menjawab apapun, Aluna semakin terisak dia ingin memeluk Kakanya itu namun Andri segera melangkah mundur, Aluna tersentak kala pergerakan Andri yang malah mundur bahkan pria itu menepis tangan mungil Aluna dan pergi berlalu begitu saja tanpa mengucapkan satu kata pun.
Awal memanggil Aluna untuk mengajak makan bersama karena Mama Andri (Tante Anita) pasti pulang malam lagi, namun hal yang tidak terduga bagaikan dihantam benda berat Andri harus mendengarkan satu kalimat itu yang harus dihindari oleh adik sepupunya.
Andri ke kamar nya membawa konci motor serta hoddie hitam yang menggantung, dengan sekali gerakan hoddie itu sudah melekat di tubuh kekar Andri, Andri pun keluar rumah dan menjalankan motor nya, pergi dari pekarangan rumah.
Hal itu tentu diketahui oleh Aluna karena suara deruman motor Andri yang sangat nyaring itu menyadarkan Aluna, dengan cepat Aluna menuju balkon kamar nya, dan saat itu juga Andri dengan motornya melesat cepat keluar gerbang.
Hati Aluna sakit, Aluna benci jika harus di jauhi lagi seperti ini, Aluna takut semua itu terjadi lagi, gadis itu terduduk dilantai masih di balkon kamarnya dengan air mata yang terus saja keluar, bahkan sekarang wajahnya dia telungkupkan di kedua lututnya.
Seandainya waktu bisa diputar kembali Aluna tidak akan seceroboh itu, tapi itu kan tidak di sengaja.
Lalu Aluna kembali menuju kamarnya dan mengambil ponselnya, Aluna mengirim pesan singkat pada seseorang berharap orang itu bisa memberikan nasehat kepadanya.
****
Pagi pun tiba terlihat tidak ada semangat dalam diri Aluna, bahkan gadis itu melupakan makan malamnya jangan lupa bahkan Aluna tidak sempat makan sianh saat tadi di sekolah, Aluna terlalu larut memikirkan Andri yang tak pulang atau bahkan sudah pulang namun entah jam berapa, karena Aluna liat di meja makan ada Andri disana yang sedang sarapan.
Saat Aluna duduk di kursi meja makan tiba tiba Andri berdiri, "Gue tunggu di depan." Tanpa sedikit pun menoleh pada Aluna, pria itu langsung pergi keluar.
Aluna menghembuskan nafas kasar, rasanya berat dia tidak ingin di jauhi seperti ini, Aluna takut.
Gadis itu hanya memainkan sendok di atas piring tanpa berniat untuk memakan nasi goreng yang sudah di siapkan, tapi Aluna harus makan karena sedari kemarin dia tidak makan, dengan malas Aluna menyuapi setiap sendok nasi goreng itu ke mulutnya hingga habis tak tersisa.
Lagi keadaan kacau saja perut harus terisi biar ada tenaga untuk nangis. Itu kata kata semangat yang diberikan oleh Nadia.
Tapi memang ada benarnya juga yang di katakan Nadia itu.
Setelah selesai sarapan gadis itu segera menyusul Andri yang sedang memanasi motornya, tidak ada ocehan atau omelan dari Andri namun yang ada wajah datar dingin Andri yang menyapa Aluna.
"Kak!" Aluna dengan cepat menggengam tangan Andri saat pria itu akan menaiki motornya. "Pliss, maafin Aluna." Bahkan genggaman Aluna sangat kuat dirasakan oleh tangan Andri.
Pria itu berbalik menghadap Aluna lalu menghela nafas panjang, "Iya gue maafin Lo." Akhirnya Andri menjawab ucapannya, Aluna senang dia tidak dijauhi.
Namun saat Aluna akan mengatakan sesuatu tiba tina di sela oleh Andri, "Dan Lo harus inget, kalo Lo ada apa apa Lo harus hubungi Gue secepatnya apapun itu, Gue gak nerima alesan apapun lagi, Gue tau sekarang mungkin Lo gak aman, tapi sebisa mungkin Gue bakal jagain Lo," Aluna dengan cepat mengangguk dan matanya kini berkaca kaca.
Andri kembali menghela nafas, "Maafin gue juga semalem gue pergi, gue emosi Na! Gue ngerasa gak guna jagain lo." Dengan cepat Aluna menggeleng. "Tapi gimana lagi udah terjadi, dan sekarang gue harus lebih extra jagain Lo, gue harap lo gak risih dan ngerti." Lanjut Andri yang dapat anggukan dari Aluna.
Pria itu kembali menghela nafas, "Ya udah pokoknya lo harus inget omongan gue," Aluna kembali mengangguk.
"Sekarang Lo gak akan jauhin gue kan Kak?" Pertanyaan yang bahkan seperti cubitan keras pada hatinya, Andri lupa seharusnya dia tidak meninggalkan Aluna disaat seperti ini, Andri salah malah memilih egonya yang meninggalkan Aluna sendiri.
Betapa bodohnya saat ini.
Andri mengusap kepala Aluna, "Sorry!" Ucapnya yang di angguki Aluna.
Kemudian mereka berdua berangkat bersama menuju sekolah, kalian bertanya kemana Tante Anita dia masih tidur karena terlalu cape sibuk di butiknya dan pulang larut malam, entah siapa yang lebih dulu pulang antata Andri dan Anita.
Setibanya di parkiran sekolah, Andri membantu membuak pengait helm Aluna dan menyimpan di atas motornya, setiap tingkah Andri pada Aluna tak lepas dari tatapan para murid yang berlalu lalang disana, mereka sudah biasa melihat itu jika yang tau mereka adalah sepupuan mereka akan biasa saja tapi jiga yang belum tau pasti akan membicarakan Aluna dan Andri.
Tidak seperti biasanya jika sudah tiba di parkiran Aluna akan pergi begitu saja meninggalkan Andri, namun sekarang tidak. Karena Andri akan mengantarkan Aluna sampai depan pintu kelasnya, Aluna tidak apa apa bahkan gadis itu senang di antar Andri sampai depan kelasnya.
Bahkan teriakan sahabat Andri yang memanggil manggil nama Andri, dia hiraukan dan terus berjalan bersama Aluna.
Wow Kaka posesif!
Banyak yang cemburu kala melihat pria tampan ini berjalan berdampingan bersama Aluna, mereka merasa patah hati, padahal Andri dan Aluna saudara mereka sepupu.
kan Aluna gk sengaja nabrak Rey...
koq ketakutan bgt sih....
Salken,Kak Usan
Aq mampir nih...🙏
seru ciritanya
semangat yakkkk