Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Operasi Bayangan
Malam itu, udara di perbatasan utara Mobelle terasa menusuk tulang. Kabut tebal menyelimuti lembah di sekitar Jembatan Sungai Beku, mengubah pemandangan menjadi hamparan putih yang menyeramkan dan sunyi. Air sungai mengalir deras di bawah lapisan es tipis, suaranya bergemuruh seperti napas raksasa yang tertahan.
Di tepi hutan, tiga sosok berjongkok di balik semak belukar. Mereka mengenakan jubah hitam pekat yang telah disihir oleh Julian untuk menyerap cahaya, membuat mereka hampir tak terlihat dalam kegelapan.
Arsen, Caspian, dan Julian.
"Ingat rencana," bisik Julian, suaranya nyaris tak terdengar. Dia memegang tongkat sihirnya erat-erat, ujungnya bersinar redup dengan rune biru pucat. "Kaelia dan pasukannya akan menciptakan kerusuhan di garis depan Teluk Merah sebagai pengalihan. Lord Valerius, karena paranoianya, akan pindah ke pos komando sementara di bukit ini, jauh dari pasukan utamanya. Dia pikir dia aman di sana."
Caspian menelan ludah, tangannya gemetar saat memegang tas kecil berisi bubuk tanaman Moonleaf yang telah dikeringkan. "Dan... apa tugas saya lagi?"
"Kau adalah kunci," kata Arsen lembut, meletakkan tangan di bahu adiknya. "Julian akan melumpuhkan penjaga sihir di tenda Valerius. Aku akan masuk dan mengalihkan perhatiannya. Kau harus memasukkan bubuk ini ke dalam anggur atau air minumnya. Moonleaf bukan racun mematikan. Itu adalah obat penenang kuat yang akan membuatnya tidur pulas selama dua belas jam. Tanpa komandan, pasukan Aethelgard akan bingung dan tidak bisa menyerang jembatan tepat waktu."
Caspian mengangguk, meski wajahnya pucat. "Baik. Saya bisa melakukannya."
"Mari kita bergerak," perintah Julian.
Mereka merayap keluar dari hutan, menyusuri lereng bukit yang licin karena embun beku. Di puncak bukit, sebuah tenda besar berwarna merah tua berdiri megah, dikelilingi oleh empat penjaga bersenjata lengkap. Namun, yang lebih berbahaya adalah lingkaran sihir transparan yang mengelilingi tenda—perisai deteksi yang akan membunyikan alarm jika ada intruder.
Julian berhenti sepuluh meter dari tenda. Dia menutup matanya, berkonsentrasi penuh. Bibirnya bergerak tanpa suara, merapalkan mantra kompleks. Ujung tongkatnya mulai bergetar. Perlahan-lahan, cahaya biru dari tongkatnya menyebar, menyatu dengan warna perisai sihir Valerius.
Szzzt...
Suara desis halus terdengar. Perisai itu berkedip, lalu berubah warna menjadi sama persis dengan aura sihir Julian. Untuk sesaat, sistem deteksi itu "buta".
"Sekarang!" bisik Julian, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Arsen dan Caspian melesat maju. Mereka bergerak cepat dan senyap, bayangan mereka menyatu dengan kegelapan malam. Arsen memimpin, pedang pendeknya siap di sarung, meski dia berharap tidak perlu menggunakannya.
Mereka mencapai sisi belakang tenda. Arsen mengiris kain tenda dengan pisau kecil, menciptakan celah sempit. Dia mengintip ke dalam.
Di dalam, Lord Valerius duduk di meja kayu, meminum segelas anggur merah. Wajahnya tampak lelah dan cemas. Peta-peta strategi berserakan di hadapannya. Hanya ada satu pelayan muda yang sedang menuangkan anggur tambahan.
"Arsen..." bisik Caspian, suaranya gemetar. "Bagaimana caranya?"
Arsen berpikir cepat. Dia tidak bisa bertarung melawan Valerius secara langsung; Valerius adalah ksatria berpengalaman. Mereka butuh trik.
Arsen mengetuk dinding tenda dari luar, meniru ketukan kode rahasia yang dulu sering digunakan oleh mata-mata istana Aethelgard—kode yang hanya diketahui oleh kalangan bangsawan tertinggi.
Valerius tersentak. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat pada pelayan untuk diam. "Siapa di luar?" tanyanya waspada.
Arsen mengubah suaranya, membuatnya terdengar lebih dalam dan berwibawa, meniru nada seorang kurir elit. "Pesan darurat dari Ratu Isolde, Tuan Lord. Segera."
Valerius ragu sejenak, lalu mengangguk pada pelayan. "Buka pintunya. Tapi tetap waspada."
Pelayan itu membuka flap tenda. Saat celah terbuka, Arsen tidak masuk. Sebaliknya, dia melemparkan sebuah batu kecil yang dibungkus kain ke dalam tenda, tepat ke arah rak gelas di sudut ruangan.
Krak!
Gelas-gelas pecah berantakan. Valerius dan pelayannya terkejut, menoleh ke arah sumber suara.
Dalam kebingungan itu, Caspian, yang telah menyelinap masuk dari sisi lain tenda yang longgar berkat sihir ilusi minor Julian, meluncur seperti kucing. Dengan gerakan cepat dan halus, dia menuangkan bubuk Moonleaf dari tas kecilnya ke dalam kendi anggur utama di atas meja.
Dia kemudian mundur kembali ke kegelapan, jantungnya berdebar kencang hingga rasanya ingin meledak.
Valerius, masih sibuk memeriksa kerusakan rak gelas, tidak melihat apa-apa. "Dasar ceroboh!" umpatnya pada pelayan. "Bersihkan ini! Dan bawa aku anggur baru dari kendi itu. Aku butuh ketenangan."
Pelayan itu, dengan tangan gemetar karena dimarahi, mengambil kendi yang sudah tercampur obat penenang dan menuangkannya ke gelas Valerius.
Dari luar, Arsen memberikan isyarat pada Julian. Selesai.
Julian, yang masih berkeringat menahan sihir, mengangguk lega. Perisai sihir kembali aktif, tapi sekarang mereka sudah berada di luar zona bahaya.
Mereka bertiga mundur perlahan, menjauh dari tenda, hingga mereka mencapai batas hutan yang aman.
Beberapa menit kemudian, dari dalam tenda, terdengar suara tubuh yang jatuh berat. Lalu, hening.
Lord Valerius telah tertidur.
"Berhasil," napas Caspian, tubuhnya lemas karena adrenalin yang habis. Dia duduk di tanah, tertawa gugup. "Kita... kita berhasil."
Arsen memeluk adiknya erat. "Kau hebat, Cas. Kau menyelamatkan ribuan nyawa malam ini."
Julian tersenyum lemah, sandaran pada pohon. "Tapi perang belum berakhir. Ini hanya langkah pertama. Besok pagi, ketika Valerius bangun, dia akan marah. Dan armada Isolde akan tetap menyerang Teluk Merah."
Arsen berdiri, menatap ke arah selatan, di mana langit mulai memerah tanda fajar akan segera tiba. "Biarkan mereka datang. Kita sudah memenangkan waktu. Dan waktu adalah hal paling berharga dalam perang."
Di kejauhan, suara terompet perang mulai bergema dari arah Teluk Merah. Pertempuran utama akan segera dimulai. Tapi kali ini, Mobelle tidak lagi buta. Mereka memiliki keunggulan. Dan mereka memiliki harapan.