NovelToon NovelToon
Asisten Tak Terduga

Asisten Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."

Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.

Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara di Meja Makan

Sinar matahari pagi menembus tirai tipis di kamar penthouse mewah itu, memaksa Nabila untuk membuka mata dengan enggan. Tidurnya tidak nyenyak sama sekali; bayangan pesan misterius semalam dan posisi kabedon Kenzo terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Namun, ketukan keras di pintu kamarnya membuat kesadarannya pulih seketika.

"Nabila, bangun! Ibuku sudah di lobi," suara bariton Kenzo terdengar mendesak dari balik pintu.

Nabila melompat dari tempat tidur, menyambar handuk, dan bersiap secepat kilat. Hanya dalam sepuluh menit, ia sudah keluar mengenakan gaun simpel berwarna pastel yang ia temukan di lemari—tampaknya Kenzo memang sudah menyiapkan segalanya. Begitu ia sampai di ruang tengah, ia melihat Kenzo sedang menata meja makan, namun pria itu berhenti dan menatap Nabila tanpa berkedip selama beberapa detik.

"Jangan hanya berdiri di sana. Duduklah di sampingku. Dan ingat, panggil aku dengan namaku saja, jangan pakai 'Pak'," bisik Kenzo tepat saat bel pintu berbunyi.

Pintu terbuka, dan Ibu Sofia masuk dengan gaya elegan yang mengintimidasi. Matanya langsung menyisir seluruh ruangan sampai tertuju pada Nabila yang duduk kaku di meja makan.

"Jadi, kalian benar-benar sudah tinggal bersama?" tanya Ibu Sofia, nada suaranya tajam namun penuh selidik.

"Seperti yang Mama lihat," jawab Kenzo santai sambil menarik kursi untuk ibunya. Ia kemudian duduk tepat di samping Nabila, begitu dekat hingga paha mereka bersentuhan. Kenzo meraih tangan Nabila di atas meja dan menggenggamnya erat. "Nabila butuh waktu untuk menyesuaikan diri, jadi aku memintanya pindah lebih cepat."

Nabila berusaha tersenyum meski tangannya dingin karena gugup. "Benar, Tante... maksudku, Ma. Kenzo sangat perhatian."

Ibu Sofia menyesap tehnya, matanya tak lepas dari tangan mereka yang bertautan. "Kenzo, aku tidak pernah melihatmu seposesif ini pada wanita mana pun. Apa yang membuat asisten ini begitu istimewa?"

Kenzo menoleh ke arah Nabila, menatapnya dengan pandangan yang begitu dalam sampai-sampai Nabila hampir lupa kalau ini semua hanya akting. "Dia berbeda. Dia satu-satunya orang yang tidak takut membantahku, dan entah kenapa, aku suka itu."

Satu poin untuk Kenzo. Nabila bisa melihat rahang Ibu Sofia sedikit melunak. Namun, ujian sebenarnya datang saat sarapan dimulai. Ibu Sofia mulai menghujani Nabila dengan pertanyaan tentang latar belakang keluarganya. Setiap pertanyaan terasa seperti ranjau bagi Nabila, mengingat pesan ancaman semalam.

"Keluargamu di mana, Nabila? Aku dengar ayahmu dulu seorang pengusaha juga?"

Nabila tersedak air putihnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia melirik Kenzo, mencari bantuan. Kenzo, seolah bisa membaca pikiran Nabila, langsung merangkul bahu Nabila dan menariknya mendekat.

"Ma, jangan diinterogasi sekarang. Nabila sedang fokus membantuku mengurus proyek di Dubai. Soal keluarga, nanti ada waktunya kita bincangkan di pertemuan formal," potong Kenzo tegas.

"Aku hanya ingin tahu siapa yang masuk ke keluarga Aditama, Kenzo. Jangan terlalu melindungi," balas Ibu Sofia, namun ia akhirnya beralih ke topik lain.

Selesai sarapan, Ibu Sofia pamit, namun sebelum pergi, ia membisikkan sesuatu di telinga Nabila yang membuat gadis itu mematung. "Aku akan mencari tahu segalanya, Nak. Pastikan kamu tidak menyembunyikan sesuatu yang bisa menghancurkan anakku."

Setelah pintu tertutup, Nabila lemas dan merosot di kursinya. Pegangan tangan Kenzo akhirnya terlepas.

"Terima kasih sudah membantuku tadi, Pak... eh, Kenzo," ucap Nabila lirih.

Kenzo berdiri, merapikan jasnya yang sudah kembali kaku seperti sikapnya. "Jangan senang dulu. Ibuku bukan orang bodoh. Dan pesan yang kau terima semalam... aku sudah tahu."

Nabila tersentak. "Bapak tahu? Bagaimana?"

Kenzo mengambil ponsel Nabila dari meja (dia pasti mengambilnya saat Nabila mandi tadi). "Aku mengawasi semua lalu lintas data di apartemen ini. Siapa pun yang mengirim pesan itu, dia sedang bermain api denganku. Tapi satu hal yang perlu kau jawab jujur, Nabila..."

Kenzo melangkah mendekat, mengurung Nabila di antara tubuhnya dan meja makan, persis seperti pose di cover novel mereka. "Apa benar ayahmu ada hubungannya dengan kerugian Aditama Group sepuluh tahun lalu?"

Nabila menahan napas. Rahasianya sudah di ujung tanduk. Jika ia berbohong, Kenzo pasti tahu. Jika ia jujur, perlindungan ini akan berakhir menjadi kehancuran.

"Aku... aku tidak tahu pastinya, Kenzo," bisik Nabila dengan mata berkaca-kaca.

Kenzo terdiam lama, menatap lekat ke dalam mata Nabila yang mulai basah. Alih-alih marah, Kenzo justru mengusap air mata yang jatuh di pipi Nabila dengan ibu jarinya. "Kalau begitu, kita cari tahu bersama. Tapi ingat, jika kau mengkhianatiku, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu lebih dari yang dilakukan musuh-musuhmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!