NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Status: tamat
Genre:Single Mom / Mafia / Anak Genius / Tamat
Popularitas:41.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.

Delapan tahun berlalu.

Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Mimpi

Pagi itu datang bersama hembusan angin sejuk dari arah laut. Aroma khas laut bercampur dengan harum masakan di rumah makan sederhana itu benar-benar menggugah selera, tak heran meskipun masih terbilang pagi rumah makan ini selalu diserbu para penikmatnya.

Di tengah kesibukan itu, Alena terlihat mondar-mandir membawa pesanan dari satu meja ke meja lain. Namun ada sesuatu yang berbeda dari dirinya hari ini.

Wanita itu lebih banyak diam. Senyumnya tetap ada, tapi terlihat dipaksakan. Bahkan beberapa kali ia tampak melamun sambil menggenggam nampan kosong terlalu lama.

Hal kecil itu tentu saja tidak luput dari perhatian Senna dan Anne yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya dari balik meja kasir.

  "Hey, itu anak kenapa?" tanya Senna pada Anne.

 Anne ikut melirik ke arah Alena yang sedang menunduk menulis pesanan pelanggan.

 “Nggak tahu,” jawab Anne pelan sambil mengernyit kecil. “Tapi dari tadi mukanya nggak tenang.”

“Iya, biasanya juga dia paling cerewet kalau pagi.”

Anne menghela napas kecil. “Nanti saja kita tanya.”

Senna mengangguk setuju. “Iya deh.”

Percakapan mereka terputus karena rumah makan kembali dipenuhi pelanggan setelah libur akhir pekan. Semua karyawan langsung sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Hingga tanpa terasa waktu sudah mendekati siang. Alena baru saja selesai mengantar pesanan terakhir saat tubuhnya perlahan duduk di kursi belakang dapur untuk beristirahat sebentar.

Tangannya refleks memijat pelipisnya sendiri pelan. Bayangan wajah Kai tadi malam kembali muncul di pikirannya.

“Tapi kalau nggak bisa… nggak apa-apa kok, Ma.”

Ucapan itu terus terngiang di kepalanya sejak semalam. Justru karena Kai terlalu pengertian… hati Alena semakin sakit.

Ia tahu anaknya sangat ingin ikut festival layang-layang itu. Bahkan mungkin itu mimpi terbesar Kai selama ini.

Tapi tujuh ratus ribu bukan angka kecil untuk mereka.

Gaji bulanannya bahkan harus dibagi untuk kebutuhan rumah, sekolah Kai, listrik, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Alena menunduk pelan sambil menggenggam ujung celemeknya erat.

“Aku harus bagaimana…” gumamnya lirih.

Dan tanpa sadar, sejak tadi Senna dan Anne ternyata sudah berdiri di belakangnya sambil memperhatikan wajah murung wanita itu.

“Kamu kenapa?” tanya Anne lembut.

Alena langsung tersentak kecil lalu buru-buru menggeleng.

“Nggak apa-apa kok.”

Senna langsung mendengus pelan.

“Bohong.” Wanita itu duduk di samping Alena sambil melipat tangan di dada. “Mukamu dari pagi sudah kayak ikan asin dijemur.”

Anne sampai menahan tawa kecil mendengar celetukan itu. Namun Alena tetap mencoba tersenyum tipis.

“Serius… aku cuma sedikit capek.”

“Kita kenal kamu bukan sehari dua hari, Lena,” ujar Anne pelan. “Kalau ada masalah cerita saja.”

Mendengar itu, Alena justru semakin menunduk.

Karena jauh di dalam hatinya… ia merasa sudah terlalu banyak merepotkan mereka selama ini.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara di tempat lain, langkah kaki kecil Kai terdengar menyusuri jalanan dekat sekolah dengan tenang.

Tidak ada teriakan heboh ataupun lari-lari kecil seperti anak-anak seusianya saat jam pulang sekolah tiba.

Kai hanya berjalan pelan sambil memegang tali tasnya erat. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya terlihat tenang dan dingin meskipun usianya masih delapan tahun.

 Di sepanjang perjalanan, bayangannya tidak lepas dari festival layang-layang itu. Bahkan dirinya sudah menyiapkan uang untuk membeli bahan layang-layang, meskipun ia masih belum tahu akan dapat tiket masuknya atau tidak.

Namun keinginannya begitu gigih untuk membuat layang-layang yang sejak lama menjadi mimpinya.

"Kata Ibu Senna layang-layang itu bukan soal seberapa tingginya tapi soal bagaimana cara tetap bertahan meskipun diterpa angin," gumamnya sendiri.

Anak itu selalu mengingat ucapan Senna seolah kata-kata itu merupakan ajimat tersendiri untuk dirinya yang memang mencintai layang-layang.

"Tapi dari layang-layang itu aku ingin mempersembahkan sesuatu yang selama ini aku inginkan," pikirnya sendiri dengan penuh tekad.

Tanpa terasa langkahnya sudah sampai di halaman kecil rumahnya, anak itu segera membuka pintu lalu masuk kemudian melepas sepatu dan ditaruh di rak sepatu.

Selesai mengganti pakaiannya, Kai segera keluar rumah sambil menggenggam beberapa lembar uang di tangannya. Langkah kecilnya berjalan lebih cepat dari biasanya, wajahnya terlihat begitu antusias karena tidak sabar ingin memilih bahan terbaik untuk layang-layang yang akan ia buat nanti.

Langkah Kai berhenti tepat di depan toko Benang Langit. Matanya memandang gulungan benang impor dan kain ristop yang tertata rapi di etalase kaca.

Perlahan langkahnya mulai masuk, penjaga toko langsung menyambutnya dengan ramah.

"Adek mau cari apa?" tanya penjaga toko itu.

Kai tidak langsung menjawab, tatapannya tak beralih dari kain ristop berwarna biru laut itu. "Pak tolong ambilkan kain yang berwana biru langit itu."

Dengan senang hati penjaga toko itu mengambil dan menatap anak dihadapannya dengan penuh bangga.

"Ini Nak," katanya sambil menyodorkan benang yang dipilih anak itu.

Kai mengambilnya hati-hati perlahan jemarinya meraba kain tersebut bahannya lebih halus dibandingkan layang-layang yang biasa ia mainkan.

"Kalau pakai ini," gumamnya lirih. "Pasti layang-layang Kai akan bertahan lebih lama diatas langit."

Sementara itu sedari tadi penjaga toko itu memperhatikan cara menatap kain itu penuh makna.

"Pak harganya berapa?" tanya anak itu.

"Kalau yang itu per meternya enam puluh ribu," sahut penjaga toko itu.

Seketika tatapannya turun pada gulungan uang yang ada di dalam genggamannya. Ada rasa khawatir yang menyelimuti raut wajahnya, takut jika uang yang selama ini ia kumpulkan hanya cukup untuk beli bahan saja atau bahkan bakal kurang.

Kai terdiam cukup lama, akan tetapi di tengah-tengah keriuhan pikirannya itu bocah itu mencoba mengambil keputusan.

"Pak, aku ambil tiga meter saja ya," katanya akhirnya.

"Oh, tentu boleh," sahut penjaga toko itu.

Kailan mengangguk kecil, belum sempat ia membayar uang tersebut tiba-tiba saja tatapannya mulai beralih pada bambu premium yang ada di samping etalase.

"Pak, tambah bambunya satu lonjor ya," imbuhnya kembali.

Penjaga toko itu langsung menanggapi ucapannya, sambil memasukkan kain ristop ke dalam kantong kresek. Pria sepuh itu sambil berucap.

"Seleramu dalam memilih bahan cukup baik," puji pria itu.

Kai langsung menundukkan pandangannya baginya layang-layang bukan hanya sekedar mainan semata, tapi dibalik kecintaannya itu mengandung mimpi besar yang selama ini terpendam.

"Makasih Pak," ucap anak itu. Lalu ia mulai membayar jumlah rupiah yang disebutkan.

Uang sudah diterima. dan bahan layang-layang sudah ada ditangannya, tapi langkah Kai belum juga beranjak dari situ. Tatapannya kini mulai tertuju pada gulungan benang nilon premium itu.

"Pak, kalau benang yang itu harganya berapa?" tanya Kai hati-hati karena ia tahu benang itu tidak sama dengan benang yang ia punya.

"Per gulung bisa lima ratus ribu."

Seketika Kai terkejut, matanya mendelik dengan sempurna, sementara uang yang tersisa hanya tinggal dua lembar saja dalam pecahan lima ribuan.

Kai sedikit meringis sambil berkata. "Maaf Pak, untuk benangnya kapan-kapan saja ya."

Penjaga toko itu tersenyum seolah mengerti dengan kondisi Kai. "Baiklah kalau begitu kumpulkan dulu uangmu Nak."

Kai tersenyum pahit. Padahal uang tabungannya sudah habis untuk membeli bahan layang-layang, berharap pada festival nanti layang-layangnya akan terbang tinggi tapi setelah tahu harga benang itu. Nyalinya sedikit menciut.

Langkahnya masih tenang seperti biasa.

Namun kali ini… punggung kecil itu terlihat membawa beban yang jauh lebih besar dari usianya.

"Ternyata mimpi itu mahal harganya," gumamnya sambil terus melangkah.

Bersambung. ...

1
Sugiharti Rusli
semoga karya" mu berikutnya bisa terus menghibur yah dan ada sesuatu yang didapat saat kita membacanya, meski dari hal sederhana,,,
Ayumarhumah: Aamiiin.... makasih ya kak ...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
dan yah sekali lagi Kai berhasil membuat mereka semua bisa menyatu tanpa dendam dan saling bersapa layaknya saudara, dan Bianca juga sudah bagian dari mereka,,,
Sugiharti Rusli
semoga saja suatu saat su Rafael menyadari kesalahannya dan tidak memelihara dendamnya,,,
Sugiharti Rusli
dia pasti masih memikirkan Bianca kalo sampai menghabisi saudara satu" nya itu, meski sekarang mereka tidak sejalan
Sugiharti Rusli
bagus deh kalo pada akhirnya Kael membuat keputusan bijak dengan tidak membunuh si Rafael meski ada kesempatannya yah,,,
tia
waduh cepat skli tamat
Ayumarhumah: iya Kak ...

pengin suasana baru...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
padahal si Rafael tahu batas kekuatannya di mana, tapi karena egonya yang tinggi maka dia sudah ambil semua resikonya termasuk kalo dia harus hancur
Sugiharti Rusli
entah akan seperti apa pertumpahan yanh akan mereka alami nanti dan siapa yang akhirnya harus kalah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya hal itu sangat dihayati betul oleh si Rafael saat ini, dia ingin kekuasaan berada di bawah telapak kakinya sendiri
Sugiharti Rusli
kalo dalam dunia mafia siapa kuat dia yang bisa menguasai dunia yah,,,
Sugiharti Rusli
semoga Kael tidak lengah yah, apalagi dia tahu akan mendekati jalur distribusi milik Rafael,,,
Sugiharti Rusli
dan alasan agar adiknya tidak jadi korban karena sikap Kael, hanya jadi alasan saja sih sebenarnya dan sekarang dapat validasi buat konfrontasi sama kelompok Kael,,,
Sugiharti Rusli
dalam egonya si Rafael dia selalu berada di bawah bayang" Kael baik dari segi kekuasaan maupun cinta dari orang" yang mereka sayangi,,,
Sugiharti Rusli
sejak awal tujuan si Rafael memang mengalahkan Kael apapun caranya,,,
Sugiharti Rusli
dan si Rafael sudah jadi pembunuh berdaraj dingin dan baru puas kalo yang dianggap musuh musnah di tangannya,,,
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya pemikiran si Rafael hanya penuh dendam semata dan sepertinya adiknya sendiri akan dijadikan musuh
Sugiharti Rusli
apalagi menjadikan seorang sebagai target buat menghantam temannya sendiri yah
Sugiharti Rusli
padshal kan maksud Bianca bukan seperti itu, dia ingin abangnya menghentikan pertumpahan darah yang tidak perlu,,,
Sugiharti Rusli
kalo sudah dasarnya hatinya gelap, apapun yang si Rafael lihat selalu dianggap melukai hatinya,,,
Sugiharti Rusli
kira" di mana tempat persembunyian si Rafael yah, apa si Bianca memiliki petunjuk mungkin karena dia adiknya🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!