NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: SIRINE DI GERBANG DEPAN

SIRINE DI GERBANG DEPAN

​Suara raungan sirine mobil patroli kepolisian itu terdengar semakin melengking, memotong keheningan udara kompleks perumahan elit yang biasanya tenang. Cahaya lampu rotator berwarna merah dan biru berputar-putar liar, menembus celah gorden ruang tamu dan memantul di dinding marmer kediaman Pratama, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat bulu kuduk meremang.

​Aris masih berdiri mematung di tengah ruangan. Lembaran kertas foto USG dan surat bertinta merah dari Amira bergetar hebat di dalam cengkeraman tangannya. Pandangannya terpaku pada grafik detak jantung janin yang tercetak di sana.

​“Dia hamil... Anakku... Darah dagingku yang selama ini aku dambakan...” batin Aris. Penyesalan yang begitu pekat mendadak menghantam dadanya bagai hantaman gada. Ia teringat bagaimana dua tahun terakhir ini ia kerap mengabaikan Amira, menyindir rahim istrinya yang kering, hingga puncaknya kemarin siang—saat tangannya sendiri melayang menampar pipi wanita yang tengah mengandung buah cintanya itu demi membela Lista.

​"Mas... Mas Aris! Polisi sudah di depan gate!" Kepanikan histeris Lista membuyarkan lamunan Aris.

​Lista berlari mendekati jendela, menyibak sedikit tirai beludru dengan jari yang gemetar. Wajah cantiknya yang biasa tertata rapi kini pucat pasi, matanya melotot menatap dua mobil patroli yang berhenti tepat di depan pagar besi hitam rumah mereka. Beberapa petugas berseragam dinas dan penyidik berpakaian preman tampak mulai turun dari mobil.

​"Mas, kita harus bagaimana?! Ini pasti gara-gara laporan KDRT si Amira! Sialan, perempuan itu beneran mau menghancurkan kita!" Lista berbalik, mencengkeram lengan jas Aris dengan kuat, menuntut kepastian. Di dalam kepalanya, skenario pelarian dana lima miliar sudah berantakan, dan sekarang ia terancam ikut terseret jika polisi mengendus soal pemalsuan tanda tangan digital.

​Ibu Ratna yang masih terduduk lemas di lantai marmer menangis meraung-raung sambil memukul-mukul dadanya sendiri. "Ya Allah, Aris... bagaimana ini, Nak? Cucuku... cucu pertamaku dibawa pergi oleh perempuan itu! Kenapa jadi seperti ini? Aris, jangan mau ditangkap polisi, Nak!"

​Tok! Tok! Tok!

​Suara gedoran keras di pintu depan membuat mereka bertiga tersentak kaget.

​"Permisi! Selamat siang! Buka pintunya! Kami dari Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan!" Suara bariton petugas kepolisian menggema tegas dari balik pintu kayu ek yang tebal.

​Aris menarik napas dalam, mencoba menguasai badannya yang mendadak lemas. Harga dirinya sebagai direktur utama Snack Pratama runtuh sepenuhnya siang ini. Dengan langkah kaki yang berat dan gontai, ia berjalan menuju pintu depan.

​"Mas! Jangan dibuka!" bisik Lista menahan lengan Aris, namun Aris mengibaskan tangan Lista dengan kasar. Kilatan amarah dan frustrasi di mata Aris membuat Lista mundur satu langkah, ketakutan.

​Begitu pintu dibuka, tiga orang penyidik kepolisian langsung berdiri tegap di hadapan Aris. Seorang penyidik senior berwajah kaku melangkah maju, mengeluarkan sebuah map berkas resmi berkop kepolisian.

​"Saudara Aris Pratama?" tanya penyidik itu memastikan.

​"Iya, saya sendiri," jawab Aris, suaranya terdengar serak dan habis.

​"Kami dari Kepolisian Resor Jakarta Selatan, membawa Surat Perintah Penangkapan atas nama Anda, terkait laporan dugaan Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) fisik terhadap istri sah Anda, Ibu Amira Shinta, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 Undang-Undangan Nomor 23 Tahun 2004," ujar penyidik itu tanpa basa-basi. Ia memberi isyarat kepada dua petugas di belakangnya. "Anda diminta ikut bersama kami ke markas polres sekarang untuk pemeriksaan lebih lanjut."

​"Pak... Pak, tolong dengar penjelasan saya dulu," Aris mencoba menawar, wajahnya memelas. "Ini hanya kesalahpahaman domestik antara saya dan istri saya. Kami bisa bicarakan ini baik-baik."

​"Semua penjelasan silakan Anda sampaikan di depan penyidik saat pembuatan BAP, Saudara Aris. Tim hukum korban sudah menyerahkan bukti visum medis yang sangat kuat dan saksi mata dari lokasi kejadian. Silakan kooperatif," tegas petugas tersebut, seraya mengeluarkan sepasang borgol besi dari pinggangnya.

​Melihat kilatan borgol besi yang dingin itu, Ibu Ratna berteriak histeris dari ruang tengah. "Jangan tangkap anakku! Anakku tidak salah! Perempuan mandul—maksud saya, Amira yang sengaja menjebak anak saya! Lepaskan anak saya!"

​Di saat perhatian para petugas teralih oleh histeria Ibu Ratna yang mencoba merangkak mendekati pintu, Lista yang berdiri di sudut lorong tangga melihat sebuah celah. Otak ularnya langsung bekerja cepat. “Kalau Aris ditangkap, polisi pasti akan menggeledah rumah dan ruang kerja. Berkas pemalsuan tanda tangan lima miliar itu bisa disita!” Dengan gerakan super pelan tanpa menimbulkan suara, Lista membalikkan badan. Ia menyelinap mundur menuju lorong belakang yang terhubung ke dapur bawah dan pintu keluar asisten rumah tangga yang mengarah ke jalan tikus di belakang kompleks. Ia harus menyelamatkan tas desainer miliknya yang berisi token bank dan paspor luar negerinya sekarang juga.

​Namun, baru saja Lista berhasil menginjakkan kaki di anak tangga pertama menuju ruang bawah tanah, sebuah suara langkah kaki yang mantap terdengar dari arah pintu belakang dapur yang terbuka.

​Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan safari rapi, didampingi oleh dua orang pria berbadan kekar yang mengenakan tanda pengenal dari kantor hukum, melangkah masuk memblokir jalan pelarian Lista.

​Itu Pak Sanusi.

​Lista menghentikan langkahnya, tubuhnya gemetar hebat menatap pengacara senior almarhum ayah Amira tersebut. "Pak... Pak Sanusi? Sedang apa Anda di sini?! Ini rumah pribadi Pak Aris, Anda tidak boleh masuk tanpa izin!"

​Pak Sanusi memperbaiki letak kacamata bermonokel emasnya, menatap Lista dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang begitu menusuk. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah amplop legalitas berstempel pengadilan.

​"Rumah pribadi si Aris, kamu bilang?" Pak Sanusi terkekeh dingin, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Lista meremang. "Nona Lista yang terhormat... sepertinya kamu terlalu sibuk belajar cara merayu suami orang sampai lupa membaca detail aset perusahaan. Tanah tempat rumah mewah ini berdiri, beserta bangunan di atasnya, adalah bagian dari mahar dan warisan mutlak atas nama Amira Shinta yang dijaminkan dalam hak asuh keluarga besarnya. Dan siang ini, pengadilan telah mengeluarkan Surat Sita Jaminan Sementara atas seluruh aset bergerak dan tidak bergerak milik Aris Pratama untuk mengamankan hak nafkah calon bayinya."

​Pak Sanusi melangkah maju satu kali, membuat dua pria kekar di belakangnya ikut mengunci posisi Lista. "Jadi, sebelum kamu berpikir untuk melarikan diri membawa berkas pemalsuan dokumen lima miliar itu... silakan urungkan niatmu. Petugas dari unit kejahatan ekonomi (Fiskal, Moneter, dan Devisa) sudah menunggu di luar gerbang belakang untuk menjemputmu atas kasus pencucian uang."

​Lista lemas. Ia menyandarkan punggungnya pada pegangan tangga, menyadari bahwa jaring perangkap yang dipasang Amira dari atas takhtanya telah mengunci seluruh jalur pelariannya dengan sangat sempurna.

Aris digiring keluar dari pintu depan dengan tangan terikat borgol besi di bawah tontonan riuh para tetangga kompleks yang berbisik mencemooh, sementara Lista diseret dari pintu belakang oleh unit polwan atas kasus pemalsuan dokumen perbankan raksasa. Di tempat lain, di dalam kamar tidur utama penthouse mewahnya yang menghadap langsung ke pemandangan langit Jakarta, Amira sedang duduk tenang di kursi goyang sambil meminum susu khusus ibu hamil hangat. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan singkat dari Pak Sanusi: "Ular dan tuannya sudah masuk ke dalam sangkar." Amira tersenyum puas, mengusap perutnya, namun tiba-tiba pintu penthouse-nya diketuk dari luar, menampilkan sosok tamu tak diundang dari masa lalu yang membawa sebuah rahasia baru tentang alasan sebenarnya mengapa almarhum ayah Amira menyimpan dendam pada keluarga Aris sejak dulu.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!