NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:375.2k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 07 - Anak Orang Lain

Rumah Damar Adhitama tidak sebesar rumah Wicaksono.

Tidak ada air mancur di depan. Tidak ada foyer marmer yang memantulkan bayangan. Tidak ada ART yang berdiri menunduk di setiap sudut.

Rumah itu berada di kawasan Kebayoran Baru, dua lantai, hangat, dengan lampu kuning dan rak sepatu yang sedikit berantakan. Di ruang tamu, ada mainan robot di bawah meja, buku gambar di sofa, dan selimut kecil yang sepertinya sering dipakai Nara untuk tidur siang.

Alina berdiri di ambang pintu, merasa asing.

Bukan karena rumah itu tidak nyaman.

Justru karena terlalu nyaman.

"Masuk," kata Damar.

Nara sudah lebih dulu berlari ke dalam. "Bi, Tante Alina kehujanan! Ambilin handuk!"

Seorang perempuan paruh baya muncul dari arah dapur. "Aduh, Non Alina basah semua. Sini, sini."

Alina hendak menolak, tapi Nara sudah menarik tangannya.

"Tante duduk dulu."

"Nara, pelan," tegur Damar.

"Tante gemetar, Pa."

Alina baru sadar tangannya memang dingin.

Bibi rumah Damar memberikan handuk dan teh hangat. Tidak ada yang bertanya kenapa ia datang membawa koper. Tidak ada tatapan menghakimi. Tidak ada kalimat perempuan baik harus sabar.

Hanya teh.

Dan handuk.

Kadang, kebaikan yang sederhana justru paling sulit diterima.

Damar meletakkan koper di sudut ruang tamu. "Kamar tamu di atas sudah siap. Kamu bisa istirahat dulu."

Alina memegang cangkir teh. "Aku tidak ingin merepotkan."

"Kamu tidak merepotkan."

"Aku bisa ke hotel."

"Dengan kondisi seperti ini?"

Alina diam.

Nara duduk di karpet di depannya, memeluk lutut. "Tante boleh tidur di kamar sebelah kamarku. Kalau takut, panggil aku."

Damar menatap anaknya. "Tante Alina tidak takut."

Nara berpikir sebentar. "Kalau sedih?"

Pertanyaan itu terlalu polos.

Alina menunduk, menatap teh yang bergetar sedikit di tangannya. "Mungkin sedikit."

Nara langsung berdiri. "Aku ambil selimut bagus."

Ia berlari ke tangga.

Damar menghela napas, tapi matanya lembut. "Dia memang begitu."

"Dia anak yang baik."

"Ibunya meninggal saat dia tiga tahun. Mungkin karena itu dia cepat membaca orang sedih."

Alina menatap Damar.

Pria itu menyebut istrinya yang telah tiada tanpa drama. Tidak ada pamer kesedihan. Tidak ada memakai kehilangan sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.

"Maaf," kata Alina pelan.

"Tidak apa-apa."

Mereka diam beberapa saat.

Hujan mengetuk kaca jendela.

Ponsel Alina kembali bergetar di meja. Nama Adrian muncul. Kali ini, Damar melihatnya.

"Mau diangkat?"

"Tidak."

"Dia tahu kamu di sini?"

"Belum."

"Dia akan tahu."

"Aku tahu."

Damar duduk di kursi seberang. "Kalau kamu butuh pengacara, aku punya beberapa kenalan."

"Aku sudah punya."

"Bagus."

Alina tersenyum kecil. "Kamu tidak bertanya apa yang terjadi?"

"Kalau kamu ingin cerita, kamu akan cerita."

Kalimat itu membuat Alina terdiam.

Selama lima tahun bersama Adrian, hampir semua percakapan harus ia mulai dengan pembelaan diri. Kenapa ia terluka. Kenapa ia marah. Kenapa sesuatu tidak adil. Kenapa ia tidak berlebihan.

Damar tidak meminta pembelaan.

Ia hanya memberi ruang.

Nara turun membawa selimut kuning besar. Anak itu hampir tersandung karena selimut terlalu panjang.

"Ini selimut keberuntunganku," katanya bangga. "Kalau pakai ini, mimpi buruk pergi."

Alina menerima selimut itu dengan hati-hati. "Kalau Tante pakai, kamu bagaimana?"

"Aku punya yang biru. Yang kuning untuk tamu penting."

Damar berdeham. "Nara."

"Apa? Tante Alina penting."

Alina memeluk selimut itu. Dadanya hangat dan sakit sekaligus.

Anak orang lain bisa berkata ia penting.

Anaknya sendiri berkata ia jahat.

Pikiran itu muncul terlalu cepat. Alina menahannya, tapi matanya tetap panas.

Nara memperhatikan wajahnya. "Tante mau nangis?"

"Tidak."

"Kalau mau, nggak apa-apa. Papa bilang orang dewasa juga boleh nangis kalau capek."

Alina tertawa pelan, kali ini lebih patah daripada lucu.

Damar menatap Nara. "Kamu sudah makan?"

"Belum."

"Kalau begitu kita makan dulu. Tante Alina juga belum makan, kan?"

Alina hendak menjawab sudah, tapi perutnya justru berbunyi kecil.

Nara langsung berseru, "Nah! Tante lapar."

Untuk pertama kali hari itu, Alina benar-benar tertawa.

*****

Mereka makan mie rebus, telur dadar, dan ayam goreng sisa makan siang yang dipanaskan lagi.

Makanan itu jauh dari menu sempurna yang biasa Alina siapkan di rumah Wicaksono. Tidak ada piring mahal. Tidak ada aturan duduk. Nara bahkan menumpahkan sedikit kuah ke meja dan hanya diminta mengambil lap sendiri.

Namun Alina makan lebih banyak daripada yang ia makan selama seminggu terakhir.

Nara bercerita tentang sekolahnya, tentang teman yang suka mengambil pensilnya, tentang lomba menggambar yang ingin ia ikuti. Sesekali ia bertanya pada Alina hal-hal kecil.

"Tante suka warna apa?"

"Biru."

"Sama kayak langit?"

"Kadang. Tapi aku lebih suka biru malam."

"Kenapa?"

Alina berpikir. "Karena bintang terlihat jelas di sana."

Nara tersenyum lebar. "Namaku Nara, tapi aku juga suka bintang."

Damar memperhatikan percakapan itu tanpa menyela.

Setelah makan, Nara membantu Bibi membawa piring. Ia tidak melakukannya dengan sempurna, tapi ia melakukannya tanpa mengeluh.

Alina menatap punggung kecil itu.

"Dia selalu begitu?"

Damar mengikuti arah pandangnya. "Tidak. Kadang dia juga rewel. Kadang malas. Kadang pura-pura tidur kalau disuruh mandi."

"Tapi dia mau membantu."

"Karena dibiasakan."

Kalimat itu menusuk Alina lebih dalam daripada yang Damar tahu.

Anak tidak lahir menghina ibunya.

Anak dibiasakan.

Arka dibiasakan melihat Alina mengalah. Dibiasakan melihat Adrian mengabaikan Alina. Dibiasakan melihat Vania diperlakukan seperti orang yang harus dimenangkan, sementara Alina selalu ada untuk dibereskan belakangan.

Lalu semua orang terkejut ketika Arka memilih perempuan yang selalu diprioritaskan ayahnya.

Alina menunduk.

"Jangan menyalahkan dirimu untuk semua hal," kata Damar.

Alina mengangkat wajah. "Aku tidak bilang apa-apa."

"Wajahmu bilang banyak."

Ia tersenyum pahit. "Mungkin aku memang salah. Aku terlalu lama membuat semuanya mudah untuk mereka."

"Membuat rumah berjalan bukan kesalahan."

"Tapi membiarkan mereka berpikir aku tidak bisa pergi mungkin iya."

Damar tidak membantah.

Kadang, tidak membantah adalah bentuk pengertian.

Ponsel Alina kembali bergetar.

Adrian lagi.

Lalu pesan.

Adrian:

Aku di rumah. Kamu di mana?

Adrian:

Arka menangis.

Adrian:

Angkat telepon.

Alina menatap pesan itu lama.

Damar berkata, "Kamu boleh jawab kalau ingin."

"Kalau aku jawab, dia akan bicara tentang Arka."

"Dan itu akan membuatmu goyah?"

Alina tidak menjawab.

Itu jawaban.

Nara kembali dari dapur, membawa dua sendok es krim. "Tante, mau?"

Alina menatap anak itu, lalu pesan Adrian.

Ia mematikan layar ponsel.

"Mau."

Nara tersenyum puas dan menyerahkan satu sendok.

"Kalau Tante mau, besok aku bisa bantu bawa kardus," kata Nara tiba-tiba.

"Kardus apa?"

"Kardus pindahan. Orang yang pergi dari rumah biasanya punya banyak kardus."

Damar hampir tersedak air putih. "Nara."

Alina menatap anak itu, lalu tertawa pelan. "Mungkin nanti."

Malam itu, Alina memilih es krim murah di rumah orang lain daripada tangisan yang dipakai untuk menariknya kembali ke rumah besar.

Pilihan kecil.

Tapi ia tahu, hidup baru sering dimulai dari pilihan kecil yang tidak terlihat heroik.

*****

Di rumah Wicaksono, Adrian berdiri di kamar utama yang setengah kosong.

Lemari Alina terbuka. Beberapa pakaian masih tertinggal, tapi barang-barang penting sudah hilang. Meja riasnya rapi, terlalu rapi, seperti tidak pernah dipakai.

Di atas nakas, ia menemukan seikat kunci rumah.

Alina meninggalkan semuanya.

Termasuk kunci.

Adrian menggenggam kunci itu sampai buku jarinya memutih.

Arka menangis di kamar sebelah, Ratna mencoba menenangkannya dengan berkata Mama hanya sedang marah.

Tapi Adrian memandang lemari kosong itu dan untuk pertama kalinya merasa kalimat itu mungkin salah.

Alina tidak sedang marah.

Orang marah masih ingin didengar.

Alina pergi tanpa menunggu didengar.

Ponselnya bergetar.

Ia berharap itu balasan dari Alina.

Ternyata Vania.

Vania:

Adrian, aku dengar Alina pergi. Maaf, ini semua salahku.

Adrian membaca pesan itu, tapi tidak langsung membalas.

Matanya kembali ke kunci di tangannya.

Rumah besar itu tetap penuh orang.

Ibunya.

Arka.

ART.

Sopir.

Keamanan.

Tapi untuk pertama kalinya, Adrian merasa rumah itu kosong dengan cara yang tidak bisa diselesaikan oleh siapa pun.

1
Fi Fin
tadinya ku berharap lina jadian sama damar eeeee tau2 hamil anak riven makin ga jelas ceritanya
Emily
Dulu merasa berkuasa dan berfikir Alina gak akan melawan..
ternyata di luar ekspektasi
Emily
Adrian mau aja di goblokin vania
Runi Hardaningsih
cape baca nya, tapi benar benar benar
Santi Seminar
kapan bikinnya woy,belum nikah pula🤔
Santi Seminar
katanya kata2 adalah doa,kapan kata2 Vania terkabul tidak akan melihat dunia lagi
Santi Seminar
ini kapan Vania nya kena karma ,sih aman2 wae wong iku😡
Santi Seminar
lha Bimo Kuwi sopo Jan jane
An'ra Pattiwael
biar zj vania mampus
Yati Syahira
rasain sekaran andrian ,lakor zerta cs mulai kalang kabut
Yati Syahira
rasain lakor
Yati Syahira
bagus alina
Yati Syahira
korban dari seorang laki yg arogan dan lakor licik
Yati Syahira
pelakor licik lakinya murahqn
Yati Syahira
rasain laki egois demi lakor
Yati Syahira
lakor licik mainin peran
Yati Syahira
lakor jahat lakinya bodoh
Yati Syahira
jijik lihat pasangan munafik ,alina sdh tepat amvil langkah
Yati Syahira
jijik ama adrian
Yati Syahira
jgn luluh alina cuma di jadiin babu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!