Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOVANA
Malam telah larut ketika Bunda akhirnya tertidur.
Sejak pemakaman Yovana sore tadi, perempuan itu hampir tidak berbicara. Tubuhnya memang berada di rumah, tetapi pikirannya masih tertinggal di tanah pemakaman. Wajah Yovana terus terbayang di kepalanya.
Anak yang selama ini menyimpan begitu banyak luka sendirian.
Anak yang ternyata menangis tanpa pernah meminta dipeluk.
Bunda membalikkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya terpejam, tetapi air mata masih mengalir dari sudut matanya.
“Maafkan Bunda, Nak…”
Suara itu terdengar lirih sebelum akhirnya kesadarannya perlahan tenggelam.
Namun malam itu, Bunda tidak benar-benar tidur. Ia merasa sedang berdiri di sebuah tempat yang sangat dikenalnya: pemakaman.
Kabut tipis menyelimuti tanah basah. Pohon-pohon di sekeliling makam bergerak perlahan meskipun tidak ada angin. Suasana begitu sunyi hingga suara langkah kaki Bunda sendiri terdengar jelas.
Ia menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.
Bunda kembali berjalan sampai akhirnya melihat sebuah makam di bawah pohon kamboja. Makam Yovana. Bunga-bunga yang tadi sore diletakkan di atas pusara sudah berserakan. Beberapa kelopaknya menghitam seperti terbakar.
“Yovana?” Bunda mendekati makam itu dengan langkah gemetar.
Tiba-tiba terdengar suara dari balik kabut.
“Bunda…”
Bunda membeku. Suara itu… ia sangat mengenal suara tersebut.
“Yovana?”
Dari kejauhan, tampak seorang gadis berjalan perlahan. Rambutnya terurai menutupi sebagian wajah. Pakaiannya sama seperti ketika terakhir kali Bunda melihatnya. Wajahnya pucat, tetapi tidak terlihat marah.
Justru tatapannya membuat dada Bunda terasa semakin sesak. Tatapan seorang anak yang terlalu lama menunggu seseorang datang menyelamatkannya.
Bunda berlari menghampiri. “Yovana!”
Namun ketika tangannya hendak menyentuh tubuh putrinya, gadis itu mundur.
“Jangan mendekat, Bunda.”
Bunda berhenti. “Kenapa, Nak?”
Yovana menundukkan kepala. “Aku belum bisa pulang.”
Air mata Bunda kembali jatuh. “Pulanglah, Nak. Bunda sudah di sini. Bunda akan menjaga kamu.”
Yovana perlahan mengangkat wajah. Ada sesuatu yang berbeda di matanya. Duka telah berubah menjadi kemarahan.
“Bunda tidak perlu menjagaku lagi.” Suara itu terdengar lebih berat. “Sekarang aku yang akan menjaga Bunda.”
Bunda menggeleng sambil menangis. “Bunda tidak mengerti…”
Yovana menatapnya lama. “Dia belum membayar semuanya.”
Angin tiba-tiba berembus kencang. Pohon kamboja di belakang Yovana bergoyang hebat. Bunda memeluk tubuhnya sendiri karena merasa udara mendadak begitu dingin.
“Siapa?”
Yovana tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah Bunda. Kemudian bibirnya bergerak perlahan.
“Aku tidak akan pergi sebelum dia membayar lunas.”
Bunda terdiam.
“Bunda tidak perlu melakukan apa pun,” suara Yovana semakin jelas. “Aku sendiri yang akan menghukumnya.”
“Jangan, Yovana!” Bunda mencoba mendekat, tetapi tubuh Yovana mulai menjauh.
“Yovana!”
“Jangan takut, Bunda.” Gadis itu tersenyum tipis. “Semua yang dia lakukan akan kembali kepadanya.”
Kabut tiba-tiba menelan tubuh Yovana. Bunda berusaha mengejarnya, tetapi tanah di bawah kakinya seperti berubah menjadi lumpur.
“Yovana!”
Suara Bunda menggema di tengah pemakaman. Lalu terdengar jeritan dari kejauhan—jeritan seorang laki-laki.
Bunda terbangun dengan napas tersengal. Ia langsung duduk di atas tempat tidur.
Kamar sangat gelap. Keringat dingin membasahi dahinya, dan tangannya gemetar.
“Yovana…” Bunda menatap sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.
Tik.
Tak.
Tik.
Tak.
Bunda menarik napas panjang dan mencoba menenangkan diri. “Itu hanya mimpi…”
Ia mengusap wajahnya. Namun ketika hendak mengambil segelas air di meja samping tempat tidur, tubuhnya tiba-tiba kaku.
Ada aroma yang sangat dikenalnya: parfum Yovana. Aroma manis khas yang sering dipakai putrinya ketika hendak pergi bekerja.
Bunda menoleh perlahan ke arah pintu kamar. Pintu itu terbuka sedikit, padahal sebelum tidur, ia yakin sudah menguncinya rapat-rapat.
“Yovana?”
Tidak ada jawaban.
Bunda turun dari tempat tidur. Kakinya terasa berat ketika berjalan menuju pintu. Saat pintu didorong lebih lebar, lorong rumah terlihat kosong dan kelam.
Tetapi di lantai, tepat di depan kamar, terdapat sesuatu: satu kelopak bunga kamboja putih. Masih segar.
Bunda menatapnya dengan dada berdebar. Ia berjongkok dan hendak mengambilnya. Namun sebelum jarinya menyentuh kelopak itu, terdengar suara langkah kaki dari ujung lorong.
Pelan.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Bunda berdiri tegap. “Siapa?”
Langkah itu berhenti. Rumah kembali sunyi. Bunda menunggu beberapa detik, tetapi tidak ada jawaban. Ia akhirnya kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
Sementara itu, jauh di kota lain…
Zain masih terjaga di ruang tamunya. Sejak mendengar kabar kematian Yovana, hidupnya tidak pernah tenang. Setiap malam ia selalu merasa ada pasangan mata yang memperhatikan gerak-geriknya dari balik bayangan.
Malam itu, istrinya sudah tertidur lelap. Rumah tenggelam dalam kesunyian. Zain duduk sendirian sambil menatap layar televisi yang menyala tanpa suara. Sesekali ia melirik jam dinding.
Jarum menunjukkan beberapa menit sebelum tengah malam.
23.59.
Zain menghela napas berat. Kemudian—
Tik.
Jarum detik berhenti.
Zain mengerutkan kening. Ia menatap jam itu. Tepat pukul 00.00, semua jarum berhenti bergerak secara bersamaan.
“Jamnya rusak?” Zain berdiri.
Belum sempat ia mendekat, lampu ruang tamu berkedip. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Zain berhenti melangkah. “Rina?”
Tidak ada jawaban dari kamar. Lampu kembali berkedip, lalu padam sepenuhnya.
Kegelapan gulita langsung mengepung ruangan.
Zain dengan cepat menyalakan senter ponselnya. Tangannya mulai gemetar. Ia mengarahkan cahaya ke sudut ruangan. Kosong.
Namun dari sudut yang gelap itu, terdengar suara bisikan yang sangat pelan.
“Zain…”
Tubuhnya seketika membeku. Ia mengenali suara itu—suara yang selama berbulan-bulan berusaha ia kubur dalam-dalam.
“Tidak…” Zain mundur selangkah. “Tidak mungkin.”
Suara itu kembali terdengar, kali ini terasa jauh lebih dekat.
“Zain…”
Ponsel di tangan Zain tiba-tiba mati total. Kegelapan kembali menyelimuti seluruh ruangan.
Lalu terdengar suara perempuan tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa dingin dari seseorang yang akhirnya menemukan sosok yang selama ini dicarinya.
Zain menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “Yovana?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara bisikan yang kini terdengar tepat di belakang telinganya.
“Aku belum selesai.”
Zain berbalik dengan cepat, mengayunkan badannya. Tidak ada siapa-siapa.
Namun ketika ia melihat ke bawah, di lantai ruang tamu—tepat di bawah jam yang berhenti pada pukul 00.00—terdapat satu bunga kamboja putih segar. Dan di salah satu kelopaknya, terdapat noda merah darah yang perlahan melebar dan meresap.
Malam itu, Zain akhirnya mengerti. Kematian Yovana bukanlah sebuah akhir. Itu adalah awal dari sebuah pembalasan.