NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Labirin Kecanggungan Domestik

Pintu kayu ek Apartemen Rue de Rivoli tertutup dengan bunyi klik pelan yang entah kenapa terasa memekakkan telinga di tengah kesunyian lorong. Bunyi itu seolah menjadi tanda titik bagi drama gila yang baru saja terjadi di L'Arpège.

Kiandra tidak menunggu sedetik pun; ia segera melepaskan genggaman tangannya dari tali tas kecilnya, lalu melangkah cepat menyusuri lantai kayu Haussmann tanpa berani menoleh ke belakang.

Ia bisa merasakan sepasang mata hazel milik Enzo Romano sedang mengawasi punggungnya. Tatapan itu terasa berat, seolah-olah sedang menembus kain sutra biru gaunnya dan menyentuh kulit punggungnya secara langsung.

Enzo berdiri tegak di dekat gantungan mantel, masih dalam balutan jas hitam mewahnya yang memancarkan aura dominasi yang menyesakkan.

Kiandra mendorong pintu kamarnya dengan gerakan setengah panik. Begitu tubuhnya menyelinap masuk, ia segera menutup pintu itu rapat-rapat.

Klik. Klik.

Kunci kuningan berputar dua kali. Kiandra merosot bersandar pada daun pintu, membiarkan tubuhnya meluncur jatuh hingga duduk di atas lantai yang dingin. Ia memeluk lututnya yang masih gemetar hebat, sementara napasnya memburu tidak beraturan, menciptakan uap tipis di udara kamar yang gelap gulita.

Telapak tangannya naik, menangkup wajahnya yang terasa membara hebat. Panasnya seolah bisa digunakan untuk memanggang roti.

"Bibirku... beneran disegel sama dosen pembantai itu," gumam Kiandra parau.

Ia meraba bibir bawahnya dengan ujung jari yang masih bergetar. Rasanya masih ada sisa tekanan di sana. Masih ada denyut halus yang tertinggal, sebuah residu dari ciuman yang seharusnya tidak pernah terjadi. Otaknya yang biasanya encer mendadak korslet, memutar ulang adegan di restoran tadi dengan resolusi 4K yang menyiksa.

"Kenapa dia harus pakai gigit segala, sih? Itu kan... itu kan ilegal!" batinnya berteriak absurd.

"Apa dia pikir bibirku itu sepotong steak medium rare yang perlu diuji teksturnya? Dan kenapa aku malah diam saja? Harusnya aku tampar dia, atau siram pakai wine, atau... atau apa saja selain menikmati permainan bibirnya!"

Kiandra membenamkan wajahnya di antara lutut. Keheningan kamar itu mendadak terasa sangat menyiksa kesadarannya. Selama lima belas detik, ia hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup brutal, menghantam tulang rusuknya seperti genderang perang yang tidak mau berhenti.

\*\*\*

Di luar lorong, Enzo Romano masih berdiri di tempat yang sama. Ia tidak langsung menuju kamarnya. Langkah kakinya yang lambat dan berat akhirnya membawanya berhenti tepat di depan pintu kayu kamar Kiandra.

Enzo mengangkat tangan kanannya. Dengan gerakan yang sangat pelan, ia menyentuh bibir bawahnya sendiri menggunakan ujung ibu jari yang hangat. Sudut bibirnya berkedut tipis, membentuk sebuah senyum miring yang sangat samar.

Ia masih bisa merasakan sisa kehangatan manis dan aroma samar lipstik merah bata milik Kiandra yang tertinggal di sana.

"Piccola," bisiknya sangat rendah, nyaris tidak terdengar.

Enzo mengembuskan napas perlahan, mencoba menetralkan gairah yang sempat tersulut di restoran tadi. Ia menurunkan tangannya, lalu berbalik dan berjalan kembali menuju kamarnya sendiri dengan langkah yang tenang namun penuh kemenangan.

\*\*\*

Pagi hari berganti dengan cepat, membawa cahaya matahari musim gugur yang pucat menembus tirai tipis dapur komunal apartemen. Sinar itu jatuh di atas meja marmer, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di antara peralatan masak perak milik Enzo.

Kiandra berdiri kaku di depan konter marmer. Matanya terlihat sedikit sembab, tanda bahwa ia menghabiskan malamnya dengan bergulat melawan pikiran-pikiran liar. Ia memegang teko keramik dengan jemari yang masih sedikit gemetar, mencoba memusatkan fokus untuk menyeduh teh chamomile.

Ia butuh sesuatu yang menenangkan, sesuatu yang bisa mengusir rasa kantuk dan kecemasan yang menggumpal di ulu hatinya.

Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat dari arah lorong.

Punggung Kiandra menegang seketika. Ia mengenali irama langkah itu. Irama yang selalu berhasil membuat oksigen di sekitarnya mendadak menipis.

Enzo muncul dari kegelapan lorong. Pagi ini ia tidak mengenakan kemeja kaku. Ia hanya mengenakan kaos hitam polos yang membungkus ketat dada bidang atletisnya, memperlihatkan definisi otot bahu dan lengannya yang kokoh.

Rambut cokelat gelapnya berantakan, jatuh di dahi dengan gaya messy-chic yang memberikan kesan santai namun tetap memancarkan dominasi alami yang mengintimidasi.

Kiandra membalikkan tubuhnya perlahan, berusaha memasang wajah sedatar mungkin, seolah-olah kejadian semalam hanyalah mimpi buruk yang sudah ia lupakan.

"Pagi," cicit Kiandra. Suaranya terdengar agak serak. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lantai kayu, tidak berani menatap mata hazel yang ia tahu sedang mengawasinya.

Enzo tidak menyahut dengan ejekan malas atau sindiran tajam seperti biasanya. Ia hanya bergumam pelan merespons sapaan itu, sebuah suara bariton rendah yang terdengar sangat berat di telinga Kiandra.

Enzo berjalan mendekati mesin kopi espresso. Aroma kopi pahit yang kuat segera menguar, memenuhi ruangan dan bercampur dengan aroma maskulin khas yang selalu melekat pada tubuh pria itu. Jarak di antara mereka menyusut drastis, menyisakan ketegangan tak kasat mata yang sangat pekat di udara dapur yang lembap.

Kiandra mengangkat cangkir tehnya, berniat untuk segera kabur ke kamar. Namun, gerakan tangannya yang kaku justru membuat sendok perak di dalam cangkir menyenggol pinggiran keramik dengan keras.

KLANG!

Bunyi denting nyaring itu memecah keheningan dapur yang kaku. Kiandra mematung, wajahnya seketika merona merah padam karena malu atas kecerobohannya sendiri.

Enzo menghentikan aktivitasnya di depan mesin kopi. Ia memutar tubuhnya perlahan, menyandarkan pinggulnya pada tepian konter marmer, lalu menatap Kiandra lurus-lurus dari jarak yang sangat dekat. Mata hazel-nya yang tajam memindai wajah Kiandra, mengunci mata cokelat gelap gadis itu dengan intensitas yang menghimpit.

Tidak ada senyum miring provokatif pagi ini. Tatapan Enzo terasa sangat dalam, serius, dan menuntut jawaban.

"Kamu tidak tidur semalam, Piccola?" tanya Enzo. Nadanya berat, terdengar sangat serius tanpa ada jejak candaan.

Kiandra menelan ludah dengan susah payah. Ia mencengkeram erat gagang cangkir tehnya yang hangat, merasakan panasnya merambat ke telapak tangannya.

"Aku tidur nyenyak," bohong Kiandra. Matanya bergerak panik ke arah rak bumbu, menghindari tatapan tajam Enzo yang seolah bisa membaca setiap kebohongannya.

Enzo melangkah maju satu tapak. Gerakan itu begitu tiba-tiba hingga Kiandra refleks mundur selangkah sampai punggungnya menempel pada pinggiran konter yang dingin.

"Bohong," bisik Enzo.

Ia merundukkan wajahnya sedikit, mengamati lingkaran hitam tipis yang menghiasi bawah mata Kiandra. Jarak wajah mereka kini hanya tersisa sejengkal.

Selama delapan detik, ketegangan intim yang menyesakkan menyelimuti mereka di antara deru mesin kopi yang masih bekerja. Kiandra menahan napas, dadanya naik-turun cepat. Ia merasa terperangkap dalam sangkar yang terbuat dari aroma dan tatapan pria di depannya.

"Minggir, aku harus bersiap ke kampus sekarang," desis Kiandra, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya yang nyaris habis.

Enzo tidak bergeser satu inci pun. Sebaliknya, ia justru meraih cangkir teh dari tangan Kiandra dengan gerakan yang sangat tenang, lalu meletakkannya ke atas meja di samping mereka.

Jemari hangat Enzo menyentuh pergelangan tangan Kiandra sekilas—sebuah sentuhan singkat yang mengirimkan gelombang kehangatan yang membuat seluruh tubuh Kiandra mendadak kaku.

"Jangan menghindar dariku di kampus nanti," ucap Enzo. Suaranya rendah, penuh penekanan berwibawa yang tidak menerima bantahan.

Kiandra tertegun. Ia menatap rahang tegas Enzo yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya. Ada sesuatu dalam nada bicara Enzo yang membuatnya merasa bahwa kejadian semalam telah mengubah segalanya. Tidak ada lagi jalan untuk kembali menjadi sekadar dosen dan mahasiswi yang asing.

Tiba-tiba, dari arah ruang tengah, ponsel Kiandra yang tergeletak di atas meja kayu bergetar brutal.

BZZZ... BZZZ... BZZZ...

Bunyi getaran itu memecah fokus mereka seperti sebuah alarm darurat. Kiandra segera memanfaatkan momen itu untuk menyelinap pergi dari kurungan lengan Enzo. Ia berjalan cepat menuju ruang tengah, jantungnya masih berdegup tak karuan.

Kiandra menyambar ponselnya dengan cepat. Begitu matanya menatap layar, ia membelalak panik seketika. Seluruh aliran darah di wajahnya seolah tersedot habis.

Rentetan pesan masuk dari Mei Ling memenuhi layar, menuntut panggilan darurat saat itu juga.

Mei Ling: "KIANDRA! JAWAB TELEPONKU SEKARANG!"

Mei Ling: "KAMU KATANYA DICIUM CHEF ROMANO DI L'ARPÈGE SEMALAM?! SELURUH GRUP ANGKATAN LAGI MELEDAK, KI!"

Kiandra menjatuhkan ponselnya kembali ke atas meja. Tangannya gemetar hebat. Dunia di sekitarnya seolah runtuh dalam sekejap. Rahasia yang ia jaga mati-matian, benteng yang ia bangun dengan susah payah, baru saja hancur berkeping-keping oleh satu pesan singkat.

Ia menoleh ke arah dapur, menatap Enzo yang masih berdiri di sana dengan tenang.

"Enzo..." suara Kiandra tercekat. "Kita... kita dalam masalah besar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!