Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 06
Eva menenguk minumannya, melirik Flery yang sedang duduk di dekatnya dengan menyelupkan kakinke air.
Sudah seminggu mereka berlatih pedang bersama, tapi rasanya Flery yang berlatih padanya dari pada dia yang dilatih. Terlebih Eva merasakan perbedaan kekuatan dia dan Flery.
"maaf ya kau harus berlatih dengan ku yang payah" Flery tersenyum kecil, sadar tatapan Eva.
"ah tidak kok, sebetulnya ini akal-akalan ku saja agar bisa kemari membawa pedang" Eva menyeringai, merasa tidak enak dengan Flery.
Karena akan berlatih dengan Eva, Flery setiap di istana pasti lebih giat berlatih. Tidak peduli ketika Felix mencemohnya karena terlalu lemah ketika menyerang, dia tidak peduli. Asal dia bisa lebih mengimbangi Eva saat berlatih itu sudah cukup.
Eva memberikan roti isi buatannya pada Flery, mereka makan siang seperti biasa disana,di dekat air terjun.
"kau ada masalah Flery?" Flery sedikit tersedak karena Eva bertanya hal yang jarang dia tanya.
Eva panik, mengulurkan air ke Flery dan mengelus punggungnya agar membaik.
"ah tidak apa, kenapa kamu tanya begitu van?" ujar Flery ketika sudah lega. Menatap manik berkilau Eva yang indah.
"mmmm, entah apa perasaan ku saja, kamu seperti ada beban pikiran gitu". Evaelihatbke air terjun. "tidak hari ini saja, tapi sejak kita bertemu lagi yang kedua. wajahmu_kelihatan sedang ada masalah".
"yah masalahnya ada padamu Eva, bagaimana kalau kau tau aku pangeran negeri Odelions. apa kau akan tetap sama seperti ini?" batin Flery.
Yah selain dirinya yang harus mencari cara agar bisa naik tahta, Flery takut Eva akan menjauh saat mengetahui kalau dia pangeran kedua negeri Odelions, dia lebih takut Eva membenci nya dari pada apapun sekarang.
Yah benar kata seseorang tentang cinta pada pandangan pertama itu ada, dia sudah merasakannya. Walau Flery tau Eva hanya menganggap nya sebagai teman, tapi_ bisa jadi di masa depan berbeda cerita.
"tidak ada, aku hanya berpikir kenapa gak dari dulu aku ke Ilos. kan akhirnya kita bisa bertemu lebih cepat dan berkenalan lebih dulu" Flery tersenyum kecil.
Eva terkekeh, "oh itu. tetap saja kita akhir nya bertemu kan, kamu akan tau tentang ku jika sering bertemu di desa"
Flery tersenyum, "yah sayangnya aku sangat sibuk sekali,Kau kan tau."
Ketika mereka asik mengobrol, Flery menarik Eva kedalam dekapan dan tiarap. Sebuah panah melesat hampir mengenai Eva jika Flery tidak gesit.
Eva kaget dengan serangan dadakan itu, melihat ke arah hutan. "apa itu pasukan Odelions?".
"kurasa bukan", Flery menatap tajam "karena mereka sudah ku larang ke area ini, kalau bukan pasukan Odelions jangan bilang_"
selusin pasukan muncul menyerang mereka, Flery dan Eva segera menarik pedang dan melawan.
Bagi Eva sedikit mudah melawan beberapa orang, namun lain dengan Flery. Dia belum pernah disituasi seperti ini, karena kondisi fisik yang lemah. Jadi dia sedikit kesulitan menghadapi mereka.
"FLERY" wajah Eva panik ketika melihat Flery terjatuh.
Flery tidak mau membuat Eva cemas, dengan cepat bangkit dan mencoba Melawati batas kemampuannya. Dia tidak ingin jadi beban Eva, tidak untuk sekarang.
Flery tidak peduli kalau tubuhnya mulai kelelahan, dia hanya ingin melindungi Eva.lain cerita untuk Eva, gadis itu mati-matian segera menyelesaikan untuk menolong Flery.
Selesai memukul mereka untuk pergi, Eva bergegas menghampiri Flery dan memeluknya. Wajah panik dan ketakutan terlihat di mata Flery ketika melihat wajah Eva.
"Flery lukamu" Eva gemetar melihat banyaknya luka goresan di kulit Flery.
Flery tersenyum, "tidak apa, kamu tidak lukakan".
Eva membantu Flery untuk mendekat ke air terjun. Membantu Flery untuk melepas pakaian atasnya untuk mengobati semua lukanya.
Eva membersihkan luka Flery dengan kain yang dia basahkan dari mata air yang ada tumbuhan langkah, punggung sampai lengan Flery penuh dengan goresan.
Eva menumbuk beberapa herbal untuk dioleskan ke luka Flery, sedangkan yang terluka hanya bisa mengamati wajah Eva.
"akan ku oles sendiri, kamu juga harus membersihkan darah di bajumu kan?" Flery menatap baju dan pedang Eva.
Eva menggeleng, "lukamu yang parah ada di punggung, memang bisa kau oleskan. Dan untuk noda akan ku urus itu nanti".
Eva mengoleskan tumbukan herbal ke luka Flery perlahan, wajahnya sangat serius kala sedang mengoleskan obat ke tubuh Flery.
"kalau kau tidak kuat seharusnya lari, jangan memaksakan diri seperti itu" Eva berkata pelan di belakang Flery.
"martabatku sebagai laki-laki terhina Eva, aku lebih baik seperti ini dari pada meninggalkan seorang gadis di tangan mereka", kekeh Flery.
"Hais sesuka kamu aja deh" Flery tersenyum mendengar Eva yang menghela nafas pasrah.
Selesai mengobati Flery, Eva membersihkan pedangnya yang penuh darah, Flery mengamati Eva yang sedang sibuk sendiri.
Eva yang mengikat rambutnya dengan model kuda, sangat terlihat lebih menyegarkan, terlihat berani dan semangat.
"semakin lama, semakin jatuh saja ya perasaan ini" batinnya.
...****************...
Felix melangkah santai menuju istana putra mahkota, tidak peduli pada pelayan atau penjaga yang menyapa.
selesai mengurus rapat dan masalah perbatasan, akhirnya dia bisa kembali ke istana untuk istirahat. sebenarnya lebih mudah jika dia kerjakan di istana putra mahkota, hanya saja tidak mungkin kan ada orang permaisuri yang akan merusaknya.
Felix menoleh melihat ke gerbang utama, disana Flery baru saja kembali dari berburu di hutan. Walau terlihat aneh jika melihatnya rajin berburu seperti it_
"yang mulia " Felix menoleh.
Flery jatuh pingsan dan dipapah beberapa pelayan dan kesatria, permaisuri yang setiap hari menunggu panik melihat putranya jatuh pingsan.
Dari jaraknya Felix tidak bisa melihat apa yang terjadi pada adiknya, yang dia dengar dari penjaga yang mengiringinya berburu berkata, Flery diserang bangsa bar-bar saat berburu sendiri.
Felix melihat wajah Flery sekilas sebelum dibawa ke istana untuk dirawat, sebenci apapun dia dengan Flery, tetap saja mereka memiliki satu darah yang sama. Darah kaisar mengalir dalam mereka berdua, mereka saudara. Jadi wajarkan dia marah mendengar bangsa bar-bar menyerangnya seorang diri.
Felix mengirimkan perintah untuk mengumpulkan kesemua penjaga yang mengiringi Flery di ruang latihan. Wajahnya sedikit lebih gelap dari siapapun dan perintah itu dia rahasia kan dari permaisuri dan Flery sendiri.
Saat diruang latihan, para penjaga menatap ketar-ketir ketika Felix masuk dengan aura membunuh. Mereka sangat tau apa salah mereka semua hingga di panggil oleh sang pangeran tiran, karena itu bukan kejadian yang pertama bagi mereka.
"ini kemampuan kesatria sekelas omega, membiarkan pangeran negeri Odelions terluka oleh bangsa bar-bar!" Felix mengambil cambuk.
"ampun yang mulia, pangeran Flery yang_ AAAAA!!", jerit salah satu penjaga yang dapat cambukan keras di wajahnya.
Felix mencambuk mereka Tampa ampun hingga mereka terkapar, Felix mengelap tangannya yang penuh darah dan meminta penjaga bayangannya untuk membereskan mereka dan meminta mereka untuk Menganti pengawal Flery yang baru.
Felix melangkah menuju istana putra mahkota melewati taman yang dekat dengan kamar Flery, ini dia lakukan agar bisa mencuri dengar keadaan adiknya itu.
"Flery sayang, harusnya kamu kabur saat bertemu suku bar-bar. Kamu tau kan kondisimu" Felix mulai mendengar nada khawatir sang permaisuri.
"aku hanya melawan beberapa ibunda, lukanya mungkin akan diejek kakak kalau dia tau aku bahkan tidak bisa menumbangkan satupun" Felix diam menyimak.
"tapi karena ini semua kamu mulai demam, kau Taukan luka sedikitpun kamu akan jatuh sakit" keluh permaisuri.
"yah itu tandanya aku akan merepotkan ibunda lagi" Felix bergegas pergi ketika sudah cukup mendengar kondisi Flery.
Jauh dilubuk hatinya, dia berharap bisa akur dengan adiknya barang seperti dulu,sebelum dia diusulkan naik kursi pangeran mahkota. Karena catatan menganggap nya anak kandung permaisuri, padahal hanya anak diluar nikah.
Felix ingat dulu Flery waktu kecil, ketika dia diam-diam menghampiri nya karena penasaran setiap di area latihan, awal mereka mulai menjadi kakak beradik yang akur sebelum semuanya menjadi berubah.
Felix tau tahta bukan keinginan terbesarnya, dia hanya ingin menjaga orang yang dia sayangi. Jika naik tahta itu mampu menjaga mereka dia rela menanggung beban itu, karena dia tau seberapa beratnya memerintah. Dan dia juga sangat tau kondisi adiknya.
"kamu hanya tergores sedikit saja sudah demam tiga hari Flery, bagaimana aku tega membiarkan kursi penguasa kau pegang" gumamnya pelan.
Sampai di kamarnya, dia meminta beberapa pelayan memanggil Brian untuk menuju kamarnya. Dan dia berganti pakaian yang cukup santai, dilihat burung kesayangan nya masih diam tenang di jendela, menunggu nya untuk memberikan perintah.
Felix tersenyum dan mengangguk, membuat burung itu terbang menuju tempat yang seperti biasanya di negeri Ilos.
"Felix ku dengar kau membantai pengawal yang menemani Flery" Felix menoleh ke pintu.
"mereka bukan sekelas beta Brian, sekali lagi pelatihan mereka akan sekelas alpha. Menjaga keluarga kerajaan mereka tidak benar" Felix menatap Brian.
Brian menghela nafas, duduk di sofa kamar Felix sembari menyantap beberapa buah yang disediakan pelayan. "lalu apa mau memanggilku, bukan untuk mengomel kan".
"ku rasa bangsa bar-bar belum jera dengan pembantaian waktu itu" Felix mengambil belati dan menyentuh sisi tajamnya, "berani menyentuh keluarga kerajaan Odelions, ku rasa aku masih berbelas kasih waktu itu".
Brian terbatuk hampir tersedak, bergegas menegak minuman yang tentu sudah selalu ada di kamar Felix, menatap horor sahabat sekaligus tuannya itu.
"kau gila Felix, ingat ada berita wabah penyakit di sekitar Bangsa bar-bar dan negeri Ilos yang mulai masuk ke Odelions, jangan nyalakan api perang atau kau mau melihat rakyatmu menjadi mayat semua", ujarnya
Felix menatap belatinya sebentar, lantas tersenyum miring. Membuat bulu kuduk Brian berdiri melihat nya.
"ah mengingat wabah penyakit itu, bukannya gejalanya adalah orang dengan tanda kelelahan panjang hingga muntah darah, lalu berakhir dengan kematian" Felix menatap Brian.
"sepertinya kau punya ide gila selain perang ", Brian bergidik melihat Felix
Felix tersenyum miring, "yah bukankah akan aneh jika Felix yang dijuluki tiran hanya diam saja ketika salah satu keluarga nya di lukai, bangsa bar-bar akan mendapat hadiah indah dariku kali ini".
Brian bergidik, sial sekali yang menjadi musuh bagi tiran satu ini.
...****************...