Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan di Pagi Hari
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden sutra yang tebal, membentuk garis-garis cahaya keemasan di atas lantai kamar mewah itu. Eli perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Hal pertama yang menyapa indra penciumannya adalah aroma maskulin wood and amber yang begitu pekat, disusul oleh rasa hangat yang melingkupi seluruh tubuhnya.
Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, jantung Eli mendadak berdesir kencang. Sebuah lengan kekar dan berurat kokoh tampak melingkar posesif di pinggang rampingnya, mengunci tubuh mungilnya tanpa celah. Di belakangnya, Eli bisa merasakan dada bidang yang keras dan hangat bergerak naik-turun dengan teratur mengikuti deru napas yang tenang.
Xavier masih tertidur di sampingnya.
Eli menahan napas, mencoba bergerak seringan mungkin agar tidak membangunkan pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu. Namun, setiap kali Eli mencoba menggeser tubuhnya menjauh, cengkeraman tangan Xavier di pinggangnya justru semakin mengencang, seolah insting pelindung pria itu tetap terjaga bahkan dalam tidurnya.
"Mau ke mana?" suara bariton yang serak khas orang bangun tidur mendadak terdengar tepat di dekat telinga Eli.
Sentuhan napas hangat Xavier membuat bulu kuduk Eli meremang. Sebelum Eli sempat menjawab, Xavier membalikkan tubuh mungil istrinya dengan satu gerakan mudah, memaksa Eli untuk berbalik menghadap ke arahnya. Sepasang mata elang yang biasanya dingin dan tajam, kini menatap Eli dengan binar yang berbeda—lebih hangat, namun tetap sarat akan gairah posesif yang mutlak.
Wajah Eli seketika merona merah mengingat kembali apa yang terjadi di antara mereka sepanjang malam tadi. Dia segera menarik selimut tebal hingga sebatas dada, mencoba menyembunyikan rasa malunya. "Ak-aku harus melihat anak-anak. Ini sudah pagi, Kenji dan Kiana pasti mencariku."
Xavier tidak langsung melepaskannya. Ibu jari tangannya yang besar bergerak mengusap pipi Eli yang merona halus, lalu turun merapikan beberapa helai rambut Eli yang berantakan di dahi. "Anak-anak aman bersama Bibi Ami. Aku sudah memerintahkan pelayan untuk tidak mengganggu kita sampai aku sendiri yang membuka pintu."
"Xavier, jangan gila! Aku tidak mau anak-anak curiga!" desis Eli, matanya berkilat kesal sekaligus gugup.
Xavier tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang sangat tampan yang mampu membuat wanita mana pun bertekuk lutut. Pria itu mendaratkan sebuah kecupan singkat namun dalam di kening Eli sebelum akhirnya melonggarkan pelukannya, memberikan ruang bagi Eli untuk duduk di tepi ranjang.
"Tidurlah beberapa menit lagi jika kamu masih lelah. Hari ini kamu tidak perlu melakukan apa pun," ujar Xavier sambil mendudukkan dirinya sendiri, bersandar pada kepala ranjang dengan dada bidangnya yang terekspos bebas.
Eli tidak memedulikan tawaran itu. Dia dengan cepat menyambar jubah tidur sutranya yang tergeletak di lantai, memakainya dengan terburu-buru, lalu melangkah cepat menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi ke arah Xavier. Di dalam kamar mandi, Eli bersandar di balik pintu yang terkunci, memegang dadanya yang berdegup kencang. Sentuhan, tatapan, dan bagaimana cara Xavier mengklaim dirinya semalam benar-benar menjungkirbalikkan logika yang selama ini dia bangun. Dia harus tetap waspada; pria itu tetaplah seorang monster yang menjebaknya, bukan pria yang bisa dia cintai dengan mudah.
Setengah jam kemudian, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan terusan kasual yang sopan, Eli keluar dari kamar mandi. Kamar tidur utama sudah kosong; Xavier tampaknya sudah pindah ke kamar mandi ruang kerjanya untuk bersiap-siap ke kantor.
Eli melangkah keluar kamar dan langsung menuju ke kamar bermain Kenji dan Kiana. Begitu pintu dibuka, pemandangan hangat menyambutnya. Kedua anak kembarnya sedang duduk rapi di atas karpet bermain, menikmati sarapan pagi mereka yang diantarkan oleh Bibi Ami.
"Ibu!" Kiana yang pertama kali menyadari kehadiran Eli langsung menjatuhkan sendok plastiknya dan berdiri, berlari memeluk kaki Eli dengan riang. "Ibu kok bangunnya siang? Kiana tadi mau ketuk kamar Ibu, tapi kata Paman Daniel, Ibu sedang sangat lelah karena acara TV kemarin."
Eli tersenyum canggung, melirik sekilas ke arah Daniel yang ternyata sedang berdiri tegak di sudut ruangan sambil memegang sebuah tablet kerja. Eli berlutut dan memeluk Kiana. "Iya, Sayang. Maafkan Ibu ya? Ibu agak pusing semalam. Kiana sudah makan yang banyak?"
"Sudah! Masakan di sini enak sekali, Bu!" jawab Kiana polos.
Sementara itu, Kenji meletakkan gelas susunya dengan tenang. Mata cerdas bocah itu beralih dari wajah Eli menuju ke arah pintu, tepat saat sesosok pria tinggi tegap melangkah masuk ke dalam ruangan.
Xavier Arisatya telah kembali dengan setelan formalnya yang sempurna—setelan jas hitam, kemeja abu-abu gelap, dan dasi senada yang membuatnya tampak begitu berwibawa. Aura dingin sang CEO kembali melekat erat pada dirinya begitu dia keluar dari kamar tidur.
Xavier melangkah mendekati area bermain, membuat para pelayan dan Daniel langsung menunduk takzim. Pandangan Xavier pertama kali jatuh pada Eli yang masih berlutut memeluk Kiana, sebelum akhirnya beralih menatap Kenji.
"Daniel," panggil Xavier tanpa mengalihkan pandangannya dari anak-anak.
"Iya, Tuan Xavier?" Daniel maju satu langkah.
"Mulai hari ini, siapkan guru privat terbaik dan instruktur bela diri dasar untuk Kenji di mansion ini. Begitu juga dengan kelas seni untuk Kiana. Aku tidak mau perkembangan anak-anakku tertunda hanya karena kepindahan ini," perintah Xavier mutlak.
Eli langsung berdiri, menatap Xavier tidak setuju. "Bela diri? Xavier, Kenji masih lima tahun! Jangan memaksakan ambisimu pada anak sekecil ini!"
Xavier membalikkan badannya, menatap lekat mata Eli dengan pandangan yang tidak menerima bantahan. "Dia adalah pewaris utama Arisatya, Eli. Di luar sana, banyak musuh bisnis yang mengincar posisiku. Dan setelah konferensi pers kemarin, wajah anak-anak ini sudah terekspos. Kenji harus belajar bagaimana caranya melindungi diri sendiri dan adiknya sejak dini. Ini bukan ambisi, ini adalah kenyataan hidup yang harus dia hadapi sebagai anakku."
Mendengar kata-kata Xavier, Kenji mendongak. Bukannya takut atau menangis, bocah lima tahun itu justru mengepalkan tangan kecilnya dan menatap Xavier dengan binar mata yang berani. "Aku mau belajar, Ibu," ucap Kenji memotong perdebatan kedua orang tuanya. "Aku ingin menjadi kuat agar bisa melindungi Ibu dan Kiana dari orang jahat."
Xavier menatap putranya dengan kilatan bangga yang pekat di matanya. Dia berjalan mendekat, menepuk pundak kecil Kenji dengan lembut. "Bagus. Itu baru anak seorang Arisatya."
Xavier kemudian melirik jam tangan Rolex-nya dan beralih menatap Eli. "Aku harus ke kantor sekarang. Ingat aturan main kita, Eli. Tetap di dalam rumah, patuhi perintahku, dan jangan pernah mencoba melepas cincin itu lagi."
Sebelum melangkah pergi, di depan anak-anak dan para pelayan, Xavier dengan sengaja menarik tengkuk Eli dan mendaratkan sebuah kecupan posesif yang tegas di pelipis istrinya, menegaskan kembali dominasi mutlaknya di rumah itu sebelum dia pergi membelah dunia bisnis yang kejam.