we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 pelanggan yang tidak bisa pulang
Suasana di dalam toko berubah semakin
tegang.
Kalung hitam di leher Tetua Morcant membuat seluruh kekuatannya tertekan, seolah ada sesuatu yang menahan aliran energi di tubuhnya.
Namun yang paling mengerikan bukan itu—
Tetua Morcant justru tidak bisa melepasnya.
Ia mencoba lagi.
Tangannya menggenggam kalung itu, menariknya kuat.
Tetapi kalung itu tidak bergerak sedikit pun.
Seolah sudah menjadi bagian dari dirinya.
Wanita berambut merah dari Rasi Bintang menatap kejadian itu dengan wajah pucat.
“Relik penyegel level legenda... mengunci targetnya secara permanen...” gumamnya.
Pria berkacamata sampai tidak bisa berkata apa-apa.
Ini bukan lagi sekadar toko.
Ini adalah tempat di mana hukum dunia terasa berbeda dari biasanya.
We Lin menghela napas panjang.
“Kalau tidak bisa dilepas, nanti saya coba cari mekanisme pelepasnya,” katanya santai.
Hening.
Kalimat itu membuat semua orang membeku.
Seolah benda yang baru saja menahan kekuatan seorang tokoh legendaris itu hanya “barang dengan mekanisme khusus yg dapat di buka dengan sesuka hati”.
Tetua Morcant menatap We Lin lama.
Bukan lagi tatapan seorang penyelidik.
Tapi tatapan seseorang yang mencoba memahami sesuatu yang berada di luar pemahamannya sendiri.
“Pemuda...” ucapnya pelan. “Kau tidak menyadari apa yang ada di tempat ini.”
We Lin mengangkat bahu.
“Aku cuma menjaga toko perhiasan ini.”
Jawaban itu membuat Morcant terdiam.
Karena terlalu sederhana untuk seseorang yang berada di tengah fenomena seperti ini.
Tiba-tiba—
Sebuah gelang kecil di rak bawah bergetar.
We Lin langsung waspada.
“Eh, jangan aktif lagi...”
Namun terlambat.
Gelang itu melayang keluar dan berhenti di depan Morcant.
Tetua Morcant tidak mundur.
Ia hanya menatap gelang itu lama.
“Relik lain lagi...”
Dan tanpa perlawanan—
Klik.
Gelang itu terpasang di pergelangan tangannya.
Detik berikutnya.
Wuuush!
Segel di tubuh Morcant sedikit berubah.
Bukan hilang.
Tapi stabil, seperti energi yang terlalu liar sedang ditenangkan.
Mata Morcant sedikit melebar.
“Segel ini... menyeimbangkan kekuatan dalam tubuh.”
Pria berkacamata hampir jatuh.
“Itu bukan relik biasa... itu artefak pengatur energi tingkat tinggi!”
We Lin menghela napas.
“Syukurlah kalau tidak rusak.”
Namun di luar toko—
Langit mulai terasa berat.
Seolah sesuatu yang besar sedang memperhatikan tempat itu.
Tanpa disadari siapa pun, keberadaan toko itu perlahan menjadi titik perhatian banyak kekuatan yang sebelumnya tidak pernah saling bersinggungan.
Dan semuanya dimulai dari satu hal sederhana:
Sebuah toko perhiasan yang perhiasannya… tidak pernah benar-benar “diam”.
Suasana di dalam toko kembali sunyi.
Namun sunyi itu bukan ketenangan.
Melainkan tekanan yang membuat udara terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.
Tetua Morcant perlahan menatap gelang di pergelangan tangannya. Cahaya tipis berwarna keperakan bergerak pelan mengikuti aliran energi di tubuhnya, menenangkan kekuatan yang sebelumnya kacau akibat kalung hitam.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki toko itu—
Aura miliknya menjadi stabil.
Wanita berambut merah dari Rasi Bintang menelan ludah pelan.
“Aku pernah membaca catatan kuno tentang artefak penyeimbang energi...” katanya lirih. “Tapi benda seperti itu seharusnya sudah punah ratusan tahun lalu.”
Pria berkacamata langsung mengangguk cepat.
“Benar… bahkan kerajaan besar pun belum tentu memiliki satu.”
Tatapan mereka perlahan kembali menuju rak-rak toko.
Kalung penyegel.
Gelang penyeimbang energi.
Dan entah berapa banyak benda lain yang masih terlihat “biasa” di tempat itu.
Mereka mulai menyadari sesuatu yang mengerikan—
Mungkin benda paling berbahaya di toko ini justru adalah benda yang belum aktif.
We Lin sendiri malah terlihat semakin pusing.
Ia memandangi rak bawah dengan waspada.
“Jangan ada yang bergerak lagi ya...” gumamnya pelan.
Anehnya—
Beberapa perhiasan yang tadi sempat bergetar perlahan kembali diam.
Seolah benar-benar mendengar perkataannya.
Tetua Morcant memperhatikan itu dengan tatapan dalam.
Artefak tingkat tinggi biasanya memiliki kehendak samar.
Namun benda-benda di toko ini bukan hanya memiliki respons—
Mereka seperti mengenali We Lin sebagai pemiliknya.
Hal itu jauh lebih mustahil.
Tiba-tiba—
Lampu kecil di langit-langit toko berkedip pelan.
Seketika seluruh artefak di dalam ruangan ikut memancarkan cahaya samar.
Tidak kuat.
Hanya sesaat.
Namun cukup membuat jantung semua orang berdegup keras.
Wanita berambut merah langsung mundur satu langkah.
“Apa sekarang ada lagi yang aktif?!”
We Lin cepat melihat sekitar.
“Bukan! Kayaknya cuma... mereka saling bereaksi.”
“‘Mereka saling bereaksi’ katanya...” pria berkacamata hampir putus asa mendengar cara We Lin menjelaskan situasi mengerikan itu dengan nada santai.
Tetua Morcant perlahan menutup matanya sesaat.
Ia bisa merasakan sesuatu.
Seluruh artefak di toko ini seolah terhubung oleh satu aliran yang sama.
Dan pusatnya—
Adalah toko itu sendiri.
Atau mungkin…
Pemuda bernama We Lin.
Saat Morcant membuka mata kembali, tatapannya berubah semakin serius.
“Pemuda,” ucapnya pelan. “Mulai hari ini... banyak pihak akan datang ke tempat ini.”
We Lin berkedip bingung.
“Untuk beli perhiasan?”
Hening.
Bahkan wanita dari Rasi Bintang sampai memegang dahinya.
Tetua Morcant menghela napas panjang.
“Semoga memang hanya itu tujuan mereka.”
Di luar toko—
Angin malam mulai berembus lebih dingin.
Beberapa burung hitam beterbangan meninggalkan atap bangunan sekitar, seolah merasakan sesuatu yang tidak wajar.
Dan jauh di atas langit—
Awan gelap perlahan membentuk pusaran samar.
Seakan dunia mulai menyadari keberadaan sebuah tempat yang seharusnya tidak pernah muncul di kota kecil itu.
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada lagi artefak yang aktif.
Namun tekanan di dalam toko justru terasa semakin aneh.
Tetua Morcant masih berdiri di tempatnya sambil memandangi gelang dan kalung yang kini terpasang di tubuhnya.
Sementara itu, wanita berambut merah akhirnya menghela napas panjang.
“Aku sudah cukup melihat kegilaan untuk satu hari.”
Pria berkacamata langsung mengangguk cepat setuju.
“Aku juga. Kalau aku tetap di sini lebih lama, jantungku bisa berhenti.”
We Lin hanya tertawa kecil canggung.
“Maaf ya... toko hari ini agak ramai.”
Hening.
Tetua Morcant sampai memejamkan mata sesaat.
“aku tidak menyangka bahwa perhiasan di toko ini bisa di kendalikan sebegitu mudahnya oleh penjaga toko perhiasan" gumam pria berkacamata lirih.
Wanita dari Rasi Bintang perlahan berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah rak-rak toko.
Tatapannya dipenuhi kewaspadaan.
“Pemuda,” katanya serius kepada We Lin. “Kalau ada orang mencurigakan datang ke tempat ini... jangan sembarangan menunjukkan semua benda di tokomu.”
We Lin mengangguk polos.
“Tenang. Aku biasanya menunjukkan perhiasan.”
Kalimat itu justru membuat wanita itu semakin tidak tenang.
Karena kalau penjaga toko mengeluarkan perhiasan aja sudah seperti ini—
Mereka tidak berani membayangkan apa yang disimpan di bagian belakang toko.
Pria berkacamata juga perlahan mundur menuju pintu.
Sebelum pergi, ia sempat membungkuk kecil ke arah Tetua Morcant.
“Tetua... saya akan segera melaporkan kejadian malam ini.”
Morcant hanya menjawab dengan anggukan pelan.
Kring~
Pintu toko terbuka.
Langkah kaki wanita berambut merah dan pria berkacamata semakin menjauh hingga akhirnya menghilang.
Kini hanya tersisa We Lin dan Tetua Morcant.
Suasana toko menjadi jauh lebih sunyi.
Lampu di langit-langit memancarkan cahaya hangat redup, sementara rak-rak perhiasan tetap diam seolah tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya.
Tetua Morcant masih berdiri di tempatnya.
Kalung hitam di lehernya belum menghilang.
Gelang perak di pergelangan tangannya terus menjaga energi di tubuhnya tetap stabil.
We Lin yang sedang merapikan kotak perhiasan akhirnya berhenti sejenak.
Ia melirik Tetua Morcant.
“Hmm?”
“Tetua belum pulang?”
Morcant terdiam sesaat sebelum menyentuh kalung hitam di lehernya.
“Belum bisa.”
Tatapan We Lin perlahan jatuh pada kalung itu.
“Oh…”
Nada suaranya tetap biasa.
Seolah baru mengingat sesuatu kecil.
Beberapa detik berlalu.
Lalu We Lin berjalan mendekat.
Morcant diam-diam menegang.
Namun We Lin hanya berdiri di depan kalung hitam itu sambil memiringkan kepala sedikit.
“Masih aktif rupanya.”
Hening.
Pupil mata Morcant sedikit mengecil.
Kalimat itu terdengar terlalu tenang.
Terlalu sederhana.
Seolah segel yang mampu menekan kekuatannya hanyalah benda biasa yang sedang “aktif”.
We Lin lalu mengetuk pelan meja kayu di sampingnya.
Tok.
“Kalau sudah cukup, jangan ganggu tamu terus.”
gumamnya pelan ke perhiasan yang ada di dalam toko
Detik berikutnya—
Kalung hitam itu tiba-tiba meredup sedikit.
Tekanan di ruangan ikut melemah.
Mata Tetua Morcant langsung berubah.
Ia bisa merasakan dengan jelas.
Artefak itu…
Merespons ucapan We Lin.
Namun We Lin sendiri hanya mengangguk kecil.
“Nah.”
“Lebih tenang.”
Ia lalu kembali membereskan meja seperti tidak terjadi apa-apa.
Sementara Tetua Morcant masih membeku di tempatnya.
Pikirannya mulai kacau.
Artefak tingkat legenda memiliki kehendak sendiri.
Bahkan para master relik kuno hanya bisa mencoba beresonansi dengan benda seperti itu.
Tetapi pemuda ini…
Baru saja berbicara pada artefak penyegel seperti sedang menenangkan anak kecil.
Dan yang lebih mengerikan—
Artefak itu benar-benar mendengarnya.
We Lin membuka salah satu laci meja lalu mengeluarkan teko teh.
“Duduk dulu, Tetua.”
“Kayaknya benda itu belum mau lepas sekarang.”
Morcant perlahan duduk tanpa sadar.
Tatapannya masih tertuju pada We Lin.
Sementara We Lin menuangkan teh dengan santai.
Tidak ada aura kuat.
Tidak ada tekanan energi.
Tidak ada sikap seorang ahli tersembunyi.
Namun justru itulah yang membuat Morcant semakin sulit bernapas.
Karena hanya ada dua kemungkinan.
Pemuda ini benar-benar orang biasa.
Atau…
Keberadaannya sudah melampaui batas yang bahkan tidak bisa dipahami dirinya.