menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Semenjak kejadian pagi itu saat Shinta tanpa sengaja menyebut Andika pelit, suasana di antara mereka berubah total.
Perubahan itu memang tidak terlihat mencolok bagi orang lain. Andika masih bekerja seperti biasa. Masih membantu tim marketing. Masih berdiskusi dengan Pak Radit dengan tenang. Bahkan sesekali masih bercanda dengan Deni dan karyawan lain. Namun hanya Shinta yang sadar kalau pria itu mulai menjaga jarak darinya.
Andika tidak lagi menggodanya.
Tidak lagi sengaja berdiri terlalu dekat hanya untuk membuatnya salah tingkah.
Tidak lagi mengomentari kebiasaan kecilnya yang kadang memalukan.
Dan yang paling mengganggu, Andika mulai bicara seperlunya saja.
Awalnya Shinta justru merasa lega.
Akhirnya mantannya itu berhenti mengusiknya.
Tidak ada lagi senyum menyebalkan yang sering membuat jantungnya tidak nyaman. Tidak ada lagi tatapan jahil yang seolah tahu semua kelemahannya. Hidupnya harusnya lebih tenang sekarang.
Namun kenyataannya malah sebaliknya.
Hari pertama Andika berubah cuek, Shinta masih bisa berpura-pura tidak peduli.
Hari kedua mulai terasa aneh.
Hari ketiga terasa menyebalkan.
Dan memasuki hari keempat, Shinta mulai sadar kalau dirinya benar-benar tidak suka diacuhkan oleh pria itu.
Pagi itu suasana kantor cukup sibuk. Semua orang sedang fokus dengan target penjualan akhir bulan. Shinta yang baru datang meletakkan tasnya di meja lalu melirik pelan ke arah Andika.
Pria itu sedang mengetik laporan sambil sesekali berbicara dengan Deni.
Biasanya Andika akan langsung menyapanya begitu sadar Shinta datang.
Sekarang tidak.
Shinta menggigit bibir pelan sebelum akhirnya memberanikan diri.
“Pagi.”
Andika hanya melirik sekilas.
“Pagi.”
Satu kata.
Datar.
Lalu kembali menatap laptopnya.
Shinta langsung kesal sendiri.
Jawaban itu terdengar seperti customer service yang sudah lelah menghadapi manusia. Sangat formal. Sangat dingin.
Padahal dulu Andika bahkan bisa menggodanya hanya karena cara dia mengikat rambut.
Shinta mendengus pelan lalu duduk di kursinya dengan kesal.
Deni yang melihat perubahan suasana itu melirik keduanya bergantian.
“Berantem lagi kalian?”
“Tidak,” jawab Andika santai.
“Tidak,” jawab Shinta bersamaan.
Deni mengangkat alis.
“Kompak sekali jawabnya. Menyeramkan.”
Namun tidak ada yang menanggapi.
Siang harinya Shinta mulai mencoba mencari perhatian Andika secara halus.
Dia sengaja berdiri di dekat meja pria itu sambil pura-pura kesulitan membuka botol minum.
Biasanya Andika akan langsung mengambil botol itu lalu mengejeknya karena terlalu lemah.
Sekarang?
Andika bahkan tidak mengangkat kepala.
Shinta menatap pria itu tidak percaya.
“Botolnya keras sekali,” katanya sengaja.
“Hm.”
“Hm apanya?”
“Coba pakai kain.”
Jawaban datar lagi.
Shinta benar-benar ingin melempar botol itu ke kepala mantannya.
Beberapa hari berikutnya keadaan malah semakin parah.
Andika tetap sopan. Tetap membantu pekerjaan Shinta kalau memang perlu. Namun hanya sebatas rekan kerja biasa.
Tidak lebih.
Hal itu justru membuat Shinta frustasi.
Sore itu hujan turun cukup deras ketika jam pulang kantor tiba. Shinta yang sejak tadi memikirkan cara bicara dengan Andika akhirnya mendapatkan ide.
Dia berjalan mendekati meja pria itu sambil memasang wajah bingung.
“Andika.”
“Hm?”
“Aku kehabisan kuota.”
Andika masih fokus pada laptopnya.
“Di kantor ada wifi.”
Shinta langsung terdiam.
Jawaban itu terlalu cepat.
Seolah Andika sudah tahu dia sedang mencari alasan.
Namun Shinta belum menyerah.
“Aku juga lupa bawa uang.”
Kali ini Andika akhirnya mengambil ponselnya.
Shinta diam-diam tersenyum kecil.
Nah, akhirnya berhasil juga.
Mungkin Andika akan menawarkan mengantarnya pulang seperti dulu.
Atau minimal mengomel karena Shinta ceroboh.
Namun harapannya langsung hancur beberapa detik kemudian.
Andika mengetuk layar ponselnya sebentar lalu berkata santai, “Sudah dapat.”
Shinta berkedip bingung.
“Apa?”
“Ojek online.”
Andika menunjukkan layar ponselnya sekilas.
“Sudah saya bayar juga.”
“Eh?”
“Motornya lima menit lagi sampai.”
Setelah mengatakan itu Andika berdiri, mengambil tasnya, lalu berjalan pergi begitu saja.
Shinta hanya bisa menatap punggung pria itu dengan ekspresi tidak percaya.
“...Serius?”
Lima menit kemudian seorang pengemudi ojek online benar-benar datang menunggunya di depan kantor.
Shinta berdiri sambil menatap motor itu dengan kesal.
Rencananya gagal total.
Bahkan bukan gagal biasa.
Dia merasa seperti sedang melawan seseorang yang sudah hafal semua pola pikirnya.
Dan yang paling menyebalkan, Andika tetap membantu tanpa memberinya kesempatan mendekat.
Di rumah Shinta menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Dia menatap langit-langit kamar dengan kesal.
“Kenapa jadi begini sih...”
Shinta memeluk bantal lalu membalikkan badan berkali-kali.
Dia tidak menyangka diacuhkan Andika bisa semenyebalkan ini.
Padahal dulu dia sering berharap pria itu berhenti mengganggunya.
Sekarang saat Andika benar-benar menjauh, malah terasa aneh.
Sangat aneh.
Akhirnya Shinta mengambil ponselnya.
Setelah menatap layar cukup lama, dia mulai mengetik pesan.
“Aku ganti uang ojolnya besok.”
Beberapa menit kemudian balasan masuk.
“Ya.”
Cuma itu.
Tidak ada tambahan apa pun.
Tidak ada emoji.
Tidak ada godaan.
Tidak ada kalimat seperti biasanya.
Shinta langsung melempar ponselnya ke kasur.
“Pendek sekali jawabannya!”
Padahal diam-diam dia berharap Andika akan membalas seperti dulu.
Mungkin menolak uangnya.
Mungkin sengaja memancing debat.
Namun pria itu benar-benar menjaga jarak sekarang.
Shinta memejamkan mata frustrasi.
Lalu tanpa sadar ingatannya melayang ke masa lalu.
Dulu kalau Andika sedang marah atau ngambek, ada satu cara yang paling ampuh untuk meluluhkannya.
Shinta biasanya akan mengelus rambut pria itu sambil meminta maaf pelan.
Dan kalau Andika masih keras kepala...
Dia akan mencium pipinya.
Selalu berhasil.
Namun begitu menyadari apa yang dipikirkannya, Shinta langsung bangkit dan memukul bantal berkali-kali.
“Tidak mungkin!”
Mereka sudah putus.
Mana mungkin dia melakukan hal seperti itu lagi.
Shinta menutup wajahnya dengan bantal sambil mengerang frustrasi.
Namun semakin dipikirkan, semakin dia sadar kalau dirinya memang tidak punya cara lain.
Keesokan paginya Andika masih bersikap sama.
Dingin.
Tenang.
Dan sangat menyebalkan.
Shinta bahkan sengaja datang lebih pagi lalu membeli kopi favorit pria itu.
Dia meletakkan gelas kopi di meja Andika.
“Ini buat kamu.”
Andika melirik kopi itu sekilas.
“Makasih.”
Selesai.
Tidak ada senyum.
Tidak ada komentar.
Tidak ada godaan.
Shinta benar-benar ingin menangis karena kesal.
Siang harinya dia kembali mencoba.
“Makan siang bareng?”
Andika sedang membaca beberapa berkas presentasi.
“Sibuk. Besok presentasi.”
“Lima belas menit saja.”
“Nanti saja.”
“Nanti kapan?”
Andika akhirnya menatapnya sebentar.
“Kalau sudah tidak sibuk.”
Lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Shinta langsung berjalan pergi dengan wajah cemberut.
Rara yang melihat itu mendekat pelan.
“Kalian benar-benar berantem?”
“Tidak.”
“Kalau tidak, kenapa wajahmu seperti habis ditinggal nikah?”
Shinta langsung melotot.
“Rara!”
“Menyeramkan sekali.”
Shinta mendengus kesal lalu kembali ke mejanya.
Sore harinya kantor mulai sepi. Banyak karyawan sudah pulang terlebih dahulu.
Andika masih duduk di depan laptopnya sambil memeriksa slide presentasi.
Shinta berdiri cukup lama memperhatikan pria itu dari jauh.
Lalu perlahan berjalan mendekat.
Dia duduk di kursi sebelah Andika dan menyodorkan sejumlah uang.
“Ini uang ojol kemarin.”
Andika menerima uang itu tanpa menghitungnya sama sekali lalu memasukkannya ke saku.
“Terima kasih.”
Sopan.
Formal.
Dan lagi-lagi membuat Shinta semakin kesal.
“Aku serius tanya sesuatu.”
“Hm?”
“Kamu masih marah karena aku bilang kamu pelit?”
Andika tetap menatap layar laptop.
“Tidak.”
“Kalau tidak marah kenapa begini?”
“Begini bagaimana?”
“Kamu cuek.”
Andika akhirnya berhenti mengetik.
Namun dia tetap tidak menoleh.
“Saya biasa saja.”
Jawaban itu justru membuat dada Shinta terasa semakin sesak.
Biasa saja.
Padahal dulu Andika selalu berusaha mendekatinya.
Sekarang pria itu bahkan terdengar seperti sedang menjaga jarak sejauh mungkin.
Shinta menatap Andika beberapa detik.
Lalu menghela napas panjang.
Harga dirinya benar-benar sudah jatuh hari ini.
Namun dia juga sudah terlalu frustrasi.
Akhirnya Shinta memberanikan diri melakukan sesuatu yang sejak semalam terus menghantuinya.
Dengan perlahan dia mengangkat tangan lalu mengelus rambut Andika lembut.
Gerakan itu membuat Andika akhirnya menoleh.
Tatapan pria itu terlihat sedikit terkejut.
Shinta menelan ludah pelan.
“Maaf...”
Andika menatapnya beberapa detik tanpa bicara.
“Untuk apa?”
Nada suaranya tidak dingin lagi.
Malah terdengar pelan.
Dan itu justru membuat Shinta semakin gugup.
Dia sadar satu hal.
Elusan kepala saja tidak cukup.
Dulu Andika memang selalu luluh setelah itu.
Tapi ada satu langkah terakhir yang biasanya benar-benar membuat pria itu berhenti ngambek.
Shinta memejamkan mata sebentar seolah mengumpulkan keberanian.
Lalu dengan cepat dia mendekat dan mencium pipi Andika.
Hening.
Andika benar-benar diam.
Pria itu menatap Shinta tanpa berkedip sejenak.
Sedangkan Shinta langsung memalingkan wajah dengan telinga memerah.
Jantungnya berdetak kacau.
Dia tidak percaya baru saja melakukan itu.
Di kantor.
Pada mantannya sendiri.
Dan yang paling membuatnya gugup...
Andika masih terus menatapnya tanpa mengatakan apa pun.