Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 27 WARNING! PERINGATAN KONTEN
*⚠️* PERINGATAN KONTEN
Bab ini mengandung materi fiksi yang menampilkan konflik emosional berat, perilaku manipulatif, serta situasi yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca.
Kisah ini ditulis untuk kebutuhan pengembangan karakter dan alur cerita, bukan untuk membenarkan atau mempromosikan perilaku yang ditampilkan di dalamnya.
Harap membaca dengan bijak dan sesuai dengan preferensi pribadi masing-masing.
———
Tak menyerah, Aurora kembali mencoba mendobrak pintu itu berulang kali hingga bahunya mulai bergetar hebat.
“BRAKK!”
“BRAKK!”
“BRAKK!”
Suara benturan keras memenuhi ruangan, tetapi pintu itu tetap rapat bergeming.
Aurora akhirnya menghentikan usaha sia-sianya. Napasnya memburu. Sementara di belakangnya, langkah kaki Aragon terdengar mendekat dengan ritme yang teratur. Setiap dentuman sol sepatu pria itu di atas lantai marmer mengilap seakan langsung menghantam saraf-sarafnya.
“Jadi…” suara rendah itu terdengar tepat di belakangnya, “kau masih bersikeras menolaknya?”
Aurora merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri saat Aragon membisikkan kalimat itu tepat di telinganya sembari sedikit membungkukkan punggung.
Gadis itu bergidik ngeri; suara berat, embusan napas, dan aroma tubuh pria itu terasa begitu nyata seolah langsung memenuhi seluruh kepalanya.
Dengan cepat, Aurora membalikkan badan dan mendapati Aragon sudah berdiri sangat dekat di hadapannya, siap mengurungnya hidup-hidup.
Punggung Aurora menempel erat pada daun pintu, berusaha keras menjauhkan diri dari kungkungan berbahaya itu.
Satu tangan kekar Aragon bertumpu pada pintu, mengunci pergerakannya, sementara tangan satunya lagi bergerak meraih dagu Aurora.
Saking paniknya, Aurora refleks menggigit bibir bawahnya sendiri dengan keras hingga berdarah.
Perlahan, Aragon mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis dan bibir mereka nyaris bersentuhan.
“Sudah ku katakan. Aku benci melihat kebiasaanmu menggigit bibirmu sendiri,” desis Aragon.
Di sudut ruangan, Hank segera memalingkan wajah dan tubuhnya ke arah lain karena tahu apa yang akan terjadi.
Di saat yang sama, Aragon memangkas sisa jarak yang ada. Bibir mereka bertabrakan, dan pria itu memaksakan sebuah ciuman kasar.
Tangan Aurora bergerak liar, mencoba mendorong dan meremas apa saja pada tubuh kekar di hadapannya. Namun, pria itu sama sekali tidak bergeming. Tubuhnya terlalu kokoh layaknya dinding batu.
“Emp…!!!”
Bibir Aragon melumat kasar bibir Aurora, seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat, lalu menyapu noda darah yang keluar akibat luka gigitan gadis itu. Dengan dominasi penuh yang menegaskan hak kepemilikan, Aragon mengisap bibir bawah Aurora dalam-dalam, menyesapnya kuat-kuat.
Ketika Aragon perlahan melepaskan tautan mereka, ia menatap puas pada bibir Aurora yang kini membengkak dengan sisa darah yang telah tersapu bersih.
Perlahan ibu jari Aragon menyapu bibir bawah Aurora.
“Kebiasaan burukmu itu terus saja mengusikku. Kau sering melukai bibirmu dengan menggigitnya.”
Di hadapannya, tubuh Aurora sudah gemetar hebat. Air mata gadis itu mengalir deras tanpa suara, menahan isak tangis yang menyesakkan dada.
“Selain monster… ternyata Anda juga bejat,” bisik Aurora dengan suara yang bergetar hebat. Jari-jarinya mencengkeram kuat lengan Aragon, hingga kuku-kukunya meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Aragon hanya menyunggingkan senyum sinis.
“Memang benar,” ujarnya pelan.
Seolah ucapan Aurora barusan justru memicu kegilaannya, tatapan mata Aragon seketika menggelap, memancarkan campuran antara kemarahan, obsesi, dan distorsi emosi yang membuat kewarasannya perlahan retak.
Pria itu sengaja bertindak lebih jauh untuk membuktikan bahwa spekulasi Aurora tidak salah.
Jika bujukan halus tidak mampu membuat gadis itu menandatangani kontrak, maka Aragon tidak akan ragu menggunakan cara paksaan untuk menjinakkannya.
“Melihat reaksimu. Aku tahu kau masih memiliki jawaban yang sama.” Kata Aragon.
Tanpa memberi celah sedikit pun untuk bernapas, Aragon kembali merangsek maju. Ia mengimpitkan seluruh bobot tubuh tegapnya, mengunci mati pergerakan Aurora hingga punggung gadis itu membentur keras daun pintu.
Sebelum Aurora sempat memalingkan wajah, Aragon menyentak kedua pergelangan tangan gadis itu ke atas, menguncinya hanya dengan satu tangan kekar.
Sementara tangan satunya lagi mencengkeram kuat rahang Aurora, memaksanya untuk mendongak pasrah.
Aragon kembali menyambar bibir itu dalam ciuman kedua yang jauh lebih menuntut, intens, dan paksaan.
“Emp…!!!”
Aurora kembali meronta.
Bagai candu yang memabukkan, rasa manis di bibir Aurora justru membuat Aragon benar-benar kehilangan kendali diri. Pria itu menyesap kuat, melumat, dan menginvasi rongga mulut Aurora dengan kasar, mengabaikan setiap rontaan lemah serta pasokan udara gadis itu yang kian menipis. Melalui pagutan yang begitu intim dan menjerat,
Aragon tidak lagi sekadar mencium, ia sedang menanamkan tanda mutlak bahwa raga dan jiwa Aurora kini sepenuhnya berada di bawah kuasanya.
Aragon kemudian melepaskan Aurora perlahan. Tubuh gadis itu sudah bergetar hebat; tenaganya habis terkuras karena meronta sia-sia melawan dominasi sang pria.
“Jawabanmu,” desis Aragon, suara dinginnya menyeruak ke dalam telinga Aurora, menuntut kepatuhan.
Dengan tubuh yang sudah kehilangan seluruh tenaga, Aurora perlahan mengangkat tangannya.
“Plak!!” Tamparan mendarat kasar di pipi yang keras Aragon.
Bukannya Aragon yang merasakan sakit, melainkan justru telapak tangan Aurora terasa panas.
Perlahan Aurora menggelengkan kepalanya.
Penolakan itu begitu samar, namun cukup untuk menghancurkan sisa-sisa kendali diri yang Aragon miliki.
Melihat gelengan itu, Aragon semakin kalap. Kewarasannya menguap sepenuhnya. Tanpa memedulikan kondisi Aurora yang sudah melemah, pria itu menyentak tubuh gadis itu, menariknya masuk ke dalam dekapan yang teramat erat hingga memangkas jarak di antara dada mereka.
Pelukan itu begitu kuat, mengunci raga Aurora seolah ingin meleburnya menjadi satu.
Detik berikutnya, Aragon kembali merunduk dan mencium bibirnya bagai orang gila yang didera kehausan ekstrem.
Ciuman itu tidak lagi memiliki ritme; liar, menuntut, dan penuh keputusasaan yang berbahaya. Aragon melumat habis bibir ranum itu, memenjarakan napas Aurora dalam pagutan yang mematikan, mengabaikan fakta bahwa gadis di dalam kukungannya sudah tidak lagi memiliki daya untuk melawan.
Ketika ciuman brutal itu akhirnya terlepas, napas Aragon memburu, berembus panas di permukaan wajah Aurora yang pucat.
“Sebaiknya kau memiliki jawaban yang bagus,” geram Aragon dengan suara yang bergetar menahan gejolak emosi di dadanya. “Apa keputusanmu?”
Di antara kesadarannya yang kian menipis dan air mata yang terus mengalir, Aurora mengumpulkan sisa kekuatan terakhirnya. Ia kembali menggelengkan kepala. Tegas dan tidak tergoyahkan.
Gelengan itu menjadi pemantik yang membakar habis seluruh sisa kesabaran Aragon. Kilat di matanya berubah menjadi sesuatu yang teramat gelap dan mengerikan, menandakan bahwa batas toleransinya telah terlampaui.
Suasana ruangan seketika merosot hingga ke titik beku. Aragon tidak lagi menatap Aurora, melainkan melemparkan pandangannya ke sudut ruangan dengan rahang yang mengeras kaku.
“Hank,” panggil Aragon. Suaranya rendah, berat, dan dipenuhi penekanan yang menakutkan, sebuah nada yang sanggup membuat siapa pun gemetar.
“Keluar.” Perintah Aragon.
Bersambung
Lanjut kak jangan di gantung