Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih Baik Sendirian seperti Biasa
Saat keputusasaan kembali melanda, Ryan yang kini telah menguasai emosinya langsung berbalik. Wajahnya kembali datar dan dingin seperti biasa—seolah-olah ledakan emosi beberapa menit lalu tak pernah terjadi.
Ryan menunjuk ke arah sudut bangunan luar menggunakan jempolnya. "Daripada kalian menangis di sini, lebih baik kita segera menuju ke pilar laser itu. Kemungkinan besar itulah penyebabnya," ujarnya dengan nada santai.
Mendengar suara Ryan, para siswa yang baru datang itu tersentak. Mereka semua serentak menoleh dan menatap tajam ke arah Ryan. Detik itu juga, atmosfer di antara mereka sekejap berubah menjadi aneh dan canggung.
Para siswa yang baru datang itu saling bertukar pandang dengan raut wajah penuh kewaspadaan dan ketakutan yang tertahan. Mereka sangat mengenal siapa Ryan. Di SMK Media, gosip miring tentang latar belakang Ryan sudah menyebar secara berbisik-bisik di kalangan murid tertentu. Menurut desas-desus yang beredar, Ryan dicurigai sebagai seorang pemuja iblis.
Semua itu berakar dari tragedi masa lalu yang sempat mengguncang dunia—peristiwa 'Malam Kehancuran', saat seluruh tetangga di lingkungan tempat tinggalnya terbantai tanpa sisa. Anehnya, hanya Ryan dan keluarganya yang ditemukan selamat tanpa luka sedikit pun. Bagi orang awam, fakta bahwa mereka menjadi satu-satunya keluarga yang lolos dari pembantaian massal makhluk gaib adalah bukti kuat bahwa mereka telah bersekutu dengan iblis atau terlibat dalam sekte hitam.
Ryan memahami sepenuhnya apa yang dipikirkan para pendatang itu. Ia mampu menafsirkan rasa takut, curiga, serta pandangan menghakimi pada mata mereka.
Namun, karena sudah terlalu biasa hidup berdampingan dengan rumor sampah seperti itu, Ryan tidak menganggapnya penting.
Ryan tidak membuang kata-kata untuk membela diri ataupun mengajak mereka. Ia berbalik, meninggalkan kerumunan itu dalam sunyi, dan melangkah pergi tanpa menoleh.
Baginya, percuma untuk berdebat ataupun memohon mereka untuk mengikutinya, sehingga ia memutuskan untuk bergerak sendirian.
Tanpa memedulikan tatapan ngeri dari kelompok siswa yang baru datang, Ryan melangkah. Sepatu sekolahnya mengetuk lantai koridor yang sunyi, membelah kegelapan.
Udara lorong kian mendingin, hanya ditemani pendar cahaya langit yang merah pekat. Dari balik jendela, pilar energi vertikal tampak menjulang, menembus awan yang menyerupai darah. Setelah melewati deretan persimpangan yang terasa semakin asing, langkah kaki Ryan terhenti; tepat di hadapannya berdiri pintu ganda kayu dengan papan bertuliskan 'Perpustakaan'
Keheningan tempat itu terusik. Dari balik pintu perpustakaan yang tertutup rapat, Ryan mendengar sebuah suara yang janggal. Bukan geraman buas yang berat, melainkan suara garukan kuku tajam pada material kayu yang berpadu dengan tawa cekikikan melengking kecil.
Hihihi... krek... krek...
Didorong oleh rasa penasaran, Ryan mengulurkan tangan. Ia memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan tanpa ragu.
…
Di dalam ruangan yang dipenuhi barisan rak buku reyot, pemandangan mengerikan langsung menyambut matanya. Sesosok hantu tengah melayang rendah di depan sebuah lemari kayu besar di sudut ruangan. Makhluk itu adalah entitas Tier C (Lesser Entity). Karena kastanya yang masih rendah, wujudnya tampak abstrak dan belum memiliki bentuk yang pasti—menyerupai gumpalan kabut daging hitam pekat yang terus bergolak dengan beberapa lengan kurus mencuat tanpa arah. Namun tetap saja, bagi manusia normal, tampilannya terlihat seperti monster yang amat mengerikan.
Gumpalan abstrak itu terus mencakar-cakar pintu lemari kayu di hadapannya sambil tertawa kegirangan. Sebagai makhluk astral, si hantu sebenarnya bisa saja menembus lemari tersebut dengan mudah untuk melahap mangsanya. Namun, ia sengaja tidak melakukannya. Entitas itu sengaja mempermainkan dan menikmati ketakutan murni dari manusia yang sedang meringkuk gemetar di dalam lemari.
Kriiiet…
Suara pintu perpustakaan yang terbuka membuat aktivitas makhluk itu terhenti seketika. Secara naluri, gumpalan sekelas Lesser Entity itu langsung melirik ke arah pintu—tepat ke arah Ryan.
Detik itu juga, tawa cekikikan si hantu tersangkut di tenggorokannya. Begitu sepasang insting liarnya bersinggungan dengan kehadiran Ryan, indra sang hantu langsung menangkap riak energi kegelapan pekat yang bersemayam di dalam tubuh Ryan.
Tanpa sempat mengeluarkan suara atau melakukan perlawanan, si hantu langsung kabur ketakutan. Ia melesat secepat kilat menembus dinding belakang perpustakaan, lenyap begitu saja ke dalam kegelapan.
Ryan menatap dinding kosong itu dengan tatapan datar dan bingung. Ia menghela napas singkat, kemudian melangkah perlahan mendekati lemari kayu yang sebelumnya menjadi sasaran hantu. Dengan suara yang dingin serta sikap acuh tak acuh seperti biasanya, ia mengetuk pintu lemari itu dua kali.
"Keluar saja. Sudah aman," ujar Ryan.
Keheningan mencekam sempat bertahan selama beberapa saat dari dalam ruang sempit itu. Kemudian, terdengar bunyi klik kunci yang diputar dengan ragu. Pintu lemari kayu itu terbuka dengan sangat perlahan, menampakkan dua orang siswi yang tengah berpelukan erat dengan sisa-sisa air mata horor di pipi mereka.
Gadis pertama yang memberanikan diri mendongak adalah seorang gadis berambut cokelat panjang terurai dengan sepasang mata cokelat yang bersinar samar. Di tengah kekacauan dimensi ini, parasnya harus diakui tampak cukup manis.
Sementara di sebelahnya, mengenakan kacamata bulat, dengan rambut cokelat yang diikat kuncir kuda dengan potongan sedikit lebih pendek dari temannya.
Dengan tubuh yang masih bergetar hebat, mereka berdua perlahan melangkah keluar dari lemari, menatap sekeliling perpustakaan yang mendadak sunyi.
"H-Hantunya... apa sudah kamu kalahkan?" tanya si gadis berambut panjang dengan suara parau yang tertahan. Ia menatap Ryan penuh selidik. "Kamu seorang Esper?"
"Entahlah," jawab Ryan singkat. Ia malas menjelaskan panjang lebar, apalagi ingatan batinnya sendiri masih meyakini kalau ia hanyalah seorang Esper D Class biasa yang tidak memiliki keistimewaan apa pun.
Melihat situasi yang sudah sepenuhnya kondusif, gadis berambut panjang itu berusaha mengatur napasnya, mencoba bersikap sopan di hadapan sosok yang baru saja menyelamatkan nyawa mereka. "Aku Isabella," ucapnya memperkenalkan diri, lalu menatap Ryan. "Namamu siapa?"
"Ryan," sahut Ryan santai, sementara kedua tangannya menyelinap masuk ke dalam saku celana sekolah.
Namun, begitu nama itu lolos dari bibir Ryan, gadis berkacamata bulat di sebelah Isabella sontak tersentak hebat. Wajahnya yang semula pias kini berubah menjadi pucat pasi seketika. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh kepanikan baru, ia segera menarik tangan Isabella untuk mundur beberapa langkah, menjauh dari Ryan.
Rena—gadis berkacamata itu—sangat mengenal siapa Ryan. Walaupun Ryan adalah murid baru di sekolah ini, ia sudah sering mendengar desas-desus miring tentang latar belakang Ryan yang dicurigai sebagai pemuja iblis dalam peristiwa 'malam kehancuran'. Ketakutan baru menjalar di benak Rena, membuatnya tidak berani membicarakannya atau mengonfirmasi rumor sampah itu langsung di depan wajah Ryan. Ia hanya bisa mencengkeram erat lengan Isabella dengan tubuh gemetar, menatap Ryan dengan pandangan ngeri yang tertahan.
Melihat reaksi tersebut, Ryan hanya terdiam. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi kecewa ataupun tersinggung; ia sudah terlalu terbiasa dicap sebagai monster oleh orang-orang di sekitarnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri, Ryan membalikkan tubuhnya membelakangi kedua gadis itu dan kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.
Sambil terus berjalan menuju pintu keluar perpustakaan, Ryan berbicara tanpa menoleh, "Jika kalian ingin selamat, segera pergi ke arah lobi. Di sana sudah banyak siswa lainnya berkumpul."
Sepatu sekolah Ryan kembali mengetuk lantai koridor yang sunyi, meninggalkan perpustakaan untuk kembali fokus mencari pilar energi serupa laser yang menjulang di langit sekolah.
Namun, setelah sekian lama berjalan memutari koridor gedung, dan melewati deretan ruang kelas yang tampak sama berulang kali, Ryan spontan menghentikan langkahnya di tengah lorong yang sepi.
Ia berjalan mendekati jendela dan mendongak menatap langit merah. Pilar energi raksasa itu masih berdiri tegak di sana, tetapi entah bagaimana, posisinya justru terlihat semakin menjauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Ryan menatap persimpangan koridor bercabang di depannya dengan dahi berkerut, lalu menghela napas panjang penuh kepasrahan. Di dalam hatinya, sebuah rasa penyesalan yang amat mendalam seketika merayap naik—ia agak menyesal mengapa tadi terlampau acuh dan tidak bertanya arah jalan kepada kedua gadis di perpustakaan sebelum pergi sendirian.