NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:959
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: PANGGILAN DARI ALPEN

Bab 35: Panggilan dari Alpen

Ruang direktur utama di lantai teratas Lilac Holding—yang dulu merupakan ruang kerja Prabawa yang angkuh—kini terasa sunyi dan dingin. Aruna berdiri membelakangi meja kerja marmernya, menatap kerlip lampu Jakarta di balik dinding kaca besar. Di tangannya, ia memegang sebuah alat perekam suara mini yang baru saja disiapkan oleh Bambang.

"Bambang, putar filenya," perintah Aruna, suaranya terdengar datar namun ada ketegangan yang tertahan di sana.

Melalui speaker ruangan, suara statis terdengar sejenak sebelum digantikan oleh suara isak tangis seorang anak kecil.

"Mama... dingin, Ma... Kenzo takut. Orang-orang di sini matanya seram... Mereka bilang Mama sudah mati... Mama jemput Kenzo, Ma..."

Suara itu terputus, berganti dengan desis angin salju yang kencang, lalu suara klik tanda rekaman dihentikan secara sepihak.

Aruna memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdenyut nyeri, seolah ada sebilah pisau yang tak kasat mata sedang mengiris dadanya pelan-pelan. Tiga hari lalu di Singapura, Kenzo menatapnya dengan pandangan sedingin es dan menyebutnya monster. Tapi rekaman ini... rekaman ini menunjukkan sisi Kenzo yang rapuh, anak kecilnya yang ketakutan di tengah badai salju Alpen.

"Mbak Bos," suara Bambang memecah keheningan melalui monitor. Wajahnya yang biasa dipenuhi remah-remah camilan kini tampak serius. "Saya sudah membedah spektrum suara dari file itu. Frekuensi tangisannya... itu asli suara Kenzo. Tapi ada yang aneh dengan gaung suaranya. Itu bukan direkam di dalam ruangan atau perpustakaan megah seperti yang kita lihat di Singapura kemarin."

"Lalu di mana?" tanya Adrian yang berdiri di samping pintu dengan tangan bersedekap.

"Itu direkam di ruang terbuka dengan tekanan udara rendah. Kemungkinan besar di sebuah resor terbengkalai di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, tepatnya di wilayah Zermatt, Swiss," Bambang mengetik sesuatu, menampilkan peta topografi tiga dimensi di layar besar. "Nirwana sengaja membocorkan frekuensi ini supaya kita bisa melacaknya. Ini jebakan penembak jitu, Mbak. Mereka sengaja memancing kita ke medan terbuka di mana mereka punya keunggulan penuh."

"Mereka menggunakan rasa bersalahku sebagai umpan," ucap Aruna perlahan. Ia berbalik, menatap Adrian dan Haris. "Di Singapura, The Architect memperlihatkan Kenzo yang sudah dicuci otaknya untuk menghancurkan mentalis-ku. Dan sekarang, mereka mengirimkan suara Kenzo yang tersiksa agar aku bergerak tanpa rencana."

"Lalu apa rencana kita, Aruna?" Haris melangkah maju, membuka beberapa berkas logistik. "Prabawa saat ini masih kritis di rumah sakit, dijaga ketat oleh orang-orang kita. Tapi jaringan Nirwana di Eropa sudah mulai mengendus pergerakan dana dari Lilac Holding. Begitu kita mendarat di bandara Zurich, mereka akan langsung tahu."

Aruna berjalan mendekati meja kerjanya, mengambil selembar paspor baru dengan nama samaran yang telah disiapkan. "Kita tidak akan mendarat sebagai miliarder dari Jakarta. Kita akan masuk lewat jalur yang paling tidak mereka duga."

"Maksudmu?" Adrian mengernyitkan dahi.

"Siska," jawab Aruna pendek. "Dia tahu jalur penyelundupan medis yang digunakan ayahnya dan Nirwana selama sepuluh tahun terakhir. Mereka punya jalur kereta barang pribadi yang melintasi perbatasan Italia menuju pegunungan Swiss tanpa melewati pemeriksaan imigrasi resmi. Kita akan menggunakan jalur itu."

Dua jam kemudian, Aruna melangkah ke ruang medis bawah tanah tempat Siska dirawat. Siska duduk di tepi ranjang, wajahnya yang dibalut perban tampak menakutkan di bawah lampu neon yang temaram.

"Kau mendengar suara anakmu?" Siska bertanya tanpa basa-basi, suaranya parau. "Jangan percaya pada apa pun yang kau dengar dari Swiss, Aruna. Nirwana adalah ahlinya memanipulasi emosi. Mereka bisa membuat singa menjadi bertekuk lutut hanya dengan rekaman suara."

"Aku tahu itu jebakan, Siska," Aruna berdiri di depan Siska, menatapnya lurus. "Tapi aku butuh jalur kereta barang milik ayahmu. Jalur yang menembus terowongan Simplon dari Domodossola ke Swiss."

Siska terdiam sejenak, lalu tertawa kecil yang terdengar menyakitkan karena luka di wajahnya. "Kau bener-bener gila, Iron Lilac. Jalur itu tidak digunakan untuk membawa barang. Itu adalah jalur evakuasi sub-level untuk subjek eksperimen yang gagal. Di sana dingin, gelap, dan dijaga oleh orang-orang buangan Nirwana yang lebih mirip binatang daripada manusia."

"Aku sudah pernah hidup di dalam sel klinik jiwa selama tiga tahun, Siska. Tidak ada kegelapan yang lebih menakutkan daripada kehilangan anakku untuk selamanya," Aruna mengulurkan sebuah kontrak baru. "Berikan aku kodenya, dan aku akan memastikan ayahmu menghabiskan sisa hidupnya di sel paling bawah di penjara Nusakambangan, terisolasi dari dunia luar seperti yang dia lakukan padamu."

Siska meraih pulpen dengan tangannya yang gemetar, menuliskan deretan angka koordinat dan kata sandi di atas kertas. "Kodenya adalah 'Lilac 09'. Itu adalah tanggal di mana Bimo pertama kali membawamu ke klinik. Ayahku menggunakannya sebagai lelucon di antara para petinggi Nirwana."

Aruna mengambil kertas itu, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Lelucon mereka akan menjadi peti mati mereka sendiri."

Aruna keluar dari ruangan, kembali ke pusat komando di mana tim The Scraps sudah berkumpul. Haris, Maya, dan tiga orang mantan tentara bayaran di bawah pimpinan Adrian sudah mengenakan pakaian taktis musim dingin berwarna putih abu-abu—kamuflase sempurna untuk medan salju.

"Bambang," panggil Aruna sambil memasang sabuk senjatanya.

"Ya, Mbak Bos?"

"Pantau jalur kereta dari satelit. Begitu kami masuk ke terowongan, matikan semua sistem komunikasi publik di wilayah Zermatt. Aku ingin mereka buta dan tuli saat kami tiba di atas sana."

"Siap, Ratu! Penerbangan ke Milan, Italia siap dalam satu jam. Setelah itu, kita main salju!" jawab Bambang dengan nada yang mencoba ceria, meski ia tahu ini adalah misi bunuh diri.

Aruna menatap foto Kenzo di tangannya untuk terakhir kali sebelum memasukkannya ke dalam saku rompi antipelurunya. Enam bulan waktu yang diberikan Nirwana? Aruna tidak peduli. Dia akan merebut kembali anaknya dalam waktu tiga minggu, atau mati mencoba di bawah tumpukan salju Alpen.

Bersambung.....

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!