Seorang pemuda titisan dewa dari dunia tiny, merangkak maju demi meminta ke adilan untuk keluarga nya hingga membawa pemuda itu ke pertarungan hidup dan mati bersama dewa penguasa tertinggi yang mengusai alam itu.
Qin yan, seorang pemuda tegar, jenius dan berbudi pekerti harus menerima kenyataan kalau diri nya adalah seorang cacat. Namun takdir berkata lain, dewa merencanakan kehidupan nya agar mampu mengalahkan Kaisar dewa sage yang menguasai ruang dan waktu. Hingga ia di bawa pulang oleh di mensi dan mengalami kebangkitan kedua.
Di sini ia akan membangun kembali semua nya dan merubah takdir semua orang termasuk diri nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erwin Stayly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Yang Intens
Maaf kalau cerita nya kurang di mengerti, soal nya ini adalah pertarungan. Jadi para pembaca bisa membayangkan sesuai dengan pemikiran sendiri masing masing.
Selamat membaca..😀😀😀
"Mari kita bertarung dengan serius."
Qiu er bagaikan tersambar petir saat mendengar nya, sosok Qin yan yang selama ini dia lihat selalu di injak injak orang lain tanpa membalas sedikit pun kini menjawab tantangan nya.
'Benarkah yang ku dengar ini.'
Ia memandangi ekspresi Qin yan yang tenang, ia sadar kalau wajah nya terlihat sangat tampan saat sedang serius.
Mengingat selama ini ia terus memergoki Qin yan di pukuli oleh orang orang, tidak menyangka akan menerima tantangan nya yang bahkan orang tak berani menerima nya. Qin yan benar benar berbeda di mata nya, dan saat ini memandangi Qin yan dengan tatapan baru. Tanpa sadar ia tersenyum.
Tiba tiba Qin yan berbicara lagi.
"Tapi bisakah kau pelan pelan soal nya aku masih pemula."
Seketika wajah Qiu er jadi gelap, senyum nya juga menghilang. Tampak nya ia terlalu tinggi memandang anak ini.
"JANGAN BERCANDA.....!!!"
Qiu er langsung menerjang ke arah Qin yan.
'Sial, terpaksa harus kugunakan jurus mengambil buah persik. semoga saja berhasil.'
Qin yan juga maju.
'Jurus mengambil buah persik bagian kiri.!'
Tiba tiba tubuh Qiu er melengkung seperti ular menghindari tangan cabul Qin yan.
'Apa, aku lupa kalau tubuh Qiu er itu fleksibel.'
Saat ini Qiu er mundur kebelakang, tingkah Qin yan tadi membuat nya jadi malu. Dengan wajah yang sedikit memerah, ia membangkitkan emosi nya.
"QIN... YAN.... kenapa kau menggunakan cara cabul itu."
Sebuah cincin putih raksasa bangkit dari dalam diri nya, lalu terbelah dua menjadi sebuah gelang cincin yang berputar di pergelangan tangan nya. Gelang cincin kanan menunjukan atrbut fisik dan gelang cincin kiri menunjukan atribut elemen. Di dalam gelang kiri terdapat empat warna berbeda yang menunjukan kalau ia mempunyai empat elemen sekaligus.
"Eh, Qiu er.. ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ucap Qin yan sambil menggeleng gelengkan tangan nya.
"Jangan bicara lagi kau."
Qiu er melesat cepat, memberikan Qin yan sebuah tendangan.
Di saat Qin yan ingin menahan kaki nya, ia langsung berbalik dan mengunci tubuh Qin yan dengan kaki nya yang panjang seperti seekor ular.
Sayang nya Qin yan sudah tahu rencana itu, ia langsung membanting nya ke tanah hingga mereka berdua terlepas.
Tentu saja Qiu er terkejut melihat gerakan Qin yan yang tiba tiba, melihat Qin yan yang saat ini kembali serius membuat jantung jadi deg degan.
"Hiaah...."
Suara lembut Qiu er keluar saat berusaha menyerang Qin yan.
Qin yan hanya bisa bertahan dan menghindar kadang juga ia menyerang balik.
10 menit kemudian...
Qin yan kewalahan menghadapi serangan aneh dari gadis ini. Soal nya ia bertarung seperti sedang melakukan yoga, ia menggunaan beladiri Jiujutsu yang cocok untuk atribut fleksibel nya.
Seperti nya ia juga harus menggunakan teknik kungfu, bela diri yang menggunakan kekuatan dan kecepatan.
Di saat Qiu er mulai menyerang dengan gerakan aneh nya lagi ia langsung menendang tubuhnya, hingga Qiu er memilih untuk mundur. Di saat inilah Qin yan menyerang nya tanpa memberi kesempatan pada nya untuk bereaksi.
Kini giliran Qiu er yang terkejut menghadapi serangan Qin yan. Tapi ia juga tak mau kalah, ia juga mulai menghadapi Qin yan dengan serius.
"Hei bukankah kudengar Qin yan itu cacat yah, lalu kenapa ia bisa menyaingi putri kita dalam bertarung."
"Siapa yang tahu, mungkin saja Qin yan menyembunyikan kemampuan nya selama ini."
Dari kejauhan orang tua Qiu er sedang mengawasi pertarungan Qin yan. Tentu saja mereka kaget dengan kejutan yang di berikan Qin yan.
Saat ini Qiu er sudah mengambil kedua belati nya, berlari dengan kencang menuju Qin yan yang sudah memegang sebuah pedang.
Tiing... tiing... tang... Tiiing.... Tuuung...
Belati milik Qiu er berbenturan dengan pedang milik Qin yan, mereka mengeluarkan semua kemampuan mereka masing masing.
'Kemampuan Qin yan ini, pukulan, tendangan, serta bermain pedang benar benar sudah di atas rata rata. Kenapa dia menyembunyikan kemampuan nya selama ini.' Gumam Qiu er dengan kagum.
Tidak lama kemudian ia sadar, empat buah pisau menuju ke arah nya. Tentu saja itu adalah pisau milik Qin yan.
Pisau itu berputar, berbelok dan saling berbenturan satu sama lain. Hingga membuat Qiu er kebingungan untuk menentukan pisau mana yang akan mengenai nya.
Tiga pisau berhasil ia hadapi, namun pisau terakhir mampu melukai pipi nya hingga berdarah.
'Darah.?'
Qiu er memegang pipi nya yang berdarah, tanpa sadar Qin yan datang menyerang nya menggunakan pedang.
Karena terlalu mepet, ia hanya menangkis menggunakan pisau dengan terburu buru.
Plaaang.....
"Akh..."
Pisau Qiu er terlepas terkena pedang Qin yan, belum sempat bereaksi ia sudah mendapat tendangan mengenai perut nya hingga mundur berguling guling di tanah.
Melihat Qin yan yang menyerang nya lagi, ia tidak punya cara lain selain menggunakan elemen tanah nya.
"Elemen tanah, dinding tanah."
BUkh.....
Tinju Qin yan mengenai dinding batu yang kuat.
"Auh... Ukh...."
Qin yan melompat lompat kesakitan sambil memegang tangan nya yang gemetaran.
"Pffftt.... Hahahah..., Lihat bocah itu, dia meninju batu."
Ayah Qiu er menghemburkan popcorn di mulut nya.
"Hush... Jangan keras keras, nanti kedengaran loh. Lagian kamu tidak pikir, putri kita harus menggunakan elemen nya untuk menghadapi Qin yan."
Ayah Qiu er langsung tertegun.
"Benar juga, Qin yan pasti membuat putri kita terpojok."
Kemudian mereka kembali memantau pertarungan Qin yan dari kejauhan.
'Apa, aku menggunakan elemen tanah hanya untuk melawan Qin yan.'
Qiu er sadar dengan perbuatan nya, jika banyak orang yang melihat itu pasti merupakan hal yang memalukan.
Siung...
Siung...
Tiba tiba dua pisau muncul dari kedua sisi dinding, kemudian berbelok menyerang Qiu er.
'Huh.?'
Qiu er berusaha menangkis pisau itu, siapa yang menyangka kalau pisau malah melilit pergelangan tangan nya.
Di belakang dinding, Qin yan menarik benang yang sudah ia ikat di pisau tersebut hingga membuat Qiu er menempel di sisi dinding.
Setelah itu Qin yan tiba tiba muncul dari atas dinding dan hendak memberikan pukulan. Tapi Qiu er menangkis nya menggunakan kaki hingga membuat Qin yan sedikit menjauh.
Lalu di pergelangan tangan Qiu er mengeluarkan percikan api hingga membuat benang yang mengikat tangan nya jadi meleleh.
"Hiaaah....."
Dalam sekejap Qiu er langsung memberikan pukulan api.
BOOOOMM...
Qin yan berhasil menhindari serangan itu, lalu memegang tangan nya dan membanting Qiu er ke tanah.
Setelah itu ia menindih tubuh nya, serta mengunci leher nya. Ternyata Qiu er juga menggunakan kedua kaki nya untuk mengunci leher Qin yan.
Saat ini, mereka berdua saling mengunci satu sama lain.
Setelah itu keadaan berubah, di mana Qiu er di atas dan Qin yan di bawah sedang berubah menahan pukulan Qiu er yang ingin memukul wajah nya.
Qin yan langsung memegang kedua tangan nya, lalu memberturkan kepala nya pada kepala Qiu er.
Bukh...
"Akh..."
Qiu er terjatuh, saat ini Qin yan juga ingin menindih tubuh nya kembali.
Namun karena kesalahan yang tidak sengaja, Qin yan jadi terjatuh dan langsung mencium bibir Qiu er. Mereka berdua tertegun sejenak, hingga membuat tubuh Qiu er langsung menegang.
Tapi Qin yan malah menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Qiu er kembali.
Bukh....
Untung nya reaksi Qiu er cukup cepat, dan langsung menendang Qin yan hingga ke dinding batu.
Dengan wajah yang memerah, ia langsung mendekati Qin yan.
Namun ia tidak sadar kalau Qin yan mengambil dua batu kerikil dan di masukan kedalam mulut nya.
Hingga saat Qiu er mengekang Qin yan, Ia langsung menyemburkan dua batu itu dan tepat mengenai kedua matanya.
Mata Qiu er jadi perih, Qin yan langsung mendorong ke bawah dan saat ini ia lah yang paling mendominasi.
"Cukup kalian berdua.!"
Saat ini ayah Qiu er tiba tiba datang menghentikan mereka.
"Pertarungan sudah selesai."
********
Maaf kalau cerita nya kurang di mengerti, soal nya ini pertarungan. Jadi mohon bayangkan sesuai pemikiran kalian sendiri.
Selamat membaca.... 😀😀
tapi di komik menjadi alkemis dan bisa bertarung