NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Wedding

Matahari siang menyinari kubah emas Katedral Agung dengan kemegahan yang membutakan. Jalanan protokol ibu kota, yang dua puluh empat jam lalu masih dipenuhi oleh asap ban terbakar dan kemarahan demonstran, kini telah bermutasi menjadi lautan manusia yang mengenakan pakaian terbaik mereka. Bendera sutra putih bersih berlambang mawar hitam gabungan, simbol baru aliansi pemerintahan Kael Arden dan Vane Group berkibar anggun di setiap tiang lampu kota. Hari ini adalah hari libur nasional yang diproklamasikan oleh parlemen baru. Hari di mana dua dunia yang selama berabad-abad saling memangsa, akhirnya diikat dalam sebuah ikatan sakral yang sah di depan hukum dan mata rakyat.

Di dalam Katedral Agung, keheningan yang megah merayap di antara pilar-pilar marmer putih bergaya renaisans. Ribuan tamu undangan dari kalangan diplomat tertinggi, jenderal militer, hingga pengusaha korporasi global duduk dengan punggung tegak dan napas tertahan. Alunan musik organ pipa bergema berat, menggetarkan kaca-kaca patri besar saat pintu gerbang katedral setinggi sepuluh meter dibuka perlahan.

Kael Arden berdiri di ujung altar, tepat di bawah sorotan cahaya matahari yang menembus atap kaca katedral. Pria itu tampak begitu menawan dan mengintimidasi dalam setelan tuksedo formal hitam dengan potongan militer modern, lengkap dengan lencana emas Perdana Menteri di dada kirinya. Bahu kirinya yang terluka tidak lagi tampak lemah, postur tubuhnya yang tegap memancarkan kekuatan absolut seorang pria yang telah berhasil menjinakkan anarki negaranya. Sepasang mata elangnya terkunci mati pada sosok yang baru saja melangkah masuk di ujung karpet merah.

Aurelia Vane melangkah seperti sebuah ilusi kemegahan yang nyata. Ia tidak mengenakan gaun pengantin putih tradisional yang melambangkan kesucian buatan. Aurelia memilih gaun pengantin sutra berat berwarna hitam legam yang bertatahkan puluhan ribu berlian hitam kecil yang berkilau menyerupai bintang di langit malam. Ekor gaunnya yang sepanjang lima meter menyapu karpet merah dengan desis halus yang sensual, sementara kerudung brokat hitam transparan menutupi sebagian wajahnya, membiarkan bibirnya yang merah menyala tetap terlihat menantang dunia. Di tangannya, ia tidak membawa buket bunga mawar biasa, melainkan mawar hitam asli yang batangnya dibalut pita satin perak.

Di belakangnya, tidak ada anak-anak pembawa gaun, melainkan Lucian Volkov dan beberapa pengawal elit Vane Group yang berjalan dengan seragam resmi tanpa senjata, namun tetap memancarkan aura bahaya dunia bawah yang pekat. Setiap langkah Aurelia mendekati altar adalah detak jantung yang mengencang di dalam dada Kael. Ketika wanita itu akhirnya tiba di hadapannya, Kael mengulurkan tangan kanannya yang besar. Aurelia menyambutnya dengan jemari yang dingin namun mantap. Kael menyingkap kerudung hitam transparan itu perlahan, menatap langsung ke dalam sepasang netra obsidian yang menyala oleh api kepemilikan yang murni.

"Kau terlihat sangat berbahaya, Ratu," bisik Kael rendah, suaranya parau oleh ketulusan yang teramat dalam yang hanya ia dedikasikan untuk wanita ini.

Aurelia menyunggingkan senyum sensualnya yang paling mematikan. "Dan kau terlihat seperti pria yang siap menyerahkan seluruh negaranya ke dalam tanganku, Perdana Menteri."

Di hadapan Uskup Agung dan jutaan pasang mata yang menyaksikan melalui siaran langsung global, janji suci itu diucapkan. Bukan janji pernikahan biasa yang klise tentang suka dan duka, melainkan sebuah ikatan takdir politik dan emosional yang ekstrem.

"Di bawah cahaya pemerintahan dan di hadapan hukum yang baru," Kael berikrar, suaranya menggelegar penuh kepastian mutlak di seluruh katedral, "aku mengambilmu, Aurelia Vane, sebagai istri dan penguasa di samping takhtaku. Aku bersumpah untuk menjadi pedang yang melindungi mahkotamu dan monster yang menghancurkan musuh-musuhmu."

"Dan di hadapan kegelapan dunia bawah yang kupimpin," Aurelia menyambung, suaranya jernih dan penuh otoritas yang mengintimidasi namun sarat akan penyerahan jiwa, "aku menerimamu, Kael Arden, sebagai suamiku dan eksekutor keadilanku. Takdirmu adalah takdirku, dan kekuasaan kita tidak akan pernah bisa diuraikan oleh siapa pun."

Saat Kael menyematkan cincin emas mawar hitam di jemari Aurelia, riuh tepuk tangan dari rakyat di luar katedral terdengar hingga ke dalam ruangan, bergemuruh seperti ombak samudra. Kael merengkuh pinggang Aurelia dengan sentuhan posesif yang kuat, menarik tubuh ramping wanita itu dan meraup bibirnya dalam sebuah ciuman pernikahan yang brutal, sensual, dan penuh kemenangan mutlak di depan dunia yang kini telah resmi mereka taklukkan.

Namun, perayaan sepasang predator tidak pernah berakhir di bawah cahaya siang. Ketika malam jatuh membungkus bumi dan rembulan perak naik ke puncak langit, atmosfer kemegahan berganti menjadi kegelapan yang intim dan berbahaya. Di dalam Aula Bawah The Sovereign, kapal pesiar raksasa milik Vane Group yang kini bersandar di pelabuhan privat ibu kota, perayaan kedua dimulai dalam kesunyian yang mencekam.

Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh puluhan lilin hitam besar yang memancarkan aroma belerang dan kayu cendana. Di sepanjang meja panjang terbuat dari kayu jati hitam, para bos mafia tertinggi dari lima benua,The Wolves duduk berbaris dengan pakaian formal gelap mereka. Nikolai, Tanaka, dan Alejandro berada di barisan paling depan. Tidak ada rakyat atau kamera media di sini. Yang ada hanyalah para penguasa kriminal tertinggi di bumi yang datang untuk memberikan upeti termahal mereka. Di ujung ruangan, di atas takhta ganda yang dilapisi kulit singa hitam, Kael dan Aurelia duduk berdampingan. Kael telah menanggalkan tuksedo resminya, kini hanya mengenakan kemeja sutra hitam dengan dua kancing teratas terbuka, menampilkan urat lehernya yang mengencang penuh maskulinitas gelap. Aurelia bersandar di sisinya, memegang segelas anggur merah yang warnanya sepekat darah.

Satu per satu, ketiga gembong mafia terbesar itu bangkit dari kursi mereka. Mereka melangkah maju menuju podium taktas, lalu secara serentak berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer hitam, menundukkan kepala mereka dalam-dalam di hadapan sepasang penguasa baru tersebut.

"Ratu Aurelia... Tuan Arden," Tanaka membuka suara, suaranya yang parau dipenuhi oleh rasa hormat buta yang mutlak. "Faksi Yakuza dan seluruh jaringan logistik Asia Timur malam ini menyatakan kepatuhan absolut kepada struktur pemerintahan yang baru. Kami membawa upeti berupa enkripsi jalur suplai energi dan kesetiaan penuh dari dua puluh ribu personel bersenjata kami."

Nikolai Volkov menyeringai kejam, namun tatapannya tetap tertuju pada lantai sebagai tanda tunduk. "Faksi Rusia telah membersihkan seluruh jalur penyelundupan lama yang sempat terkontaminasi oleh Frederick Vance. Mulai malam ini, intelijen dunia bawah sepenuhnya berada di bawah perintah eksekusi Tuan Arden."

Kael Arden menatap barisan serigala dunia bawah yang kini bertekuk lutut di hadapannya. Pria yang dulunya adalah simbol hukum legal pemerintahan, kini telah resmi diakui sebagai The Fallen, pemimpin tertinggi yang mengendalikan kegelapan dari balik meja perdana menteri. Kael berdiri dari takhtanya, memancarkan aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat atmosfer ruangan terasa semakin berat. Ia melangkah ke samping takhta Aurelia, lalu meletakkan tangan kanannya di atas bahu wanita itu dengan cengkeraman kepemilikan yang murni.

"Berdirilah, para serigala," suara Kael terdengar dingin dan mematikan. "Hukum baru telah ditulis di atas tanah ini. Selama kalian menjaga transparansi jalur suplai kalian dan mematuhi batas-batas konstitusi yang kubuat bersama Ratu kalian, dunia bawah akan menikmati kemakmuran terbesar dalam sejarah abad ini. Namun, jika ada satu di antara kalian yang mencoba mengkhianati pakta darah ini... ingatlah bahwa aku tahu setiap sudut persembunyian kalian di bumi ini."

"Sesuai perintahmu, Yang Mulia!" seru ketiga bos mafia itu secara serentak, suara mereka bergemuruh, meresmikan takhta ganda yang akan memimpin jalannya roda peradaban dari dua sisi yang berbeda.

Aurelia mengangkat gelas anggurnya ke udara, menatap Kael dengan binar kepuasan sensual yang teramat dalam. Mereka telah berhasil merombak total dunia yang busuk, membersihkan para koruptor kotor dengan tangan besi mereka sendiri, dan merayakan kemenangan mereka di bawah sinar matahari siang bersama rakyat dan di dalam pelukan kegelapan malam bersama para monster. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan; yang tersisa hanyalah kekuasaan absolut dan obsesi gila yang akan terus terbakar selamanya di atas takhta dinasti baru mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!