Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kerumah sakit lagi
......................
Ia pun menghampiri Laura dengan mengucap selamat pagi untuk istrinya,
"Pagi," jawab Laura dengan senyum kecil.
Namun ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama.
Ting tong.
Suara bel rumah membuat seluruh penghuni rumah menoleh.
Rohaya yang sedang membereskan meja makan segera berjalan menuju pintu lalu disusul oleh Arka dan Laura
Saat pintu dibuka, wajahnya langsung berubah.
"Kalian lagi?"
Di depan rumah berdiri Sinta dan Cia.
"Kami hanya ingin bertemu dengan Arman," jawab Sinta tenang.
Arman yang mendengar namanya disebut segera keluar dari ruang makan.
"Sinta? Cia?" gumam Arman lalu ia pun langsung kedepan menemui mereka
"Arman, kami datang baik-baik." ucap sinta
Arman menghela napas panjang.
"Ada apa lagi?"
Sinta menatap Arman beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.
"Sudah hampir seminggu sejak pertemuan terakhir kita."
Suasana mendadak menjadi canggung.
"Kami sudah memenuhi permintaan anda untuk pergi dari sini."
"Tapi sampai sekarang tidak ada kabar apa pun mengenai janji anda," sambung Cia.
Arka dan Laura saling berpandangan.
Sedangkan Bela yang baru saja turun dari tangga langsung menghentikan langkahnya.
Ia memilih berdiri diam dan mendengarkan.
"kamu bilang akan mengurus semuanya, arman" lanjut Sinta.
"Pengakuan yang jelas. Nafkah yang layak. Dan penyelesaian yang selama ini tertunda."
Wajah Arman terlihat tidak nyaman.
"Aku belum melupakannya."
"Lalu kenapa belum ada tindakan?" tanya Cia.
Rohaya mulai terlihat kesal.
"Arman pasti sedang mengurusnya." ucap Rohaya sambil mengepalkan tangannya
"Tapi kami juga berhak mendapat kepastian," balas Sinta.
Ruangan itu kembali hening.
Bela yang sejak tadi memperhatikan situasi perlahan menyunggingkan senyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak semalam, perhatian semua orang tidak tertuju pada dirinya.
Dan yang lebih menarik, Laura terlihat mulai tidak nyaman.
Bela segera menangkap hal itu.
"Kok diam saja, Laura?" tanyanya tiba-tiba.
Semua orang menoleh.
Laura terlihat bingung.
"Maksudmu?"
"Kamu kan sekarang bagian dari keluarga ini." ucap bela dengan mengangkat satu alisnya
"Bukankah kamu harus ikut tahu masalah keluargamu?" lanjutnya
"kak..." tegur Arka.
Namun Bela pura-pura tidak mendengar.
Ia menatap Laura sambil menyilangkan tangan.
"Atau jangan-jangan kamu baru sadar kalau keluarga yang kamu banggakan ternyata tidak sesempurna yang kamu kira?"
Wajah Laura langsung berubah.
Sementara Arka mengepalkan tangannya.
Ia tahu Bela sengaja mencari celah untuk menyerang Laura.
Dan suasana yang baru saja tenang kembali memanas.
Laura menarik napas panjang.
"Aku nggak pernah bilang keluarga ini sempurna, Kak."
"Oh ya?" Bela tertawa sinis. "Tapi kelihatannya kamu menikmati semua perhatian yang diberikan keluarga ini."
Wajah Laura berubah.
"Aku nggak pernah meminta itu."
"Tapi kamu menerimanya." sahut Bela
"Karena mereka yang memberikannya." Laura mengepalkan tangannya
"oh ya? Bukan nya kamu yang sibuk cari muka agar mereka perhatian ke kamu" balas Bela tajam.
"kak Bela, cukup!" bentak Arka.
Namun Bela yang emosinya sudah memuncak sama sekali tidak peduli.
"Kenapa? Takut istrimu sedih?"
"Bela!" Rohaya ikut menegur.
Laura berusaha tetap tenang.
"Aku tahu Kak Bela sedang marah."
"Jangan sok mengerti aku!" ucap Bela dengan melotot
"Aku memang nggak mengerti semua yang Kak Bela rasakan, tapi—"
"Kalau nggak mengerti, diam!" sahut Bela
Suasana ruang tamu semakin tegang.
Sinta dan Cia hanya bisa saling berpandangan.
Mereka tidak menyangka kedatangan mereka justru memicu pertengkaran baru.
Laura menatap Bela dengan mata berkaca-kaca.
"Aku nggak pernah berniat merebut siapa pun dari Kak Bela."
Kalimat itu justru membuat Bela semakin tersulut.
"Tapi kenyataannya semua orang selalu memilihmu!"
Laura menggeleng.
"Itu bukan salahku."
"Menurutmu mudah melihat semua orang menyayangimu sementara aku selalu jadi pilihan terakhir?" ucap Bela
Laura terdiam.
Bela melangkah semakin dekat.
"Kak..."
Laura mencoba menenangkan situasi.
Namun saat Laura mengulurkan tangan, Bela yang sudah kehilangan kendali langsung menepisnya dengan keras.
"Jangan sentuh aku!"
Dorongan itu membuat Laura kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya terhuyung ke belakang.
Bruk!
Laura jatuh terduduk di lantai.
"Laura!" teriak Arka.
Arka langsung berlari menghampiri istrinya.
Rohaya dan Arman juga terkejut melihat kejadian itu.
Sementara Bela sendiri membeku.
Ia tidak menyangka dorongannya akan membuat Laura jatuh.
Arka membantu Laura berdiri.
Tatapannya kemudian beralih kepada Bela.
Arka menatap kakaknya dengan kemarahan yang jelas terlihat.
"Cukup, Kak."
Suara Arka terdengar dingin.
"Jangan libatkan Laura lagi."
Ruangan itu kembali hening.
Bela merasa semua mata memandangnya bukan sebagai korban, melainkan sebagai orang yang telah melukai orang lain.
Laura berusaha tersenyum meski rasa nyeri di perutnya semakin mengganggu.
"Aku nggak apa-apa," ucapnya pelan.
Namun semua orang bisa melihat wajahnya yang mulai pucat.
Arka berjongkok di depannya.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Arka..."
"Jangan membantah."
Nada suara Arka terdengar tegas sekaligus panik.
Laura akhirnya mengangguk.
Rohaya segera mengambil tas Laura yang berada di sofa.
"Ayah, ambil kunci mobil!" ucapnya kepada Arman.
Arman yang juga terlihat cemas langsung bergerak.
Sementara itu, Bela masih berdiri tidak jauh dari mereka.
Wajahnya terlihat kaku.
Entah kenapa suasana yang mendadak kacau itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.
"Aku yakin dia baik-baik saja," gumamnya pelan.
Sayangnya tidak ada yang mendengarnya.
Semua perhatian tertuju pada Laura.
Arka membantu Laura berjalan menuju mobil.
Setiap beberapa langkah, Laura tampak menahan rasa sakit yang datang dan pergi.
Hal itu membuat Arka semakin khawatir.
"Pelan-pelan," bisiknya.
Mereka akhirnya masuk ke mobil.
Arman duduk di kursi kemudi.
Rohaya berada di samping Laura di kursi belakang.
Sedangkan Arka terus menggenggam tangan istrinya.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah.
Meninggalkan Bela yang masih berdiri di ruang tamu.
Rumah yang tadi ramai mendadak terasa sunyi.
Sementara Sinta dan Cia masih berdiri didepan rumah itu
Di perjalanan menuju rumah sakit, hujan gerimis mulai turun.
Arka sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari Laura.
"arka."
"Hm?"
"Aku benar-benar nggak apa-apa."
Arka menggeleng.
"Kita tetap periksa."
Laura tersenyum kecil.
Ia tahu suaminya sedang sangat takut.
Kehamilan itu sudah lama mereka nantikan.
Meskipun baru berusia empat minggu, bayi itu tetap sangat berarti bagi mereka.
Laura menatap ke luar jendela.
Ia berusaha mengabaikan rasa nyeri yang masih sesekali muncul.
Namun jauh di dalam hatinya, ia juga mulai merasa khawatir.
Bagaimana jika sesuatu terjadi pada bayinya?
Bagaimana jika...
Laura segera membuang pikiran itu jauh-jauh.
Tidak.
Ia tidak boleh berpikir buruk.
Di ruang dokter.
Arka duduk di samping Laura.
Wajahnya terlihat tegang.
Dokter yang berada di hadapan mereka sedang memeriksa beberapa hasil pemeriksaan.
Beberapa detik terasa begitu lama.
Sampai akhirnya dokter mengangkat kepalanya.
Dokter meminta penjelasan kenapa Laura bisa kesakitan diperutnya lalu Arka menjelaskan bahwa Laura terjatuh.
Kira-kira apa yang terjadi pada Laura?
Bersambung.....