Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Rahasia Ibu
Malam turun perlahan di atas hutan, membawa dingin yang merayap dari sela akar dan daun.
Di barisan paling belakang, Wira berjalan sambil memegangi kain di pinggangnya, tempat lempeng kayu kecil itu disimpan. Sejak mereka meninggalkan pondok tua, mulutnya lebih banyak terkunci. Langit di atas mulai gelap bertahap, dan sisa cahaya senja yang tadi menempel di ujung dahan kini memudar menjadi biru pekat. Jalan setapak yang mereka lalui sempit dan naik-turun, kadang diliputi semak, kadang tertutup akar pohon besar yang menonjol seperti tulang. Di antara suara serangga malam yang mulai terdengar, pikirannya terus melayang pada rumah, desa yang terbakar, dan terutama ibunya.
Panca berjalan di sampingnya dengan langkah lebih pelan dari biasanya. Sahabatnya itu masih terlihat lelah, tetapi berusaha tidak mengeluh. Sesekali ia menoleh ke belakang, seolah takut ada penunggang yang menyusul dari arah hutan. Namun hingga saat itu, tak ada derap kuda. Hanya burung malam yang memanggil jauh di kejauhan, dan suara daun kering terinjak kaki mereka sendiri.
Di depan, Ki Rangga memimpin dengan tenang. Ia membawa mereka menyusuri jalur yang tampak lebih aman dari jalan utama, menembus semak dan naik ke bukit kecil di sisi timur hutan. Tidak ada obrolan panjang. Pria itu seperti sengaja membiarkan keheningan, mungkin supaya pemuda di belakangnya sempat mengumpulkan pikiran. Namun justru karena diam itu, pertanyaan di kepala Wira semakin menumpuk.
Akhirnya, saat mereka berhenti di bawah pohon besar untuk menunggu gelap lebih tebal, ia tak tahan lagi.
"Ki Rangga," panggilnya.
Pria itu menoleh. "Ya?"
Wira menarik napas pelan. "Kau bilang ibuku bukan perempuan biasa."
Panca langsung mengangkat kepala. Jelas sudah, ini akan menjadi pembicaraan penting.
Ki Rangga menatap Wira sebentar, lalu berkata, "Aku bilang begitu."
"Jadi siapa dia?"
Tak langsung ada jawaban. Ki Rangga duduk di atas akar pohon yang menonjol, menatap gelap hutan di depan mereka. Wira menunggu. Panca diam, seolah tak ingin mengganggu.
"Aku mengenalnya lama," kata Ki Rangga akhirnya.
Tubuh Wira menegang. "Dari mana?"
"Dari masa sebelum kau lahir."
Dada pemuda itu terasa mengencang. "Sebelum aku lahir?"
Ki Rangga mengangguk. "Ibumu pernah berada di lingkungan yang sangat dekat dengan orang-orang penting."
Panca menatap Wira cepat, lalu ke Ki Rangga. "Lingkungan penting seperti apa?"
"Orang-orang yang hidup di sekitar kekuasaan," jawab Ki Rangga, memandang mereka berdua.
Kedua alis Wira mengerut. "Istana?"
"Ya."
Seketika ia membeku. Istilah itu memang pernah didengarnya dari orang-orang desa, dari pedagang, dan dari kisah perjalanan para perantau yang singgah sebentar. Tapi istana selalu terasa seperti tempat jauh, penuh aturan dan orang-orang besar yang tidak pernah menyentuh hidupnya. Mendengar bahwa ibunya pernah dekat dengan dunia itu membuat pikirannya berputar.
"Kenapa ibu tinggal di desa?" tanyanya.
"Karena ia memilih pergi."
"Pergi dari apa?"
Ki Rangga terdiam sesaat. "Dari sesuatu yang tidak aman."
Tatapan Wira menajam. Jawaban itu semakin menambah rasa penasaran. "Kalau begitu dia memang lari?"
"Bukan lari," sahut Ki Rangga. "Menyelamatkan diri."
Panca mengernyit. "Dari siapa?"
Ki Rangga menatapnya dalam-dalam. "Dari orang-orang yang tidak ingin masa lalu tertentu terungkap."
Pandangan Wira jatuh menatap tanah. Satu per satu potongan jawaban mulai terbentuk, namun belum cukup jelas untuk menjadi gambaran utuh. Ibunya pernah dekat dengan istana. Ia pergi karena bahaya. Lalu ia tinggal di desa kecil jauh dari pusat kekuasaan. Dan selama bertahun-tahun, ia menyimpan sesuatu yang kini membuat mereka diburu. Ada simpul besar di depan matanya, tetapi ia belum tahu bagaimana membuka ikatannya.
"Kalau begitu," katanya pelan, "apa hubungannya dengan ayahku?"
Ki Rangga menatapnya lama. Panca juga menahan napas.
"Terhubung lebih dari yang kau kira," jawab Ki Rangga akhirnya.
Wira memejamkan mata singkat. Ia sudah menduga jawaban itu, tetapi mendengarnya tetap terasa berbeda. "Ayahku orang istana juga?"
"Bisa jadi dekat dengan itu."
Panca memiringkan kepala. "Bisa jadi?"
Ki Rangga tidak menanggapi. Sementara itu, Wira mengusap wajah dengan tangan, lalu berkata, "Kenapa ibu tidak pernah cerita?"
"Karena ada hal-hal yang tidak aman untuk dibicarakan," kata Ki Rangga. "Terutama kalau orang-orang tertentu masih hidup."
"Orang-orang tertentu itu siapa?"
Lagi-lagi, Ki Rangga tidak menjawab. Ia seperti sengaja menahan nama itu, mungkin karena malam belum cukup aman, atau mungkin karena Wira belum siap. Namun justru karena itu, amarah kecil mulai naik di dada sang pemuda. Bukan marah pada Ki Rangga, tetapi pada keadaan. Mengapa semua orang dewasa di sekitarnya selalu tahu sesuatu namun enggan berkata jelas? Mengapa hidupnya dipenuhi pintu yang hanya terbuka setengah?
Panca tampaknya membaca kegelisahan itu. Ia menepuk lutut sahabatnya pelan. "Setidaknya sekarang kita tahu ibumu memang bukan orang sembarangan."
Wira mengangguk pelan. "Itu belum membantu banyak."
"Setidaknya ada arahnya."
Ki Rangga bangkit dari akar pohon dan memeriksa jalur di depan. "Kita harus lanjut. Malam akan makin dingin."
Mereka berjalan lagi setelah istirahat singkat. Hutan malam memiliki suara sendiri—daun berdesir lebih lembut, serangga bersahut dari kejauhan, dan sesekali ada bunyi ranting patah yang membuat Wira menoleh cepat. Langkah mereka tetap berhati-hati. Ki Rangga memilih jalur yang tidak terlalu terbuka, terkadang memutar, terkadang menunduk di bawah dahan rendah. Lambat laun, ia menyadari bahwa lelaki itu tak hanya tahu jalan, tapi juga tahu cara menghindari perhatian. Seolah selama ini hidupnya memang dilatih untuk bergerak tanpa dilihat.
Setelah cukup lama, mereka tiba di sebuah aliran air kecil. Airnya dangkal, tetapi cukup dingin untuk menyadarkan betapa panas tubuhnya setelah berjalan. Ki Rangga berhenti dan menyuruh mereka minum sebentar. Sambil jongkok di tepi aliran, Wira membasuh wajah. Air dingin itu menyentuh kulit dan membuat kepalanya sedikit lebih jernih.
Panca duduk di batu kecil tak jauh darinya. "Aku lapar lagi."
"Kalau kau terus bicara soal lapar, aku juga ikut lapar," jawab Wira.
"Memang itu tujuanku."
Ki Rangga menyandarkan satu tangan pada batu, mengamati aliran air di depan mereka. Tak lama, suara Wira kembali memecah keheningan.
"Ki Rangga."
"Ya."
"Kalau ibu pernah dekat dengan istana, berarti ada orang yang mengenalnya di luar desa."
"Benar."
"Dan kalau begitu, mungkin ada orang yang masih mencari dia."
"Benar lagi."
Kali ini, ia menatap pria itu lekat-lekat. "Kenapa orang-orang itu menyerang kami sekarang? Kenapa setelah sekian lama?"
Ki Rangga menghela napas pelan. "Karena masa lalu kadang baru mengejar ketika sesuatu yang lama muncul kembali."
Dahi Wira mengerut. "Maksudmu benda ini?"
Mata Ki Rangga tertuju pada lempeng kayu di pinggangnya. "Ya."
"Jadi benda ini semacam kunci?"
"Bisa dianggap begitu."
Panca langsung menoleh. "Kunci untuk apa?"
Ki Rangga melangkah lebih dekat dan duduk di batu seberang mereka. "Untuk membuka jalan ke jejak yang lama."
"Jejak siapa?"
Suasana hening sejenak sebelum jawaban itu tiba. "Jejak keluargamu. Dan mungkin juga jejak seseorang yang dulu berada di lingkaran kekuasaan."
Tubuh Wira tertegun. Ada rasa dingin yang menjalar di punggungnya. Ia kembali memikirkan ibunya, tatapan mata perempuan itu saat pagi sebelum desa terbakar, cara ibunya menggenggam pundaknya, dan perintah singkat agar ia tidak menjawab siapa pun yang memanggil namanya. Perintah itu kini terdengar jauh lebih berat dari yang ia kira.
"Kalau ibuku pernah dekat dengan istana," katanya pelan, "kenapa dia hidup seperti orang biasa?"
"Karena itulah cara paling aman untuk menyembunyikan diri."
Panca bergumam, "Dan kami semua tidak tahu apa-apa."
Ki Rangga menatapnya. "Justru itu yang diinginkan orang-orang yang dulu memutus jejaknya."
Mata Wira menatap permukaan air di depannya. Bayangan wajahnya sendiri memantul samar, lalu terganggu riak kecil dari angin malam. Tiba-tiba ia merasa seperti seseorang yang berdiri di tepi kisah yang jauh lebih besar dari bayangannya. Selama ini ia mengira hidupnya hanya soal desa, ladang, dan pekerjaan sederhana. Ternyata ada lapisan lain yang tidak pernah disentuhnya.
Tak lama kemudian, Ki Rangga berdiri. "Kita lanjut lagi. Ada tempat yang harus kita lewati sebelum tengah malam."
Panca mengeluh kecil, tapi tetap bangun. Wira mengikutinya, walau lutut dan betisnya mulai terasa kaku. Mereka menyusuri lereng kecil dan masuk ke jalur berbatu yang lebih sempit. Di tengah perjalanan, suara dari kejauhan membuat Ki Rangga langsung berhenti.
Wira juga mendengarnya. Suara orang.
Bukan dari dekat, tapi cukup jelas di antara sela hutan. Refleks Panca memegang lengan Wira. Mereka bertiga segera merunduk di balik batang pohon besar. Ki Rangga memberi isyarat agar diam. Suara itu semakin jelas, lalu berhenti. Ada orang berbicara pelan, mungkin dua atau tiga orang. Namun kata-katanya tak bisa ditangkap jelas.
Jantung pemuda itu kembali berdetak kencang. Napasnya tertahan. Apakah mereka masih diburu sejauh ini? Atau orang-orang itu hanya lewat?
Setelah beberapa saat, suara itu menjauh. Ki Rangga menunggu lebih lama sebelum akhirnya mengizinkan mereka bergerak lagi. Wira baru berani menghela napas.
"Bukan rombongan dari desa," bisik Panca.
"Bukan," jawab Ki Rangga.
"Kalau begitu siapa?"
Ki Rangga menatap gelap di depan. "Mungkin orang yang juga mencari jejak yang sama."
Pandangan Wira tertuju padanya. "Jadi masih ada orang lain yang tahu tentang ibuku?"
"Ya."
"Dan tentang aku?"
"Bisa jadi."
Langkahnya yang tadi pegal kini terasa lebih ringan, digantikan ketegangan baru yang memenuhi pikirannya. Dunia yang semula sempit kini terasa semakin luas, tapi juga semakin berbahaya. Ia tak lagi sekadar melarikan diri dari pembakar desa. Ia sedang masuk ke pusaran yang melibatkan nama, darah, dan rahasia lama.
Menjelang tengah malam, mereka tiba di sebuah tempat terbuka kecil di antara pohon-pohon besar. Ki Rangga memilih area itu untuk beristirahat sebentar. Ia memeriksa sekitar, lalu menyuruh kedua anak muda itu duduk. Langit di atas tertutup rapat. Cahaya bulan hanya sedikit menyelip di sela daun. Tempat itu sunyi, namun tidak kosong. Ada rasa tua di sana, seperti tanah yang sudah menyimpan banyak langkah sejak lama.
Dengan punggung bersandar ke batang pohon, Wira duduk. Panca hampir langsung tertidur, kepala miring ke samping. Ki Rangga berada tidak jauh darinya, mengamati sekeliling dalam diam.
Setelah beberapa saat, pikiran tentang ibunya kembali menyeruak. "Ki Rangga."
"Ya."
"Kalau aku ingin menemukan ibuku, apa yang harus kulakukan?"
Ki Rangga menoleh perlahan. "Pertama, jangan panik. Kedua, jangan bertindak tanpa arah. Ketiga, pelajari siapa yang mengejarmu."
"Dan kalau aku menemukan dia?"
"Baru kau tanya apa yang sebenarnya terjadi."
Jemarinya menggenggam kain di pinggang. "Kau yakin ibu masih hidup?"
Ki Rangga terdiam lama sebelum menjawab. "Aku berharap begitu."
Jawaban itu tidak memberi kepastian, tetapi Wira menangkap sesuatu di dalamnya: Ki Rangga tidak mengelak. Ia juga tidak menenangkan dengan kebohongan. Itu justru lebih jujur daripada apa pun yang ia dengar sejak pagi.
Ia memejamkan mata sebentar. Bayangan rumah mereka, api, dan ibu yang berdiri di ambang pintu kembali muncul. Tapi kini ada lapisan baru di atas semuanya. Ibunya bukan sekadar perempuan desa. Ada masa lalu yang lebih besar. Dan mungkin masa lalu itulah yang menyebabkan hidup mereka tercerabut.
Tak lama kemudian, suara lirih Ki Rangga terdengar. "Wira."
"Ya?"
"Kalau nanti kau bertemu ibumu, jangan langsung minta jawaban."
Matanya terbuka. "Kenapa?"
"Karena kadang orang yang menyembunyikan sesuatu bukan berarti tidak percaya. Kadang mereka justru terlalu ingin melindungi."
Kata-kata itu membuatnya terdiam.
Malam makin larut. Panca tertidur lebih dalam. Sementara Wira tetap terjaga, memandang gelap hutan sambil memikirkan ibunya, ayahnya, dan semua yang belum ia pahami. Ada rasa sakit di dadanya, tapi juga dorongan aneh untuk terus maju. Jika ibunya memang menyimpan rahasia besar, maka suatu hari ia harus mendengarnya sendiri. Tidak dari desas-desus. Tidak dari orang asing. Dari mulut ibunya sendiri.
Ki Rangga menggeser tubuh, lalu berkata, "Kita akan bergerak lagi sebelum fajar. Jika beruntung, kita akan mendekati tempat di mana jejak masa lalu mulai terlihat."
"Jejak masa lalu?" Mata Wira menatapnya.
Ki Rangga mengangguk. "Tempat di mana pertanyaanmu mungkin mulai menemukan bentuk."
Entah harus lega atau takut. Mungkin keduanya. Satu hal yang pasti: hidupnya sudah tidak bisa kembali seperti semula. Dan semakin jauh ia berjalan dari desa, semakin dekat ia pada rahasia yang selama ini mengelilinginya.
Malam itu, di bawah langit hutan yang gelap, Wira akhirnya mengerti bahwa kehilangan rumah bukan akhir dari segalanya. Itu justru awal dari jalan yang lebih panjang, lebih berbahaya, dan mungkin lebih penting dari yang pernah ia bayangkan.
bukin pusing aja