Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberangkatan ke Utara
Pagi keberangkatan tiba dengan langit Kota Zamrud yang diselimuti kabut tipis. Udara dingin pertanda musim gugur mulai merayap dari utara, membawa serta angin yang menggigilkan meski matahari sudah muncul di cakrawala.
Di penginapan, semua orang sudah sibuk berkemas. Xu Mei memeriksa gulungan-gulungan dan peta, wajahnya sedikit kemerahan setiap kali matanya bertemu dengan Xiao Chen—efek sisa dari malam sebelumnya yang belum sepenuhnya hilang. Liu Ruyan memberikan instruksi kepada pelayan penginapan tentang barang-barang yang akan diangkut ke pelabuhan udara. Lin Yao memeriksa pedangnya dengan teliti, dan Wei Ling membantu Xiao Yu mengenakan jubah bulu serigala salju yang baru.
"Bulu ini hangat sekali," kata Xiao Yu, membenamkan wajahnya di kerah jubah. "Aku merasa seperti dipeluk beruang."
"Beruang salju, tepatnya," jawab Liu Ruyan. "Mereka adalah binatang paling berbulu di Benua Utara. Kultivator di sana biasa memburu mereka untuk diambil bulunya."
"Kasihan beruangnya."
"Mereka tidak dibunuh. Hanya dicukur."
"Oh." Xiao Yu mengangguk puas. "Itu lebih baik."
Xiao Chen muncul dari kamarnya, jubah putihnya yang khas berkibar pelan. Rambut putihnya yang panjang tergerai bebas, dan seperti biasa, begitu dia melangkah ke ruang tamu, semua wanita di ruangan itu—termasuk pelayan penginapan yang sudah melihatnya setiap hari selama seminggu—berhenti sejenak untuk menatap.
"Apa aku terlambat?" tanyanya.
"Tidak. Kapal berangkat satu jam lagi." Liu Ruyan menyerahkan sebuah tas kulit. "Ini bekal. Pil pemulihan, Batu Spiritual darurat, dan beberapa Artefak pelindung."
"Kau selalu siap."
"Aku sudah hidup tiga ribu tahun. Aku belajar dari pengalaman."
—
Pelabuhan udara Kota Zamrud terletak di puncak bukit tertinggi di kota. Berbeda dari pelabuhan di Kota Seribu Angin yang megah dengan bangunan permanennya, pelabuhan di sini lebih terbuka—sebuah dataran luas dengan puluhan kapal udara dari berbagai ukuran berlabuh di dermaga-dermaga batu.
"Bintang Utara" adalah kapal dagang kelas menengah. Panjangnya sekitar delapan puluh meter, lambungnya terbuat dari kayu besi hitam yang diperkuat formasi penghangat—penting untuk perjalanan ke Benua Utara yang semakin dingin. Layarnya berwarna biru gelap dengan emblem bintang perak, dan di deknya, puluhan penumpang sudah sibuk mencari tempat.
Begitu rombongan Xiao Chen tiba di dermaga, perhatian langsung tertuju pada mereka.
Bukan pada penjaga batu yang berjalan di belakang—meski dua makhluk setinggi sepuluh meter itu jelas menarik perhatian. Bukan pada Liu Ruyan yang auranya sebagai kultivator Jiwa Baru Lahir terasa kuat. Bukan pada pedang Lin Yao yang berkilau atau jubah profesional Xu Mei.
Tapi pada Xiao Chen.
Seorang kultivator perempuan dari Benua Utara—rambutnya pirang pucat, matanya biru es, jubah bulu putihnya mewah—sedang menuruni tangga kapal. Begitu dia melihat Xiao Chen, langkahnya terhenti. Mulutnya sedikit terbuka.
"Kapten," panggil seorang awak kapal, "apa kau baik-baik saja?"
Kapten itu—seorang wanita bernama Freya, kultivator Tahap Pembentukan Inti tingkat 8, pemilik dan nakhoda Bintang Utara—tidak menjawab. Dia hanya menatap Xiao Chen dengan ekspresi yang sulit diartikan. Kagum? Tertarik? Atau mungkin semua sekaligus.
"Aku baik-baik saja," jawabnya akhirnya, suaranya sedikit serak. Dia berdeham, menegakkan posturnya. "Mereka penumpang kita?"
"Ya, Kapten. Atas permintaan Paviliun Harta Surgawi."
"Hanya enam orang, dua penjaga batu, dan..." Freya menatap Xiao Chen lagi. "...siapa namanya?"
"Xiao Chen," jawab Liu Ruyan, melangkah maju. "Dan aku Liu Ruyan, mantan Direktur Paviliun Harta Surgawi."
Freya mengalihkan pandangannya—dengan susah payah. "Mantan Direktur? Aku dengar kau mengundurkan diri."
"Untuk perjalanan pribadi. Ini rombonganku."
"Rombongan yang... menarik."
"Sangat."
Freya menatap Xiao Chen sekali lagi. "Kabin kalian sudah disiapkan. Enam kabin, semua di dek atas." Dia berhenti sejenak. "Jika Tuan Xiao butuh sesuatu... apa pun... jangan ragu untuk memintaku langsung."
Wei Ling dan Lin Yao bertukar pandang. Xu Mei menghela napas pelan. Liu Ruyan hanya tersenyum tipis.
Satu lagi, pikir mereka hampir bersamaan.
—
Kapal mulai bergerak saat matahari mencapai puncaknya.
Xiao Chen berdiri di dek depan, menatap Kota Zamrud yang perlahan mengecil di bawah. Xiao Yu berdiri di sampingnya, mata cokelatnya yang besar memandang pemandangan dengan kagum.
"Ayah, aku belum pernah naik kapal udara sebelumnya."
"Aku juga baru pertama kali—eh, kedua kali."
"Apakah kita akan jatuh?"
"Tidak. Kapal ini dilindungi formasi."
"Bagaimana kalau formasi rusak?"
"Tidak akan."
"Bagaimana kalau—"
"Xiao Yu." Xiao Chen menoleh, menatapnya dengan senyum kecil. "Aku akan melindungimu. Apapun yang terjadi."
Gadis itu menatapnya, lalu mengangguk pelan. "Aku percaya Ayah."
Mereka berdiri dalam keheningan yang nyaman. Angin ketinggian mengibaskan rambut putih Xiao Chen dan rambut hitam Xiao Yu. Dua penjaga batu berdiri di dek belakang, mata keemasan mereka memindai cakrawala.
"Ayah," kata Xiao Yu setelah beberapa saat.
"Ya?"
"Kak Wei Ling bilang... Ayah akan menikah dengan mereka semua."
Xiao Chen hampir tersedak. "Dia bilang begitu?"
"Dia bilang suatu hari nanti. Setelah semua ini selesai."
"Aku..." Xiao Chen berhenti. Sebenarnya, dia belum pernah memikirkan pernikahan secara serius—konsep itu masih asing baginya. Tapi saat dia menatap ke arah kabin di mana Wei Ling, Lin Yao, Xu Mei, dan Liu Ruyan sedang beristirahat, dia merasakan sesuatu. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang... benar.
"Mungkin," jawabnya akhirnya. "Suatu hari nanti."
"Aku akan jadi pengiring pengantin!" seru Xiao Yu riang.
"Kau akan jadi."
—
Malam pertama di Bintang Utara, Freya sang kapten mengundang Xiao Chen ke kabinnya untuk "pembicaraan resmi tentang perjalanan."
Kabin kapten adalah ruangan terbesar di kapal, dengan jendela besar yang menghadap ke depan. Peta-peta dan kompas spiritual menghiasi dinding, dan sebuah dipan besar dengan tirai bulu mendominasi sudut ruangan.
"Silakan duduk." Freya menuangkan dua cangkir anggur hangat—minuman khas Benua Utara yang terbuat dari buah salju. "Aku ingin mendiskusikan rute."
Xiao Chen duduk, menerima cangkir. "Apa yang perlu didiskusikan?"
"Rute langsung ke Benua Utara akan melewati wilayah Badai Beku. Itu wilayah berbahaya—angin bisa membekukan apa pun dalam hitungan detik." Freya duduk di seberangnya, menyilangkan kaki. Jubah bulu putihnya terbuka sedikit, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang atletis. "Tapi ada rute alternatif."
"Alternatif?"
"Melewati Kepulauan Tenggara. Lebih jauh, tapi lebih aman."
"Berapa lama perbedaannya?"
"Rute langsung: enam minggu. Rute alternatif: delapan minggu."
Xiao Chen menyesap anggurnya. "Kau kaptennya. Aku percaya pada penilaianmu."
Freya menatapnya. "Kebanyakan penumpang akan memilih rute langsung—ingin cepat sampai."
"Aku tidak terburu-buru. Jawabanku ada di Alam Dewa, bukan di sini."
"Alam Dewa?" Freya mengangkat alis. "Kau bercanda."
"Aku tidak bercanda."
Mereka saling menatap. Freya bisa melihat di mata Xiao Chen bahwa dia tidak berbohong—dan itu membuatnya semakin penasaran.
"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya pelan.
"Aku sedang mencari tahu."
"Itu bukan jawaban."
"Itu satu-satunya jawaban yang kupunya."
Freya meneguk anggurnya, lalu meletakkan cangkirnya. "Kau berbeda dari siapa pun yang pernah kutemui, Xiao Chen."
"Aku sering dengar itu."
"Aku yakin." Dia berdiri, berjalan ke jendela. "Aku sudah menjadi kapten selama seratus tahun. Aku sudah mengangkut semua jenis penumpang—pedagang, kultivator, bangsawan, buronan. Tapi tidak ada yang sepertimu."
"Apa yang membuatku berbeda?"
"Selain rambut putih dan mata ungu itu?" Freya menoleh, tersenyum. "Auramu. Caramu bicara. Caramu... membuatku ingin terus menatapmu."
"Apa itu buruk?"
"Tidak. Hanya... mengganggu."
Xiao Chen berdiri, berjalan mendekat. "Kau ingin aku kembali ke kabinku?"
Pertanyaan itu mengambang di udara. Freya menatapnya, dan ada perang di matanya—antara profesionalisme sebagai kapten dan ketertarikan sebagai wanita.
"Kau penumpangku," katanya akhirnya.
"Ya."
"Dan aku kaptenmu."
"Ya."
"Jadi ini... tidak seharusnya terjadi."
"Mungkin." Xiao Chen berhenti tepat di depannya. "Tapi aku tidak pernah peduli pada aturan."
Dia mencondongkan tubuhnya, dan Freya tidak mundur. Bibir mereka bertemu—hangat, intens, dengan rasa anggur buah salju yang manis. Freya membalas dengan gairah yang terpendam selama seratus tahun, tangannya naik ke rambut putih Xiao Chen, mencengkeram lembut helaiannya yang halus.
"Ini ide yang buruk," bisiknya di antara ciuman.
"Sangat buruk."
"Aku tetap melakukannya."
Dia menarik Xiao Chen ke dipan, dan jubah bulu putihnya meluncur ke lantai. Tubuhnya—atletis, dengan otot-otot yang terbentuk dari bertahun-tahun menjadi kapten kapal—berkilau di bawah cahaya lentera. Putingnya mengeras di udara dingin, dan Xiao Chen menunduk untuk menghangatkannya dengan mulutnya.
Freya mendesah panjang. "Kau... kau terlalu ahli untuk seseorang yang katanya tidak ingat masa lalunya."
"Aku belajar dengan cepat."
Jari-jarinya turun, menemukan bagian paling intimnya yang sudah basah. Freya mengerang, mencengkeram seprai bulu di bawahnya. Gerakan Xiao Chen semakin cepat, dan Freya—yang terbiasa mengendalikan kapal di tengah badai—menyerahkan kendali sepenuhnya.
"Aku—aku tidak akan bertahan lama—" napasnya memburu.
"Lepaskan."
Dia melepaskan dengan erangan keras, tubuhnya melengkung, otot-ototnya menegang. Orgasme itu kuat, panjang, dan ketika akhirnya mereda, dia terkulai di dipan, napasnya tersengal.
"Itu..." Dia mencari kata-kata. "...lebih baik dari badai mana pun."
"Itu pujian?"
"Dari seorang kapten? Ya."
Xiao Chen tertawa kecil, mencium keningnya. "Rute alternatif, kalau begitu. Delapan minggu."
Freya menatapnya. "Kau memilih rute yang lebih lambat?"
"Aku menikmati perjalanan."
"Bukan hanya perjalanannya, kurasa."
Xiao Chen tersenyum. "Kau cerdas. Itu yang kusuka."
Mereka berbaring dalam pelukan, suara mesin kapal yang konstan menciptakan latar belakang yang menenangkan. Di luar jendela, lautan awan membentang sejauh mata memandang, dihiasi cahaya bulan yang perak.
—
Keesokan paginya, ketika Xiao Chen keluar dari kabin kapten dan kembali ke dek atas, Wei Ling sudah menunggu dengan tangan di pinggul.
"Kabin kapten?" tanyanya.
"Aku bisa menjelaskan."
"Tidak perlu." Wei Ling menghela napas, tapi tidak ada kemarahan di matanya. "Aku sudah menduga ini akan terjadi. Freya cantik, kuat, dan dia jelas-jelas tidak bisa berhenti menatapmu sejak kita naik."
"Kau cemburu?"
"Sedikit." Wei Ling melangkah mendekat, merapikan kerah jubah Xiao Chen. "Tapi aku sudah menerimanya. Kau bukan pria yang bisa dimiliki oleh satu orang."
Xiao Chen meraih tangannya, mencium jari-jarinya. "Kau selalu mengerti."
"Jangan membuatku menangis pagi-pagi."
"Dilarang menangis di kapalku." Suara Freya terdengar dari belakang. Kapten itu muncul dari kabinnya, rambut pirangnya diikat praktis, jubah bulunya sudah rapi kembali. Tidak ada tanda-tanda dari malam sebelumnya—kecuali sedikit rona di pipinya saat dia menatap Xiao Chen.
"Kapalmu?" Wei Ling mengangkat alis.
"Ya. Peraturanku." Freya berjalan melewati mereka, menuju ke anjungan. "Sarapan disajikan di ruang makan. Jangan terlambat."
Dia berhenti sejenak di samping Xiao Chen, dan tanpa melihat, berbisik, "Malam ini. Kabinku. Jangan lupa."
Lalu dia melanjutkan langkahnya, meninggalkan Wei Ling yang menatap Xiao Chen dengan ekspresi setengah kesal setengah geli.
"Kau tidak pernah berhenti, ya?"
"Aku tidak pernah mencoba."
—
Bersambung ke episode 11...