NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 18

“Nadia, siapa kamu berani-beraninya mengatur anakku?” bentak Yuni.

Tatapan wanita tua itu tajam menusuk. Dadanya naik turun menahan emosi.

“Aku masih istri Mas Raka,” jawab Nadia dengan suara tertahan. Jemarinya mengepal kuat di sisi tubuhnya agar emosinya tidak meledak.

“Istri macam apa kamu? Mengatur-ngatur suami!”

“Aku tidak sedang mengatur.” Nadia menatap lurus ke arah Yuni. “Aku hanya meminta kepastian dari Mas Raka.”

“Kepastian apa?” tanya Raka bingung sambil mengernyitkan dahi.

Nadia menarik napas panjang sebelum berkata pelan, tetapi tegas.

“Kalau dalam dua hari Ratna tidak pergi dari rumah ini, maka ceraikan aku.”

Yuni langsung hendak menyela, tetapi Nadia lebih dulu berbalik dan berjalan masuk ke kamar.

“Nadia!” bentak Yuni. “Kalau orang tua bicara itu didengarkan, jangan asal pergi saja!”

Namun Nadia tidak menoleh sedikit pun.

Bahunya terasa berat.

Mendengarkan? Untuk apa?

Sementara dirinya sendiri tak pernah benar-benar dihargai di rumah itu.

“Mamah lihat, kan?” keluh Raka frustrasi sambil mengusap wajah kasar. “Baru beberapa jam Ratna tinggal di sini, mereka sudah bertengkar.”

“Sudahlah, Raka.” Yuni duduk sambil mengembuskan napas panjang. “Sekarang yang aku pikirkan hanya masa depan kamu dan Nanda. Bagaimanapun Ratna sudah melahirkannya.”

“Mamah!” Raka langsung menatap ibunya tajam. “Jangan keras-keras. Nanti Nadia dengar.”

“Sudah, kasih tahu saja,” sela Ratna santai sambil memainkan ujung rambutnya.

“Diam kamu, Ratna!” bentak Raka hingga Ratna sedikit terkejut.

Ratna langsung terdiam, meski bibirnya masih tampak manyun kesal.

“Kamu tidak pernah ada saat Nanda sakit,” lanjut Raka dengan suara rendah penuh tekanan. “Kamu tidak lihat perkembangan Nanda dengan jelas. Nadia yang menemani Nanda merangkak, berjalan, sampai sekarang bisa mandiri.”

Raka mengusap wajahnya kasar.

“Kamu tidak ada di masa-masa sulit itu. Aku enggak bisa begitu saja mengabaikan perasaan Nadia.”

Yuni hendak membalas membela Ratna, tetapi pintu kamar terbuka.

Semua langsung diam.

Nadia hanya melirik sekilas ke arah mereka dengan mata lelah sebelum masuk ke kamar Nanda.

Baru setelah pintu tertutup, mereka sama-sama mengembuskan napas lega.

“Kita lanjut nanti saja,” ucap Yuni pelan. “Ratna, sesuai kesepakatan, kamu tidak boleh membocorkan ini pada Nanda. Jangan bicara sembarangan. Kalau tidak, aku tidak akan segan mengusir kamu.”

Tatapan Yuni berubah tajam.

“Nadia sudah tahu rahasia kita, jadi berhenti mengancam kami.”

“Tenang saja, Mamahku sayang,” jawab Ratna manja sambil tersenyum tipis.

Yuni mendelik tajam sebelum akhirnya masuk ke kamarnya.

Ratna pun melangkah ke kamar tamu yang kini sudah berubah menjadi kamar pribadinya.

Sementara itu, Nadia memilih beristirahat di kamar Nanda.

Setelah Nanda bangun, mereka belajar dan mengaji bersama hingga petang.

Nanda terlihat sangat antusias karena bundanya terus menemaninya.

Sesekali anak kecil itu tertawa kecil saat Nadia membetulkan bacaan mengajinya.

Nadia hanya keluar kamar untuk mengambil makanan bagi Nanda.

Ia sama sekali tidak ingin bertemu Yuni, Raka, ataupun Ratna.

“Bunda mau jadi bundanya Novi enggak?” tanya Nanda polos sambil menopang dagu.

“Novi siapa?” Nadia tersenyum kecil.

“Novi teman Nanda, Bun.”

“Memangnya bundanya Novi ke mana?”

Nanda menggeleng pelan.

“Bunda, kasihan Novi. Dia suka sedih kalau lihat teman-temannya punya bunda, sedangkan dia enggak.”

Hati Nadia langsung terasa nyeri.

“Papahnya ada?”

“Ada. Papahnya rajin banget antar Novi setiap hari.”

“Bagus dong berarti perhatian sama Novi.”

“Iya...” Nanda menunduk sebentar. “Tapi Novi tetap sedih. Dia pengin banget punya bunda. Bunda mau, kan, jadi bundanya Novi?”

Nadia tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.

“Yey! Makasih, Bund!”

Nanda langsung memeluk Nadia erat hingga tubuh Nadia sedikit terdorong ke belakang.

Pelukan kecil itu membuat dada Nadia menghangat.

Anak kecil memang belum tahu bahwa menjadi ibu bagi anak orang lain tidak semudah yang dibayangkan.

“Bunda, Nanda ngantuk,” gumam Nanda sambil mengucek mata.

Nadia membelai rambut putrinya lembut.

Sedari sore mereka belajar dan mengaji bersama, tentu saja tenaga Nanda terkuras.

“Ya sudah, sekarang berdoa dulu.”

“Bunda temani Nanda, kan?”

“Iya. Bunda temani sampai Nanda tidur.”

“Makasi, Bund.”

Nanda pun berdoa lalu memejamkan mata.

Setelah memastikan Nanda tertidur pulas, Nadia mencium kening putrinya lama.

Diam-diam Nadia menaruh kamera tersembunyi di sudut kamar Nanda.

Dulu kamera itu ia beli secara online untuk dipasang di garasi, tetapi sekarang dipindahkan ke kamar Nanda karena Ratna sudah tinggal di rumah itu.

Nadia khawatir Ratna berbuat sesuatu pada putrinya.

Tak lama kemudian, Raka masuk ke kamar.

“Nanda sudah tidur?” tanyanya pelan.

“Lihat saja sendiri,” jawab Nadia ketus tanpa menoleh.

Raka membuka mulut, ingin bicara, tetapi bingung harus mulai dari mana.

“Aku mau tidur di kamar Nanda.”

Nadia tidak menjawab.

Awalnya dia yang ingin tidur di sana, tetapi karena Raka memilih menemani Nanda, Nadia memutuskan pergi.

Ia terlalu malas melihat wajah suaminya sendiri.

Nadia bangkit lalu keluar kamar.

Raka hanya bisa mengembuskan napas kasar sambil memijat tengkuknya.

“Betapa susahnya urusan dengan perempuan,” gumamnya pelan.

Nadia masuk ke kamarnya.

Dari kamar Ratna masih terdengar suara cekikikan.

Suara itu membuat kepala Nadia semakin pening.

Sudah beberapa hari terakhir Nadia terus menangis dan menguras emosi.

Tubuhnya benar-benar lelah.

Setelah belajar dan mengaji bersama Nanda tadi, akhirnya Nadia tertidur.

“Aku benci Bunda...”

Nadia langsung terbangun.

“Nanda...” gumamnya panik sambil duduk tegak.

Jantungnya berdetak cepat setelah bermimpi Nanda mengucapkan kata-kata itu.

“Astaga... cuma mimpi.”

Nadia meraih air minum di atas nakas dengan tangan sedikit gemetar lalu meminumnya perlahan.

Samar-samar terdengar suara cekikikan.

Suara Nanda.

Nadia langsung menajamkan pendengaran.

Kali ini terdengar jelas suara tawa anak kecil.

Ia melirik layar ponselnya.

23.30.

“Bukankah Nanda sudah tidur tadi?”

Nadia segera bangkit lalu membuka pintu kamarnya yang sejak tadi dikunci dari dalam.

Ia memang tidak ingin Raka ataupun yang lain masuk ke kamarnya.

Nadia berjalan cepat menuju kamar Nanda lalu membuka pintunya perlahan.

Di dalam kamar hanya ada Raka yang tidur di bawah dengan alas karpet.

Sementara kasur Nanda kosong.

“Ke mana dia?” gumam Nadia cemas.

Rasa panik langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

Nadia kembali menajamkan pendengaran.

Suara tawa Nanda terdengar dari arah kamar Ratna.

“Di kamar Ratna...” bisik Nadia.

Rahangnya langsung mengeras.

Tangannya mengepal kuat hingga kukunya menekan telapak tangan sendiri.

Nadia melangkah cepat menuju kamar Ratna.

Pintunya terbuka sedikit.

Saat mendekat, Nadia melihat pemandangan yang membuat kepalanya seolah ingin meledak.

Nanda sedang menonton tablet.

Di sampingnya ada Ratna yang asyik bermain ponsel.

Di atas nakas terdapat makanan cepat saji dan minuman bersoda.

Emosi Nadia langsung memuncak.

“Ratna!” teriak Nadia keras.

Ratna menoleh santai dengan tatapan sinis.

Sementara Nanda buru-buru mematikan tabletnya dengan wajah panik.

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!