Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
"Aku akan menikah lusa. Ini persiapan mas kawinku. Aku butuh pakaian pengantin baru, beberapa kain katun, dan sepasang sepatu." kata Song Aran kepada pemilik toko.
Pemilik toko sangat gembira mendengarnya, ini jelas keuntungan besar. Ada pun kenapa pelanggannya ini baru mempersiapkan mas kawin sekarang, itu bukan urusannya.
"Kau datang di waktu yang tepat nona..! kebetulan saya punya pakaian pengantin, salah satunya ini." pemilik toko menunjukkan gaun satin berwarna merah dengan sulaman benang emas.
"Pakain ini perlu sedikit diubah agar sesuai dengan bentuk tubuhmu." sambung pemilik toko.
Nyonya pemilik butik melirik raga Song Aran, tanpa menunjukkan rasa jijik. Ia malah dengan antusias memberinya jaket merah yang diinginkan.
Song Aran langsung jatuh cinta pada jaket merah itu. Tidak hanya modelnya yang baru, tapi bagian bawah, manset, dan lipatan cabangnya juga disulam.
Bordiran bunga-bunga kecil yang terangkai cantik, semakin membuat pakaian pengantin itu terlihat jauh lebih indah.
Jika Song Aran mengenakannya di hari pernikahan, semua gadis dan para istri di desa pasti akan iri.
"Ini tidak terlalu mahal, kan..?"
Song Aran sangat menyukainya, tapi ia sedikit khawatir dengan harganya.
Aran juga belum pernah mengenakan pakaian bersulam sebelumnya.
"Saya akan memberikan jaket merah ini seharga 600 wen. Selain itu, untuk pernikahanmu, sepatu bersulam merah ini sama dengan sepatu lainnya, hanya 100 wen sepasang."
Pemilik toko memang sepenuh hati dalam menjalankan bisnis ini, jadi harga yang ditawarkannya sangat masuk akal.
Padahal jaket merah tanpa sulaman saja harganya kisaran segitu.
"Aku akan mengambil pakaian ini dan sepatu bersulam merah. Selain itu, berapa harga kain katun halus dan kapas...?" balas Song Aran.
"Em, aku membutuhkan tiga gulungan kain, empat puluh kati kapas, dan satu set selimut merah. Apa nyonya memilikinya..? jika tidak, satu set warna lain juga boleh."
Song Aran menunjuk kain katun halus di sana.
Musim dingin tahun ini jauh lebih ekstrim, Aran tentu membutuhkan jaket katun baru.
Seperti kakaknya, Aran juga bermimpi tentang pernikahan mewah guna mengalahkan Zhao Jiao.
"Kain katun halus ini harganya 800 koin per gulungan, kapas 10 wen per kati. Kalau selimut merah 600 koin per malam. Bagaimana, apa nona berminat..?"
Baru pertama kali ini, pemilik toko mendapatkan pelanggan kaya seperti Aran. Ia membentangkan jaket merah yang tadi Song Aran pilih.
"Jika nona mau, saya bisa mengubahnya untukmu sekarang, dan akan selesai dalam waktu sekitar setengah jam."
"Ran'er..!"
Song Aran hendak menjawab ketika ia mendengar kakaknya memanggil.
"Nyonya, aku ingin semua ini. Tolong di hitung harganya" kata Song Aran, sebelum beralih pada Song Qing Bao.
"Kakak, ini semua pilihanku, bagaimana..?"
Song Qing Bao melihat jaket, sepatu bersulam dan selimut, yang kesemuanya berwarna merah dengan bordiran benang emas. Sangat cantik, elegant dan meriah.
Song Qing Bao pun mengangguk berulang kali.
"Jika adikku menyukainya, tidak masalah."
"Totalnya empat ribu seratus koin, ditambah sepasang bunga beludru merah untuk pernikahanmu."
Setelah menghitung, nyonya pemilik toko memandang mereka berdua dengan sedikit khawatir, takut si kakak akan mengatakan jika dia tidak punya uang.
Saat Aran mau membayar, Song Qing Bao sudah mengeluarkan kantong uangnya lebih dulu.
"Kakak...!" seru Aran bengong.
Qing Bao tersenyum "Beli apa pun yang kau suka, simpan saja uangmu."
"Tapi---
"Untuk yang lainnya nanti baru memakai uangmu, jika milikku sudah habis." Qing Bao terkikih.
Song Qing Bao mengeluarkan empat tahil perak seratus wen, lalu memberikan pada pemilik butik.
Dengan uang di tangan, nyonya toko segera mengukur tinggi badan Song Aran, menyuruh kakak beradik itu kembali setengah jam kemudian untuk mengambilnya.
Qing Bao dan Aran pamit, berjalan menuju toko perhiasan.
"Berapa banyak yang ayah berikan kepadamu..?" kepo Aran " kakak sudah mengeluarkan empat tahil, apa kita masih punya uang untuk membeli gelang perak..?"
Song Qing Bao tersenyum "menurut standar mas kawin ayah, setiap orang seharusnya menerima tiga tael. Tapi aku meminta lima tahil. Jadi kita masih punya sembilan ratus koin."
"Kakak benar-benar merampok ayah..!"
Kakak beradik itu tergelak bersama.
"Kita akan membeli jepit rambut perak seharga satu tahil, nanti aku akan menambah seratus koin." pungkas Qing Bao.
"Kakak, kau sudah bekerja keras, jangan habiskan tabunganmu hanya untuk menyenangkanku. Kita bisa melupakan jepit rambut perak itu, kau simpan saja sembilan ratus koin sisanya untuk menambah simpananmu."
Song Aran gegas membujuk kakaknya begitu mendengar jika pemuda itu akan menggunakan uang pribadinya untuk menutup kekurangan membeli perhiasan.
"Tidak perlu, aku masih bisa mengumpulkan uang lagi nanti. Lebih penting bagi adikku untuk memiliki pernikahan yang mewah."
Song Aran sangat tersentuh. Sungguh beruntung sekali karena dikehidupan ini, ia diberikan seorang kakak yang penuh kasih.
"Bagaimana kau bisa menikah tanpa uang jika kau menyukai seorang gadis..?"
"Reputasiku sudah hancur karena ibu tiri sialan itu. Gadis mana yang mau denganku..?" Song Qing Bao berkata dengan nada ringan.
"Lagi pula aku tidak butuh uangku sendiri untuk menikah. Ayah akan menjual rumah dan tanah untuk membiayai pernikahanku. Siapa yang menyuruhnya hanya memiliki satu anak laki-laki sepertiku." sambung Qing Bao.
Hati Song Aran mencelos mendengar ucapan kakaknya. Meski diucapkan dengan gaya bercanda, tapi terselip kegetiran didalamnya.
"Jadi jangan berdebat lagi denganku soal seratus atau dua ratus koin. Ayo, pilih jepit rambut yang kau suka." kata Song Qing Bao menarik sang adik ke toko perhiasan.
Di toko asesoris itu, tidak banyak pilihan model.
Song Aran memberi tahu pelayan jika ia ingin membeli jepit rambut dengan sulur yang saling menjalin untuk mas kawinya.
Pelayan segera mengeluarkan empat model yang berbeda.
Song Aran langsung menyukai jepit rambut yang bagian atasnya dihiasi benang sutra merah dan hijau membentuk pola sulur. Ujungnya mekar menjadi dua bunga teratai kembar kecil, masing-masing dengan mutiara seukuran butir beras di tengahnya.
"Kalau kamu suka, beli saja yang ini." Song Qing Bao menyadari tatapan sang adik.
Song Aran tentu saja menyukainya, tapi jepit rambut itu jauh lebih enteng dari pada yang lain.
"Bukankah ini agak terlalu ringan..? mungkin kandungan peraknya rendah."
Melihat ketertarikan si customer, pelayan itu segera berkata.
"Kalian berdua memiliki selera yang bagus. Jepit rambut ini dibuat oleh pengrajin ahli kami. Jangan tertipu dengan beratnya, sebab manik-maniknya tidak murahan, dan pengerjaannya juga sangat rumit."
"Jepit rambut ini memiliki makna yang baik. Bunga kembar melambangkan pernikahan yang harmonis dan banyak anak."
Pelayan itu dengan antusias mempromosikannya, karena jepit rambut tersebut sulit dijual di kota kecil ini.
Banyak orang tidak menginginkan jepit rambut murahan seperti ini meski pun bentuknya bagus serta proses pembuatannya rumit.
Kebanyakan dari pelanggan umumnya menghargai kepraktisan. Jepit rambut ini harganya satu tahil perak, tapi menggunakan kurang dari setengah tael bahan baku.
"Makna dari jepit rambut itu sangat bagus. Karena Ran'er menyukainya, aku akan membeli untukmu."
Suara bariton terdengar, sebelum mengambil jepit rambut perak tersebut.
Song Aran menatap pemilik suara itu dengan netra terbelalak karena terkejut.