Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.
Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.
Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Buku yang Dipinjamkan
Siang itu setelah kejadian di gudang, Dika menyelesaikan pekerjaannya dengan hati-hati. Ia memastikan tidak ada satu pun daun yang terlewat disiram, tidak ada rumput liar yang tersisa di celah-celah batu, dan semua alat berkebun — mulai dari cangkul, gayung, sampai sarung tangan — disusun rapi persis seperti semula di sudut gudang. Ia tahu betul, di tempat ini satu kesalahan kecil saja bisa dijadikan alasan untuk menuduhnya macam-macam, apalagi oleh orang yang memang sudah tidak senang melihatnya ada di sini.
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan udara tidak lagi menyengat seperti siang hari, Bu Marni memanggilnya untuk merapikan perpustakaan. “Debunya sudah tebal di rak-rak atas, tolong dibersihkan. Jangan sampai ada yang tertinggal,” perintahnya singkat sebelum pergi.
Dika masuk perlahan, menutup pintu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara berisik yang bisa menarik perhatian orang lain. Ruangan itu sunyi seperti biasa, hanya ada suara angin yang berhembus pelan lewat celah jendela yang sedikit terbuka, membawa bau harum bunga dari taman luar.
Ia mulai bekerja, menyapu lantai terlebih dahulu, lalu membersihkan debu di rak-rak bagian bawah dengan kain lap. Saat bergerak menuju meja di sudut ruangan, matanya tertuju pada sesuatu yang membuatnya berhenti. Di atas meja itu, tergeletak buku tentang tumbuhan yang tadi pagi ia lihat di gudang — buku yang sama persis, sampul cokelatnya yang agak usang tidak mungkin salah dikenali.
Dika mengerutkan dahi, merasa bingung. Apakah ada orang lain yang memindahkannya? Atau apakah Bu Marni menemukannya dan meletakkannya di sini? Belum sempat ia berpikir lebih jauh, pintu perpustakaan terbuka pelan, dan Kirana masuk dengan langkah hati-hati. Ia menoleh ke kanan dan kiri seolah memastikan tidak ada orang yang melihat dari lorong, lalu menutup pintu kembali dengan sangat pelan.
“Non Kirana?” Dika segera berdiri tegak, sedikit terkejut.
Kirana mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar tidak berbicara terlalu keras. “Saya yang memindahkannya tadi. Setelah Bu Marni pergi memeriksa dapur, saya kembali ke gudang dan mengambilnya. Saya lihat tadi kamu tertarik sekali membacanya, jadi saya bawa ke sini supaya kamu bisa membacanya dengan tenang.”
Dika menatap buku itu, lalu menatap wajah Kirana. Ia masih merasa ragu. “Tapi… apakah tidak apa-apa? Ini barang milik keluarga, bukan milik saya. Saya takut nanti ada yang tahu dan marah, mengira saya sembarangan mengambil barang di rumah ini.”
“Tidak apa-apa,” jawab Kirana tenang. “Ini buku peninggalan ayah saya, dan saya yang mengizinkan kamu membacanya. Lagipula, sudah lebih dari lima tahun buku itu tergeletak di gudang, tidak ada yang pernah menyentuhnya lagi. Kalau hanya dibiarkan begitu saja, lama-lama akan rusak dimakan rayap. Lebih baik dibaca dan dimanfaatkan, bukan begitu?”
Ia berbicara dengan suara pelan, matanya menatap Dika dengan serius. Ia juga sadar betapa berisikonya hal ini — kalau sampai diketahui orang lain, apalagi Paman Arga yang selalu mencari kesempatan, pasti akan timbul masalah yang tidak perlu.
Dika mengangguk perlahan, merasakan ketulusan dalam pandangan gadis itu. “Baiklah, terima kasih banyak, Non. Saya akan menjaganya dengan sangat baik, dan mengembalikannya persis seperti semula setelah selesai membaca. Tidak akan ada yang tahu kalau saya tidak bicara pada siapa pun.”
“Baiklah. Sekarang saya harus pergi, takut dicari-cari lagi. Belakangan ini Ibu sering menanyakan keberadaan saya, apalagi kalau saya terlalu lama sendirian.” Kirana berbalik hendak keluar, tapi berhenti sejenak dan menoleh lagi, nadanya menjadi lebih lembut. “Dan… tentang apa yang Paman Arga katakan padamu beberapa hari yang lalu…”
Dika tertegun, matanya sedikit melebar. “Anda tahu soal itu?”
“Saya tidak mendengar semuanya dengan jelas, tapi saya melihatnya berdiri di hadapanmu dengan wajah yang tidak bersahabat. Saya juga tahu dia sering bicara hal-hal yang menyakitkan pada orang yang dianggapnya tidak berguna. Dia tidak senang kamu ada di sini, itu sudah jelas. Tapi jangan dengarkan semua kata-katanya. Dia sering berpikir hanya tentang keuntungan dirinya sendiri, bukan tentang apa yang sebenarnya benar atau salah.”
Setelah berkata begitu, Kirana segera membuka pintu dan keluar dengan langkah cepat, meninggalkan Dika yang masih berdiri di tempatnya, memikirkan kata-kata yang baru saja didengarnya.
Dika berjalan mendekati meja, mengambil buku itu dengan hati-hati seolah memegang barang yang sangat berharga. Sampulnya sudah agak pudar di bagian sudut, tapi halaman-halamannya masih terawat dengan baik, tidak ada yang robek atau rusak. Ia membuka halaman pertama, dan melihat tulisan tangan yang rapi di sudut atas: “Untuk anakku Kirana, semoga kamu mencintai alam dan segala isinya seperti saya mencintaimu. Alam tidak pernah berbohong, ia akan memberi hasil sesuai dengan usaha yang kita berikan.”
Hatinya terasa sedikit terharu membaca tulisan itu. Ia menutup buku kembali, lalu menyimpannya di dalam saku baju bagian dalam agar tidak terlihat dari luar, dan segera melanjutkan pekerjaannya membersihkan rak-rak buku.
Malam itu, setelah semua orang di rumah sudah tidur nyenyak dan suasana menjadi sangat sunyi, Dika duduk di tepi tempat tidurnya. Ia menyalakan lampu meja kecil yang redup — satu-satunya sumber cahaya di kamarnya — lalu mengeluarkan buku itu dengan hati-hati. Ia membukanya pelan, mulai membaca satu per satu halaman. Isinya sangat menarik, bukan hanya teori kering, tapi juga pengalaman langsung dari penulisnya tentang cara menanam, menyiram, memberi pupuk, dan mengenali tanda-tanda kalau tanaman sedang sakit atau tidak sehat.
Dika membaca sampai matanya terasa berat, tapi ia merasa sangat senang. Buku itu memberinya banyak pengetahuan baru yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Sebelum menutupnya, ia mengambil buku catatan lusuh miliknya sendiri, lalu menulis pelan:
“Hari ini saya meminjam buku peninggalan ayah Non Kirana. Isinya sangat bermanfaat dan menyenangkan untuk dibaca. Saya juga mengerti sekarang, mengapa dia sering terlihat sedih dan kesepian. Di rumah sebesar ini, dikelilingi banyak orang, ternyata tidak banyak yang mau mendengar apa yang dia inginkan atau rasakan. Semua seolah sudah diatur untuknya, tanpa bertanya apakah dia menyukainya. Saya berjanji akan menjaga buku ini dengan sebaik-baiknya, dan tidak akan membuat Non Kirana menyesal sudah mempercayai saya. Kepercayaan itu tidak bisa dibeli dengan uang, jadi harus dijaga dengan hati-hati.”
Keesokan harinya, Dika membawa sebagian pengetahuan yang dibacanya ke dalam pekerjaannya. Ia melihat beberapa tanaman bunga mawar di dekat teras yang daunnya mulai menguning dan kering di bagian ujungnya. Ia mengingat apa yang tertulis di buku: tanahnya terlalu padat dan kurang udara, serta terlalu banyak disiram. Dengan hati-hati, ia menggemburkan tanah di sekitar akar, membuang daun-daun yang sudah kering, dan menyiramnya secukupnya — tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit seperti yang sering dilakukan sebelumnya.
Beberapa hari kemudian, perubahan itu mulai terlihat jelas. Tanaman yang tadinya layu dan tidak berbunga mulai tumbuh segar kembali, daunnya menjadi hijau cerah, dan bahkan mulai muncul kuncup-kuncup bunga yang kecil.
Suatu pagi, Nyonya Wijaya berjalan-jalan di taman ditemani Paman Arga dan Bu Marni. Ketika melewati bagian tanaman mawar yang dirawat Dika, ia berhenti dan menatap dengan heran. “Ini tanaman yang hampir mati dua minggu lalu, bukan? Sekarang terlihat jauh lebih segar dan indah. Siapa yang merawatnya?” tanyanya.
Bu Marni yang berjalan di belakangnya menjawab: “Yang merawatnya Dika, Nyonya. Setiap pagi dan sore dia selalu memeriksa dan membersihkannya.”
Paman Arga yang berdiri di sampingnya mengerutkan dahi, nadanya terdengar meremehkan. “Hanya kebetulan saja, mungkin. Dia tidak mungkin tahu cara merawat tanaman dengan benar, toh dia hanya anak dari pembantu.”
Tapi Nyonya Wijaya hanya menggeleng pelan, matanya tetap memperhatikan tanaman yang tumbuh rapi dan sehat. “Tidak terlihat seperti kebetulan. Terlihat ada perhatian dan pengetahuan khusus di sana. Panggil dia sebentar, saya ingin bicara.”
Dika yang sedang bekerja di ujung taman dipanggil. Ia datang dengan langkah hati-hati, menunduk sopan dan tidak berani menatap terlalu lama.
“Kamu yang merawat tanaman-tanaman ini sampai menjadi sebaik ini?” tanya Nyonya Wijaya.
“Ya, Nyonya. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa, dan mencoba merawatnya dengan teliti,” jawab Dika jujur.
“Kamu tahu cara merawatnya dengan baik?”
“Saya membaca sedikit di buku tentang tumbuhan yang ada di perpustakaan, Nyonya. Saya mencoba mengikuti apa yang tertulis di sana, tidak ada yang istimewa.”
Nyonya Wijaya menatapnya lebih lama, seolah menilai watak pemuda di hadapannya. “Bagus. Lanjutkan pekerjaanmu. Kalau ada alat atau bahan yang kamu butuhkan untuk merawat taman, kamu boleh memberitahu Bu Marni, nanti akan disediakan.”
“Terima kasih banyak, Nyonya.”
Setelah Nyonya Wijaya pergi melanjutkan jalan-jalannya, Paman Arga berhenti sejenak di samping Dika, suaranya rendah dan hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Jangan berharap pujian itu akan mengubah posisimu di sini. Tetap ingat tempatmu, dan jangan terlalu berani berusaha menarik perhatian orang lain. Paham?”
Ia kemudian berjalan cepat menyusul Nyonya Wijaya, meninggalkan Dika yang hanya menghela napas pelan. Ia tidak membutuhkan pujian atau perhatian, ia hanya ingin melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin dan tidak menyusahkan siapa pun.
Sore harinya, Kirana secara tidak sengaja melewati taman dan melihat tanaman mawar yang sudah tumbuh indah dengan kuncup bunga yang mulai mekar. Ia tersenyum tipis, mengerti bahwa Dika sudah mempraktikkan apa yang dibacanya dari buku itu. Saat matanya bertemu dengan Dika yang sedang menyiram tanaman lain, ia hanya mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih dan senang, lalu berjalan masuk ke dalam rumah sebelum ada orang yang melihatnya.
Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah besar itu, Dika merasa ada hal kecil yang membuatnya merasa dihargai, meski masih banyak orang yang tidak menyukai kehadirannya. Ia tahu perjalanannya masih panjang dan tidak akan mudah, tapi setidaknya ada sedikit cahaya dan kepercayaan kecil yang membuatnya tetap bertahan dan tidak kehilangan semangat.