NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

(Flashback H-42 sebelumnya)

Sore ini rumahku terasa hangat oleh cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi di ruang keluarga. Sinar keemasan itu jatuh lembut di atas sofa besar tempat kami duduk, memantul di permukaan meja kayu yang dipenuhi camilan, majalah, dan beberapa gelas minuman.

Aku duduk di antara tiga sahabat terbaikku—Brie, Amber, dan Linda. Mereka adalah orang-orang yang selalu ada di setiap fase hidupku. Bersama mereka, hari-hariku selalu terasa lebih hidup.

Tawa kami bergema memenuhi ruangan. Brie baru saja menceritakan gosip terbaru tentang seorang kenalan lamanya yang diam-diam menikah tanpa memberi tahu siapa pun. Amber menimpali dengan komentar sarkastisnya yang selalu berhasil membuat kami tertawa. Sementara Linda, seperti biasa, hanya tersenyum sambil sesekali menambahkan kalimat yang bijak.

Aku ikut tertawa bersama mereka. Namun di sela-sela tawa itu, pikiranku sesekali melayang. Sudah seminggu berlalu sejak makan siang bersama keluarga Roux. Dan sejak hari itu, aku belum melihat Mason lagi.

Aku melirik ponselku yang tergeletak di meja. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, dan tidak ada apa pun darinya. Aku menghela napas kecil, lalu mencoba kembali fokus pada percakapan kami.

“Jadi,” kata Brie tiba-tiba, menatapku dengan senyum penuh arti. “Bagaimana kabar calon suamimu?”

Aku yang sedang minum hampir tersedak. Amber pun langsung tertawa keras. “Lihat wajahnya!” katanya sambil menunjukku.

Linda mencondongkan tubuh sedikit ke arahku, matanya penuh rasa ingin tahu. “Aku juga ingin tahu, Hazel.” katanya lembut.

Aku menutup wajahku sebentar dengan tangan. “Jangan mulai,” gumamku.

Namun mereka sudah terlalu tertarik untuk berhenti. Brie bersandar di sofa sambil menyilangkan kaki. “Ceritakan semuanya.”

Aku terdiam sejenak. Sebenarnya aku tidak tahu harus mulai dari mana. Pertemuanku dengan Mason hanya terjadi sekali. Namun anehnya, bayangannya seperti menempel di kepalaku sejak hari itu.

Aku akhirnya berkata pelan, “Dia tidak seperti yang kubayangkan.”

Brie mengangkat alisnya. “Maksudmu?”

Aku berpikir sebentar, mencoba mencari kata yang tepat. “Dia tidak dingin,” kataku.

Amber mengangguk. “Baiklah. Itu sudah bagus.”

“Tapi dia juga tidak hangat,” lanjutku.

Amber berhenti mengunyah camilannya. “Lalu?”

Aku menarik napas perlahan. “Dia seperti, seseorang yang menyimpan banyak hal di dalam dirinya.”

Linda tersenyum kecil. “Hmm, dia pria yang misterius.”

Aku pun mengangguk setuju. “Ya.”

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan itu. Cara Mason duduk dengan tenang, cara ia menjawab setiap pertanyaan dengan kalimat singkat, dan cara tatapan matanya terlihat jauh, seolah pikirannya selalu berada di tempat lain.

Ada sesuatu yang tidak bisa kutafsirkan. Namun justru itulah yang membuatku tertarik. Aku pun tersenyum kecil tanpa sadar. “Entah kenapa, meski begitu, aku tetap menyukainya.”

Kalimat itu membuat ketiga sahabatku langsung bereaksi. Brie berdiri dramatis dari sofa. “Hazel Frost sedang jatuh cinta!”

Amber pun tertawa. “Aku tidak percaya akhirnya hari ini datang juga.”

Linda menatapku dengan senyum lembut. “Dan itu pada pria yang bahkan baru kau temui sekali.”

Pipiku terasa panas. “Aku tidak bisa menjelaskannya,” kataku pelan.

Namun dalam hati aku tahu satu hal, bahwa perasaan ini nyata. Aku menatap ponselku lagi. “Tapi…”

Mereka langsung menoleh. “Dia belum menghubungiku.”

Brie langsung mengangkat bahu. “Ini baru seminggu, Hazel.”

Amber menambahkan santai, “Pria seperti Mason Roux pasti sibuk.”

Linda mengangguk pelan. “Ya. Dia pasti memiliki tanggung jawab besar.”

Aku tahu mereka benar. Namun tetap saja, ada sedikit rasa kecewa yang sulit kuabaikan. Amber kemudian menatapku lebih serius. “Hazel, kau tidak perlu terlalu memikirkannya.”

Brie menimpali, “Lagipula kau bahkan belum pernah berkencan sebelumnya.”

Aku tertawa kecil. “Itu tidak membantu, Brie.”

Linda pun tersenyum. “Justru itu.” sahutnya. Ia menatapku hangat. “Mason adalah cinta pertamamu.”

Aku terdiam. Kalimat itu terasa begitu nyata ketika diucapkan dengan lantang. Ya, Mason adalah pria pertama yang membuat jantungku berdetak seperti ini. Pria pertama yang membuatku memikirkan masa depan dengan cara yang berbeda.

Hingga akhirnya, tiba-tiba ponselku berdering. Dan semua mata langsung tertuju padanya. Brie pun sontak menunjuk ponselku dengan dramatis. “Angkat.”

Aku meraih ponsel itu. Dan nama di layar ponselku membuatku sedikit terkejut. Sarah Roux. Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Aku mengangkat panggilan itu dengan gugup. “Halo, Nyonya Roux.”

Suara Sarah terdengar hangat dari seberang. “Hazel, sayang. Apakah aku mengganggumu?”

“Tidak sama sekali,” jawabku cepat.

Ia lalu tertawa kecil. “Aku menelepon karena Mason ingin mengajakmu makan malam.”

Aku langsung membeku. Jantungku seolah berhenti sejenak sebelum kemudian berdetak jauh lebih keras.

Sarah melanjutkan perkataannya, dengan nada santai. “Hanya saja… dia terlalu malu untuk mengatakannya sendiri.”

Aku berkedip beberapa kali. Malu? Pria seperti Mason Roux? “Benarkah?” tanyaku pelan.

Sarah tertawa lagi. “Dia memang seperti itu, Hazel.”

Dan aku pun mencoba menenangkan napasku yang mendadak terasa memburu, seperti baru saja berlari marathon dari jarak yang cukup jauh.

“Jika kau tidak keberatan,” lanjut Sarah, “sopir akan menjemputmu pukul delapan malam ini.”

Aku menutup mata sejenak. “Tentu saja,” jawabku akhirnya.

“Sampai nanti malam, Hazel.”

Telepon pun berakhir. Aku masih menatap layar ponselku selama beberapa detik, hingga akhirnya ketiga sahabatku sudah berdiri di sekelilingku seperti detektif yang menunggu pengakuan.

Brie hampir berteriak. “Apa yang terjadi?!”

Amber mencondongkan tubuh ke arahku. “Itu siapa?”

Linda memiringkan kepala. “Kenapa wajahmu merah?”

Aku menarik napas pendek, sebelum menjawab. “Mason mengajakku makan malam pukul delapan malam ini.”

Ruangan itu pun langsung meledak oleh teriakan. Brie bahkan melompat dari sofa. “Kencan pertama!”

Amber langsung melihat jam di dinding. “Astaga, Hazel! Kau punya waktu kurang dari dua jam!”

Linda sontak berdiri dengan ekspresi serius. “Kita harus bersiap.”

Sebelum aku sempat berkata apa pun, mereka sudah menyeretku menuju kamar. Segalanya berubah menjadi kekacauan kecil yang lucu. Amber berdiri di depan kamar mandi sambil menunjuk pintu. “Mandi sekarang.”

Brie sudah membuka lemari pakaianku. Linda mulai mengeluarkan beberapa kotak aksesori. Aku bahkan tidak sempat berpikir, karena semuanya terasa begitu cepat.

Setelah mandi, aku keluar dari kamar mandi dengan rambut masih setengah basah. Di atas tempat tidur sudah terbentang sebuah gaun. Gaun itu tampak sederhana namun elegan.

Brie menunjuknya. “Ini yang paling cocok.”

Amber mengangguk. “Tidak terlalu mencolok, tapi cukup membuat seseorang sulit mengalihkan pandangan.”

Lalu, Linda membantu menyisir rambutku dengan lembut. Amber mulai merias wajahku. Dan aku duduk diam di depan cermin. Perlahan-lahan wajah di cermin itu pun berubah, menjadi lebih anggun, dan lebih dewasa. Namun juga terlihat gugup.

Hingga akhirnga, suara ketukan di pintu kamar tiba-tiba terdengar. Bibi Meryl, salah satu pelayan di rumahku membuka pintu sedikit. “Nona Hazel, sopir dari keluarga Roux sudah menunggu di bawah.”

Brie langsung berseru. “Sudah waktunya!”

Amber berkata cepat, “Jangan membuatnya menunggu.”

Dan, Linda pun memelukku sebentar. “Semoga malam ini indah.”

Aku turun ke ruang tamu bersama mereka. Di bawah sana, kulihatbIbu sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia menatapku dengan sedikit terkejut. “Hazel?”

Aku tersenyum gugup. “Mason mengajakku makan malam, Bu.”

Wajah Ibu pun langsung berubah cerah. “Itu kabar baik.”

Ia mendekat dan merapikan rambutku sedikit. “Bersenang-senanglah malam ini, Hazel.”

Aku pun langsung mengangguk sembari tersenyum. Setelah berpamitan pada ibu dan sahabat-sahabatku, aku berjalan keluar rumah. Mobil keluarga Roux sudah menunggu di depan sana. Seorang sopir langsung membuka pintu untukku, dan tanpa membuang-buang waktu lagi, aku pun masuk ke dalam mobil milik keluarga Roux tersebut.

Ketika pintu tertutup, dunia di luar terasa lebih sunyi. Mobil pun mulai bergerak perlahan meninggalkan rumah. Lampu-lampu kota mulai menyala di luar jendela. Dan tanganku tanpa sadar menggenggam lipatan gaunku. Saat ini, jantungku berdetak begitu cepat.

Aku menatap pantulan wajahku di kaca mobil. Malam ini, aku akan bertemu Mason lagi. Pria yang sejak pertemuan pertama telah mencuri begitu banyak ruang di pikiranku. Mobil terus melaju di jalan yang diterangi lampu kota. Dan satu pertanyaan terus berputar di kepalaku.

'Apakah malam ini Mason akhirnya akan membuka sedikit hati untukku?'

1
Dew666
😍😍
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!