"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: SANGKAR EMAS YANG SEMPIT
Suasana di dalam mobil dalam perjalanan pulang dari rumah sakit terasa sangat mencekam. Keano duduk tegak dengan rahang yang mengeras, sementara Alzena sengaja membuang muka ke arah jendela, mengabaikan kehadiran pria di sampingnya. Tangan Keano masih menggenggam jemari Alzena, begitu erat seolah takut wanita itu akan melompat keluar dari mobil yang sedang melaju.
"Sakit, Keano. Lepasin," gumam Alzena tanpa menoleh.
Keano tersentak, baru menyadari bahwa ia menggenggam tangan istrinya terlalu kuat. Ia melonggarkan pegangannya, tapi tidak benar-benar melepaskannya. "Itu hukuman karena kau mencoba kabur."
"Gue nggak kabur, gue cuma jalan-jalan. Lo aja yang lebay," balas Alzena ketus.
Begitu sampai di mansion, Keano tidak membiarkan Alzena berjalan sendiri. Ia menarik lengan istrinya menuju ruang makan. Di sana, meja sudah penuh dengan makanan bergizi tinggi yang aromanya sangat menggoda—steak, sup asparagus, dan berbagai sayuran segar.
"Makan," perintah Keano pendek.
Alzena menatap meja makan itu, lalu menatap Keano. "Lo mau bikin gue jadi babi?"
"Aku mau kau punya tenaga," sahut Keano sambil duduk di kursi utama. "Badanmu itu tinggal tulang. Bagaimana kau mau melawan dunia kalau berdiri saja masih gemetar?"
Alzena terdiam. Kalimat Keano ada benarnya. Tubuh Alzena yang asli memang sangat memprihatinkan. Dengan helaan napas panjang, ia akhirnya duduk dan mulai makan. Keano memperhatikannya dalam diam, seolah memastikan setiap suapan masuk ke dalam mulut istrinya.
Setelah makan malam yang sunyi itu, Alzena berniat kembali ke kamarnya untuk melanjutkan riset digitalnya. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah saat ia melihat Evan sedang sibuk memasang sesuatu di sudut-sudut langit-langit rumah.
"Itu apa, Van?" tanya Alzena curiga.
Evan melirik Keano yang berdiri di belakang Alzena sebelum menjawab. "Ini... sensor gerak terbaru, Nyonya. Dan kami juga memperbarui semua kamera CCTV dengan teknologi face recognition tingkat tinggi."
Alzena langsung berbalik, menatap Keano dengan tatapan tidak percaya. "Lo beneran mau jadiin rumah ini penjara buat gue?"
"Ini untuk keamananmu," jawab Keano santai sambil menyesap kopinya. "Mengingat kau sangat ahli dalam 'menghilang', aku perlu sistem yang tidak bisa kau retas dengan mudah."
Alzena tertawa sinis. "Lo nantangin gue? Sistem kayak gini cuma butuh lima menit buat gue bikin lumpuh."
Keano melangkah mendekat, menatap Alzena dengan tatapan menantang yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Kalau begitu, coba saja. Jika kau berhasil keluar tanpa terdeteksi satu kali saja, aku akan memberimu kebebasan untuk pergi ke mana pun minggu depan. Tapi jika kau gagal..."
"Kalau gue gagal?" tanya Alzena, menantang.
"Kau harus menuruti semua perkataanku tanpa bantahan. Termasuk ikut denganku ke acara jamuan bisnis keluarga Halim besok malam," ujar Keano.
"Oke. Deal," sahut Alzena tanpa ragu. Ia butuh kebebasan itu untuk menyelidiki lebih lanjut soal panti asuhan, dan ia sangat percaya diri dengan kemampuan Arcelia.
Malam itu, Alzena mengunci diri di kamar. Ia tidak langsung memegang laptop. Ia justru melakukan push-up dan sit-up di lantai. Ia harus melatih otot-ototnya. Meskipun hanya sanggup melakukan sepuluh kali sebelum dadanya terasa sesak, ia tetap memaksanya.
"Dikit lagi, Zen. Lo harus kuat," bisiknya pada diri sendiri sambil menyeka keringat.
Setelah latihan fisik singkat, ia duduk di depan laptop. Ia mulai masuk ke sistem keamanan mansion yang baru saja dipasang Evan. Ia tersenyum miring. Keano mungkin kaya, tapi dia tidak tahu bahwa Alzena—jiwa Arcelia di dalamnya—adalah orang yang pernah membobol server bank pusat.
Saat ia sedang asyik membedah barisan kode keamanan itu, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Alzena... ini Ibu."
Suara lembut dan gemetar itu membuat Alzena membeku. Itu suara Mirelle Halim.
"I-ibu?" suara Alzena mendadak serak. Ia tidak bisa menyembunyikan getaran di nadanya.
"Ibu dengar kau sakit... Ibu ingin bertemu, tapi Ayahmu... dia masih marah. Shania bilang kau sedang butuh waktu sendiri. Apa itu benar, Sayang?"
Alzena memejamkan mata rapat-rapat. Kemarahan meledak di dadanya saat mendengar nama Shania disebut. Jadi Shania yang ngelarang Ibu nemuin gue
"Nggak, Bu. Aku baik-baik saja. Aku pengen banget ketemu Ibu," jawab Alzena, air mata mulai menggenang. "Jangan dengerin Shania. Aku bakal cari cara buat ketemu Ibu secepatnya."
"Ibu runggu, Nak. Ibu selalu merindukanmu... dan adikmu."
Klik. Telepon terputus.
Alzena tertegun. Adikmu? Ibunya menyebut soal adiknya. Berarti benar, Alzena punya adik yang hilang, dan ibunya masih sangat mengharapkan anak itu kembali. Tanpa Alzena sadari, ia menyentuh pita merah yang ada di meja riasnya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. Bukan ketukan pelan, tapi ketukan yang menuntut.
Alzena segera menghapus air matanya dan menyembunyikan pita itu. Ia membuka pintu dan mendapati Keano berdiri di sana dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Kenapa belum tidur?" tanya Keano. Matanya melirik ke arah laptop yang masih menyala.
"Bukan urusan lo. Gue lagi kerja," jawab Alzena ketus, mencoba menutupi matanya yang sembap.
Keano masuk tanpa izin. Ia mendekati Alzena, menatap wajah istrinya dengan lekat. "Kau habis menangis?"
"Nggak. Kelilipan doang," bohong Alzena.
Keano tidak percaya. Ia meraih tangan Alzena dan menariknya mendekat. Posesifitasnya muncul lagi. Ia benci melihat Alzena menyembunyikan sesuatu darinya. "Siapa yang meneleponmu tadi? Aku tahu sistem komunikasimu terhubung ke jaringan rumah."
"Lo bener-bener gila ya, Keano! Lo nyadap telepon gue juga?" Alzena mulai emosi.
"Aku hanya melindungi asetku," sahut Keano dingin. Tapi sebenarnya, di dalam hatinya, ia merasa cemburu yang luar biasa. Ia takut ada pria lain yang menghubungi Alzena.
"Gue bukan aset lo!" teriak Alzena.
Keano tiba-tiba mencengkeram pinggang Alzena dan menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan erat. Alzena bisa merasakan napas hangat Keano di keningnya.
"Mulai hari ini, kau adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Siapa pun yang meneleponmu, apa pun yang kau lakukan, aku harus tahu," bisik Keano, suaranya terdengar sangat posesif.
Alzena menatap mata Keano. Di sana, ia tidak melihat kebencian yang biasa ia lihat di memori Alzena lama. Ia melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya—obsesi.
"Lo... lo mulai aneh, Keano," bisik Alzena.
Keano tidak menjawab. Ia justru mendekatkan wajahnya ke leher Alzena, menghirup aroma sabun mandi istrinya. Ia teringat lagi pada gadis penyelamatnya. Gadis itu juga punya aroma yang sama saat dia memeluknya untuk menenangkan Keano yang ketakutan di gudang tua itu.
"Kenapa aromamu sama dengannya?" gumam Keano tanpa sadar.
Alzena mengernyit. "Sama dengan siapa?"
Keano tersentak, langsung melepaskan Alzena dan mundur beberapa langkah. Ia kembali memasang wajah dinginnya yang kaku. "Bukan siapa-siapa. Tidurlah. Besok kau harus ikut denganku ke jamuan keluarga Halim. Jangan mencoba kabur lewat jendela, karena aku sudah memasang sensor di sana juga."
Keano keluar dari kamar dengan langkah cepat, meninggalkan Alzena yang berdiri mematung di tengah ruangan.
"Aromanya sama?" Alzena menyentuh lehernya. "Siapa yang dia maksud? Mantannya?"
Di sisi lain, Keano berdiri di luar pintu kamar Alzena sambil memegangi dadanya. Jantungnya berdetak tidak keruan. Ia mulai merasa gila. Ia mencari seorang wanita yang hilang bertahun-tahun, tapi kenapa jiwanya justru merasa sangat tenang setiap kali berada di dekat istrinya yang sangat ia benci dulu?
Sementara itu, di rumah keluarga Halim, Shania sedang menatap layar ponselnya. Ia baru saja selesai mendengarkan rekaman telepon antara Mirelle dan Alzena melalui alat penyadap yang ia pasang di kamar ibunya.
"Jadi kau mau bertemu Ibu?" Shania menyeringai licik. "Silakan datang besok, Alzena. Aku sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu di depan semua orang."
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘