Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 07
Nadira datang ke Hotel Wijaya dua hari kemudian.
Ia tidak datang sendiri. Seperti biasa, ia membawa dua teman yang selalu tampak siap tertawa di tempat yang tepat: Melisa dan Rani. Mereka masuk lewat lobi utama dengan pakaian rapi, tas kecil bermerek, dan parfum yang cukup kuat untuk membuat staf resepsionis menoleh.
Kirana mendengar kabar itu dari Lala.
"Mbak, ada Nadira di restoran."
Tangan Kirana yang sedang memotong daun bawang berhenti sebentar.
"Dia tamu. Biarkan."
"Dia minta menu yang kamu masak."
Bowo yang berdiri tidak jauh langsung menoleh. Wajahnya seperti menemukan kesempatan.
"Nah, bagus. Tamu meminta kamu. Jangan sampai mengecewakan."
Kirana mencuci pisau. "Menu apa?"
Lala melihat catatan pesanan. "Nasi goreng lobster. Tapi dia minta tingkat pedas berbeda-beda, satu tanpa bawang putih, satu tanpa kecap, satu katanya alergi seafood tapi tetap pesan lobster."
Bowo tertawa pendek. "Tamu punya permintaan, dapur harus melayani."
Kirana tahu itu bukan permintaan. Itu perangkap.
Chef Arman datang dari belakang dan mengambil kertas pesanan. Ia membaca sebentar.
"Tamu yang alergi seafood tidak boleh kami layani menu lobster. Sampaikan pilihan lain."
Bowo cepat berkata, "Tapi Chef, mereka keluarga Pak Hendra. Kalau komplain..."
Chef Arman menatapnya. "Kalau orang alergi seafood lalu tetap diberi lobster, yang masuk berita bukan keluarga Pak Hendra, tapi hotel ini. Kamu chef atau penjilat?"
Dapur hening.
Bowo menunduk. "Maaf, Chef."
Chef Arman menyerahkan kertas itu ke Kirana. "Masak yang masuk akal. Sisanya biar service yang jelaskan."
"Baik, Chef."
Di restoran, Nadira duduk dekat jendela. Ia tampak tenang saat pelayan menjelaskan bahwa permintaan alergi seafood tidak bisa dipenuhi.
"Oh, begitu?" Nadira tersenyum. "Kalau begitu beri teman saya menu lain. Tapi pastikan yang masak tetap Kirana. Saya ingin tahu apakah dia benar-benar sehebat gosip dapur."
Pelayan mengangguk.
Melisa mencondongkan badan. "Kamu yakin mau makan masakan dia?"
"Kenapa tidak?" Nadira mengangkat gelas infused water. "Aku ingin memberi adikku kesempatan."
Rani tertawa kecil. "Kamu terlalu baik."
"Keluarga harus begitu."
Di dapur, Kirana bekerja tanpa ekspresi. Ia menyesuaikan bumbu, menjaga api, dan memastikan tiga piring keluar bersamaan. Ia tahu Nadira akan mencari celah sekecil apa pun. Terlalu asin, terlalu pedas, plating kurang mewah, semua bisa jadi bahan hinaan.
Piring keluar.
Sepuluh menit kemudian, pelayan kembali dengan wajah cemas.
"Mereka minta manager."
Bowo langsung menatap Kirana dengan senyum puas. "Sudah kubilang."
Kirana melepas sarung tangan. "Apa katanya?"
"Katanya ada rambut di piring."
Dapur mendadak ramai.
Kirana menatap pelayan. "Rambut?"
"Iya, Mbak."
Semua staf dapur memakai penutup kepala. Kirana juga. Ia bahkan baru mengganti sarung tangan sebelum plating.
Bowo mengangkat bahu. "Namanya juga manusia. Bisa saja jatuh."
Kirana menatapnya. "Rambutku diikat dan tertutup."
"Mungkin dari bajumu."
"Seragamku bersih."
"Kamu mau menyalahkan tamu?"
Kirana tidak menjawab. Ia berjalan keluar bersama manager restoran, Pak Dimas.
Di meja dekat jendela, Nadira duduk dengan wajah kecewa yang rapi.
"Mas Dimas, saya bukan ingin memperbesar masalah," katanya lembut. "Tapi ini hotel bintang lima. Kami menemukan rambut di makanan. Bayangkan kalau tamu lain yang mengalami."
Melisa sudah memegang ponsel. "Aku belum unggah apa-apa, kok. Tapi kalau tidak ditangani..."
Rani menutup mulut. "Aku jadi mual."
Pak Dimas membungkuk sopan. "Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami akan mengganti menu dan melakukan investigasi."
Nadira melirik Kirana. "Aku tidak ingin adikku dihukum berat. Dia mungkin belum terbiasa dengan standar hotel."
Kirana menatap piring itu.
Di sisi nasi, memang ada sehelai rambut panjang berwarna cokelat terang.
Rambut Nadira hitam.
Rambut Melisa cokelat terang.
Kirana mengangkat wajah. "Boleh saya lihat rekaman CCTV area meja?"
Melisa langsung berkata, "Kamu menuduh kami?"
"Aku minta rekaman."
Nadira menghela napas. "Kirana, kamu selalu begini. Setiap terjadi sesuatu, kamu langsung menyalahkan orang lain."
"Karena biasanya memang ada orang lain."
Pak Dimas terlihat tegang. Restoran mulai memperhatikan. Beberapa tamu menoleh, tertarik pada drama kecil itu.
Melisa berdiri. "Kamu pikir kami sengaja memasukkan rambut? Untuk apa?"
Kirana menatap piring. "Untuk membuatku terlihat kotor."
Rani tertawa sinis. "Kamu tidak perlu bantuan untuk itu."
Kirana menoleh pelan.
Nadira segera memegang tangan Rani. "Sudah. Jangan begitu."
Namun kerusakan sudah terjadi. Beberapa tamu mendengar. Kirana juga.
Pak Dimas berbisik, "Kirana, kembali ke dapur dulu."
"Tidak sebelum rekaman dilihat."
"Kirana..."
Sebuah suara laki-laki terdengar dari belakang.
"Lihat rekamannya."
Semua orang menoleh.
Bima berdiri tidak jauh dari pintu restoran, memakai jas abu-abu gelap. Wajahnya tenang, tapi auranya membuat Pak Dimas langsung lebih tegak.
"Pak Bima," kata Pak Dimas. "Selamat siang."
Nadira memperhatikan pria itu. Ia mengenal nama itu. Bima adalah orang penting di Mahendra Group, sering muncul mewakili keputusan bisnis.
Kenapa dia ada di sini?
Bima menatap meja Nadira, lalu piring bermasalah. "Jika staf dituduh melakukan kesalahan kebersihan, hotel berhak mengecek rekaman. Itu standar."
Melisa menggenggam ponsel lebih erat.
Nadira tersenyum tipis. "Tentu. Kami tidak keberatan."
Kalimat itu terdengar berani, tapi ujung jarinya menekan tisu terlalu keras.
Pak Dimas segera menghubungi keamanan. Sepuluh menit kemudian, mereka berkumpul di ruang kecil dekat restoran. Rekaman dari kamera sudut atas diputar.
Awalnya tidak ada yang aneh. Pelayan menaruh piring. Nadira mencicipi. Melisa tertawa. Rani memotret makanan.
Lalu saat pelayan pergi, Melisa menyisir rambut dengan jari. Satu helai ia tarik, lalu saat Nadira mengangkat gelas dan menghalangi sebagian pandangan, Melisa menjatuhkan rambut itu ke piring.
Ruangan hening.
Wajah Melisa memucat.
Rani menutup mulut.
Nadira tidak bergerak.
Bima menghentikan rekaman. "Cukup jelas."
Pak Dimas menatap Nadira. "Mbak Nadira..."
Nadira menoleh ke Melisa dengan wajah terkejut yang sangat terlatih. "Melisa, kamu melakukan itu?"
Melisa menatapnya tidak percaya. "Nad..."
"Aku tidak tahu kamu akan sejauh ini," kata Nadira cepat, matanya mulai basah. "Aku datang hanya untuk makan. Kirana adikku. Aku tidak mungkin ingin menjatuhkan dia."
Kirana hampir kagum.
Gerakannya cepat sekali.
Melisa menjadi korban berikutnya dalam hitungan detik.
"Nadira," bisik Melisa.
Bima menatap Pak Dimas. "Hotel bisa memasukkan nama tamu yang memanipulasi makanan ke daftar hitam."
Pak Dimas mengangguk. "Benar, Pak."
Nadira langsung berkata, "Saya minta maaf atas kelakuan teman saya. Saya tidak tahu."
Kirana menatapnya. "Kamu tidak pernah tahu apa pun, ya?"
Nadira menoleh. Air mata sudah siap.
"Kirana, jangan salah paham. Aku..."
"Cukup."
Kirana tidak meninggikan suara, tapi Nadira berhenti.
"Kalau kamu datang makan, makanlah. Kalau datang menjebak, setidaknya pilih teman yang tidak mudah tertangkap kamera."
Wajah Nadira mengeras.
Bima menyembunyikan senyum.
Pak Dimas memutuskan dengan suara formal bahwa Melisa dan Rani tidak boleh lagi memasuki restoran Hotel Wijaya. Nadira masih diperbolehkan kali ini karena tidak terlihat langsung melakukan tindakan, tetapi catatan kejadian masuk ke sistem.
Itu lebih memalukan daripada diusir terang-terangan.
Saat Nadira keluar dari ruang kecil, ia melewati Kirana.
"Kamu pikir kamu menang?" bisiknya.
Kirana menatap lurus ke depan. "Tidak. Aku cuma sedang bekerja."
"Raka tidak akan selamanya di sisimu."
"Aku tidak memintanya selalu di sisiku."
"Bohong."
Kirana akhirnya menoleh. "Kalau kamu begitu yakin dia tidak berharga, kenapa kamu sibuk mengurusnya?"
Nadira terdiam.
Pertanyaan itu mengenai tepat di tempat yang ia sembunyikan.
Kirana kembali ke dapur. Beberapa staf melihatnya dengan tatapan berbeda lagi. Lala mengangkat dua jempol dari balik rak pastry.
Bowo pura-pura sibuk mencuci pisau.
Sore itu, Chef Arman memanggil Kirana.
"Kamu menangani masalah tadi dengan kepala dingin."
"Saya hampir tidak dingin, Chef."
"Tapi kamu tidak meledak. Itu penting."
Ia menaruh kertas jadwal baru di meja.
"Mulai minggu depan, kamu masuk rotasi private dining dua kali seminggu. Masih probation, tapi saya ingin lihat konsistensimu."
Kirana memegang kertas itu.
"Terima kasih, Chef."
"Jangan terima kasih dulu. Semakin terlihat, semakin banyak yang ingin menjatuhkanmu."
"Saya tahu."
Chef Arman menatapnya. "Kamu selalu menjawab seperti sudah pernah hidup di medan perang."
Kirana tersenyum tipis. "Mungkin dapur bukan medan perang pertama saya."
Malamnya, Kirana pulang membawa sisa roti dari staf meal. Raka sudah di kontrakan, duduk dengan laptop tua di meja lipat.
"Kamu punya laptop?" tanya Kirana.
"Pinjam."
"Dari Bima?"
"Iya."
Kirana menaruh roti. "Temanmu baik sekali."
"Dia memang berguna."
"Kamu bicara seperti bosnya."
Raka menutup laptop. "Kebiasaan."
Kirana terlalu lelah untuk mengejar. Ia duduk dan menceritakan kejadian restoran. Raka mendengar tanpa memotong, tapi rahangnya menegang saat Nadira disebut.
"Bima kebetulan ada di sana," kata Kirana.
"Dia sering ke hotel."
"Kenapa?"
"Kerja."
"Semua jawabanmu selalu pendek."
"Supaya tidak salah."
Kirana menatapnya curiga, lalu mengambil roti.
"Hari ini aku menang sedikit."
Raka menatapnya lebih lembut. "Kamu menang banyak."
"Belum. Nadira masih punya tenaga."
"Biar saja. Setiap kali dia bergerak, dia meninggalkan jejak."
Kirana berhenti mengunyah.
"Kamu terdengar seperti tahu sesuatu."
Raka mengambil sepotong roti.
"Saya hanya belajar dari pengalaman."
Kirana menatapnya lama, tapi kali ini ia tidak bertanya lebih jauh.
Di rumah Hendra, Nadira membanting tas ke meja.
Bu Ratna mendengar cerita itu dengan wajah muram.
"Bima membela Kirana?"
"Dia bilang itu standar hotel."
"Bima tidak pernah bergerak tanpa alasan."
Nadira menggenggam ponsel. "Apa mungkin dia mengenal Raka?"
Bu Ratna diam.
Pertanyaan itu membuat ruangan terasa lebih sempit.
Jika Raka memang punya hubungan dengan Mahendra Group, maka kesalahan Nadira bukan hanya membuang laki-laki miskin.
Ia mungkin baru saja menyerahkan pintu masuk ke keluarga paling berkuasa di Jakarta kepada Kirana.