NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Pacar

Arinta tidak pernah membayangkan peran seperti apa yang akan ia jalani ditahun antah berantah ini. Dan ia juga tidak pernah membayangkan, rumah seperti apa yang akan ia tempati. Jadi, ia tidak bisa tidak terkejut saat melihat seberapa mewah rumahnya.

"Ini rumah kita?" tanya Arinta saat benar-benar keluar dari mobil.

Miza mengangguk singkat.

"Iya. Ayo masuk!"

Sebenarnya, yang membuat Arinta terkagum-kagum bukan karena bangunan rumah dua lantai nan luas, tetapi karena ia berpikir, memiliki rumah mewah di tahun ini pasti merupakan salah satu hal yang langka.

"Bi Asih..." panggil Miza.

Tak lama, seorang perempuan paruh baya dengan pakaian khas pembantu zaman dahulu muncul dari arah dapur.

Bi Asih menatap ke arah Arinta seperti melihat barang hilang yang akhirnya ditemukan.

"Mbak Arinta, akhirnya pulang juga."

Arinta hanya tersenyum menatap Bi Asih. Memangnya sudah berapa lama ia tak pulang? batinnya.

"Buat makan siang, masak yang banyak ya, Bi. Nanti saya makan siang di rumah." ucap Miza.

"Sama, sekalian bantu Arinta beres-beres kamarnya. Saya mau ke rumah sakit lagi."

"Siap, Mas Miza." sahut Bi Asih.

Sepeninggal Miza, Arinta langsung digiring ke kamar di lantai dua oleh Bi Asih, sesuai dengan perintah.

"Silakan, Mbak." Bi Asih membukakan pintu kamar.

"Makasih, Bi."

"Udah seminggu ini Mbak Arinta nggak pulang. Pacar Mbak nyariin loh. Bibi kira Mbak Arinta ke rumah dia." ucap Bi Asih tiba-tiba.

Arinta tertawa canggung. "Pacar?"

"Itu loh. Masa Mbak lupa, Mas Deri."

Menyadari raut wajah bingung Arinta, Bi Asih sepertinya langsung paham situasi.

"Kalo Mbak nggak inget, ya nggak apa-apa. Jangan dipaksa."

Arinta mengangguk. Sepertinya semakin lama ia di sini, ia semakin tidak yakin untuk melanjutkan berpura-pura menjadi "Arinta" yang ada di tahun ini.

"Bi?" panggil Arinta.

"Iya?" Bi Asih masih sibuk mengelap benda-benda yang sedikit berdebu.

"Di sini cuma ada Arinta sama Bang Miza aja ya?"

"Enggak, Mbak. Selain Mbak Arinta, Mas Miza sama Bibi, di sini juga ada Pak Redi. Nggak mungkin Bibi di sini sendirian, Bibi juga kan butuh tenaga laki-laki buat bantu angkat-angkat sesuatu."

Hah... Yang benar saja, rumah seluas ini hanya dihuni beberapa orang.

"Mbak istirahat dulu aja. Bibi tinggal dulu ya?"

Begitu saja ia ditinggal sendirian di sini. Di tempat asing. Sempat terbesit di pikirannya untuk kabur, tapi ia teringat, merubah takdir kakak pertamanya juga butuh koneksi dan sedikit usaha.

"Oke. Kita bisa cari petunjuk tentang Arinta di sini." monolognya sambil mulai membuka laci satu per satu.

Ia membolak-balikkan buku-buku yang terdapat di meja belajar.

"Arinta Syafira, Miza Ar-Rahman, Gen Z banget ya namanya." gumam Arinta.

Di laci pertama, Arinta menemukan beberapa surat. Mungkin karena masih jarang yang menggunakan ponsel di tahun ini.

Beberapa surat hanya berisi tulisan biasa, tapi ada surat yang isinya sangat menarik.

Dari: Deri

Untuk: Arinta Syafira

Arinta tersenyum geli membaca tulisan di awal. Deri? Pacarnya Arinta Syafira?

Hai,

Kamu pasti udah kenal aku kan?

Pasti iya. Siapa sih anak SMAN 1 yang nggak kenal aku? Aku si anak 11 IPA 1.

Kamu tau? Udah dari kelas 10 aku sering merhatiin kamu. Kata temenku, mending diungkapin aja daripada keduluan orang lain.

Jadi, kamu harus mau jadi pacar aku!

Besok aku ungkapin langsung, kamu harus terima.

Salam manis,

Si anak basket.

Arinta bergidik geli membacanya. Seumur-umur ia tidak pernah membaca surat cinta.

"Sekarang Arinta udah kelas 12, terus surat ini dari kelas 11." Arinta berpikir sejenak.

"Berarti udah setahunan dong kalau emang bener diterima."

Terdengar suara ketukan pintu, sebelum seseorang menyembul masuk.

"Mbak, ada pacar Mbak di bawah." ucap Bi Asih.

Entah apa yang merasuki jiwa Arinta, ia merasa tak karuan. Rasanya seperti benar-benar ia menjadi diri sendiri, bukan berperan sebagai orang lain.

Di sini bukan ini tujuan utamaku, batin Arinta.

Arinta turun ke bawah setelah beberapa saat menetralkan degup tak karuan itu.

"Ta?!" seseorang langsung menyambutnya yang baru turun dari tangga.

Ia tak bisa biasa saja melihat seorang laki-laki yang menatapnya dengan tatapan khawatir itu. Entah sudah sejauh mana hubungan mereka, tapi sepertinya Deri sudah sejauh ini menyayangi Arinta-nya.

Deri hanya menatap Arinta dari atas sampai bawah. Arinta yang ditatap seperti itu jadi takut, takut kalau Deri menyadari bahwa dia bukanlah Arinta-nya.

"Arinta? Kamu kemana aja? Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Deri sambil memegang kedua lengan Arinta.

Arinta menggeleng.

"Maaf. Maaf waktu itu aku nggak ada buat kamu. Sekarang kamu nggak sendiri lagi, aku nggak bakal kemana-mana."

Deri mendekapnya. Entah kenapa, Arinta tiba-tiba merasa terharu, emosinya tak terbendung.

"Nangis aja. Sekarang aku di sini." ucap Deri lagi.

Arinta benar-benar tak bisa menahannya. Ada sedikit perasaan aneh, sakit rasanya. Seperti ia sedang merasakan perasaan terluka karena ditinggalkan.

Setelah tangisnya reda, tidak ada yang memulai percakapan. Keduanya hanya duduk berdiam diri. Anehnya, walau saling diam, tidak ada rasa canggung sama sekali.

"Kenapa sih, Bang?! Arinta tuh kesepian, emang salah kalau Arinta punya pacar? Abang jarang ada buat Arinta, Arinta sendirian di rumah, cuma Deri yang bisa selalu ada buat Arinta! Abang nggak usah ikut campur!"

"Sejak kapan?! Sejak kapan kamu pacaran sama dia? Uang yang abang kasih kurang? Kasih sayang yang abang kasih kurang? Abang rela nggak deket sama perempuan manapun, karena abang belum siap ninggalin kamu, abang nggak mau kamu dapet kasih sayang yang terbatas karena abang udah punya pasangan. Jadi tolong ngertiin abang sedikit. Kamu pacaran kayak gitu siapa yang bisa jamin kalau dia nggak bakal ngerusak kamu?! Siapa?!"

"Arinta bisa ngertiin abang kalau abang nggak cuma fokus nyari uang! Uang nggak bisa ngasih Arinta perhatian, uang nggak bisa ngilangin rasa kesepian."

"Arinta?!"

Suara bentakan yang keluar dari mulut Miza membuat Arinta diam seribu bahasa, ia pergi dari sana dan mengurung diri di kamar.

Napas Arinta terengah-engah. Entah bagaimana caranya, ia bisa mendapat ingatan itu tiba-tiba.

"Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Deri.

Arinta menatap Deri dengan tatapan sendu dan ketakutan yang berusaha disembunyikan.

Tidak! Ini tidak mungkin. Ia di sini untuk merubah takdir kakak pertamanya, bukan transmigrasi menjadi orang lain dan merubah takdir hidupnya.

"Kamu kenapa, Ta?" tanya Deri lagi.

Arinta hanya menggeleng sambil mengalihkan pandangan.

"Abang nanti siang pulang." ucap Arinta tiba-tiba.

"Hmm?" Deri hanya berdehem sambil terus menatap perempuannya.

"Abang ga ngebolehin aku pacaran. Gara-gara itu aku kabur kemarin." jelas Arinta dengan ekspresi sedatar mungkin, matanya menatap lurus kedepan tanpa menatap Deri.

Deri terlihat tak terusik sama sekali.

"Terus kenapa? Aku berani ketemu abang kamu, ngebuktiin kalo aku engga sepengecut itu."

Arinta kali ini benar-benar menatap kedua mata Deri yang masih setia menatapnya.

"Kamu.."

"Aku ngga pernah nyesel nerima kamu dihidup aku."

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!