HAI... Readers nya LeoRa_
Author cuma mau kasih tau kalo novel yang ini bakal di buat ulang dan tentunya perlu waktu.
Semoga, perbaikan kali ini menarik perhatian kalian... aku tunggu dukungannya...
Mengetahui fakta bahwa ia lahir di luar nikah akibat perbuatan jahat ayah biologisnya yang dengan tega menghancurkan masa depan wanita yang dicintainya -ibu- membuatnya bertekat untuk membalaskan rasa sakit ibunya tersebut dengan caranya sendiri.
Terlebih ketika dia tahu bahwa skenario yang Tuhan ciptakan begitu menarik, membuatnya bersedia mengambil peran yang sudah di siapkan untuknya.
Peran yang mengizinkannya untuk memegang kendali penuh atas hidupnya.
Seperti ketika keluarga ayah biologisnya memaksa untuk menggantikan nama keluarga di belakang namanya. Dengan lantang dan tegas ia menekankan.
"I AM SHIENOLL DALLETRA!!!"
😊ini karya pertamaku, semoga kalian suka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeoRa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IASD-6
"Wa..wajah itu...! Mata! Hidung! Mulut! Apa-apaan ini...! Si*lan! Kenapa mirip sekaliiiii...!!!" -batin Namika syok hingga tak dapat berbuat apa-apa selain jarinya menunjuk ke arah bocah tampan di hadapannya dengan gemetar tak percaya.
Ingin rasanya ia mengatakan bahwa penglihatannya mengalami masalah, tapi sayangnya itu tidak benar. Faktanya ia selalu melakukan pemeriksaan dan perawatan menyeluruh pada tubuhnya secara rutin untuk memastikan bahwa dari ujung kepala hingga ujung kaki selalu sehat.
Sebelumnya, setelah sesi curhat antara dua wanita muda itu di depan ruko milik Sherina, mereka memilih masuk untuk melanjutkan obrolan yang lain sekaligus memperkenalkan pangeran kecil Sherina pada sahabatnya. Tapi, siapa sangka hal yang tak terduga terjadi!
Tatapan pertama yang beradu saat Sherina mengajak Namika menemui putranya yang ada di dalam rumah adalah tatapan yang bisa membuatnya buta.
Namika ingin mengumpat keras saat ini tapi otaknya masih menunjukkan kewarasan akan sosok kecil di depannya yang masih polos dan bersih jiwanya. Bibirnya bergetar karena menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata mutiara berlebih dan lagi sahabatnya -Sherina- pasti akan murka bila ia bersikap demikian di depan anaknya yang masih kecil.
Sementara sang pangeran kecil itu hanya menunjukkan wajah polos dan lugunya di hadapan kedua wanita muda tersebut membuat mereka tak menyadari bahwa saat ini otak kecil milik Shienoll tengah berpikir keras akan suatu hal.
"Kenapa menatapku seperti itu?! Apa ada yang salah denganku?!" -batinnya berseru bingung.
Matanya yang menyorot polos itu menyiratkan tatapan menyelidik tanpa di sadari. Mengamati dengan seksama reaksi yang di berikan bibinya.
"Tidak! Tidak ada yang salah dariku! Itu pasti sesuatu yang lain namun masih berkaitan denganku! Tapi, apa?!" -batinnya lagi berujar penasaran.
Puk!
Di pukulnya pundak Namika oleh Sherina, bermaksud menyadarkannya dari sikap terkejutnya. Dan benar, Sherina tahu apa yang menyebabkan Namika bereaksi seperti itu.
"Jangan berlebihan!" ingatnya. Namika yang mendengarnya segera membenarkan sikapnya meski tatapannya tetap tidak berpaling dari bocah tampan di hadapannya.
"Arrgh... Kenapa harus sampai semirip itu... Huh! Bisa gawat bila mereka melihatnya. Tidak ada alasan untuk tidak segera mengambil tindakan. Bagaimana ini?!" -batin Namika gelisah dan Shienoll menangkap hal itu.
Masih dalam mode polos dan lugu layaknya anak 5 tahun pada umumnya. Orang dewasa benar-benar di kelabui olehnya.
"Bibi, kau sudah membuat rasa penasaranku memuncak! Kau harus bertanggung jawab! Aku akan mengorek semua informasi mengenai mama, aku, dan papa darimu!" -batin Shienoll menegas tajam penuh tekat dan ambisi.
Namika menarik nafas dalam dan panjang berusaha menenangkan diri atas keterkejutannya. Setelah dirasa cukup tenang ia langsung memulai perkenalan.
"Ehem! Hai... Perkenalkan namaku Namika Jou, sahabat mamamu sejak kecil yang berarti aku adalah bibimu. Walau bukan bibi kandung. Kau bisa memanggilku bibi Mika seperti mamamu. Ku harap aku punya kesan yang cukup baik untukmu." kata Namika kikuk. Pasalnya, semenjak ia beranjak dewasa belum pernah sekalipun berkenalan dengan bocah yang pantas di sebut anak olehnya dan kini ia bahkan sudah punya keponakan. Tampan lagi, meski sialnya sangat mirip dengan ******** itu.
Shienoll tersenyum manis yang polos. "Hai... Bibi Mika. Namaku Shienoll Dalletra. Bibi bisa memanggilku Shie seperti orang-orang atau Noll seperti mama memanggilku. Itu panggilan sayang mama untukku." balasnya lantang hingga membuatnya semakin menggemaskan. Namika di buat meleleh olehnya hingga ia lupa kalau bocah tampan itu adalah anak si baj*ngan yang di bencinya.
"Hah! Tampannya! Meskipun mereka mirip bahkan tampak seperti 'pinang dibelah dua', tapi aura pangeran kecil Nana jauh lebih menyejukkan hati untuk di rasa. Berbeda dengan si kep*rat itu! Bicara soal dia benar-benar menguras emosi! Huh!" -batin Namika memuji Shienoll dan di akhiri mengumpat pria yang tak lain adalah ayah biologis Shienoll.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan memanggilmu seperti Nana memanggilmu. Noll! Panggilan yang bagus untuk pangeran kecil Nana!" ujarnya sambil menampilkan senyum terbaiknya yang teramat tulus berselimut haru.
Tak pernah menyangka, inilah hasil dari kebejatan pria itu. Anugrah yang tak tertandingi. Namika hanya bisa berdoa yang terbaik untuk pasangan ibu dan anak itu.
Setelah acara perkenalan usai. Sherina, Shienoll, dan Namika melakukan obrolan seru di lantai atas rukonya. Dimana lantai atas tersebut menjadi tempat tinggal ibu dan anak itu sebagai tempat bernaung.
"Jadi, sebentar lagi kau ulang tahun, Noll?" Namika bertanya dengan antusias dan Shienoll menjawab dengan anggukannya yang polos.
Putra Sherina itu merasa senang dengan situasi saat ini. Karena sebelumnya ia hanya sedikit berinteraksi dengan orang-orang yang menerimanya meski statusnya tidak jelas dan itu pun bukan dia yang memulai.
Oleh karena itu, kehadiran bibinya sekarang ini adalah sebuah peluang besar baginya untuk belajar berkomunikasi dengan banyak orang sekaligus secara perlahan menyelidiki masa lalu ibunya dan yang sangat ingin ia ketahui adalah...
Siapa ayahnya!
"Kapan?" tanya Namika lagi seraya menatap Sherina meminta jawaban.
Sherina hanya tersenyum dan menoleh ke arah putranya memberi isyarat agar ia sendiri yang memberitahukannya.
"Minggu depan, bibi!" serunya membuat Namika berpaling kearahnya dengan binar antusias dimatanya.
"Benarkah?! Lalu, berapa usiamu nanti?! 6-kah?! Bila di hitung memang segitu." rentetan tanya di lontarkan oleh Namika dengan akhiran kening yang mengernyit seraya mengangkat jarinya untuk isyarat berhitung.
"Tepat sekali!" jawab Shienoll.
Kembali beralih ke sahabatnya. "Apa kau akan membuat pesta perayaan untuknya?" tanya Namika dengan isi kepala yang sudah di penuhi ide pesta untuk keponakannya. Mendengar itu Sherina hendak menjawab tapi sudah lebih dulu di sela oleh Shienoll.
"Tidak perlu! Tidak perlu ada pesta atau apapun itu!" tolak Shienoll mentah-mentah sambil menggelengkan kepalanya. Namika sampai terhenyak kaget di buatnya.
"Tapi, kenapa?" tanya Namika.
Kemudian ia menatap bingung keponakannya dan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Pangeran tampan Sherina menolak usulan pesta darinya?! Sungguh mengejutkan!
Namika sampai mengamati Shienoll secara menyeluruh dari ujung kepala hingga kaki dan jawabannya hanya satu...
Dia masih bocah!
Lalu, kenapa ia menolak?! Biasanya anak kecil akan sangat senang bila ulang tahunnya di rayakan dengan harapan akan ada banyak hadiah yang ia terima nantinya.
Shienoll tersenyum tipis begitu menangkap kebingungan yang nyata pada bibinya.
"Aku ini Shienoll Dalletra, bibi! Bukan anak seumurku yang lain." lugasnya. "Kalau mereka menginginkan pesta maka aku sebaliknya." lanjutnya bijak di iringi senyuman polosnya. Sherina tersenyum bangga melihatnya.
"Huh?!" bingung Namika yang menjadi. Masih tak mengerti jalan pikiran keponakannya ini.
"Ini benar seorang bocah?! Dia... Bagaimana seorang anak tidak menyukai pesta ulang tahun?! Nana... Kau melahirkan putra yang seperti apa?! Ya ampun, aku baru sadar. Sikapnya memang sudah berbeda sejak perkenalan tadi! Dia sudah dewasa sebelum waktunya!" -batinnya di selubungi kebingungan dan rasa tak percaya.
Sungguh bukan masalah sulit untuk membaca raut wajah seseorang dan Shienoll tidak hanya membacanya tapi juga memahami hingga kedalamnya.
"Dari pada membuat pesta. Aku lebih suka quality time bersama keluarga." tukasnya tenang namun tegas.
Sherina yang melihatnya semakin terharu.
"Ayah, lihatlah... Cucumu ini mirip sekali denganmu. Aku bahagia melihatnya..." -batinnya sendu senang sambil mengilas balik ke masa ia masih bersama orang tuanya.
Duduk tenang seraya mengusap bibir gelas dengan ujung jarinya secara perlahan. Ia melamun dengan pikiran yang berkelana entah kemana hingga tak menyadari langkah kaki seseorang medekatinya. Bahkan ketika orang tersebut duduk di depannya pun ia tak juga tak tersadar dari lamunannya.
Sreet...
Kursi di hadapannya di tarik dan kemudian diduduki dengan gerakan santai. Matanya menyorot bingung melihat gadis di depannya tampak melamun. Di ulurkan tangannya untuk menyentuh punggung tangan gadis yang tak lain adalan Namika. Entah apa yang di lamunkan mereka.
"Hei... Kau baik-baik saja?" suara lembut dan sentuhan Sherina menyadarkannya, segera ia mendongak melihat Sherina yang kebingungn karenanya.
Gadis tomboy itu tersenyum segaris dan setelahnya mengeleng pelan. "i'm okay!" jawabnya dengan nada rendah yang semakin membuat Sherina penasaran.
"Ingin bercerita?" mendengar pertanyaan itu membuat Namika menatap dalam sahabatnya dalam.
"Kalau kulihat, kau cukup tenang menjalani semua ini." serunya pelan memancing helaan nafas Sherina dalam.
Ibu muda itu tersenyum tipis menanggapinya. "Tidak ada alasan untuk aku mempersulit hidupku." katanya sambil menatap tautan tangannya di atas meja makan karena saat ini mereka tengah berada di ruang makan mini milik Sherina.
Namika menoleh ke arah pintu kamar Shienoll yang tadi telah pamit untuk melanjutkan belajarnya yang sebenarnya sudah tertunda banyak waktu karena mengobrol dengan bibi yang baru di temuinya.
"Dia benar-benar belajar?" tanyanya.
"Eum..." jawab Sherina sambil bangkit dan berjalan menuju lemari es. Di bukanya dan ia mengambil sebotol jus jeruk siap saji dan mengambil 2 gelas kaca, kemudian membawanya ke meja makan. Tempat mereka saat ini duduk bersama saling berhadapan.
Kembali menghadap Sherina yang tampak tengah menungang air jus tersebut.
"Dia terlihat sepertimu." seru Namika.
Menyodorkan segelas jus untuk sahabatnya dan untuk dirinya. Di tenggak jus tersebut seteguk seraya melirik sahabatnya yang ia yakini sedang dalam suasana hati yang bimbang.
Tak!
Di letakkannya gelas itu sedikit keras tanpa sengaja. Emosinya mengalir begitu saja.
Menatap lurus kedalam mata gadis tomboy tersebut. "Jangan berbelit, Mika! Katakan segera apa yang ingin kau katakan. Ini bukan seperti kau yang dulu." ujar Sherina jengkel.
Membalas tatapan mata jengkel sahabatnya dengan tatapan serius. "Shienoll! Dia tampak berbeda! Tak seperti anak usia 5 atau 6 tahun pada umumnya. Aku merasa seperti itu. Apa aku benar?" tanya Namika memastikan yang sebenarnya bukan itu intinya.
"Ouh... Ku kira apa." jawabnya santai membuat Namika memandang heran padanya.
"Kau menyadarinya?" Sherina langsung memberikan tatapan aneh pada sahabatnya.
"Pertanyaan macam apa itu?! Jelas aku tahu. Aku ibunya. Aku yang melahirkannya dengan bertaruh nyawa. Kau ini ada-ada saja." menggelengkan kepalanya heran.
"Jadi..." ekspresinya menuntut dan Sherina mau tak mau ia harus menjelaskan.
Menghela nafas singkat sebelum menjawab. "Pria kecilku itu istimewa. Karena itu aku ingatkan padamu. Jangan sekali-kali menujukkan perasaanmu melalui ekspresi atau apapun itu. Kau harus tenang bila ingin rahasia mu tetap aman." jelasnya singkat, tapi sepertinya Namika masih belum puas mendengarnya.
Sherina kembali melanjutkan. "Dia sangat peka. Sedang aku tak bisa apa-apa saat aku tidak bisa membendung luka lamaku di hadapannya ketika kami hanya berdua." ia tersenyum pedih dengan pandangan kosong. "Ingin menyembunyikan semua hingga waktunya tepat ternyata tidak bisa ku lakukan. Noll... Mungkin tampak polos dan lugu seolah-olah ia tidak bisa merasakan apapun yang terjadi di sekitarnya. Tapi, kau akan terjebak saat ia ingin melakukannya demi mendapatkan apa yang ia inginkan." lanjutnya membuat Namika bingung.
"Maksudmu?"
Menoleh untuk membalas tatapan penasaran Namika. "Dia tahu, kalau dia lahir di luar nikah." jawab Sherina lirih tapi masih dapat di dengar oleh Namika.
Bagai petir yang menyambar di siang hari, Namika membelalakkan matanya terkejut bukan main. Itu bukanlah masalah sepele, pikirnya.
"Lalu, apa tanggapannya?" tanyanya hati-hati.
Tersenyum yang tersirat ketidaktahuan. "Seperti yang kau lihat..." jawabnya lagi untuk kesekian pertanyaan sahabatnya.
Namika hanya menggelengkan kepalanya tak menyangka. Melihat bagaimana bocah itu bersikap tadi sebenarnya membuat Namika iba, tapi kini. Haruskan ia iba?!
semangat thor buat up nya 💪💪