NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

K4NIB4L

"Aura!"

Viana melemparkan sebuah baskom ke arah sahabatnya.

"Isi dengan air! Cepat!"

Aura yang masih kebingungan tetap menurut. Ia segera mengisi dua baskom besar dengan air sumur.

Tak lama kemudian, Aleta datang membawa setumpuk kelopak bunga. Semuanya langsung ditaburkan ke dalam kedua baskom hingga permukaan air dipenuhi warna-warni kelopak.

"Masuk."

"Hah?"

"Berendam."

"Untuk apa?" Aura mengernyit.

"Masuk." Tatapan Aleta berubah serius.

Melihat ekspresi sahabatnya, Aura akhirnya menurut. Ia perlahan masuk ke dalam baskom.

Beberapa saat kemudian, Viana datang sambil terengah-engah.

Byuurr!

Belum sempat berbicara, Aleta langsung mendorongnya hingga ikut masuk ke baskom satunya.

"Apa-apaan, Ta?!"

"Berendam."

"Lalu..."

"Makan."

Aleta menyodorkan segenggam kelopak bunga.

"Hah?!" Viana membelalak.

"Habiskan."

"Tapi, Ta..."

Viana menoleh ke arah Aura. Dilihatnya Aura sudah lebih dulu mengambil beberapa kelopak bunga, lalu memakannya meski wajahnya tampak meringis.

"Au..."

"Ikuti aja perintahnya." Aura menelan kelopak itu pelan.

Dengan wajah pasrah, Viana ikut mengambil beberapa kelopak bunga. Begitu masuk ke mulutnya...

"Pahit..." Wajahnya langsung berubah seperti ingin menangis.

'Kalau tahu begini, gue pasti lebih memilih berada di luar untuk menjaga tuan Arkana dan ular...'

Sementara Aura dan Viana masih meratapi nasib mereka karena dipaksa berendam dan memakan kelopak bunga yang rasanya pahit, Aleta justru sibuk dengan pekerjaannya. Dengan telaten, ia menuangkan air rendaman kelopak bunga ke dalam beberapa botol parfum bekas. Setelah semuanya terisi penuh, gadis itu mulai menyemprotkan cairan tersebut ke setiap sudut rumah, mulai dari ruang tamu, kamar, hingga dapur. Bahkan lantai rumah pun ia pel menggunakan sisa air rendaman bunga itu, memastikan aroma khas bunga tersebut menyebar ke seluruh ruangan.

Waktu terus berlalu. Setengah jam kemudian, Aura dan Viana akhirnya diperbolehkan keluar dari baskom. Tubuh keduanya menggigil hebat akibat terlalu lama berendam di air dingin. Dengan langkah gemetar, mereka segera berganti pakaian kering.

"Brr... lama-lama bisa beku nih gue..." keluh Viana sambil menggosok kedua lengannya.

Aura hanya mengangguk pelan. Bibirnya bahkan masih sedikit bergetar menahan dingin.

Sementara itu, Aleta memperhatikan mereka berdua dari ruang tamu. Setelah memastikan semua yang direncanakannya selesai, ia mengembuskan napas lega, meski tatapan serius di wajahnya belum juga menghilang.

Di sisi Arkana...

Pria itu tidak lagi berusaha melarikan diri. Ia berbalik menghadap sosok misterius tersebut, lalu menggenggam erat tongkat kayu di tangannya.

Bug!

Tongkat itu beradu dengan lengan makhluk tersebut.

Arkana kembali menyerang, berusaha mempertahankan jarak. Beberapa kali ia berhasil menghindari serangan, namun tenaga keduanya jelas tidak seimbang.

Bug!

Arkana terpental beberapa langkah. Ia kembali bangkit.

"Haah..." Napasnya mulai memburu.

Makhluk itu kembali menerjang.

Bug!

Tongkat di tangan Arkana terlepas. Sebelum sempat meraihnya kembali, leher Arkana sudah dicekik erat.

"Ghk..."

Tubuhnya terangkat beberapa saat sebelum akhirnya...

Bruk!

Makhluk itu melemparkannya begitu saja ke tanah.

"Shhh..." Arkana meringis menahan sakit.

Tanpa memedulikannya lagi, makhluk itu langsung berlari menuju rumah yang pintu pagarnya langsung terbuka.

Brak!

Pintu rumah terbuka begitu saja.

Aura, Viana, dan Aleta yang berada di dalam sontak menoleh. Hawa di dalam rumah mendadak terasa begitu dingin. Tak seorang pun mengucapkan sepatah kata. Aleta yang berdiri paling depan tidak bergeming sedikit pun. Di belakangnya, Aura dan Viana ikut melangkah keluar kamar hingga berdiri di samping Aleta.

Makhluk itu berhenti. Ia menoleh ke segala arah. Kepalanya bergerak perlahan, seolah sedang mencari sesuatu. Sesaat kemudian, ia menarik napas panjang. Menghirup udara di seluruh ruangan. Wajahnya tampak kebingungan.

Aleta menatapnya tanpa sedikit pun rasa takut.

"Apa yang lo cari?"

Makhluk itu tidak menjawab. Ia kembali menghirup udara di dalam rumah, lalu memeriksa setiap sudut ruangan membuat Aleta tersenyum tipis.

"Lo nggak akan menemukan apapun di sini." Suara langkah terdengar dari arah pintu. "Kalau lo masih cari anak-anak itu, mereka sudah dilemparkan kembali ke sungai itu," ucap Arkana yang berdiri di dekat pintu.

Makhluk tersebut langsung menoleh ke arah Arkana. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan pergi meninggalkan rumah menuju arah hutan.

Keempatnya saling berpandangan.

"Tuan, biarin gue ngobatin luka-luka itu," ucap Aura pelan.

Arkana mengangguk pelan. Aura mengambil kotak P3K, lalu menghampiri Arkana yang sedang duduk.

"Aleta benar," ucap Arkana tiba-tiba. "Dia manusia."

Deg!

"Apa maksudnya, Tuan?" tanya Viana.

"Jika dia makhluk halus, mantra itu pasti bekerja padanya. Kalau dia bukan manusia, dia nggak akan merasa kesakitan saat tertusuk paku," ucap arkana sambil mengangkat paku di tangan kirinya.

"Jadi... kita harus gimana sekarang?" tanya Viana.

"Mengikutinya." Aleta berjalan keluar.

"Au, lo jagain Tuan Arkana ya. gue bakalan jagain Aleta," ucap Viana pamit.

...****************...

"Ta!" panggil Viana.

Viana berlari sambil memanggil nama Aleta. Hingga akhirnya, matanya menangkap sesuatu di kejauhan.

"Ta...? Itu bukan hantu kan?

Viana berjalan mendekat ke arah sosok hitam yang semakin menjauh di depannya. Tiba-tiba matanya membelalak saat menyadari siapa yang ada dihadapannya.

"Dia–"

"emph–"

Mulut Viana tiba-tiba dibekap oleh seseorang. Orang itu lalu membawa Viana untuk bersembunyi di semak-semak sebelum sosok hitam di depan Viana menoleh ke belakang. Tangan yang membekap Viana perlahan dilepaskan.

"Huff..." Viana langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menoleh ke belakang.

"Aleta?!"

Aleta memberi isyarat agar Viana mengecilkan suara.

"Ikuti dia," ucap Aleta dingin. Tanpa banyak bertanya lagi, Viana mengangguk.

Keduanya berjalan pelan dari balik pepohonan, menjaga jarak agar tidak ketahuan. Selama perjalanan, Viana beberapa kali melirik Aleta dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun Aleta tetap fokus memperhatikan sosok hitam di depan mereka.

"Kenapa lo ngikutin dia? Gimana kalau kita ketahuan?" tanya Viana pelan.

"Jangan sampai ketahuan. Gue cuma pengen tahu di mana dia tinggal," jawab Aleta.

"Kenapa lo pengen tahu?" tanya Viana yang sangat penasaran.

"Banyak tanya," ucap Aleta ketus.

"Aleta, ih. Kasih tau gue, please, gue penasaran banget ini."

Aleta menghembuskan nafasnya pelan.

"Ketika gue pertama kali berada di tubuh ini, gue melihat sesuatu seperti bayangan masa depan. Gue kayak melihat apa yang akan terjadi pada teman-teman sekolah kita yang berada di dekat sungai terlarang. Karena itulah gue putusin buat melompat ke sungai."

"Emangnya, bayangan masa depan apa yang lo lihat?"

"Gue melihat mereka semua gak sadarkan diri di sana. Lalu sosok hitam datang dan menyeret mereka satu persatu. Gue nggak tahu kemana. Tapi yang jelas, siluet sosok hitam itu mirip dengan yang sedang kita ikuti sekarang." Aleta menatap tajam ke depan.

Viana terkejut, matanya langsung tertuju pada sosok hitam yang sedang mereka ikuti. Tak lama kemudian, sosok itu berhenti di tepi sungai terlarang.

Byur!

Ia langsung menyelam ke dalam air. Aleta dan Viana saling berpandangan.

"Kita susul?" bisik Viana.

Aleta mengangguk mantap. Tanpa membuang waktu, keduanya menarik napas dalam-dalam lalu ikut menyelam. Air sungai terasa jauh lebih dingin. Mereka terus berenang mengikuti bayangan hitam di kejauhan.

Sosok itu menyelam memasuki sebuah celah di bawah permukaan sungai. Aleta dan Viana saling berpandangan sejenak sebelum ikut masuk. Lorong sempit itu masih dipenuhi air, memaksa mereka terus berenang sambil menahan napas.

Beberapa meter kemudian, dasar goa perlahan meninggi. Kepala mereka akhirnya muncul ke permukaan, disambut udara lembap yang memenuhi rongga goa. Setelah naik ke daratan, keduanya tertegun. Bagian dalam goa itu benar-benar kering, seolah tersembunyi dari dunia luar. Suasana di dalam goa begitu gelap. Hanya beberapa obor yang menempel di dinding batu menjadi satu-satunya sumber cahaya.

Mereka kembali berjalan perlahan sambil bersembunyi di balik bebatuan besar.

"Aleta, look..."

Deg!

Langkah keduanya terhenti.

Di hadapan mereka...

Puluhan remaja berseragam SMA tampak dikurung di dalam kandang-kandang kayu sederhana. Wajah mereka pucat. Sebagian menangis, sebagian lagi hanya memeluk lutut sambil menatap kosong. Mereka tampak ketakutan.

Viana menutup mulutnya sendiri.

"Ya Tuhan... Ternyata benar yang lo bilang."

"Kita pergi sekarang." Aleta langsung menarik lengan sahabatnya.

"Tapi... mereka gimana?" Viana masih menatap ke arah para tawanan.

"Sekarang yang paling penting adalah keselamatan kita berdua."

Tatapan Viana tiba-tiba berhenti pada seorang siswa laki-laki yang duduk di sudut kandang.

"Ta..."

"Hm?"

"Di sana ada yang ganteng."

Aleta langsung memutar bola matanya. "Di situasi begini masih bisa bercanda?"

"Hehe... Tapi–"

"Kita minta bantuan warga besok."

Tanpa memberi kesempatan Viana membantah, Aleta langsung menggenggam tangannya.

"Ayo."

Keduanya segera berbalik, lalu berjalan sepelan mungkin menuju jalan keluar goa, berharap keberadaan mereka tidak disadari oleh sosok misterius itu.

...****************...

Keesokan paginya, seluruh warga desa berkumpul di tepi sungai terlarang. Mereka bersiap mengikuti petunjuk yang diberikan Aleta dan Viana. Arkana serta Aura juga berada di barisan terdepan.

Tanpa membuang waktu, rombongan itu menyelam menuju goa yang ditemukan semalam. Mereka tidak membawa peralatan apapun, karena cukup sulit menyelam dan memasuki goa licin itu sambil membawa senjata.

Begitu tiba di dalam...

Semua orang membeku. Di ujung goa, sosok berjubah hitam itu tengah membelakangi mereka. Di hadapannya, api unggun masih menyala. Sepotong daging tampak dipanggang di atasnya, sementara aroma yang menusuk perlahan memenuhi ruangan.

"SERBU!" teriak salah seorang warga.

Puluhan warga langsung berlari menerjang.

Bugh!

Dugh!

Sosok itu terkejut dan refleks berusaha melawan. Namun jumlah warga terlalu banyak. Beberapa orang berhasil menjatuhkannya ke tanah, sementara yang lain segera mengikat kedua tangan dan kakinya.

"Dia manusia!" teriak salah seorang warga dengan wajah tak percaya.

Sementara para warga melumpuhkan pelaku, Aleta, Aura, Viana, dan beberapa warga lainnya bergegas menuju kandang-kandang kayu.

Pintu-pintu kandang segera dibuka satu per satu. Para siswa SMA yang disekap berhamburan keluar. Sebagian menangis, sebagian lagi memeluk orang yang menolong mereka.

Di sudut kandang, seorang siswi terduduk gemetar. Air matanya tak berhenti mengalir. Aleta berjongkok di hadapannya.

"Tenangin diri lo. Sekarang kalian udah selamat."

Gadis itu menggeleng kuat-kuat. Tubuhnya masih bergetar hebat.

"Di-dia..."

"Dia apa?" Aleta menggenggam pelan bahunya untuk menenangkannya. Gadis itu menatap Aleta dengan mata berkaca-kaca.

"Dia... kanibal."

Deg!

1
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
LOHHH
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!