NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Bayangan di Balik Tirai

Malam itu, bulan tertutup awan tebal. Langit Kota Qingyun gelap gulita, seolah alam sendiri sedang menahan napas sebelum bencana terjadi. Angin berhembus pelan, membawa aroma asap dari perapian penginapan dan ketegangan yang tak kasat mata.

Lin Fan berjongkok di atas atap genteng bangunan samping, tepat di belakang suite utama Yan Lie. Ia mengenakan pakaian hitam ketat yang ia jahit sendiri dari sisa kain tirai tua, memungkinkannya bergerak tanpa suara. Di pinggangnya, terselip sebuah pisau dapur kecil yang telah diasah hingga setajam silet—bukan untuk membunuh, tapi untuk memotong tali atau mengungkit kunci jika diperlukan.

Di tangannya, ia memegang sebuah kantung kecil berisi bubuk putih. Itu adalah Bubuk Tidur Anjing, racun ringan buatan Lin Yue yang tidak mematikan, tetapi cukup kuat untuk membuat manusia biasa pingsan selama satu jam. Untuk kultivator Level 5 ke atas, efeknya hanya akan berlangsung beberapa detik, tapi itu sudah cukup bagi Lin Fan.

"Ingat," bisik Lin Yue dari balik tembok rendah di bawah, suaranya hampir tak terdengar berkat teknik transmisi suara dasar yang diajarkan ayahnya. "Ada dua penjaga di depan pintu. Satu di dalam kamar, kemungkinan besar Yan Lie sendiri sedang bermeditasi. Aku akan menciptakan suara keributan di dapur lima menit lagi. Saat itu, kau harus masuk."

Lin Fan mengangguk, meski Lin Yue tidak bisa melihatnya. Jantungnya berdebar kencang, namun pikirannya dingin seperti es. Ia mengalirkan Qi ke matanya, meningkatkan penglihatan malamnya. Ia bisa melihat siluet dua penjaga yang berdiri tegak di depan pintu ganda kayu jati itu. Mereka waspada, tangan mereka terus berada di gagang pedang.

Lima menit.

Lin Fan menunggu. Detik demi detik terasa seperti jam. Ia mengamati pola patroli penjaga. Setiap tiga puluh detik, mereka menoleh ke kiri dan kanan. Ada celah waktu sekitar dua detik saat punggung mereka saling membelakangi. Itu adalah jendela kesempatannya.

Tiba-tiba, dari arah dapur di ujung kompleks, terdengar suara pecahan porselen yang keras, diikuti teriakan panik.

"Aduh! Api! Dapurnya terbakar!"

Dua penjaga di depan pintu Yan Lie langsung menoleh ke arah suara itu. Insting mereka tergoda untuk memeriksa, namun tugas utama mereka adalah menjaga Tuan Muda.

"Kau jaga di sini, aku cek sebentar," kata salah satu penjaga kepada rekannya.

"Tunggu—"

Sebelum penjaga kedua bisa menyelesaikan kalimatnya, Lin Fan bergerak.

Ia tidak melompat turun, melainkan meluncur dari atap menggunakan tali tipis yang ia ikatkan pada cerobong asap, mendarat dengan lembut di balkon belakang suite Yan Lie. Balkon itu tertutup tirai tebal, namun Lin Fan mendengar suara napas berat dari dalam. Yan Lie ada di sana.

Lin Fan merayap mendekati pintu geser kaca. Ia menempelkan telinganya. Di dalam, terdengar suara aliran energi yang deras, seperti ombak laut. Yan Lie sedang dalam sesi kultivasi intensif. Ini berbahaya. Mengganggu kultivator saat mereka menyerap energi bisa membuat mereka kehilangan kendali dan meledakkan ruangan. Tapi ini juga peluang terbaik. Fokus Yan Lie terpecah antara mempertahankan aliran Qi dan menjaga kewaspadaan eksternal.

Lin Fan mengambil jarum kecil dari sakunya—jarum akupuntur yang dicuri dari kotak obat Lin Yue. Ia menyuntikkan sedikit racun tidur ke celah pintu, lalu meniupkannya perlahan ke dalam ruangan melalui celah kecil di bawah pintu. Racun itu berbentuk gas tak berwarna, dirancang untuk diserap melalui napas.

Satu menit berlalu.

Aliran energi di dalam ruangan sedikit goyah. Napas Yan Lie menjadi lebih berat.

Dia mulai merasa kantuk, batin Lin Fan. Efeknya bekerja lebih cepat karena Yan Lie menarik napas dalam-dalam saat kultivasi.

Namun, tiba-tiba, aura panas meledak dari dalam ruangan. Pintu geser terbuka paksa dengan hentakan Qi!

Yan Lie berdiri di ambang pintu, matanya merah menyala, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya bukan wajah orang yang mengantuk, melainkan wajah predator yang marah.

"Siapa di luar sana?!" raungnya.

Lin Fan terpaku. Racun itu gagal? Atau Yan Lie memiliki resistensi racun tingkat tinggi?

Yan Lie menatap ke arah balkon kosong, namun instingnya menangkap keberadaan Lin Fan yang bersembunyi di balik pilar batu. "Keluar! Aku tahu kau di sana, semut!"

Tidak ada gunanya bersembunyi lagi. Lin Fan melangkah keluar dari bayangan, tangan kanannya memegang pisau dapur, tangan kirinya siap melepaskan teknik defensif.

Yan Lie tertawa terbahak-bahak, tawa yang penuh ejekan. "Oh? Pelayan pagi tadi? Kau berani mengintipku? Apakah kau ingin mati begitu cepat?"

"Aku tidak datang untuk mengintip," kata Lin Fan tenang, meskipun keringat dingin mengalir di punggungnya. "Aku datang untuk menawarkan perdagangan."

Yan Lie mengangkat alis, merasa lucu. "Perdagangan? Dengan sampah sepertimu? Apa yang bisa kau tawarkan padaku? Hidupmu yang menyedihkan?"

"Informasi," kata Lin Fan. "Tentang 'Biji Api Abadi' yang kau cari."

Wajah Yan Lie berubah seketika. Tawanya berhenti. Aura membunuh yang tajam menusuk udara, membuat bulu kuduk Lin Fan berdiri. Yan Lie melangkah maju, jarak antara mereka menyusut menjadi hanya tiga meter.

"Dari mana kau tahu tentang itu?" desisnya, suaranya rendah dan berbahaya. "Jika kau berbohong, aku akan mencabut lidahmu sebelum membakar tubuhmu menjadi abu."

Lin Fan menelan ludah, namun tetap menatap mata Yan Lie. "Aku mendengarnya dari pembicaraan Eldermu dengan Kepala Klan Lin siang tadi. Mereka berencana meledakkan fondasi kota besok malam. Itu bodoh. Ledakan itu akan merusak struktur tanah dan mungkin mengubur Biji Api itu lebih dalam, atau bahkan menghancurkannya karena guncangan."

Yan Lie menyipitkan mata. "Lanjutkan."

"Aku tahu lokasi alternatif," bohong Lin Fan. Sebenarnya dia tidak tahu. Tapi dia butuh waktu. Dia butuh Yan Lie ragu. "Ada peta kuno di perpustakaan terlarang Clan Lin. Ayahku... dulu pernah bekerja di sana sebelum dia hilang. Dia meninggalkan petunjuk untukku. Jika kau membantuku, aku bisa memberimu peta itu. Sebagai gantinya, batalkan rencana ledakan besok malam."

Yan Lie diam sejenak, menilai Lin Fan. Otaknya yang cerdas segera menganalisis. Memang, ledakan besar berisiko merusak artefak kuno. Dan pemuda ini terlihat tenang, tidak seperti orang yang sedang menggertak kosong.

"Dan mengapa aku harus percaya padamu?" tanya Yan Lie.

"Karena kau tidak punya pilihan lain," jawab Lin Fan blak-blakan. "Jika kau meledakkan kota dan Biji Api itu hancur, Eldermu akan memenggal kepalamu karena kegagalan. Jika kau membunuhku sekarang, kau kehilangan satu-satunya petunjuk menuju peta itu. Aku adalah asetmu, bukan musuhmu."

Keheningan mencekam meliputi balkon itu. Angin berhembus kencang, menerbangkan rambut merah Yan Lie.

Akhirnya, Yan Lie menurunkan tangannya yang sebelumnya siap menyerang. Senyum miring muncul di bibirnya.

"Kau licik, pelayan. Lebih licik dari wajah polosmu. Baiklah. Aku akan memberikanmu satu kesempatan. Besok malam, sebelum waktu ledakan, bawa peta itu kepadaku. Jika itu palsu..." Yan Lie menggesekkan ibu jari dan telunjuknya, menciptakan percikan api biru kecil. "...kau akan merasakan panas neraka secara langsung."

"Aku akan membawanya," janji Lin Fan.

"Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran dan membunuhmu untuk hiburan," usir Yan Lie, lalu berbalik masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras.

Lin Fan menghela napas lega, kakinya lemas. Ia baru saja berjalan di atas tali tipis di atas jurang maut. Ia berhasil menunda eksekusi, setidaknya untuk sementara.

Ia melompat turun dari balkon, mendarat di halaman belakang, dan segera berlari menuju titik pertemuan dengan Lin Yue.

Saat ia bertemu Lin Yue di balik semak-semak, gadis itu tampak cemas.

"Apa yang terjadi? Aku mendengar suara ledakan Qi! Apakah kau ketahuan?"

Lin Fan menggeleng, wajahnya pucat namun matanya bersinar. "Tidak. Aku berhasil menundanya. Yan Lie membatalkan ledakan besok malam, dengan syarat aku memberinya 'peta' ke Biji Api Abadi dalam 24 jam."

Lin Yue terbelalak. "Peta? Tapi tidak ada peta seperti itu! Ayahku bilang itu hanya mitos!"

"Aku tahu," kata Lin Fan sambil tersenyum tipis, senyuman yang penuh rencana. "Itulah sebabnya kita tidak akan memberinya peta. Kita akan memberinya jebakan."

"Jebakan?"

"Ya. Kita akan mengarahkan mereka ke lokasi yang salah. Lokasi di mana tanah tidak stabil, atau mungkin... tempat sarang Beast Raja yang sedang tidur. Jika Yan Lie dan anak buahnya pergi ke sana, mereka akan sibuk bertarung untuk hidup mereka, bukan meledakkan kota kita."

Lin Yue menatap Lin Fan dengan kekaguman campuran ketakutan. "Itu... itu gila. Jika mereka tahu kita menipu mereka, mereka akan memburu kita sampai ke ujung dunia."

"Mereka akan sibuk terlalu lama untuk menyadari penipuan itu sampai kita sudah jauh," kata Lin Fan. "Selain itu, aku punya ide lain. Selama mereka sibuk di hutan, kita bisa menyusup ke gudang senjata mereka dan mencuri Batu Spirit serta pil-pil mereka. Kita akan menggunakan kekayaan mereka untuk memperkuat diri kita sendiri."

Lin Yue ternganga. "Kau ingin merampok Clan Yan?"

"Bukan merampok," koreksi Lin Fan. "Ambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak orang-orang kecil yang mereka injak-injak. Apakah kau ikut, atau kau ingin menunggu kotamu hancur?"

Lin Yue menggigit bibirnya, lalu mengangguk tegas. "Aku ikut. Tapi kita butuh bantuan. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian."

"Kita tidak butuh bantuan orang lain," kata Lin Fan. "Kita hanya butuh persiapan. Malam ini, kita akan meracuni persediaan air kuda-kuda perang mereka. Bukan racun mematikan, tapi pencahar kuat. Kuda yang sakit tidak bisa menarik kereta perang atau membawa prajurit dengan cepat. Itu akan memperlambat respons mereka."

Lin Yue tertawa kecil, tawa yang jarang ia keluarkan. "Kau benar-benar jahat, Lin Fan."

"Aku belajar dari guru terbaik," jawab Lin Fan sambil menatap ke arah penginapan yang megah. "Dari orang-orang seperti Yan Lie dan Lin Hu."

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!